Bel rumah berdering nyaring. Riana yang memang sedang bermalas-malasan tak ingin membuka pintu tersebut. Namun bukannya berhenti karena tak ada orang rumah yang membukakan, bel itu malah semakin sering ditekan. Membuat Riana kesal dan turun ke bawah. Ia menggerutu kecil saat melihat beberapa ruangan yang kosong. Kalaupun ada orangnya, itu hanya asisten rumah tangga dan para pekerja yang sedang membuat taman baru di belakang sana. Riana menggelung rambutnya menjadi satu lalu mengambil karet asal dari atas nakas yang sepertinya milik Mamanya. Ia menatap ke layar monitor kecil di ujung pintu. Ada seorang lelaki di sana. Tapi siapa? "Jangan buka!" Riana tersentak dan menoleh ke belakang. Di tangga ada Erlan yang baru saja turun dari kamarnya dengan jas biru tua serta satu tas besar yang en

