Perhatian Langit

2176 Kata

“Kania! Kania!” teriak Langit saat baru pertama kali menginjakkan kakinya di rumah. Dan sepertinya, sang adik tidak mendengar teriakannya barusan. “Kania! Kakak beli kebab sama donat madu! Apa kau mau? Kalau tidak, ini mau kakak kasih ke Mbak Susi semua!” “Jangan!” Suara seorang gadis menyahut dari lantai dua terdengar keras juga. Bulan yang berada di samping suaminya tersenyum geli, apalagi ternyata Kania langsung turun dari kamarnya begitu cepat menuju tempat mereka. “Giliran soal makanan gerak cepat amat, Buk? Kenapa? Kehabisan stok duit di dompet sampai tidak bisa jajan, uh?” sambut Langit. “Itu Kakak tahu, salah sendiri kenapa menyusul pas aku belum terima gaji? Jadi sekarang tanggung jawab sama kemauan aku, dong. Ini misalnya ....” Kania lantas menyambar sekotak donat madu dan ke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN