Bab 1.B

1198 Kata
"Saya bisa saja mengetikan balasan dan mengatakan hal yang tidak-tidak. Lalu.. semuanya berakhir. Atau berhenti menangis dan saya akan diam." Riana terpaksa menahan tangisnya dengan mengigit bibir bawah. Apa semua penguasa di dunia ini kejam? Atau memang hanya Geo seorang yang benar-benar tak memiliki hati?! "Ck!" Geo berdecak kasar dan mengangkat dagu lancip Riana. Menarik bibir bawah gadis itu agar segera terlepas dari gigitan. Namun bukannya terlepas, Riana malah semakin menggigitnya seraya menggeleng. Meminta agar Geo tak melepaskan bibirnya sekarang atau ia menangis semakin keras. Dan bukan Geo namanya jika menuruti perintah orang lain. Ia segera mengusap lembut bibir atas gadis itu menggunakan ibu jarinya. Lalu memejamkan mata, meminta agar Riana segera melepaskan gigi kelincinya dari bibir tipis itu. Geo bernapas lega. Bibir itu terlepas. Hanya saja tercetak jelas bekas gigitan di sana. Tak sampai luka. Beruntungnya. "Kenapa? Apa harus sampai menggigit bibir?" "Hiikss.. ntar, hikss.. nangisnya makin gede," isak Riana lirih. Geo mengusap wajahnya sebal. Tanpa mereka sadari, kedua lelaki berbadan besar di depannya terkikik geli melihat bagaimana frustasinya bos mereka. Mereka juga baru menemukan Geo yang sepusing sekarang. Karena sekalipun mengenai perusahaan, lelaki ini biasanya tak memusingkan hal tersebut dan memilih memeberikan pada orang kepercayaannya. "Berhenti menangis, Riana!" Bukannya berhenti sesuai dengan perintah Geo, Riana malah semakin tergugu. Tangannya juga mendingin, menandakan bahwa ia sangat ketakutan sekarang. "Maaf, Tuan. Sepertinya Nyonya Riana ketakutan," ujar salah satu pengawalnya memberi pendapat. Dan yang satunya ikut mengangguk. Membenarkan ucapan temannya. Bagaimana bisa Geo tak paham, padahal sudah membaca dengan sangat detail kelebihan dan kekurangan gadis itu. Tapi tampaknya itu tidak berpengaruh. Geo masih kebingungan. Pusing harus melalukan apa saat ini agar Riana terdiam. Dan ide buruknya datang. Sepertinya hal ini bisa membuat Riana diam. "Diam, Riana," desis Geo kecil. Belum ada niatan untuk berhenti. Baik, Geo akan menjalankan aksinya. Geo segera mendekatkan tubuhnya dengan tubuh indah Riana. Menghimpitnya kecil, membuat gadis di sebelahnya menahan napas. Mata mereka beradu. Tangis Riana juga kini hanya isakan yang terdengar. Matanya masih mengeluarkan air mata, namun tak sederas tadi. "Kak Geo, ma-mau apa?" Tanyanya waspada. Tangannya mendorong d**a Geo agar menjauh sekarang juga. "Berhenti menangis, atau hal yang tak pernah kamu pikirkan sekalipun akan terjadi di dalam mobil ini," bisik Geo saat kepalanya berada pada cerukan leher Riana. Napas hangat menerpa leher telanjang Riana. Membuat gadis itu menahan napas dan mengangguk. Tangannya yang tadi menahan d**a Geo kini menghapus air matanya. Membiarkan matanya mengering dengan bantuan gesekan tangan. Dan terakhir ia atur napasnya agar berhenti terisak. Sedikit berjengkit kaget, Riana lalu menundukkan pandangannya. Ibu jari tangannya ditekan Geo. Entah untuk apa lelaki ini melakukan hal itu. "Ini akan membuatmu lebih cepat tenang dan berhenti terisak," ujar Geo seakan mengerti dengan apa yang sekarang Riana pikirkan. "Ma-makasih." "Cukup tangisan dramamu hari ini. Dan rapikan penampilan, kita sudah sampai di depan rumahmu. Berikan dia kaca!" Titah Geo. Salah satu pengawalnya mengangguk. Segera mengambil sebuah cermin besar yang dilapisi emas pada Riana. "Matanya sembab banget, Ana gak suka!" Rengek gadis itu ketika melihat penampilannya yang sangat tak baik. Apalagi sekarang akan datang ke rumah Mamanya. Ck! Bisa-bisa Mamanya marah nanti melihat ia sudah seperti zombie. "Saya sudah memperingatkan untuk berhenti menangis. Maka jangan sesali matamu yang membesar itu." "Ih, tapi jelek! Ana gak suka, Kak Geo!" Lalu apa yang harus Geo lakukan?! "Ya sudah. Mau bagaimana lagi?" Riana memberenggut kesal. Ia menarik kaca itu dari tangan lelaki tadi sebelum membalikkan badan menghadap Geo. Matanya menatap kesal lelaki yang kini malah sibuk mengurus penampilannya sendiri. "Kak Geo!" "Hey! Kamu itu perempuan. Dari pertama kita kenal, apa kamu tidak pernah sekalipun berujar pelan? Kamu bahkan tidak malu atau gugup. Sebenarnya kamu ini perempuan atau bukan?" Geo mendesah berat. Matanya menatap Riana yang terlihat berbeda dari gadis lainnya. Biasanya, seorang perempuan akan malu atau bahkan tekesan gugup. Apalagi kini mereka berada di dalam suatu ruangan yang di mana hanya Riana seorang yang menjadi perempuannya. "Kamu menangis lagi?" Decak Geo kesal. Wajah Riana menunduk dengan bahu yang bergetar. Ya Tuhan, apa yang harus Geo lakukan sekarang?! *** Geofan Abrani Risolv. Atau sering dipanggil Geo itu adalah lelaki berumur dua puluh lima tahun yang berhasil meneruskan perusahaan keluarga. Tumbuh dan besar dengan didikan baik dari keluarganya. Ayahnya berasal dari Arab Saudi dan Ibunya asli orang Eropa. Lahir hari Rabu di Arab dengan keadaan kandungan baru memasuki usia 7 bulan. Tegas dan terkesan menyeramkan bagi beberapa pegawai. Sifatnya tak pernah baik, terutama pada mereka yang berani berkhianat. Lajang. Anak tunggal dan berusaha menemukan seorang adik agar Ibunya tak kesepian. "Mas belum selesai?" Erlan menggeleng kecil. Ia masih sibuk pada mesin pencaharian. Mencari artikel-artikel yang berhasil Pamannya dapatkan mengenai lelaki tadi. Lelaki yang entah dari mana dan siapa gerangan, berani memeluk adik satu-satunya. Matanya masih bergerak lincah. Mencari sesuatu yang mungkin saja janggal. Tapi sampai pada paragraf terakhir, Erlan tak menemukannya. Geo seperti pengusaha muda pada umumnya. Wajahnya memang sedikit menjurus pada wajah-wajah Arab. Hanya sedikit. Sisanya tampak seperti Ayahnya. "Kamu tidur duluan aja." "Masih mikirin masalah Riana, ya?" Erlan menghela napas dan menolehkan kepala. Menemukan wajah istrinya yang kini berada di bahu kanannya. Tengah memanyunkan bibir karena lagi-lagi tak mendapat balasan sesuai darinya. Tok. Tok. Tok. "Abang?" "Ya Ma?" Jawab Erlan pada wanita yang baru saja mengetuk pintu kamarnya. Adiba segera bangkit dan membenarkan letak pakaiannya. Ia juga segera membukakan pintu. Melihat wajah mertuanya yang kini tersenyum. "Ke bawah, yuk! Ajak Abang. Ada tamu," ujar wanita itu penuh rahasia. Erlan segera berdiri dan menyimpan laptopnya di sofa. Berjalan menuju sang istri dengan Mamanya yang terlihat sama-sama antusias. "Siapa?" "Pacar Riana." Mendengar ucapan Mamanya, Erlan langsung bergegas pergi. Tapi sebelum berhasil keluar, tangannya sudah dicekal Adiba. "Kamu mau keluar cuman pake boxer aja?" Tanya istrinya polos. Dan Erlan baru ingat jika ia belum benar-benar memakai pakaian. Sial! Untung saja istrinya mengingatkan. Jika tidak, entah akan ditaruh di mana wajahnya. "Dan kamu bakal ke bawah pake baju tidur itu?" Tanya Erlan menatap baju istrinya. Keduanya masih saling menatap. Erlan yang hanya memakai boxer dan Adiba yang memakai baju tidur langsung transparan. "Udah sana ganti baju dulu! Mama tunggu di bawah." Carly menggelengkan kepala melihat anak dan menantunya yang malah seperti orang bodoh. Saling menatap lalu tertawa ketika menyadari bahwa mereka memang belum berganti pakaian seharusnya. "Iya, Ma. Nanti kita ke bawah." "Cepetan, ya? Mama mau bangunin Papa dulu soalnya." Erlan mengangguk sekali. Sedangkan Adiba tersenyum dan mengangguk. Keduanya masuk ke dalam kamar dan buru-buru berganti baju. "Kamu kira dia siapa?" Tanya Adiba penasaran. Wanita itu memakai celana panjangnya dan kaket merah. Membiarkan baju tidur itu masih menempel. Toh tertutupi jaket ini. "Aku yakin dia lelaki tadi." "Kalau bukan?" "Kita tanya apa yang buat dia suka sama Riana." Adiba tersenyum. Ia usap bahu Erlan pelan. Mata Erlan tak bisa berbohong jika ia marah dan tak suka mendengar kata pacar. Bukan karena lelaki itu menyukai adiknya, melainkan karena memang Riana berbeda dengan wanita lainnya. Dan Erlan sangat mengkhawatirkan hal itu. Riana adik satu-satunya. Tak akan ia biarkan lelaki masuk dengan mudah ke dalam hidup adiknya. Apalagi sampai membuat gadis kecil itu menangis. Maka Erlan tak akan pernah membiarkannya pergi barang sedetik. "Kamu kontrol dulu emosinya. Nanti kalau emang udah lebih santai, kita turun." "Gak perlu!" "Mas. Gak baik, ketemu tamu dalam keadaan marah, kan?" Riana, adik yang tak akan Erlan biarkan pergi begitu saja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN