"Apa aja acara yang bakal ada di sini?" Geo membuka laptop dan mulai mengetik sesuatu di sana. Kedua manusia yang berada dihadapan Geo masih terdiam. Tak menjawab apapun. Geo menghela napas sejenak sebelum akhirnya mengambil ponsel di meja dan mendial satu nomor. Lalu dengan segera ia menspeaker suara dari sebrang sana.
"Halo?"
"Ya, Tuan?"
"Belikan saya obat penghilang suara. Sekarㅡ"
"Tuan, kami akan bicara." Geo langsung mematikan teleponnya dan menatap kedua orang tersebut dengan tajam.
"Pertama akan ada penyambutan, lalu disusul pengiㅡ"
"Tidak diubah kembali?" Tanya Geo kesal. Lelaki itu meraup wajahnya kasar sebelum akhirnya bangkit dan berjalan keluar. Meninggalkan para pembawa acara yang terperangah melihat kepergian Geo. Lelaki itu pergi dengan wajah yang amat menyeramkan dan bisa dibayangkan akan terjadi apa selanjutnya. Sepertinya bukan hal yang baik. Mengingat memang di sini semuanya sudah diatur dan Geo berkali-kali menolak.
"Apa Papa ada di dalam?" Geo bertanya pada seorang wanita yang berdiri di depan kamar hotel untuk Papa dan Mamanya. Wanita yang tadi berbincang dengan keponakannya itu mengangguk. Lalu berjalan ke belakang. Membiarkan Geo masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu.
Geo menahan napasnya sebentar dan membuang wajah ketika mendapati Mamanya yang duduk di meja dan sang Papa yang berada di kursi. Sialan! Ia lupa jika Mamanya pasti tengah berbincang hangat dengan pria yang sudah lama tak ia jumpai.
"Maaf," sesal Geo. Bibirnya berkali-kali merutuk otaknya yang entah sejak kapan menjadi bodoh. Mamanya langsung turun dari meja seraya menunduk malu. Walau samar, Geo bisa melihat rona merah di pipi Disia. Walau sudah hampir menginjak kepala lima, Disia memang terlihat menggemaskan. Pantas saja pria yang menjadi Papanya itu bisa mencintai Mamanya.
"Emm, a-aku keluar dulu," cicit Disia dan pergi keluar kamar.
Geo segera menutup pintu setelah sang Mama keluar. Hembusan napas keras dan kesal sangat kentara di telinga Geo. Bahkan Geo bisa melihat Papanya itu tampak lesu.
"Paㅡ"
"Apalagi?!" Sentak pria itu tiba-tiba. Geo menyengir. Baru kali ini ia merasa amat malu di depan Papanya. Sampai-sampai ia tak bisa berkata-kata lagi sekarang. Sangat gugup dan.. ah! Geo tak bisa menjelaskannya.
"Ck! Kamu butuh apa lagi?!"
Tersadar. Geo segera berdehem keras. Ia mengambil kursi hitam di ujung dan mendudukinya seraya menatap wajah Papanya serius. "Aku gak mau acara ini sesuai dengan rencana Papa."
"Kenapa? Semuanya terlihat normal, kan?"
"Tapi ini terlalu formal buatku, Pa!"
"Kamu pemilik perusahan sekarang! Kedudukanmu tinggi. Mustahil Papa ubah acaranya semudah itu,
Abra." Geo menggeram kesal. "Ini acaraku, Pa! Ini acara lamaran sekaligus acara pertunangan, Abra! Abra mau semuanya sesuai keinginan Abra."
"Yang isinya tidak jelas dan kebanyakan hura-hura? Apa seperti itu sikap seorang pemimpin? Apa kata orang lain nanti?!"
"Saat Abra mau bahagia aja Papa masih mikirin apa kata orang?! Seberpengaruh itu omongan orang lain daripada kebahagiaan Abra?!" Pria tua itu menarik napas panjang. Ia mengusap wajahnya sendiri. Frustasi. Tak mengerti lagi dengan pikiran anak semata wayangnya ini.
"Terserah! Ubah saja semuanya!" Bentak pria itu kasar. Baru akan bangkit dari tempat duduknya, Geo sudah kembali bicara.
"Apa Papa gak pernah mau ngertiin Abra kali ini aja. Segitu tingginya jabatan buat Papa dari pada anak?" Alzam menghela napas panjang. Ia mengulum bibirnya kesal. Wajahnya dibuat setenang mungkin.
"Abra." Geo membuang wajahnya kesal. Mata melas Ayahnya tak akan berfungsi baginya sekarang. Sekeras apapun pria itu memintanya untuk tetap mengikuti keinginannya, Abra tak mau. Ia tak akan luluh sekarang. Tidak! Sampai kapanpun ia tak mau luluh!
"Cukup drama buat hari ini. Abra masih gak nyangka kalau Papa masih sekeras kepala ini."
"Hey! Apa kamu gak pernah mikir kalau kamu juga keras kepala?!" Geo memutar bola matanya malas. Ya, memang ini turunan dari siapa?!
"Intinya aku gak mau ini semua sesuai teknis Papa!"
"Ck! Abra, di sini yang hadir bukan cuma temen kamu yang gak jelas itu! Papa sengaja ngundang semua temen bisnis Papa, karena tau kalau ini bakal jadi kenangan."
"Pa! Ck! Abra tetep gak mau!"
***
Disia mengambil air yang baru saja diberikan oleh salah satu pelayan hotel. Ia meminumnya sedikit sebelum memberikan sisanya pada Alzam. "Abra tetep gak mau, ya?"
"Aku udah pusing sama dia! Gak paham lagi harus bilang apa."
Disia mengelus pundak suaminya lembut. Matanya menatap mata tajam Alzam yang kini menatapnya juga. Ia tersenyum dan mengangguk. Meyakinkan pria itu bahwa Geo tak akan membuat kekacauan di acara yang akan segera diadakan ini. Tapi bukan Alzam namanya jika tidak keras kepala. Pria itu malah berdecak kesal melihat Disia yang pasrah dengan keputusan Geo.
"Kita gak bisa apa-apa, kan?"
"Seenggaknya kita bisa buat dia ngerti, Yang!" Disia tertawa mendengar Alzam yang kesal setengah mati. "Mau gimana lagi?"
"Kok kamu sekarang malah bela Geo?"
"Bukan masalah itu, Zam. Tapi memang semuanya udah bukan kita lagi yang ngurus. Dia udah bisa ngasih keputusan menurut dia. Walau kita tau kalau itu bukan keputusan yang baik."
"Dis.. please! I can't!"
Disia tertawa. Menunjukkan lesung pipinya yang sangat indah. Sama seperti Geo jika tertawa. "Apa gak ada cara lain? Biasanya kamu punya cara sendiri. Aku lagi mentok banget otaknya."
Alzam memberenggut kesal. Istrinya itu sekarang sedang tak ingin berpihak padanya. Bukan karena malas berfikir, tapi Disia pasti tengah mendukung Geo. Ck! Kenapa lelaki yang menjadi anaknya itu bisa meluluhkan istrinya secepat ini?!
"Aku tetep bikin acaranya sesuai sama kemauan aku."
Walau agak sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Alzam. Disia tetap tersenyum. Ia pasrah akan seperti apa nanti acaranya. Anak dan suaminya memang sama-sama keras kepala. Tak ada yang mau mengalah. Sedari dulu kebiasaan mereka tak berubah. Disia jadi meragukan jika ia yang hamil Geo. Pasalnya semua mengenai Geo adalah kloningan dari Alzam.
"Kalau ternyata semuanya malah jadi ancur karena kamu sama Abra gak mau ngalah, apa yang bakal kamu lakuin?"
Lihat? Disia benar-benar berpihak pada anaknya, kan?
"Kamu malah mojokin aku gitu? Gak bisa bela aku sedikit aja? Emang apa sih, yang buat kamu keukeuh banget sama keputusan Abra? Apa bagusnya? Gimana kalau nanti kita malah
dipandang jelek? Terutama sama pebisnis besar kaya Pak Rizal?" Cerocos Alzam. Nyatanya ia sangat kesal. Untung saja tak sampai membentak.
"Aku bukan keukeuh sama Abra, Zam."
"Ya terus apa, Yang? Semuanya udah jelas. Kamu dari tadi kaya bela Abra terus. Dikira aku gak kesel!"
Disia kembali tertawa. Kali ini lebih besar. Bahkan sampai matanya mengeluarkan air mata. Tak percaya jika Alzam kembali seperti dulu. Merengek bagai anak kecil. "Zam.. "
"Gak ada! Aku marah!"
"Udah tua juga. Malu sama umur kamu kaya gini tuh! Liat tuh, uban udah banyak juga," ledek Disia mencairkan suasana. Alzam semakin memberenggut kesal mendengar istrinya lagi-lagi mengalihkan pembicaraan demi anaknya.
"Gini, ya.. aku cuma kasih tau kemungkinan terburuk yang bakal terjadi nanti. Apa kamu ngerasa kalau kamu pakai teknik acara kamu, Abra bakal suka? Ya, memang tamu yang lain bakal senang dan nyaman. Tapi kalau pemilik acaranya aja gak nyaman, gimana sama tamu yang lain?"
Ini yang Alzam sukai dari Disia. Dan untungnya juga menurun pada anaknya. Dewasa dan berfikir panjang serta bercabang. Walau terkadang terlalu banyak negatifnya, namun keputusan wanita itu selalu benar. Dan Alzam semakin tak bisa melepaskannya jika tau tentang hal ini. Duh, cara apa lagi yang harus ia keluarkan agar Disia memihak padanya?
"Dan menurut kamu, kalau pemilik acara nyaman, tamu juga bakal nyaman?"
"Bisa jadi. Karena kita pernah kaya gini, kan? Tentang pengangkatan Abra. Kamu pengen hal itu keulang lagi? Dan malah buat kamu malu lagi? Zam, di sini kita orang tuanya. Boleh berpendapat, tapi nggak memutuskan. Sekeras apapun usaha kamu, nyatanya Abra gak akan ikutin, kan?"
"Terserahlah! Capek ngurusin anak keras kepala!"