6. Gagal pindah

2579 Kata
*** “Daddy!” seru Sean saat baru saja memasuki mansion keluarganya kembali. Raut wajah Sean terlihat menahan kekesalan. Terlihat dari rahangnya yang mengeras dan tangannya yang terkepal. Tak mendapati sautan, Sean bergegas menaiki tangga untuk sampai ke kamar sang ayah. Letupan kembang api amarah seolah terlihat dari dirinya yang sedang terburu-buru menghampiri pintu yang tertutup. “Daddy, keluar!” seru Sean sembari mengetuk pintu dengan tak sabaran. “Daddy!” panggil Sean lagi dengan nada yang lebih tinggi. Tak mendapati sautan dari dalam membuat Sean semakin brutal mengetuk pintu kamar itu. “Da-” Cklek! PLETAK! “Au! Daddy!” kesal Sean saat tiba-tiba saja Alex membuka pintu dan memukul sedikit kuat kepalanya. Bahkan bisa Sean rasakan denyutan nyeri di kepalanya akibat bekas pukulan tadi. “Kau mengganggu tidur kami,” ucap Alex cepat sebelum Sean kembali mengoceh panjang lebar. Saat mendengar kata tidur yang diucapkan Alex, entah kenapa pemikiran Sean beralih pada hal yang berbau m***m. Pria itu mengartikan lain ucapan ayahnya. “Salahkan Daddy yang tak segera menyahut panggilanku,” ucap Sean tak mau disalahkan. “Kau lupa kamar ini kedap suara? Mau Daddy berteriak sekalipun, tentu saja kau tak akan dengar, bodoh.” Lagi dan lagi, Sean kembali mendapatkan pukulan mulus di kepalanya. Ia meringis bukan karena sakit, melainkan baru ingat bahwa pernyataan ayahnya itu benar. Ia merasa sedikit i***t sekarang. Saat Sean tengah melamun sejenak merenungkan kebodohannya, ia kembali sadar akan apa yang menjadi tujuannya kemari. “Kenapa Daddy menyuruh mereka membawa koper Rara? Dan paling utama adalah kenapa Daddy menyuruh Rara untuk tidak tinggal lagi di mansion bersamaku? Apa Daddy berniat memisahkan kami karena kabar aku berpacaran dengan Bella?” tuding Sean dengan tatapan menyelidik. “Memangnya kenapa? Lagipula Rara tak keberatan akan hal itu,” balas Alex. “Tapi, Dad. Rara dan aku itu sudah ibarat anak kembar yang tidak bisa dipisahkan. Aku tidak mau Rara pulang ke mansion utama, dia harus tetap tinggal di mansion ku.” Sean membalas delikan Alex tak kalah sengit. Mereka berdua saling melempar tatapan tajam satu sama lain hingga membuat Mega yang tadinya tidur kini telah berada di belakang tubuh Alex. “Ada apa ini?” tanya Mega dengan suara seraknya. “Kalian kenapa?” tanya Mega dengan mata sayu yang sedikit terbuka. “Hanya meminta penjelasan pada Daddy, Mom.” “Penjelasan apa?” tanya Mega. “Mengenai Rara yang akan tinggal kembali di mansion utama, tapi aku tidak akan mengizinkannya.” “Begitu saja ribut, ck! Kalian tinggal tanyakan saja pada Rara. Apakah gadis itu ingin tetap tinggal di mansion-mu atau di mansion utama,” decak Mega sedikit kesal. Wanita separuh baya itu amat mengantuk karena pesta Vierra tadi malam baru selesai sekitar pukul dua dini hari dan ia tidur dipukul tiga, lalu kembali bangun untuk sarapan bersama. Tidak bisakah Mega tidur dengan tenang kali ini? Sumpah demi apapun ia amat mengantuk berat. “Tapi-” “Diamlah dan pulang sana.” BRAK! Sean dan Alex yang berada di depan pintu tersentak kaget hingga dapat mereka rasakan jantungnya yang hampir saja copot. Alex bahkan menatap nanar pintu di depannya. Pria itu menoleh ke arah samping tepatnya ke arah Sean yang juga tengah menatapnya dengan raut kasihan. “Ck, kau ini!” lagi dan lagi Sean mendapatkan pukulan di tengkuknya. Pria itu menatap sang ayah dengan tatapan kesal. Ingin membalas tapi ini ayahnya sendiri. Sean tidak mau menjadi anak durhaka dan mendapatkan kesialan nantinya. “Daddy kenapa selalu menyalahkan ku,” kesal Sean sembari mengusap tengkuknya. “Tentu saja karena kau yang salah, bocah nakal,” geram Alex. “Semuanya saja salahku, dasar pak tua!” “Beraninya ka-” “HEY, SEAN!” Belum sempat Alex mengucapkan semua isi pidato kemarahannya, Sean lebih dulu kabur dari hadapannya. Sean melambaikan tangannya sembari bergegas menuju pintu keluar. Alex tak bisa berkata-kata lagi. Melihat tingkah laku putranya itu mengingatkan Alex pada masa mudanya dulu yang tak kalah jauh bar-bar seperti Sean. Alex kembali berbalik menatap pintu yang tertutup di depannya. Pria itu menggenggam knop pintu. Pintu berhasil dibuka, namun sesaat sebelum tubuh Alex memasuki pintu sebuah jam kecil melayang hingga membentur pintu dan menyebabkan pintu kembali tertutup. Alex jelas saja terkejut dengan hal spontan itu. Apa Mega begitu marah hingga melakukan aksi tadi? Alex sempat bergidik ngeri membayangkan Mega melemparkan pedang samurai yang terpajang di atas dinding kepala ranjang. Dan terpaksa untuk kali ini Alex mengalah untuk tidur di kamar sebelah kamar mereka. Kamar bekas Sean dulu sebelum memiliki mansion sendiri. “Awas saja jika aku bertemu dengan anak itu, akan aku cincang-cincang badannya lalu kuberikan pada anjing jalanan.” *** Sementara itu, Vierra bersama Ryder tengah memakan makanan kantin kampus. Vierra makan dengan lahap, entah itu karena dirinya sangat lapar atau sedang kesal, yang jelas makanan bisa mengembalikan suasana hatinya kembali lebih baik. Persetan dengan semua hal yang tengah mengusik pikirannya, Vierra ingin makan sebanyak yang ia bisa. “Satu lagi,” ucap Vierra pada Ryder. Ekspresi Ryder yang terkekeh berbanding terbalik dengan beberapa orang yang memperhatikan Vierra. Gadis dengan bentuk tubuh kecil itu bisa memuat posri makanan sebanyak ini? Mereka tak menyangka itu. Vierra telah menghabiskan hampir lima piring makanan berbahan nasi dan ayam crispy, tiga cupcake dan dua gelas air minum. Saat mata mereka turun menuju perut Vierra, ternyata perut itu tetap datar tanpa ada lipatan kembung atau semacamnya yang menandakan jika ia telah mengisi lambungnya banyak makanan. “Ra, apa kau tidak sadar dengan tatapan mereka dikantin ini?” bisik Ryder. “Ada apa memangnya?” tanya Vierra tanpa menatap Ryder. Ia masih sibuk melahap makanannya. “Mereka menatapmu dengan tampang aneh, mungkin ilfell atau kagum? Entahlah,” ucap Ryder. “Terserah, lagipula semakin baik jika mereka merasa ilfeel denganku. Bukankah itu berarti aku tidak perlu mendengarkan rayuan busuk mereka setiap hari?” ucap Vierra santai. Ryder tertawa lepas mendengar penuturan sang sahabat. Ia mengusap gemas puncak kepala Vierra hingga rambut gadis itu sedikit berantakan. Tatapan tajam Vierra tujukan pada Ryder yang menganggunya. “Aku sedang dalam kondisi mood yang tidak baik, jadi jangan coba-coba,” ancam Vierra penuh penekanan. Ryder bukannya takut, ia malah semakin gemas melihat tingkah Vierra. Gadis itu amat imut jika sedang marah. Ryder semakin gencar mengacak rambut Vierra hingga benar-benar kusut tak menentu. “Ryder!” geram Vierra kesal. “Apa? Kau mau apa?” tantang Ryder tak takut sama sekali. Cukup lama saling menatap tajam, kini Vierra yang memilih memutuskan terlebih dahulu pandangan mereka. Gadis itu mendorong piringnya menjauh hingga mendekat pada Ryder yang berada di depan gadis itu. Vierra bersedekap d**a melihatkan tanda-tanda bahwa ia sedang merajuk. Pipi gadis itu mengembung dan bibirnya lebih maju dari biasanya. Tatapannya menajam menatap pria di depannya ini. Menurut Vierra, sikap yang ia tunjukkan ini adalah sikap yang paling menyeramkan layaknya singa, tapi siapa sangka bahwa Dimata Ryder sikap Vierra tak lebih seperti anak kucing yang sedang menatapnya kesal. Bukannya takut, Ryder semakin terkekeh senang. Ia mecubit kedua pipi mengembung milik Vierra dan menarik-nariknya, memainkannya bagai squisy. “Ululuh imutnya,” gemas Ryder. “Aaa Ryder!” kesal Vierra berusaha melepaskan tangan Ryder dari pipinya. “Uhh andai aku punya kucing sepertimu,” ucap Ryder setelah melepaskan cubitannya. “Sakit, bodoh!” “Eits, apa kau bilang? Mulutmu nakal,” ucap Ryder sembari menyentil bibir Vierra dengan jarinya. Vierra tak mampu berkutik lagi. Gadis itu memilih diam sembari mengelus pipinya yang sakit. Ryder sebenarnya amat gemas dengan gadis di depannya ini. Pipi yang memerah akibat cubitannya dan bibir yabg ditekuk menambah kesal, siapa yang tidak gemas jika tingkah gadis itu begini? Ryder sadar beberapa pasang mata menatap ke arahnya, atau lebih tepatnya ke arah Vierra. Saat mata Ryder menatap mereka, dirinya terkejut dengan wajah para pria di sana yang memerah blushing. Hey, apa para pria itu memperhatikannya sejak tadi? Ralat, maksudnya memperhatikan Vierra sejak tadi? Ryder mendengkus kesal. “Vierra, ayo kembali ke kelas. Mata kuliah berikutnya akan dimulai,” ucap Ryder yang telah bangkit dari duduknya. Vierra tak menjawab tapi ia ikut berdiri. Gadis itu bahkan pergi tanpa menunggu Ryder selesai membayar makanan mereka. Sudahlah tidak bayar, seenaknya pula. Dasar gadis tidak tau diri. “Itu kekasih Anda?” tanya pelayan pria di sana pada Ryder yang tengah membayar makanannya. Ryder berdecak pelan saat menyadari jika pelayan ini juga memperhatikan Vierra secara diam-diam. Hadeh, sebanyak itukah penggemar gadis itu? Ryder geleng kepala. “Bukan?” ucap pelayan itu lagi saat melihat Ryder menggeleng pelan barusan. “Eh, hah apa? Oh.. tentu saja dia kekasihku, kenapa?!” ketus Ryder. “Oh begitu, tidak ada apa-apa saya hanya bertanya.” Terdengar helaan napas kasar dari pelayan itu dan membuat Ryder tersenyum miring. Ryder berlari untuk menyusul Vierra yang telah berjalan cukup jauh darinya. Sesampainya ia di samping Vierra, tangan Ryder langsung bertengger manis di bahu Vierra. Tak ada penolakan karena Vierra malas. “Setelah mata kuliah selesai, apa kita langsung pulang?” tanya Ryder. “Entahlah, sepertinya iya.” “Bagaimana jika jalan-jalan ke pusat perbelanjaan?” Vierra menatap cepat pada Ryder yang baru saja berucap. “Kau mentraktir?” tanya Vierra dengan mata bulat polosnya. “Ck, dasar tukang minta traktir.” “Oh, ya sudah. Aku tidak akan ikut,” ucap Vierra kembali menatap ke arah depan. “Aish kau ini, baiklah aku yang akan mentraktir,” putus Ryder. Tanpa pria itu sadari bahwa Vierra tengah tersenyum senang sekarang. *** “Akhirnya selesai,” ucap Ryder lega saat dosen keluar dari ruang kelas mereka. Tak bisa dibayangkan betapa pegalnya pinggang Ryder saat disuruh duduk tegap oleh dosen killer itu selama masa pembelajaran berlangsung. “Dasar lemah, begitu saja sudah kelelahan,” cibir Vierra terang-terangan. “Diam, lebih baik pijatkan pinggangku ini,” ucap Ryder sembari berbalik membelakangi Vierra. Vierra tak menolak, ia cukup kasihan dengan raut lelah Ryder. Gadis itu mengungkap baju kaos Ryder hingga menampakkan punggung serta perutnya. “AAA apa yang kau lakukan?” kaget Ryder sembari menarik baju kaosnya untuk kembali menutupi perut kotak-kotaknya yang tereskpos. Tampak gadis-gadis di depan sana memekik histeris. “Aku ingin memijat pinggangmu, bodoh!” “Tapi tidak dengan membuka bajuku, Ra!” “Terserah, cepatlah sedikit.” Ryder pasrah saat Vierra kembali membuka kaosnya dan yang hanya bisa ia lakukan adalah berusaha semaksimal mungkin menutup perut sixpack-nya itu. Saat tangan halus Vierra menyentuh langsung kulit punggung Ryder, entah kenapa tubuh Ryder terasa kaku seketika. Sengatan listrik itu terasa hingga menjalar ke hatinya. Tangan kecil yang halus itu menekan punggungnya serta pinggangnya. Tak pernah Ryder sangka bahwa tangan gadis itu akan selembut ini. Ryder terlalu terlena dengan pijatan tangan halus Vierra hingga tanpa sadar Vierra telah selesai dengan tugasnya. “Hey, ada apa denganmu? Kenapa melamun?” sentak Vierra di depan wajah Ryder. “Eh, hah apa?” ucap Ryder yang baru tersadar. “Aku sudah selesai, apa sudah lebih baik?” tanya Vierra yang tampak khawatir. “Kau mengkhawatirkanku?” ucap Ryder bertanya. “Tentu saja, selain karena kau sahabatku, kau adalah uang berjalanku. Kita akan ke pusat perbelanjaan dan semua itu memerlukan uangmu. Tentu saja aku khawatir,” ucap Vierra dengan kalimatnya yang sebenarnya hanya candaan. “Aish kau ini,” decak Ryder kesal. Ia tak jadi terharu karena ucapan Vierra. Melihat gadis itu menyengir lebar membuat Ryder memutar bola matanya malas. “Baiklah, ayo.” Vierra menarik tangan Ryder untuk segera keluar ruangan ini. Ia terlihat amat antusias sekali. *** “Sekarang apalagi?” tanya Ryder menatap gadis di sampingnya yang terlihat sedang menikmati es krim cokelat jumbo. “Bagaimana dengan Timezone?” “Kau yakin ingin ke sana?” tanya Ryder. Ia sedikit malas jika harus masuk ke sana yang tentunya dipenuhi oleh banyak anak-anak dan remaja umur belasan. Ya, walau tak jarang ada orang dewasa, tapi Ryder tetap merasa enggan. “Baiklah, Timezone.” Ryder mengelus d**a untuk berusaha sabar. Ia terlihat amat tertekan berada di samping gadis cantik ini. Cukup lama waktu yang mereka habiskan untuk bermain di sana, hingga akhirnya setelah dua jam lebih merasa puas bermain, Vierra memilih mengajak Ryder keluar dari sana. Mereka kembali berjalan-jalan mencari hal apa yang bisa mereka lakukan lagi. Saat melihat bioskop, saat itu pula mata Vierra berbinar senang. “Aku ingin nonton di bioskop, ayo!” Lagi-lagi Ryder pasrah saat Vierra menyeretnya mengikuti langkah Vierra memasuki bioskop yang tampak ramai oleh sejumlah keluarga serta remaja bersama pasangan mereka. “Ingin menonton apa?” tanya Ryder sembari menatap menu film yang akan ditayangkan di bioskop itu. “Bagaimana jika film haror? Aku suka itu,” ucap Vierra semangat. “Baiklah.” Ryder mengantri sementara Vierra membeli popcorn untuk mereka berdua. Keduanya memasuki ruangan bioskop dan duduk sesuai tempat yang mereka pilih di kasir tadi. Menunggu sekitar dua puluh menit dan film mulai ditayangkan. Vierra tampak asik menatap layar lebar di depan sana, tak terkecuali Ryder yang juga menatap serius film yang berlangsung. “AAAA!” pekik Vierra saat wajah hantu tiba-tiba muncul di layar lebar itu. Popcorn yang ia pegang bahkan telah jatuh bertebaran hingga mengenai orang yang duduk di depan mereka. “Ra, astaga,” bisik Ryder saat melihat Vierra tampak takut. Gadis itu menggenggam tangan Ryder amat kuat agar dirinya sedikit tenang. “Tadi bilang suka horor tapi kenapa takut?” kekeh Ryder tak menyangka. “Ya itu karena ada hantu, coba saja jika tidak ada hantu, aku tidak akan takut!” Ryder tertawa pelan agar tak mengusik orang-orang yang tengah menonton serius. Pria itu gemas dengan tingkah Vierra kali ini. Bagaimana bisa film horor tanpa hantu? Kalau mau tanpa hantu, kenapa tidak nonton film romantis atau komedi? Dasar gadis aneh. “Tak ada yang perlu di taku- AAAA!” “AAAA!” Ryder berteriak kaget saat pandangannya yang semula tertuju pada Vierra kembali menuju arah layar, tapi sayangnya hantu yang tiba-tiba muncul membuatnya sekaligus Vierra kaget bersamaan. Orang-orang menatap pada mereka dengan pandangan terganggu. “Hehe, maafkan kami.” Ryder berucap sopan pada mereka. Semua orang kembali serius menonton. Ryder mendekatkan dirinya pada Vierra dan berbisik, “Kita lebih baik berhenti menonton daripada terus menggangu mereka.” “Ah, saran yang bagus. Aku juga sudah tak sanggup lagi. Perutku tiba-tiba terasa mulas,” AKU Vierra jujur. Mereka akhirnya memilih keluar dari dalam ruang bioskop itu sebelum film berakhir. Ryder terus tertawa mengejek tingkah Vierra tadi. Saat mereka sedang asik melempar ejekan satu sama lain, tiba-tiba suara dering ponsel Vierra terdengar. “Siapa?” tanya Ryder penasaran. “Kak Sean,” balas Vierra dan segera mengangkat panggilan itu. “Kenapa, Kak?” tanya Vierra cepat. “Kau dimana?” “Di pusat perbelanjaan, kenapa?” “Kenapa bisa kau ada di sana?” suara Sean terdengar kesal. “Memangnya kenapa?” tanya Vierra balik tanpa membalas pertanyaan Sean. “Pulang.” “Oh, iya. Aku akan pulang ke mansion dad-” “Pulang ke mansion kakak, Ra.” “Eh? Kenapa begitu?” “Turuti saja.” “Tapi-” Tut... Sambungan panggilan langsung diputuskan sepihak oleh Sean. Pria itu tidak ingin mendengarkan alasan Vierra lebih jauh. “Kenapa?” tanya Ryder saat melihat raut kesal Vierra. “Aku harus segera pulang,” ucap Vierra sembari menghela napas kasar. Ryder menatap jam tangannya dan di sana sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Pantas saja Sean menelpon menyuruh Vierra untuk pulang segera. “Baiklah, kita pulang.” Di dalam hatinya, Vierra merutuk kesal. Ia telah berkata pada ayahnya untuk kembali tinggal di mansion utama, tapi kenapa masih tetap tinggal di mansion kakaknya? Bisakah Vierra tenang sedikit saja? Ia hanya ingin menjauh sebentar dari Sean karena patah hatinya semalam. Kenapa begitu sulit untuk dilakukan? Ada saja hambatannya. Huh! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN