***
“Masuk.” Vierra mengernyitkan keningnya saat melihat Sean telah pulang lebih dulu dan kini sedang bersedekap d**a di depan pintu utama mansion besar ini. Melalui mata itu, Vierra tahu jika sang kakak tidak suka ia pulang bersama Ryder. Ada masalah apa kakaknya ini dengan Ryder? Seingat Vierra, Ryder tidak pernah melakukan hal-hal yang tidak sopan pada kakaknya. Lantas dengan alasan apa Sean tidak suka dengan Ryder?
Vierra tidak berkata sekata patah pun. Gadis itu memilih untuk memasuki mansion tanpa harus berlama-lama berdekatan dengan Sean. Saat Vierra telah memasuki mansion, Sean segera memerintahkan pengawal kepercayaannya untuk menutup pintu besar itu.
“Ra,” panggil Sean yang kini berjalan di belakang Vierra. Sean terus mengikuti Vierra dari belakang.
Vierra? Tentu saja ia diam tak menyahut panggilan itu. Entah kenapa saat melihat wajah sang kakak, ingatannya kembali pada seluruh kejadian menjijikan waktu itu. Demi Tuhan, ia ingin membenci Sean karena perlakuan tak senonoh pria itu disaat hari kebahagiaan yang selalu ia nantikan. Vierra mengutuk pesta ulang tahunnya ini. Untung tahun-tahun berikutnya, Vierra bersumpah tidak akan merayakan pesta ulang tahun lagi.
“Ra!” kini Sean memanggil nama Vierra dengan intonasi kata yang lebih tinggi. Bisa dikatakan setengah membentak.
Vierra tetap pada pendiriannya. Ia belum siap untuk berhadapan langsung dengan kakaknya. Melihat mata itu. Melihat hidung itu. Melihat bibir tebal itu. Semua yang ada pada diri Sean membuat jantungnya seolah tertusuk belati tak kasat mata. Bagaimana mata Sean menatap penuh cinta pada Bella, Vierra benci itu. Bagaimana saat Sean menyatukan hidungnya dan hidung Bella di gudang dengan napas tak beraturan, Vierra benci itu. Bagaimana bibir tebal Sean yang bergerak lembut dibibir Bella, Vierra benci itu.
Vierra benci semuanya!
BRAK!
Tubuh Vierra ditarik ke belakang dan punggungnya langsung menghantam tembok dengan tubuh Sean yang menghimpitnya. Pintu kamar yang tadi sempat terbuka oleh Sean, kini telah tertutup kembali. Melihat posisi mereka yang terlalu dekat membuat detak jantung Vierra semakin bertalu-talu. Ia benci ketika dirinya terlihat lemah di depan Sean yang besar di depannya. Menghirup harum maskulin sang kakak, membuat Vierra semakin tak tahan. Napas gadis itu memburu antara marah dan gugup. Wajahnya ia palingkan menghadap samping agar tidak bersitatap dengan mata Sean.
“Dengarkan kakak dulu!” bentak Sean dengan napas memburu. Vierra hanya diam. Gadis itu hanya perlu diam dan menunggu serentetan kata yang akan Sean ucapkan lalu pergi.
“Kenapa kau seperti ini?” tanya Sean.
“Vierra!” bentak Sean yang sudah kehabisan kesabaran. Tangan kekarnya meraih dagu Vierra tanpa dicengkram, pria itu memaksa wajah Vierra agar menatap tepat ke arah maniknya.
“Katakan kenapa denganmu? Apa kakak punya salah?” tanya Sean frustasi.
“Tidak ada.”
“Apanya yang tidak ada? Kau menjauhi kakak sejak pagi tadi. Apa kau kira kakak bodoh bisa kau bohongi?” marah Sean. Kedua tangannya ia sampirkan di bahu Vierra, memaksa gadis itu untuk jujur padanya.
“Tidak ada, Kak.” Vierra menghembuskan napas lelah. Sikap kakaknya ini membuat Vierra semakin tertekan.
“VIERRA JUJURLAH!” bentak Sean yang kali ini benar-benar menggelegar hingga suara berat pria itu terdengar sampai ke luar.
“TIDAK ADA, APA KAU TULI? s**l–”
Mata Vierra melebar saat itu juga. Waktu seolah berjalan lambat saat dengan berani Sean menyatukan bibir mereka. Walau bibir pria itu hanya sekedar bertengger manis di bibir Vierra tanpa lumatan, tetap saja membuat Vierra merasa dunianya hampir saja runtuh seketika. Lutut gadis itu lemas tak berdaya untuk membuatnya berdiri tegak. Saat tubuh Vierra hendak jatuh merosot ke bawah, tangan Sean lebih dulu menyelinap memeluk pinggangnya erat.
Sean tak sadar dengan yang ia lakukan. Ia hanya tidak suka saat Vierra membentaknya. Ia tidak suka gadis itu membangkang dan entah kenapa hal ini ia lakukan begitu saja. Sean hanya mengikuti nalurinya saja. Apakah salah?
Saat Sean tak menerima penolakan dari sang adik angkat, entah kenapa niatnya yang tadi ingin memisahkan bibir mereka malah berubah haluan menjadi melumat bibir tipis nan manis milik Vierra. Baru kali ini Sean merasakan bibir secandu milik Vierra. Dirinya tidak bisa berhenti melumat bibir itu. Bahkan Sean menekan tengkuk Vierra agar ciumannya semakin dalam dan intens. Sean merasakan mabuk hanya karena merasakan bibir manis Vierra. Ah ini amat candu!
Vierra kehabisan napas. Gadis itu memukul d**a Sean walau dengan pukulan lemah. Pasokan oksigennya benar-benar kosong. Vierra merasa ingin pingsan saat ini juga. Sean sadar dengan apa yang Vierra kode kan. Dengan berat hati, Sean melepaskan bibir itu.
Napas keduanya memburu. Ada rasa puas saat Sean melihat bibir tipis itu membengkak karenanya. Sementara Vierra malu bukan main. Ia merasa bodoh karena tidak mendorong Sean menjauh. Vierra malah hanya diam menerima segala perlakuan Sean. Namun tidak bisa dielakkan bahwa hal yang Sean lakukan barusan membuat ribuan kupu-kupu seolah berterbangan di perutnya. Ribuan bunga mengisi dadanya. Vierra tak menyangka bisa melakukan hal ini bersama Sean, pria pujaan hatinya.
“Jangan lakukan itu lagi, aku tidak suka mendengar nada suaramu, Ra.” Sean berucap dengan nada beratnya sembari menghapus jejak saliva di bibir bawah Vierra.
Sekarang katakan mengapa kau menjauhi kakak?” tanya Sean. Pria itu menutupi rasa canggungnya sebisa mungkin. Jujur saja ia kini berubah gugup di depan Vierra.
“Kau-”
“Ra!”
“Kak Sean tidak ada disaat acara inti dimulai. Kak Sean tidak menemani Rara saat di podium. Kak Sean bahkan datang dengan membawa kabar mengejutkan. Dan bahkan setelah itu Kakak tidak mengucapkan selamat atau maaf pada Rara. Apa begitu tidak pentingkah acara Rara itu? Itu hanya pesta yang dilakukan setahun sekali dan Kakak tidak ada di saat-saat itu terjadi!” aku Vierra dengan menggebu-gebu. Gadis itu mengucapkan semua yang berada dalam benaknya, kecuali saat ia menyaksikan hal tidak senonoh itu.
Sean menyadari manik abu-abu milik Vierra menyendu. Raut wajah gadis itu bahkan terlihat sedih dan sayu. Tak ada yang bisa Sean lakukan selain memeluk tubuh gadis itu. Pria itu memeluk Vierra dengan erat hingga pipi adiknya itu menempel di d**a bidangnya.
“Maaf. Maafkan kakak, Ra.”
Vierra menggeleng di dalam dekapan itu. Ia menangis saat itu juga. Pelukan ini dan ciuman tadi terasa sesuatu hal yang salah. Vierra tahu bahwa yang Sean lakukan tadi pada bibirnya hanyalah gerakan spontan. Dapat Vierra lihat perbedaan saat mata Sean menatap Bella dan saat menatap dirinya. Terdapat perbedaan yang jelas di sana. Dalam manik mata itu menjelaskan pasti jika Sean menganggap Vierra hanya sebatas adik. Hey, tapi kakak mana yang mencium adiknya sendiri? Sean seolah memberikan harapan pada Vierra. Sementara Vierra tentu tak bisa menolaknya. Hal ini yang ia benci!
“Maafkan kakak yang lupa mengucapkannya. Kemarin kakak terlalu senang saat Bella menerima cinta kakak sampai kakak lupa diri. Maaf,” ucap Sean yang tanpa sadar telah menampar Vierra dengan kenyataan yang ada.
“Lepas, Kak. Rara ingin segera istirahat. Rara lelah,” ucap Vierra sembari mendorong d**a Sean agar pelukan mereka terlepas.
“Ah, maafkan kakak.” Sean segera melepas pelukannya. Pria itu mundur dua langkah untuk memberi jarak pada Vierra. Senyum tipis dari Vierra cukup membuat Sean lega.
Vierra membuka pintu kamarnya dan hendak menutup pintu itu, akan tetapi gagal sebab suara Sean yang terdengar.
“Soal ciuman tadi, maaf kakak tidak sengaja. Jangan ambil hati soal tadi.” Vierra hanya membalas dengan senyum tipis dan mengangguk.
Pintu tertutup, sunyi mengisi ruang. Vierra melempar tas selempangnya menuju sofa dan dirinya bergegas menuju kamar mandi. Tiba di dalam sana, Vierra berdiri tegak menatap kaca di wastafel. Vierra benci ini. Gadis itu menatap bibirnya yang masih terlihat sedikit bengkak. Ia menghidupkan keran air wastafel dan membasuh bibirnya berkali-kali. Tanpa sadar ia menangis terisak. s**l, kenapa ini terjadi padanya?
“Kenapa aku tidak bisa menolaknya?!”
“Kenapa s****n!”
“Aku benci cinta ini!”
Saat mendengar kembali kata-kata kakaknya tadi sebelum ia menutup pintu semakin membuat Vierra membenci cinta yang tumbuh untuk kakaknya. Kenapa harus ada cinta di dunia ini? Kenapa cinta tidak bisa ia kontrol? Andai saja bisa, Vierra akan memilih pria yang mencintainya untuk ia cintai.
Vierra berjalan menuju shower yang dikelilingi kaca bening yang sedikit buram. Tempat dimana ia mandi selain di bathup. Tanpa melepas pakaiannya, gadis itu memilih memutar kran shower air dingin dan menikmati rasa dingin yang menusuk kulitnya. Vierra tidak peduli dengan resiko apa yang ia dapat karena mandi malam-malam begini.
Setelah 30 menit berlalu. Vierra memilih untuk menyudahi mandinya. Gadis itu memakai piyamanya dan masuk ke dalam selimut tebal guna menghangatkan dirinya yang terasa membeku.
“Akanku coba menghilangkan rasa ini perlahan. Namun jikalau tidak bisa, maka akulah yang harus menghilang,” ucap Vierra sebelum tidur menyambut mimpi.
***
Pagi hari kali ini terlihat berbeda bagi Vierra. Ia merasakan tubuhnya lemas bukan main, bahkan suhu tubuhnya terasa hangat. Kepala Vierra terasa berputar-putar tak menentu. Saat kakinya menginjak lantai marmer itu, kakinya seolah terpapar es beku. Lantai itu terasa dingin untuk tubuhnya yang hangat.
Vierra memaksa tubuhnya untuk bangkit. Gadis itu berjalan pelan menuju pintu kamar. Ia butuh asupan untuk perutnya yang kelaparan. Saat kakinya turun ke lantai dasar dan menginjak dapur, tubuh Vierra tersentak kaget saat melihat sosok Bella sedang memasak dengan Sean yang memeluk wanita itu dari belakang. Mereka terlihat amat mesra. Tentu saja mereka tidak menyadari kedatangan Vierra karena tubuh keduanya membelakangi Vierra.
Tangan Vierra mengepal. Ia meremas area jantungnya mengutuk debaran s****n menyakitkan itu. Tubuh lemah Vierra duduk di kursi yang tersedia dengan tubuh yang sudah benar-benar tak kuat menopang beban tubuhnya sendiri. Matanya tak beralih dari kegiatan kedua insan itu walau hal itu menyakitkan baginya. Bagaimana bibir Sean yang mengecup tengkuk Bella dari belakang. Bagaimana bibir yang kemarin malam singgah di bibirnya kini telah berpaling. Tangan kekar itu bahkan melingkar posesif di pinggang Bella. Vierra menatap punggung kedua orang itu dengan wajah tanpa ekspresi.
Vierra menghembuskan napas kasar. Jika ia terus berdiam diri, maka mereka tak akan menyadarinya hingga kegiatan memasak itu selesai. Akhirnya Vierra memutuskan untuk bangkit dan menuju ke kulkas dengan mata yang seolah tak melihat keberadaan keduanya.
Dan benar saja, saat tubuh Vierra melewati keduanya. Tubuh mereka terlonjak kaget. Sean melepas spontan pelukannya. Pria itu bergerak kikuk di hadapan Vierra sembari mengusap tengkuknya. Sementara Vierra? Ia tetap dengan raut datarnya. Vierra mengambil sereal dan s**u putih. Menuangkan sereal secukupnya pada mangkuk yang ada dan menambahkan s**u semaunya. Vierra tetap diam tanpa berbicara sepatah katapun. Setelah selesai menyiapkan serealnya, Vierra segera membawa mangkuk itu menuju ruang keluarga. Vierra malas berhadapan lama dengan mereka.
Vierra menyalakan televisi dengan suara yang terbilang keras sampai tak terdengar suara di sekitarnya. Hal itu Vierra lakukan agar tak mendengar suara kakaknya dan Bella di dapur. Vierra tak ingin mendengar sedikitpun suara mereka menyapa telinganya pagi ini.
“Menonton apa?” tanya Sean yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya sembari menyambar sereal Vierra.
“Biasa,” balas Vierra singkat dengan mata fokus pada layar. Gadis itu mengabaikan Sean dengan alasan ia tengah menonton kartun favoritnya.
“Hah, ternyata begini rasanya diduakan? Adik cantikku lebih memilih menonton pertengkaran kucing dan tikus yang tidak ada habisnya daripada kakaknya ini? Sungguh malang nasibku,” gurau Sean yang tak disambut hangat oleh Vierra. Wajah Vierra terlalu fokus pada layar televisi daripada mendengarkan omong kosong sang kakak.
“Aaa Rara,” rengek Sean yang tidak terima diabaikan. Pria itu memeluk lengan Vierra sembari menyandarkan kepalanya di bahu kecil Vierra. Mata yang Sean upayakan untuk seimut mungkin agar Vierra luluh, tapi ternyata Vierra tetap dalam kondisinya. Gadis itu merasa tidak terganggu sama sekali.
“Ra, kakak tidak suka kau acuh!” kesal Sean dengan wajah cemberut.
“Kak, ingat umur.”
“Aaa Rara!” kesal Sean.
“Menjauh-”
“Sayang, sarapan sudah selesai,” panggil Bella dari arah dapur. Sean duduk dengan tegap kembali.
“Mau sarapan bersama, Ra?” ajak Sean.
“Tidak, Rara ingin menghabiskan ini lebih dulu,” ucap Vierra sembari menunjuk sereal di pangkuannya.
“Baiklah, jika sudah segeralah sarapan. Calon kakak iparmu sudah menyiapkan banyak makanan untuk sarapan.” Setelah mengucapkan itu, Sean segera berlalu menuju dapur kembali.
Vierra memejamkan matanya kuat dan menghembuskan napas dengan kasar. Gadis itu membuka matanya dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ia menunduk melihat serealnya dan kembali menyuapi sereal itu ke dalam mulutnya.
“Kakak ipar, heh?” kekeh Vierra dengan nada miris. Ia menggigit sendok dengan kesal. Memakan sereal itu dengan menggebu-gebu hingga tanpa sadar telah habis ia lahap.
Vierra meletakkan mangkuk kosong itu di atas meja begitu saja. Ia mematikan televisi dan pergi menuju kamarnya lagi.
Bahkan setelah Sean tadi memeluk lengannya, pria itu tidak sadar jika suhu tubuhnya lebih hangat dari suhu normal. Kakaknya itu terlalu senang dengan keberadaan Bella hingga lupa dengan dirinya ini.
Pagi-pagi sudah di mansion orang, memangnya siapa dia? Batin Vierra berucap kesal.
Dia kekasih kakakmu.
Ah s**l! Vierra benci fakta itu.
***