Perubahan Sikap Langit

1429 Kata
Tidak terasa, tiga bulan sudah pernikahan antara Langit dan Bulan. Selama itu pula, Bulan tidak tahu, apa yang tengah dilakukannya sekarang. Apa dia benar-benar telah menjebloskan dirinya sendiri ke dalam sebuah penjara, atau neraka? Karena masih tidak ada cinta, Bulan merasa dia masih menjadi seorang yang terpaksa. Terpaksa melakukan apa pun yang diperintahkan suaminya, termasuk dalam urusan ranjang. Apa Bulan salah telah berpikir begitu? Dia sendiri tidak mampu berbuat banyak. Langit yang menanggung biaya pengobatan ayahnya, dan biaya sekolah dua adiknya. Dia merasa ada sebuah tanggung jawab yang besar, dan dia berharap suatu hari nanti akan ada sebuah jalan keluar dari masalahnya ini. Pagi hari yang cukup cerah di kota Jakarta, sekitar pukul 7 Bulan memasuki kamar pribadinya dengan membawa secangkir kopi. Kepulan asapnya yang mengantarkan aroma khas itu sudah cukup membuat laki-laki yang masih berada di tempat tidur terusik kecil, tapi tertidur lagi beberapa detik kemudian. Bulan duduk di tepian tempat tidur, dia tidak berani membangunkan Langit sebab akan berakhir dengan omelan suaminya. Laki-laki ini sangat tidak suka tidurnya terganggu, Bulan bisa mengerti itu. Walau pemarah level dewa dan menyebalkan sampai ke ubun-ubun, Langit adalah tipe orang pekerja keras. Bulan tersenyum tipis, melihat wajah polos suaminya saat tertidur. Bahkan di saat seperti ini, laki-laki ini terlihat masih saja ingin menghancurkan tempat di sekelilingnya. Bisa terlihat dari kondisi selimut dan bantal yang sudah entah ke mana. “Apa aku kelihatan tampan bagimu, uh?” Bulan terkejut, mendadak mendengar suara parau Langit mencuat di dekatnya. Dia pun sedikit menggeser posisi duduknya sedikit, tapi Langit keburu menahan lengannya. “Mau ke mana? Kau baru saja datang,” ujar Langit lagi sekaligus membuka kedua matanya. Dia tersenyum tipis, tapi malah membuat Bulan kelihatan salah tingkah sendiri. “Aku masih ada pekerjaan di luar. Kalau kamu sudah bangun, kenapa masih berada di tempat tidur?” “Aku begitu menyukai kamu yang salah tingkah begini, apa kamu sudah mulai menyukaiku?” Kedua mata Bulan terbulat sempurna. “Tentu saja tidak! Bagaimana aku bisa menyukaimu secepat ini? Masih ada hal yang perlu kupertimbangkan, sebelum menerima kamu seutuhnya,” ujarnya bernada tegas. Langit pun keluar dari dalam selimut, membuat tubuh Bulan sedikit menghindar tanpa diperintah lagi. Namun, tatapan Langit tidak setajam biasanya, sekarang begitu menenangkan dan seakan tidak ada sedikit pun amarah di sana. “Benarkah? Apa perlu aku menunjukkan kebaikanku yang langka lainnya?” “Maksud kamu?” Bulan tidak mengerti, kebaikan apa yang dimaksud Langit. “Gantilah pakaianmu, kita akan pergi ke sebuah tempat.” “Ke mana?” tanya Bulan lagi. “Apa aku harus mengulang kalimatku dua kali?” “I—iya, aku ganti sekarang.” Bulan langsung beranjak dari tempat tidur, dan berlari kecil menuju lemari pakaiannya. Entah apa tujuan Langit sekarang, dia tidak ingin berdebat lagi. Apalagi jika tatapannya sudah berubah tajam, itu mengerikan untuk dihadapi. *** Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya mereka sampai di sebuah tempat yang tidak pernah diduga oleh Bulan sebelumnya. Sebuah tempat yang begitu ramai anak-anak, di mana mereka tinggal dan bebas bermain, serta belajar. Ya, itu adalah sebuah panti asuhan Kasih Ibu, tempat yang sering didatangi Bulan sebelum menikah. Bulan senang sekali, dia akhirnya bisa melihat anak-anak yang diasuhnya tertawa dan bermain bersamanya. Tidak ada satu kalimat pedas Langit yang terlontar, sehingga dia bebas melakukan apa pun bersama anak-anak. Langit lebih memilih menyendiri di tempat teduh bersama minumannya saja, laki-laki itu terlihat serius sekali dengan ponselnya, entah sedang melakukan apa. Bagi Bulan, yang penting kesenangannya ini tidak terganggu oleh ocehan-ocehan menyakitkan itu lagi. “Kakak, awas itu jangan dibiarkan lewat! Kasih ke aku!” teriak Fadli, seorang bocah berusia sekitar 8 tahun kepada Bulan. Dia berlari cepat mengejar laju bola yang datang ke arah wanita itu. “Ini, Fad!” Bulan mengoper bolanya, dan tepat mengarah ke Fadli. Sesekali dia mengelap keringat yang mengalir di sekitar wajah dan lehernya, dia kelelahan karena terlalu bersemangat bermain sejak tadi, tapi dia begitu menyukai ini. Baginya, senyum anak-anak itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Dia senang karena telah menjadi bagian dari senyum mereka. “Awas kamu, ya!” “Ayo, tendang bolanya, Fad!” teriak Bulan kemudian ketika melihat Fadli sudah dekat ke arah gawang. Sebuah tendangan keras dilakukan, dan berhasil membobol pertahanan lawan. “Nah, begitu dong! Asyiiiikkk, kamu pinter banget, Fad!” Bulan berjingkrak senang, begitu pun anak-anak lainnya. Namun, tiba-tiba kakinya menginjak batu dan membuat dia terjatuh. “Aduh!” Bulan sedikit meringis, pergelangan kakinya sakit sampai tali sandal yang dipinjamnya dari ibu panti putus. “Apa Kakak baik-baik aja? Mana yang sakit?” tanya seorang anak bernama Gina. Anak-anak yang lain pun menghampirinya, mereka tampak khawatir. “Ah, ini tidak apa-apa. Cuma terjatuh sedikit, tidak ada yang sakit,” jawab Bulan. Padahal kakinya sakit sekali, sepertinya terkilir juga. “Apa yang terjadi, hah?” Suara Langit mendadak menyambangi mereka, Bulan yang masih terduduk di tanah melihat laki-laki itu agak kesal. Jelas sekali dari raut wajahnya. “Bukan apa-apa. Aku Cuma terjatuh,” jawab Bulan. Langit menghela napas agak kasar, kemudian membantu Bulan berdiri, tetapi memang benar-benar tidak bisa berdiri tegap. “Seharusnya kamu lebih hati-hati! Kenapa juga kamu bertingkah seperti anak kecil dengan bermain bersama mereka, hah?! Lihat sendiri siapa yang kakinya sakit sekarang? Apa kamu tidak pernah bisa berpikir normal sebagai orang dewasa?!” Langit berbicara keras memarahi Bulan di hadapan anak-anak. Sampai ada seorang dari mereka yang menentang perlakuannya itu. “Om kenapa kasar sama Kak Bulan? Kakinya lagi sakit, malah kena marah,” ujar Fadli. “Itu bukan urusan kamu, ya! Seharusnya kalian minta maaf, karena telah membuat istri saya jatuh!” “Jangan begitu, Lang! Mereka masih anak-anak. Ini aku jatuh sendiri, bukan salah mereka.” Bulan berusaha mengingatkan, dia tidak habis pikir bahkan Langit bisa seperti ini pada anak-anak. “Kau masih membela mereka?” tanya Langit sekaligus menggenggam tangan Bulan. “Ayo, pulang. Aku membawamu ke sini bukan untuk buang-buang waktu,’ ujarnya. “Apa? Tapi—“ Langkah Bulan yang berjalan belum jauh itu pun terpaksa berhenti, sebab anak-anak di sekelilingnya memukuli Langit tanpa dia tahu. “Jangan bawa Kak Bulan pergi!” “Dasar Om galak!” “Jauh-jauh dari Kak Bulan!” “Om aja yang pergi sana!” “Apa yang kalian lakukan, hah?!” Langit kelihatan semakin marah. “Ya, ampun ... berhenti! Kalian jangan memukulinya, om ini tidak bermaksud jahat.” Bulan mencoba menengahi kemarahan anak-anaknya dari Langit. Mereka baru berhenti setelah mendengar permintaan Bulan yang halus, wanita itu khawatir terjadi sesuatu kalau sampai bersenggolan dengan Langit. “Habisnya Om ini jahat, coba kalau lebih kalem sedikit. Kita juga akan jadi anak baik!” “Apa—“ “Om ini juga baik, makanya kenalan dulu, dong. Namanya Om Langit, dia suaminya Kakak,” ujar Bulan. “Suami? Kakak sudah menikah? Kenapa kami tidak diundang?” Bulan terdiam sebentar, kemudian tersenyum tipis. “Maaf, ya. Pernikahan kakak tempatnya jauh, jadi tidak bisa mengajak kalian. Tapi sekarang Kakak ada di sini sekaligus bawa hadiah buat kalian semua. Ada yang mau?” “Mau!” jawab anak-anak itu kompak. “Kalian pergilah ke Ibu Maya duluan, hadiahnya ada di sana.” “Asyik! Terima kasih banyak ya, Kak.” Mereka memeluk Bulan, hangat. Seakan tidak ingin berpisah jauh dari orang yang tulus menyayangi mereka itu. Usai kepergian anak-anak, Bulan yang tadinya fokus melihat ke arah lain pun baru menoleh ke samping tempat Langit berdiri. Namun, dia langsung terkejut sebab ternyata Langit sedang memperhatikannya tanpa bergerak sedikit pun. “Kamu kenapa melihatku begitu?” tanya Bulan. Bukannya mendapat jawaban, Langit malah langsung mengangkat tubuh Bulan di kedua lengannya. Sontak saja hal itu membuat Bulan terkejut sekaligus malu, sebab di sini cukup ada banyak orang. Langit bahkan tidak segan tetap membawanya melewati orang-orang itu tanpa mau menurunkan tubuh yang dibawanya. “Apa yang kamu lakukan? Cepat turunkan aku! Biarkan aku jalan sendiri,” ujar Bulan, tetapi langkah Langit seakan sudah pasti menuju mobil mereka yang terparkir di depan. “Diamlah, aku tidak mengerti soal cedera di kakimu. Jadi aku tidak mau bertanggung jawab kalau kakimu bengkak karena keboddohanmu sendiri.” Bulan terdiam sejenak mendapati perhatian kecil ini, dia sedikit menengadah agar bisa melihat langsung wajah tegas di dekatnya. “Kenapa kau terus-menerus bersikap begini padaku, Lang?” Langit belum mau menjawab sampai mereka tiba di dalam mobil, dan Bulan sudah nyaman duduk di kursinya. “Apa kamu sudah mulai mencintaiku?” Bulan terdiam. Sebab dia belum bisa memastikan itu dengan sebuah jawaban. “Baiklah, aku tahu kau masih mencintai orang lain,” ujar Langit tanpa ada nada marah sedikit pun. Setelah berkata demikian, dia langsung memacu mobilnya dan menghentikan ucapan yang bisa saja memancing kemarahannya lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN