"Kenapa kamu ganti jasnya? Sebentar lagi keluarga Riana dateng, lho! Pake lagi gak jasnya?" Lelaki yang kini tengkurap di atas kasur itu berdecak tak suka. Mana? Bahkan Riana belum juga datang!
"Gerah, Ma. Gak enak. Nanti aja kalau emang dianya udah bener-bener dateng. Males!"
"Abra!" Lelaki itu akhirnya bangkit dan menatap Mamanya yang malah menatap sekitar kamar. "Mama ngapain ke sini? Udah dibolehin sama si keras kepala?"
"Hust! Kamu itu kalau ngomong suka gak dijaga! Gitu-gitu juga dia Papa kamu! Cepet pake lagi jasnya!" Titah wnaita paruh baya yang berada di depan pintu kamar seraya memegang pinggang kesal. Gak anak gak suami, semuanya sama aja!
"Gerah, Ma. Ya Allah!" Desah lelaki itu memelas. Wanita tadi lantas terkekeh. Lalu berjalan mendekati ranjang anaknya dan duduk di pinggir ranjang. Meneliti setiap sudut wajah anak lelakinya. Tampan seperti suaminya. Semuanya tampak persis. Hanya berbeda dari warna mata dan lesung pipi. Ketegasan wajahnya bahkan sangat mirip ketika suaminya seumuran anaknya dulu.
"Mama penasaran banget sama Riana."
Lelaki itu segera mengubah posisinya. Terlentang dengan kepala menghadap Mamanya. Menatap wajah ayu Mamanya walau sudah termakan usia.
"Penasaran apanya sih, Ma?"
"Minta dia potoin, gitu. Pas pake gaun yang Mama kasih tadi siang. Mama bener-bener penasaran banget sama kata lumayan kamu itu."
Geo kembali berdecak. Ia ambil bantal dari ujung ranjang dan merubah posisinya lagi. Sekarang menjadi telungkup. Lehernya ditahan menggunakan bantal agar bisa menatap wajah Mamanya. Wanita itu tampak sangat antusias. Berbeda dengan Papanya yang malah merusuh di acara sakralnya ini.
"Abra gak punya nomornya," alibinya. Padahal ia sudah memilikinya tadi siang. Karena kepentingan pribadi. Bukan hal lain.
"Masa gak punya! Ya kali kamu ngasih alamat hotel ini lewat telepati gitu?" Kelakar Mamanya.
"Ya, nggak gitu juga, Ma."
"Bohong, kan, kamu?" Geo menyengir. Akhirnya ia ambil ponselnya dan mulai mengetikan pesan pada gadis itu agar segera memakai gaun yang Mamanya katakan tadi lalu memfotokannya. Pesannya terkirim. Ia langsung menunjukkan isi ponsel itu pada Mamanya. "Udah, kan?"
"Makasih."
Geo membalik tubuhnya lagi. Kali ini matanya melihat langit-langit kamar hotel. Keputusannya untuk menikah memang bukan keinginannya. Maupun keinginan kedua orang tuanya. Karena mereka bahkan membiarkan ia menikah jika memang ia sudah siap. Dirinya juga menikah bukan untuk main-main. Secara finansial, ia sudah mampu. Secara batin, ia sudah siap. Dan secara fisik is sudah dewasa. Secara tidak langsung, ia harus segera menikah bukan?
"Apa lagi yang kamu pikirin?"
"Abra benerkan, Ma? Gak salahkan, kalau Abra suka sama orang secepat ini?" Disia mengusap kepala anaknya lembut.
"Apa yang kamu raguin?"
"Dia.. Ana bisa nerima kekurangan Abra gak ya, Ma?" Disia tersenyum dan langsung mencubit gemas pipi tirus Abra. "Kalau dia gak bisa nerima kekurangan Abra, Abra yang harus coba buat bikin dia nerima kekurangan Abra."
"Tapi.. rasanya aneh, Ma."
"Lho? Masa sekarang malah kaya gini? Ini udah mau mulai lho acaranya, masa sekarang malah ragu?" Geo menghela napas panjang. Mamanya benar. Tinggal selangkah lagi maka seluruh dunia berpihak padanya. Tinggal selangkah lagi juga ia bisa mendapatkan kekuasaan penuh di perusahaan. Tidak. Ia tak akan mencoba berhenti lagi. Riana harus benar-benar menjadi miliknya untuk saat ini maupun nanti.
"Tadi Papa bilang apa? Dia setuju sama keputusan aku? Atau malah pengen batalin semuanya?"
Disia terkekeh. "Kamu sama kaya Papa. Keras kepala! Gak tau deh jadinya kaya gimana.."
Geo menggeram kesal. Pria tua satu itu memang sangat sulit diberi penjelasan. Apa omongan orang lain bisa membuat acara mewah menjadi buruk dan jelek? Jelas tidak! Merekanya saja yang memang tidak tau tempat untuk berguncing. Geo pastikan mulut yang berani mengatai semua mengenai dekorasi dan acara dari awal sampai akhir, akan ia lem. Kalau perlu dia robek sekalian.
***
"Keluarga Riana belum dateng, Ma?" Disia menatap nanar pada jalan di depan hotel. Tak ada tanda-tanda mobil lain yang tak ia kenali masuk. Bahkan sedari tadi mobil yang ia lihat adalah mobil-mobil teman kerja Geo dan juga Alzam. Ia semakin gelisah ketika detingan jam semakin terdengar nyaring.
"Kamu pake aja jasnya dulu, Mama cari dulu di bawah. Takut udah pada dateng tapi kita gak tau, kan?"
"Mereka gak lagi mainin acara kita, kan, Ma?" Disia menghela napas. Ia segera mendekati Geo. Anaknya satu ini mudah tersulut emosi dan sekarang bahkan sudah mulai menegang. Wajahnya memerah menahan amarah dan urat-urat di lehernya mulai kentara.
"Dia pasti dateng. Udah, sana wudhu! Biar gak emosian," titah Disia. Wanita itu masih tersenyum. Setelah kepergian anaknya yang akan mengambil air wudhu, segera ia keluar dan langsung menuju kamar hotel yang sempat ia pesankan untuk keluarga Riana.
Kosong.
Disia menahan napasnya sebentar dan berjalan lunglai. Ia meremas kedua tangannya yang mendingin. Tidak, acaranya harus berhasil. Geo sidah mempersiapkan dengan sangat matang. Bahkan seluruh pegawai di kantornya ia angkut untuk membereskan semua kekacauan tadi siang. Kolega bisnis dari beberapa negara juga langsung Alzam hubungi. Tak memungkinkan jika ia membatalkannya dalam satu malam. Itu sangat tidak lucu!
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" Disia akhirnya pergi menuju meja resepsionis. Tak ada lagi tempat tujuan yang bisa menunjukkan di mana keberadaan calon istri putranya itu.
"Mbak! Mbak! Mau nanya, kalau kamar buat keluarga Riana di mana ya, Mbak?" Disia yang baru akan membuka mulutnya langsung menoleh pada seorang wanita di sebelahnya. Di belakang wanita itu ada seorang gadis yang memakai gaun indah. Gaun yang.. ia pesankan khusus untuk Riana.
"Untuk mempelai wanita?"
"Iya, Mbak!" Ujar wanita itu sedikit keras dan terburu-buru.
"Chandra pelan-pelan aja."
"Ck! Na, lo udah gak make up masih aja tenang," decak wanita yang dipanggil Chandra tadi. Disia masih sibuk menatap keduanya yang malah beradu mulut. Ia mengembangkan senyum melihat betapa cantiknya gadis dengan gaun merah itu. Benarkah itu Riana yang akan mendampingi putranya nanti?
Tak ingin berharap terlalu tinggi, Disia lantas kembali menatap wanita yang tengah mengambil kunci untuk wanita tadi.
"Ini, Mbak. President suit khusus Riana Anggarㅡ"
"Iya, makasih Mbak!" Tukas wanita itu ceoat dan menyambar kunci kamar hotel beserta denah kecil yang ada di dalam kotak box.
"Mbak! Atas nama siapa, ya?"
"Riana Anggara," jawab gadis bergaun merah tadi. Disia tak salah lihat. Gadis itu benar-benar gadis yang pernah Geo perlihatkan dan juga ia temukan di majalah kesuakaanya. Gadis itu benar-benar calon menantunya. Ia tak boleh terburu-buru.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya? Maaf atas insiden tadi."
"Ya, tidak apa-apa. Boleh saya tahu siapa nama lengkap dari pemilik kamar hotel tadi?"
"Riana Anggara, Nyonya." Disia menahan senyum yang akan segera terbit.
"Siapa yang memesan kamar khusus untuknya?" Tanyanya penasaran. Walau sebenarnya ia sudah tahu semuanya. Karena pengawal Geo mengatakan semuanya dengan rinci. Mulai dari persiapan Ballroom yang sangat kacau hingga pemesanan kamar terbesar dan ternyaman yang ada di hotel ini.
"Tuan Muda, Nyonya."
"Tanggal berapa dan sampai kapan?" Tanya Disia semakin mengorek informasi.
"Hari ini sampai tiga hari ke depan, Nyonya."
Disia benar-benar tak bisa menahan senyumannya. Ia melengkungkan kedua sudut bibirnya ke atas. Bersamaan dengan hatinya yang mengucap syukur pada sang Maha kuasa. Ia pejamkan matanya meresapi nikmat yang baru saja datang padanya. Mengucap hamdalah dengan tartil dalam hatinya, Disia lantas berterima kasih setelahnya. Ia langsung pergi dari sana.
Geo memang kasar. Tak pernah mau dekat dengan perempuan kecuali saudaranya. Itupun jika ia yang memaksanya. Geo tak tertutup padanya, hanya saja jarang bicara. Dan ketika sudah kumat, Geo akan banyak bicara. Kelakuaannya bahkan seperti anak kecil. Manja dan keras kepala. Sepertinya untuk keras kepala sampai sekarang lelaki itu masih. Karena sudah kalian lihat sendiri, kan, bagaimana pertengkaran suaminya dengan Geo?
Tok. Tok.
"Masuk aja, Ma!"
Disia membuka pintu dan tersenyum lebar.
"Riana udah datang."