Senyum Pertama Bulan

2727 Kata
Usai tangisan Bulan itu, Langit belum menyentuh istrinya sama sekali sampai berhari-hari. Dia merasa bersalah, hingga memilih tinggal di hotel sementara waktu seraya menemukan cara bagaimana meminta maaf, atau setidaknya membuat Bulan tidak menangis lagi. Langit merasa, untuk sekarang dia terlalu malu menemui Bulan atau bahkan sekedar bersapa dengannya. Melihat luka di lengan wanita itu, Langit terus mengutuk dirinya sendiri. Apa begini yang dinamakan cinta? Dia tidak pernah merasakan ini sebelumnya, walau dia sering bersama wanita setiap malam. Sebuah ponsel di atas meja langsung disambar oleh laki-laki berperawakan jangkung tersebut, kemudian memencet tombol panggil pada sebuah nomor seseorang yang bisa dia percaya untuk masalah ini. “Ada apa?” Suara seseorang bertanya datar sekali. “Kenapa pertanyaanmu selalu begitu setiap menerima panggilan dariku, hah? Itu sangat menyebalkan, kau tahu!” ujar Langit bernada tinggi kepada Rion. Seorang sahabat sekaligus staf di perusahaan tempat Langit. Bagi Langit, Rion adalah orang yang paling berpengalaman soal wanita. “Lalu apa maumu? Apa tidak ada jam di rumahmu? Ini sudah jam dua pagi.” Lagi-lagi Rion berkata datar, Langit tidak peduli. “Aku butuh bantuanmu, apa kau tahu caranya meminta maaf kepada seorang wanita?” tanya Langit langsung pada intinya. “Apa?” “Kenapa? Cepat jawablah! Apa kau tahu ini sudah jam berapa? Aku teralu sibuk untuk menunggu waktu berpikirmu!” Langit mulai sewot, dia tidak sabar. “Tidak ... aku pikir aku masih bermimpi. Sejak kapan seorang Langit Adhitama mau menurunkan harga diri dengan mengenal kata maaf, hhh?’ “Apa—“ Langit berhenti berbicara sebentar. Rion sangat tahu kebiasaannya, dia tidak pernah menundukkan kepala atau terbungkuk kepada orang lain. Tidak ada kata maaf dalam kamus seorang Langit. “Sudahlah, cepat asih aku solusinya!” “Baiklah-baiklah. Kenapa kau tidak membuat kejutan saja? Seperti membawa bunga, atau apa pun yang disukainya.” “Apa kau yakin cara itu masih mempan?” tanya Langit memastikan. “Tergantung bagaimana kau mengeksekusinya. Kalau kau sanggup menemukan kesukaannya, jangan pernah berteriak di hari bahagianya itu. Atau kau akan kehilangan semuanya.” “Baiklah, aku akan mencobanya,” ujar Langit. “Kalau kau sedih karena patah hati lagi, datanglah ke tempatku. Aku yang akan memberimu hadiah spesial.” Suara Rion semakin menipis, Langit tahu sahabatnya ini bukan hana sekedar tidur biasa. Terbukti sekilas adanya suara perempuan di dekatnya. “Dasar manusia,” gumamnya kemudian menutup panggilan. **** Ketika Langit pulang ke rumah, dia mendapati sikap Bulan tidak seperti biasanya. Wanita yang biasanya masih mau menjawab setiap pertanyaan itu pun tampak diam sekarang. Bulan memang masih mau melayani dan menuruti setiap apa yang diperintahkan untuknya, tetapi kebisuannya itu membuat Langit begitu risi. Apa Bulan terlalu marah? Atau tidak ada lagi kesempatan bagi Langit untuk mendapatkan hati wanita itu? Langit yang tadinya ingin memberi kejutan pun sedikit mengurungkan niatnya. Sekarang dia fokus untuk mencari tahu apa yang membuat sikap Bulan berubah drastis. "Kenapa kamu terus melakukan kesalahan? Bukannya sudah kukatakan ingin minum teh manis!" Langit mengembalikan secangkir kopi yang dibawakan Bulan. Padahal ini sudah yang ke tiga kalinya minuman itu diganti dengan berbagai macam alasan. Berharap Bulan memberi bantahan, tapi apa yang dia dapat malah tidak sesuai. "Baik," jawab Bulan pelan. Kemudian berbalik arah dengan ekspresi wajah biasa-biasa saja. Dia masih menuruti perkataan Langit walau sudah dikerjai habis-habisan sejak pagi. Langit geram sendiri, kenapa wanita itu bisa sampai lebih kuat darinya? Setelah apa yang dia lakukan seharian ini, menyuruh ini dan itu. Setidaknya dia ingin melihat Bulan seperti biasanya, menangis atau bahkan memakinya tiada henti. Namun, kenapa dia terus saja menurut? "Tunggu!" Langit menghadang Bulan sebelum keluar kamar. "Apa ada yang ingin kamu minta lagi? Katakan saja." "Ada apa denganmu?" tanya Langit. Bulan diam. Tidak menatap sepasang mata di hadapannya. "Jika kamu ingin marah, marah sesukamu atau menangislah hingga lelah! Kenapa kamu hanya diam dan menuruti semua permintaanku?" tanya Langit lagi. "Aku sudah memutuskan menyerahkan hidupku padamu, Lang. Jadi, tidak ada alasan bagiku melakukan semua itu." Bulan menjawab seadanya. Dia melangkah melewati Langit begitu saja tanpa senyum atau ekspresi apa pun pada Langit. "Aku minta maaf!" Tap! Bulan berbalik arah. Menatap tanpa cela wajah Langit yang kini tidak lagi melihatnya. "Apa?" Bulan masih tidak percaya. "Maaf ...." Langit berkata lagi dengan suara yang lebih pelan. "Kamu?" "Maaf kalau aku selalu bersikap kasar padamu, Lan. Itu karena ... aku tidak tahu bagaimana caranya bersikap baik." Langit berusaha untuk tidak terpancing lagi, sebab melihat raut wajah Bulan yang mulai berubah. "Tidak tahu?" Kini berganti Langit yang terdiam. Ah, ya. Dia memang tidak pernah tahu bagaimana caranya bersikap baik. Dia bahkan sudah lupa bagaimana caranya agar tersenyum atau tertawa. Semua hari-harinya selama ini diisi oleh pelajaran dan pekerjaan, sang ayah mendidiknya begitu keras. Tidak ada waktu baginya mengisi pikiran dengan hal lain selain daripada itu. Termasuk menyukai seorang gadis. "Apa kamu ...." "Apa jika aku mengubah sikap, kamu akan menyukaiku?" tanya Langit. Bulan mengernyit heran. "Jika itu bisa, ajari aku caramu hidup." Langit tidak lagi marah, emosinya ia tekan dalam-dalam. Demi Bulan, apa dia bisa mengubah sifatnya? Bulan masih terdiam hingga beberapa saat. “Baiklah ....” “Apa? Apa maksudmu?” tanya Langit ingin memastikan. “Aku akan memberimu kesempatan, aku yakin setiap orang pasti punya sisi baik. Kalau kamu bisa mengubah sifatmu itu, setidaknya kamu tidak akan melukai orang lain lagi.” *** "Whooooft ... shahhhhh ... whooooft ... shahhhh ... hahhhhh." Bulan mengambil napas disertai gerak tangan naik turun melewati d**a hingga perut, dan itu membuatnya terlihat seperti orang gila di mata Langit yang duduk di hadapannya. "Untuk apa aku melakukan itu?! Kau bahkan terlihat aneh sekarang!" bentak Langit. "Ssst! Ini adalah salah satu cara untuk menghilangkan emosimu. Ayo coba." "Tidak." Langit berpaling, ogah. "Ck! Lang, sekarang aku ini gurumu. Jadi, kamu harus menuruti semua perkataanku!" Suara Bulan sedikit mengeras. "Kamu?!" "Eits ... napas, napas, turunkan emosimu sedikit menggunakan napas. Whooooft, ahhhh." Telunjuk Bulan mengacung, bergerak ke sana-kemari menahan amarah Langit yang sudah beranjak naik. "Kalau begitu, hal kedua yang harus kamu lakukan adalah ... hi ...." Bulan menarik dua sudut bibir hingga tampak jejeran giginya yang putih. "Apa?" "Apa kamu juga lupa caranya senyum? Senyum, Lang? Senyum?" Kedua kalinya Bulan melebarkan senyum, mengajari Langit yang terus saja menolak tersenyum. Lama-lama Bulan kesal sendiri. Apa hati Langit benar-benar berasal dari hati iblis? Bagaimana bisa dia lupa caranya tersenyum? Mungkin saja Langit perlu masakan super pedas agar bisa melebarkan bibirnya itu. Pikir Bulan. Langit sendiri merasa terjebak dengan tingkah Bulan. Namun, dia juga ingin istrinya itu menerima dia sebagai suami. Tidak lebih. Sudah sejak lama Bulan menjadi incarannya. Membidiknya dari jauh bukan hal mudah, sebab saat itu dia tahu pasti hubungan Bulan begitu dekat dengan Awan. Wanita itu pada dasarnya periang, selalu membuat orang di sekelilingnya tertawa. Banyak tingkah juga tidak pernah diam. Kesukaannya sate ayam dan jus alpukat, selalu meraih penghargaan di sekolah juga seorang donatur tetap di sebuah panti asuhan. Sesekali mengajari anak-anak belajar membaca tulis, membawa hadiah juga mengajak bermain. Wanita tangguh. Bagaimana Langit bisa tahu semua itu? Tidak aneh. Dia adalah pengagum rahasia Bulan semenjak SMA. Ke mana pun Bulan pergi. Dia ada. Update status Bulan di sosmed dia tahu, juga kebiasaan Bulan setiap hari, dia hafal. Sifat Bulan telah menarik perhatiannya sejak dulu. Sekarang, wanita impian itu telah menjadi kenyataan. Langit tidak ingin melepaskan Bulan begitu saja, apalagi kalau sampai Bulan kembali ke pelukan Awan. "Baiklah, tapi aku tidak sudi melakukan desahan napas itu." Suara Langit melemah, kemudian memaksa kedua sudut bibirnya agar bisa tersenyum. Bulan tersenyum lebar. "Oke, fine! Kalau begitu kamu ikut aku sekarang, ayo!" Bulan menarik lengan Langit, laki-laki itu ragu. Hingga butuh sedikit tenaga untuk mengajaknya ke tempat yang ia inginkan. "Kita mau ke mana?" "Dapur. Tapi, kamu tunggu saja di meja makan, yah. Aku ingin menyiapkan makanan buat kamu," ucap Bulan. Sedikit tekanan di pundak, Langit sudah duduk manis di kursi dengan polos, dia sungguh membuatnya ingin tertawa. Si iblis ini ternyata bisa juga diatur seperti anak kecil. *** Jarum jam berdenting menghitung waktu. Langit duduk termenung di depan meja makan, genderang sudah riuh bersahutan dalam perutnya. Pukul tujuh malam semenjak Bulan masuk dapur dan dia bagai kuncen meja makan. Aroma harum semerbak masakan Bulan menyeruak sampai memenuhi ruangan. Langit menelan ludah. Dari aromanya saja sudah menggiurkan. Apa masakan Bulan akan spesial? Kenapa wanita itu begitu lama di dalam sana? Langit ingin masuk, tapi malas melangkah. Tubuhnya sudah mengambil posisi nyaman. Menunggu hidangan datang. "Makanan sudah siap!" ucap Bulan. Langit menoleh. "Kenapa kau sangat lama?! Sebenarnya apa saja yang kamu lakukan di dalam sana?!" bentak Langit. "Aish, baru kutinggal sebentar emosimu sudah naik lagi. Napas, Lang. Napas ...." "Cih." Langit berdecap malas. Bulan menyiapkan makanan yang sudah dia masak di hadapan Langit. Piring, sendok, nasi, air putih dan tidak lupa buah pir yang sudah dia kupas dan dia iris kecil di sebuah piring. Langit sangat menyukai buah ini, sampai-sampai buah pir harus selalu ada setiap harinya. "Apa aku boleh memakan ini?" tanya Langit. "Tentu, ini memang untuk kamu." Bulan melebarkan senyum. Langit mengernyit, menangkap gelagat aneh pada wajah istrinya yang tiba-tiba berubah 180 derajat. Seperti ada firasat buruk. Makanan yang terbuat dari mie bercampur dengan sayuran dan sedikit kuah ini terlihat menggiurkan. Apalagi menghirup aroma harumnya dari dekat, tidak bisa dipungkiri kalau ia benar-benar lapar. "Kenapa?" "Eh! Apa ini benar bisa dimakan? Atau jangan-jangan kau sudah menambahkan racun di dalamnya?! Kenapa kamu tidak memperbolehkanku masuk ke dapur tadi?" Langit memberondong Bulan dengan segudang pertanyaan. "Langit, dapur itu tempatnya para istri. Bukan suami, lagi pula ini juga kan tinggal dimakan. Aku juga memakan ini, kalau pun ada racunnya kita akan mati sama-sama." Piring di depan Langit sudah diberi satu centong nasi masing-masing. Masakannya pun sudah Bulan siapkan di atas piring suaminya sambil tersenyum lagi. "Ayo dimakan," ucap Bulan. Ia sudah lebih dulu mengunyah makan malamnya yang enak tanpa ragu. Menatap Langit yang masih enggan, beberapa suapan masuk ke tenggorokannya. Lancar. Tidak ada apa pun yang terjadi. Langit masih heran, perilaku Bulan tidak seperti biasanya setelah kesepakatan itu menjadi pengikat. Namun, sejak tadi Bulan tersenyum manis. Baru pertama kali dia melihat Bulan tersenyum begitu selama pernikahan mereka. Dia bahagia. "Ini beneran enak, loh." Bulan kembali meyakinkan. Langit mulai mengangkat suapan pertamanya, ragu. Sejenak melirik Bulan, tapi prasangka buruknya sirna karena Bulan terlihat baik-baik saja. Mungkin, makanan ini memang tidak beracun. Langit makan. Satu suapan masuk, belum dikunyah saja cita rasa dari masakan Bulan meresap di lidahnya. Dia terpaku beberapa saat. Mencicip makanan dalam mulut yang semakin terasa menyerang lidah dan tenggorokan. "Huahh!" Helaan napas Langit terbuang dengan paksa, dia mengambil segelas air putih di depan. Belum setengah menit, gelas itu sudah kosong tidak berisi. "Whooooft ... shahhhhh ... whooooft ... shahhhhh! Gila! Makanan apa ini?!" Langit mengibaskan telapak tangan ke depan mulut. Keringat mulai menetes di wajah hingga lehernya, dia kepedasan. Masakan Bulan luar biasa pedasnya. Tapi enak. Bulan tertawa terbahak-bahak. Dia puas dengan ekspresi wajah Langit yang lucu. Akhirnya! Langit bisa juga mempraktikkan desahan napas pengatur emosinya. "Bagaimana? Enak?" tanya Bulan. "Tidak." Tanpa terasa Langit terus menelan mie super pedas masakan Bulan. Desahan napas tidak bergunanya itu pun tidak luput dia praktikan berkali-kali. "Hmmmh, sudah kukatakan kalau desahan napas itu berguna buatmu," ledek Bulan lagi. Selesai dengan makan malamnya, dia kini hanya menatapi Langit yang masih asyik menghabiskan masakannya. "Apa? Jadi kamu sengaja masak ini hanya untuk membuatku kepedasan, hah?!" bentak Langit. Tapi tetap saja ia masih menelan mi-nya hingga sendokkan terakhir. "Ya, tapi cara ini berhasilkan? Sejak tadi kau tersenyum dan terus mengatur napas. Bukankah itu lebih baik?" Bulan menuangkan air ke gelas Langit, menyudahi makan malam mereka. Langit bersendawa cukup keras. Ah, rasanya tidak pernah dia makan selezat ini. Tidak salah dia memilih Bulan sebagai istrinya. "Baik?" "Iya." Bulan mengangguk. "Apa kamu tahu? Orang yang mudah marah itu cepat tua. Dan aku tidak mau memiliki suami yang jelek dan terlihat tua." "Cih, itu hanya omong kosong. Meski pun aku tua lebih dulu, kamu tidak bisa apa-apa." Langit meledek, tapi tersenyum setelahnya. Tidak bisa dipungkiri celotehan Bulan terdengar lucu. "Nah, begitu, dong. Senyum ...." "Aku tidak tersenyum!" Langit langsung beringsut dari kursi mengabaikan Bulan yang masih tersenyum meledeknya. "Apa dia selalu munafik begitu, ya?" gumam Bulan seraya melanjutkan aktivitasnya. Punggung Langit sudah tidak tampak lagi, Bulan mulai merapikan bekas makan malamnya. *** Langit berjalan menuju ruang khusus kerja dalam rumahnya, tumpukan kertas dalam map tersusun rapi di atas meja. Langit hendak memulai kembali pekerjaan yang tiada habisnya bersama laptop. Lelah bergulir, tergantikan kilas balik ingatannya bersama Bulan tadi. Dia belum bisa mengatur emosinya yang mudah naik. Namun, Bulan berhasil mengendalikannya bagai pawang. Sikap Bulan, dirasanya begitu dekat kali ini. Bulannya berbinar cerah. Membuat Langit tersenyum kembali, menganggur kan laptopnya yang sudah menunggu password. Ddrrrt! Langit mendengar getaran ponselnya di atas meja. Ia mengernyit. "Papa?" Dia berdecap malas ketika menggeser tombol hijau di layar datar itu. Panggilan ayahnya ini sudah merusak kebahagiaannya. "Ya, ada apa, Pa?" tanya Langit. "Apa kamu sudah berhasil membawa Kania pulang?" "Emh ... belum." Langit menjawab pelan. Dia baru ingat, adik semata wayangnya itu kabur dari rumah beberapa bulan lalu setelah bertengkar dengan sang ayah. Masalah pilihan, Pak Guntur ingin Kania mengambil kuliah jurusan bisnis. Tapi Kania tidak setuju dan memilih pergi. Bukan tidak ada niat melapor polisi. Sebenarnya baik ayah atau dirinya tahu keberadaan Kania, berkali-kali orang suruhan dikerahkan, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang berhasil membawa Kania pulang. Gadis kecilnya yang tomboy itu sudah dewasa sekarang. Tidak ingin terus diatur sepertinya, Kania memilih berontak dan meninggalkan rumah. Pilihan nekat. Tapi dia juga tidak sepenuhnya marah dengan sikap Kania, sebab dia merasa sudah cukup ayah selalu bersikap arogan dan semaunya sendiri terhadap kedua anaknya. "Tidak berguna. Kenapa kamu begitu lambat membawa adikmu! Papa tidak mau tahu, kamu harus segera bawa dia pulang!" bentak Pak Guntur. Tud' Telepon dimatikan. Napasnya terengah-engah saling menyalip tidak teratur, Langit sangat kesal. Kenapa ayahnya tidak pernah berubah sedikit pun. Padahal dia sudah memenuhi seluruh permintaannya hingga kini. "Argh ...!" Langit menyingkirkan seluruh benda di atas mejanya hingga berserakan di lantai. Bulan yang baru saja tiba membuka pintu dibuat terkejut, walau sedikit takut, tapi dia tetap menghampiri suaminya di sana. "Lang, kamu kenapa?" tanya Bulan seraya meletakkan gelas di atas meja, dia dapati suaminya tak bisa mengatur napas. Kedua matanya memerah disertai tatapan tajam ke arahnya. "Alihkan kemarahanku, Lan," ucap Langit. "Apa?" Bulan tidak mengerti dengan permintaan Langit. "Alihkan kemarahanku! Sekarang aku benar-benar marah dan ingin merusak segalanya!" Suara Langit begitu tinggi menjelaskan keheranan Bulan. "Atur napasmu, Lang. Whooooft ... shahhhhh, whooooft ... shahhhhh. Ayo lakukan." Langit menghela napas kasar. "Apa kau gila?! Sudah kukatakan itu tidak berhasil!" Bulan terkejut, menyadari kalau kemarahan Langit sekarang itu betulan. Namun, dia masih belum tahu apa yang harus dia lakukan agar mengontrol kemarahan suaminya itu. "Mungkin, kamu harus menceritakan masalahmu dulu. Baru aku bisa membantu," ucap Bulan sedikit ragu. "Tidak ...." Langit. Ditariknya tubuh Bulan hingga dia berada tepat di pangkuannya. "Yang kubutuhkan hanya kamu, Lan." Langit berusaha keras menahan luapan emosinya yang membeludak. Dia benar-benar benci pada sang ayah yang selalu saja mengaturnya tanpa henti. "Apa kamu baik-baik saja, Lang?" tanya Bulan lagi. Sangat erat pelukan Langit padanya, meski perlahan tarikan napas Langit mulai menurun. Namun, dia masih bisa merasakan sisa kebencian Langit yang masih belum dia tahu apa sebabnya. "Tidak." Bulan diam. Langit tidak lagi bersikap kasar. Merasakan dekapan hangat dari laki-laki ini, entah kenapa hatinya terasa aneh. Yah, aneh. Baru kali ini dia tidak menolak pelukan laki-laki itu padanya. Seharusnya dia tidak begini hanya karena Langit berkata dia akan berubah. Namun, Bulan yang telalu tidak tega melihat seseorang mendapat masalah, mungkin itulah yang jadi penyebabnya. Sedetik kemudian. Tiba-tiba Langit mengangkat tubuh Bulan, mata wanita itu terbelalak lebar. Wajah datar Langit merasuk menyisakan pertanyaan. "Kamu mau apa?" "Ke kamar. Kita lakukan terapi lain sebab emosiku belum turun," jawab Langit. "Apa? Therapy lain?!" Belum sempat Bulan protes, Langit sudah lebih dulu menggendong tubuhnya, berjalan memasuki kamar mereka dan menutup pintu rapat-rapat. Kasur besar mereka sedikit berderit menerima entakkan tubuh keduanya di sana. Bulan mengepalkan tangan, berusaha menyingkirkan tubuh tegap Langit yang begitu mendominasi di atasnya. Apa pria itu tidak punya hati? Dalam sekejap bibirnya terasa bengkak dan kesemutan, pasokan oksigen pun hampir habis karena saking lama serangan di bibirnya. “Apa kamu tidak bisa lebih lembut, huh?!” tanya Bulan setelah berhasil lepas dari tautan pria itu. Namun, tangan Langit tidak tinggal diam dan melepas satu per satu kancing baju tidurnya. “Tidak, karena ini adalah aku.” Langit kembali melancarkan pelampiasan kemarahannya pada wanita yang membuatnya tergila-gila itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN