Bab 1.C

1201 Kata
Riana menelan salivanya kuat melihat wajah Erlan yang kini menatapnya tajam. Bahkan kakak lelakinya itu tak ingin mengalihkan pandangannya barang sedetik saja. Bukannya risih atau tak suka, Riana hanya takut. Takut jika Erlan akan membencinya dan menjauhinya. Karena selama ini, hanya lelaki itu yang memahami dirinya dari luar sampai dalam. Maksudnya sifatnya. "Besok saya akan melamar Riana. Bersama keluarga saya. Tapi sebelum hal itu terjadi, saya akan meminta restu terlebih dahulu. Agar nanti tidak mengecewakan orang tua saya dengan memberi mereka harapan palsu," ujar Geo dengan lugas. Kenanㅡ Papa Riana menghela napas panjang. Matanya menatap anak perempuan satu-satunya itu dengan ragu. "Berapa lama kalian berpacaran?" Tanya sang Mama lebih cepat. "Emm.." Riana menimbang ucapannya. Kalau lebih dari perkiraan, maka orang tuanya akan curiga. Bukan. Bukan hanya orang tuanya, tapi juga Erlan. "Kami baru kenal seminggu lalu. Tapi saya sudah memantapkan hati saya untuk Riana, Tante." "Dan kamu pikir Riana sama dengan wanita lain? Yang bisa menerima lelaki hanya karena jabatan dan tampang saja?" Adiba mengelus tangan suaminya yang kini menatap marah Geo. "Bukan begitu maksud saㅡ" "Lalu apa? Ingin memanfaatkan kepolosan Riana hanya untuk kesenanganmu saja? Bersikap sok pahlawan agar adik saya bisa terpikat dengan dirimu, begitu?!" Semprot Erlan lagi. "Mas, atur emosinya." Erlan menarik napasnya panjang. Dia yang bahkan jarang berbicara panjang lebar kini harus mengeluarkan banyak kata. Ia menggenggam tangan Adiba yang berada di pahanya. Mengeratkan pegangannya karena terlanjur kesal. "Berikan saya alasan yang cukup jelas agar kami bisa mengerti maksud kamu kemari," ujar Kenan. "Saya sudah mengatakannya sebanyak tiga kali. Saya ingin melamar Riana." "Dan alasannya?" Tambah Clara. Ia sebagai seorang Ibu jelas tak ingin memberikan Riana pada sembarang orang. Wanita itu sudah menjaga susah payah dan mempertahankan kebahagiaan Riana selama ini. Dan jelas dia tak akan mau kebahagiaan anaknya hilang begitu saja karena lelaki tak jelas. Ia tak akan rela. Sekalipun ia harus menentang semuanya. Riana berbeda. Riana hanya satu untuknya dan anggota keluarganya yang lain. Riana harus benar-benar bahagia. "Dia cantik. Saya tidak memungkiri hal itu. Dia baik, ramah dan cukup sopan. Sayaㅡ" "Cukup lo bilang? Bahkan lo baru tau seminggu! Tapi udah bilang kalau adek gua cukup sopan?! Otak lo di mana?!" Sentak Erlan kasar. "Mas!" Peringat Adiba lagi. Bahkan wanita itu kini memeluk Erlan dari samping. Erlan tempramental.  Berbanding terbalik dengan sifat Riana. Lelaki itu juga sangat posesif. Terutama untuknya dan Riana. "Abang, cukup!" Kenan dan Clara tersentak. Begitu juga dengan Erlan yang menatap tajam Geo. Di sebrang sana Riana baru saja berteriak menahannya. Kenapa, bukan, sejak kapan Riana berani membentaknya sekeras ini? Bahkan orang tuanya juga sampai terdiam kaku. Tatapan mata gadis itu kosong. Tak ada permohonan, permintaan atau bahkan rasa kagum pada Geo. Erlan yakin ada yang salah. Ia tak bisa membohongi hatinya jika Riana adalah orang yang selalu ada untuknya selain sang Mama. Kenan menghembuskan napasnya pelan dan meminta Adiba membawa Erlan pergi. Cukup berpengaruh juga Geo bagi Riana.  Bahkan Erlan sampai terguncang mendengar teriakan itu. Adiba yang paham pun langsung menarik Erlan pergi. Lelaki itu awalnya berontak dan meminta agar tetap berada di sana. Sampai akhirnya mata Erlan menatap wajah Mamanya yang mengangguk. Menyuruhnya pergi. Mau tak mau Erlan pergi. "Lanjutkan." "Saya tau bahwa dia seorang model. Dan saya tidak akan memberhentikan apapun yang ingin dia gapai jika memang kami berhasil menikah. Saya sangat berterimakasih jika Om dan Tante memberikan restu dan menerima lamaran ini." "Besok orang tuamu akan ke sini?" Geo mengangguk. "Jika besok, kami tidak menerimanya. Apa yang akan kamu lakukan?" Rahang Geo mengeras.  Ia paling tak suka diberi harapan yang di mana isinya adalah sebuah penolakan. Tidak, ia sangat tidak suka. Matanya menajam. Mencoba terlihat baik-baik saja, Geo mengalihkan pandangannya pada Riana yang berada di sebelahnya. Entah dorongan dari mana, tapi tangannya tiba-tiba saja menggenggam lengan dingin Riana. Memberikan rasa khawatirnya yang kini memuncak pada Riana. Sedangkan Riana yang merasakannya langsung mendongkak. Menatap wajah tampan Geo. "Saya akan melamarnya lagi minggu depan. Sampai Om dan Tante mau menyerahkan sepenuhnya Riana pada saya." *** "Tolong bawain jas hitamnya, Gas!" Teriak seorang wanita paruh baya yang kini terlihat sibuk di rumahnya. Gamis berwarna merah tua dengan hiasan berupa rajutan bunga dan ukiran khas itu menutupi tubuhnya. Khimar senadapun dipakainya. "Mama jangan capek. Abra udah bilang kalau Mama harus duduk di kursi aja, kan?" "Tapi ini.." "Ma, Abra udah gede. Semuanya udah ada bagiannya masing-masing. Masalah pakaian, udah di siapin. Mama tinggal duduk, oke?" Ujar lelaki jangkung yang kini tengah menuntun wanita itu untuk duduk di sofa. "Itu, alat-alat untuk apa namanya.. duh, apa ya?" "Seserahan?" "Nah, iya!" Lelaki itu tersenyum singkat dan menunjuk tumpukan hadiah yang dibungkus sedemikian rupa. Tampak cantik dengan warna merah yang menghias malam. "Semuanya udah selesai, kan? Jadi Mama tinggal diam." "Mama masih gak nyangka kalau Abra mau nikah. Abra yakin dia wanita baik-baik?" Tanya wanita itu dengan pelan. Mengusap kepala anaknya yang kini berjongkok di depannya seraya memegang lututnya "Dia bahkan jauh dari kata baik. Mama pasti suka. Abra gak akan salah pilih buat Mama." Wanita itu tersenyum semakin lebar. Matanya berkaca-kaca dan langsung memeluk kepala anaknya sayang. Menenggelamkannya pada perut ratanya. "Kamu tuh dulu segede biji ketumbar tau, gak?! Ada di sini, nih! Kenapa sekarang udah segede jerapah gini, sih?" Ujar wanita itu seraya terisak kecil. Matanya tak tahan untuk mengeluarkan air mata. Lelaki itu hanya tersenyum dan membalas pelukan Mamanya dengan menangkap pinggang ramping wanita kesayangannya. "Abra sayang banget sama Mama. Dia emang gak berhijab. Dia model. Tapi Mama bisa buat dia belajar agama lebih dalam, kalau Mama mau." "Dia.. apa? Dia gak berhijab? Dan model?" Lelaki itu mengangguk dan segera melepaskan pelukannya. Melihat wajah Mamanya yang kini berganti raut wajah. Ia sudah menduganya dari awal. "Tapi dia bisa ngaji. Hapal surat-surat pendek sama doa sehari-hari kok, Ma. Cuman ya, gak berhijab doang. Dia juga hapal doa makan." "Kamu ini! Emang Mama nanya hal kaya gituan?! Ya kalau dia agamanya sama kaya kita, harus itu. Wajib apal kaya gituan!" Lelaki itu terkekeh. "Ya.. cuman gak berhijab doang. Mama, Abra mau minta sesuatu sama Mama boleh?" "Apa sayang?" Tanya wanita itu. "Jangan larang dia untuk kembangin bakatnya. Dia bakal ngerti dengan sendirinya nanti. Dan jangan paksa dia buat berhijab sebelum dia mau sendiri. Mama bisa, kan? Soalnya.." "Iya, sayang. Mama gak akan larang apapun. Yang penting kamu sama dia hidup bahagia aja Mama sama Papa udah seneng. Kamu yang bilang mau lamaran aja Mama udah seneng banget. Tetep buat dia bahagia. Itu aja pesen Mama sekarang. Karena kalau dia nangis. Itu artinya kamu buat Mama nangis juga." Lelaki itu memeluk hangat tubuh Mamanya kembali. Mencium punggung tangan wanita paruh baya di depannya dengan sayang. Ia sangat bahagia. Sangat. Hanya Mamanya saja si rumah, ia sudah merasa sangat lengkap. Walau Papanya juga ada. Tapi terkadang pria itu selalu pergi. Ia tahu kalau itu demi kebaikan masa depannya dan sang mama. Namun, sekarang lihat saja? Pria itu sampai sekarang belum sampai ke rumah. Bilangnya di jalan, tapi jalan kayanya melebar. Sampe sekarang gak nyampe-nyampe. "Iya, Ma. Abra janji bakal jaga dia. Peluk dia tiap malem kaya gini. Tapi Mama jangan sampe rindu apalagi iri kalau nanti Abra lebih sayang sama istri Abra, ya? Soalnya dia cantik banget. Abra sampe liat orang lain tuh burem." "Oh, berarti liat Mama burem?" "Ya, nggaklah Ma." Wanita paruh baya itu terkekeh kecil. "Jaga dia kaya kamu jaga Mama."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN