8. Rencana Mandiri

2065 Kata
*** “Mulai saat ini, dia akan tinggal bersama kita.” Gerakan Vierra yang akan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya menjadi terhenti. Kepalanya perlahan terangkat hingga dua orang muncul dalam pandangannya. Vierra menggenggam sendok dan garpu itu dengan perasaan yang tak mampu dijelaskan. Ia marah, tapi siapa dirinya hingga berhak menentang keputusan sang kakak? Dirinya bahkan bisa dikatakan menumpang di mansion mewah ini karena rengekannya dulu. Dan sekarang Vierra menyesal. “Terserah,” ucap Vierra acuh dan kembali menunduk untuk menikmati makannya. Tak ada yang bisa Vierra katakan lagi selain menerima itu. Kekehan miris terdengar dari bibirnya saat mendengar sorakan gembira dari mulut Sean. Pria itu terlihat amat bahagia. Sementara Bella di samping sang kakak hanya diam menatapnya seolah mengatakan maaf dengan rasa tidak enak hati. Vierra merasa menjadi tokoh antagonis di sini saat melihat kekasih kakaknya itu merasa bersalah padanya. “Rara selesai,” ucap Vierra dan bangkit dari duduknya. Gadis itu memberikan senyum palsunya. “Kak Bella tidak perlu sungkan, bukankah Kakak kekasih kak Sean? Tentu saja kita sudah seperti keluarga.” Saat mengucapkan kalimat itu, Vierra meremas tali tas selempangnya tanpa diketahui kedua orang di depannya, untuk menahan segala rasa kecewa dalam hatinya. “Rara berangkat,” pamit Vierra dan bergegas pergi. Di dalam batinnya sendiri, Vierra merutuki dirinya yang naif dan munafik itu. Bagaimana dia berucap dan apa yang ia rasakan amatlah berbeda. Dulu mansion ini ia anggap sebagai tempat pulang ternyaman yang pernah ada, tetapi semua berbanding terbalik sekarang. Untung tinggal di sana saja rasanya amat sesak bagai di neraka. Bagaimana dirinya disuguhkan pemandangan sepasang kekasih yang tengah bermesraan tanpa pandang tempat. Bagaimana atensi Vierra yang semakin diabaikan oleh kakaknya. “Aku benci diriku yang ini,” gumam Vierra. *** “Ryder,” panggil Vierra yang entah sudah berapa kali ia lakukan. Sahabatnya ini nampak menghindarinya. Ada apa ini? Kenapa banyak sekali kesialannya hari ini? Suasana hati Vierra semakin buruk saat ini. Banyak beban pikiran yang merasukinya akhir-akhir ini. Dan sekarang Ryder ingin menambahkannya lagi? Vierra menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan di atas meja. Gadis itu tidak ingin menangis, tapi entah kenapa isakan itu muncul dengan sendirinya. Entah sedih karena Ryder yang mengabaikannya atau karena mendengar kabar bahwa Bella akan tinggal satu atap dengannya. “Ra, kau menangis?” tanya Ryder terkejut. Pria itu menggoyangkan tubuh Vierra pelan. Bahkan berusaha untuk membuat Vierra duduk tegap. “Ra, jangan menangis. Maafkan aku,” ucap Ryder merasa bersalah. “Ra,” ucap Ryder. Pria itu mengintip dari arah bawah untuk melihat apakah benar sahabatnya itu menangis, dan ternyata benar. “Ya Tuhan, Ra. Tolong maafkan aku, sungguh aku tidak berniat. Ra, jangan menangis,” frustasi Ryder. Vierra duduk dengan tegap. Rambutnya terlihat berantakan sebab ulah Ryder barusan dan yang lebih parah adalah wajah gadis itu yang tampak sembab. Air mata Vierra merembes terus-menerus tanpa bisa gadis itu hentikan. “Jangan mengabaikanku,” ucap Vierra dengan suara serak. Ryder amat merasa bersalah. Pria itu lantas memeluk tubuh kecil Vierra. Membawa gadis itu ke dalam dekapan hangatnya. Jujur saja ia lemah saat melihat wanita menangis karenanya. Saat melihat wanita menangis karenanya, entah kenapa membuat Ryder teringat pada air mata ibunya yang seringkali keluar karena sang ayah. Ryder memiliki ibu yang amat baik tapi tidak dengan ayahnya. Ryder menyayangkan dirinya yang harus lahir dari seorang pria b******n seperti sang ayah. Namun, ibunya selalu berkata bahwa tak masalah ia lahir dari seorang b******n sekalipun, asal jangan dirinya yang menjadi b******n. “Maaf, Ra.” Ryder mengecup puncak kepala Vierra penuh sayang. Keduanya tidak sadar menjadi pusat perhatian semua mahasiswa dan mahasiswi di sana. Para pria menatap sengit pada Ryder karena dapat memeluk sang primadona dengan bebasnya. Sementara para gadis-gadis memekik histeris. Merek tidak benci pada Vierra yang memeluk sang most wanted, melainkan mereka hanya sekadar iri dengan semua yang dimiliki Vierra. Sosok gadis yang cantik, kaya, dan tentunya dilingkupi orang-orang berpengaruh di sekitar. Namun, namanya juga manusia pasti ada kekurangan walau hanya satu. Ya, kekurangan Vierra hanya diotaknya saja. Gadis itu tergolong mahasiswa yang memiliki kecerdasan standar. “Bolos?” ajak Ryder yang malah mendapatkan cubitan maut dari Vierra. “Jangan menyesatkanku,” ketus Vierra. Aksi keduanya terhenti saat dosen memasuki kelas mereka. Vierra kembali mengambil sikap duduk yang baik. Ia merapikan baju serta rambutnya yang terlihat berantakan. Ryder meraih wajah itu untuk menghadap ke arahnya. Pria itu menghapus jejak air mata Vierra dan sisa maskara yang berantakan karena air mata gadis itu. Ryder terlalu fokus pada apa yang ia lakukan hingga tidak sadar jarak wajahnya dan Vierra terbilang cukup dekat. Vierra bahkan menahan napasnya beberapa detik. Oh Tuhan, dia tahu pria ini tampan tapi setidaknya jangan mengujinya seperti ini, batin Vierra. “Itu yang sedang bermesraan, bisakah kalian tunda lebih dulu?” tegur dosen yang tanpa sengaja menatap ke arah mereka. Tubuh Ryder dan Vierra sontak saling menjauh, keduanya terlihat sama-sama terkejut. Vierra yang menunduk malu, sementara Ryder yang memalingkan wajah sembari mengusap tengkuknya. Keduanya terlihat canggung sekarang. Dosen s****n! *** Setelah pembelajaran yang membosankan itu, Vierra dan Ryder memilih untuk keluar kelas terakhiran karena malas berdesakkan dengan orang-orang di sana. “Ke kantin, Ra?” tanya Ryder. “Hm,” sahut Vierra. Ia tengah mengetik balasan pesan dari sang kakak yang berisi bahwa Sean akan pulang telat dan menyuruhnya untuk menjaga sikap dengan Bella nanti. “Kenapa dengan wajahmu? Kau terlihat kesal,” ucap Ryder yang penasaran. Pria itu mengintip isi pesan di ponsel Vierra dan manggut-manggut mengerti. “Bukankah Bella itu sahabat kakakmu? Kenapa dia tinggal bersama kalian?” heran Ryder. “Mereka resmi sepasang kekasih, dan kakakku ingin Bella tinggal di mansionnya,” balas Vierra mencoba secuek mungkin, tapi sayangnya siapapun yang mendengarnya pasti sudah tahu bahwa Vierra sedang kesal. “Wah benarkah? Sahabat jadi kekasih? Lalu, apa mereka akan menikah?” antusias Ryder. Entahlah ia sendiri bingung, mendengar sahabat berubah jadi kekasih adalah topik pembicaraan yang menarik baginya. Tanpa ia sadari bahwa sedaritadi dirinya tak melepas pandangan pada sosok cantik di sampingnya ini. Vierra cantik dan dirinya tampan. Bukankah cocok? Ryder tersadar dari lamunannya. Pria itu terkekeh lucu. Dengan gemas ia mengacak rambut Vierra. “Kau cemburu, ya?” tanya Ryder dengan tawanya. Ia tahu bahwa Vierra amat dekat dengan sang kakak, tentu saja saat kakaknya memiliki prioritas lain maka gadis manapun akan merasa cemburu dan terasingkan. Itulah yang Ryder pikirkan. Tidak pernah terlintas dalam benaknya bahwa Vierra mencintai kakaknya sendiri. Ryder menyangka bahwa Vierra menyayangi Sean selayaknya adik pada kakak. “Apanya yang cemburu!” ketus Vierra. Ia menarik tangan nakal yang mengacak rambutnya dan mengigit cukup kuat pergelangan kekar Ryder. “Rasakan itu!” kesal Vierra. Namun saat melihat tampang Ryder yang seolah menahan tawa membuatnya mengernyit bingung. Saat ia akan membuka suara, suara tawa Ryder lebih dulu menginterupsinya. “Kenapa kau begitu lucu, hah? Ya ampun perutku sakit,” ucap Ryder sembari terus tertawa terbahak-bahak. Membayangkan kembali bagaimana raut marah Vierra sembari mengigit lengannya tadi membuat tawa itu tak berhenti. Ryder memegangi perutnya. Ia bahkan merasakan sudut matanya yang berair karena terlalu keras tertawa. “Ish!” kesal Vierra. Gadis itu segera bangkit dari duduknya dan berjalan tergesa-gesa keluar dari kelas yang telah kosong. Ryder segera meredakan tawanya. Ia memasukkan beberapa buku tadi ke dalam tas kecilnya dan berlari menyusul Vierra. Tidak akan ia biarkan Vierra kembali marah padanya. Ryder pikir Vierra belum berjalan cukup jauh meninggalkannya karena langkah kecil gadis itu. Namun tepat saat keluar pintu, Ryder tak menemukan sosok Vierra. Melihat punggungnya dari kejauhan pun tak ia jumpai. “Secepat itu?” gumam Ryder tak menyangka. Antara takjub dan merasa mustahil. Ryder melanjutkan langkahnya menjadi pelan sembari menatap liar ke sekitar guna menemukan sahabatnya itu. “Dia dima- AUU!” seru Ryder kesakitan saat tiba-tiba sebuah tangan muncul dari balik tembok di ssmpingnya dan menarik telinganya cukup kuat. Vierra keluar dari tempat persembunyiannya dan menatap garang pada Ryder dengan tangan yang senantiasa bertengger manis di telinga sang pria tertampan kampus. “Lepas, Ra,” rengek Ryder. Telinga pria itu terlihat memerah. “Makanya, lain kali jangan membuatku marah!” peringat Vierra dengan tampang kesal yang menggemaskan. “Kau menggemaskan.” “Hah, apa?” Vierra semakin menarik telinga itu. Ia mengabaikan segala kesakitan yang dipaparkan Ryder padanya. “Ampun Ra, ampun.” “Katakan maaf, cepat!” perintah Vierra garang. “Ya maaf, Ra. Oh Tuhan telingaku,” ucap Ryder yang terus-terusan mengeluh. “Bedakan antara ‘ya maaf' dan 'maaf ya'! Aish, kau ini.” Vierra menarik lebih kuat dan melepaskan setelah dirasa cukup. Melihat telinga Ryder memerah sebelah karena ulahnya sudah cukup membuat Vierra puas. Gadis itu terkekeh yang malah menambah kesan cantiknya. “Si cantik yang berbahaya,” gumam Ryder sembari mengelus telinganya. “Hah, apa?” “Tidak ada, sekarang lebih baik kita ke kantin. Aku sudah amat lapar,” ajak Ryder dengan tangan sebelahnya yang mengusap perut. “Baiklah.” *** Vierra turun dari mobilnya. Gadis itu memang memilih untuk membawa mobil sendiri semenjak Sean tak memiliki waktu untuk menjemputnya. Bahkan mengantarnya pun pria itu sudah tak bisa. Saat pintu mansion terbuka, Vierra bergegas menuju dapur karena kerongkongannya terasa kering. Saat memasuki dapur, Vierra bersitatap dengan Bella yang tengah membuat makan malam. Gadis itu tanpa sadar menghembuskan napas kasar. Melihat wajah Bella membuat suasana hatinya kembali memburuk. “Malam, Ra.” “Hm, malam Kak.” Vierra berjalan menuju kulkas dan memilih untuk meminum air putih daripada s**u seperti yang ia rencanakan tadi. “Apa kau sudah makan, Ra?” tanya Bella mencoba akrab. Wanita itu sibuk menata makanannya tanpa bersusah payah menatap pada Vierra. Gerakan tangan lentik itu yang membolak-balikkan masakan di kuali membuat Vierra iri. Ia juga ingin pandai memasak. Apa karena ini kakaknya jadi menyukai Bella? Pandangan Vierra menyusuri tubuh Bella dari atas ke bawah lalu kembali ke atas. Menurutnya Bella tidak terlalu secantik wanita diluar sana hingga membuat Sean menjadi tergila-gila padanya. Bella wanita biasa saja yang sayangnya beruntung mendapatkan cinta sang kakak angkat. Namun pemikiran itu menghilang saat Vierra melihat gerak-gerik Bella yang amat anggun. Garis tipis di bibir Bella membuat gadis itu memancarkan kharismanya. Dan jangan lupakan raut serius yang tengah memasak itu semakin menambahkan aura positif di dalam tubuh Bella. “Sosok sempurna,” gumam Vierra tanpa ia sadari. Vierra kini merasa rendah diri. Dalam segi kecantikan, memang Vierra yang menang, tapi jika dalam segi lainnya maka Bella yang unggul. Wanita cerdas, berkharisma, anggun, elegan dan cantik. Tidak ada yang kurang dari sosok Bella. “Apa kau berbicara sesuatu, Ra?’ tanya Bella sembari menatap manik Vierra. “Ah? Uhm... tidak ada. Rara pamit ke kamar ya, Kak?” izin Vierra dengan sopan. “Ya, silakan. Tapi apa kau tidak mau makan lebih dulu, Ra?" tanya Bella yang terlihat khawatir pada kesehatan Vierra. “Kebetulan Rara baru saja makan tadi bersama Ryder,” ucap Vierra. Itu bukan sekedar alibi, melainkan kenyataannya. Vierra dan Ryder tadi sempat mampir ke restoran untuk memenuhi hasrat Vierra yang sedang lapar. “Ih begitu, baiklah.” Vierra berjalan menuju kamarnya. Setiap pijakan kaki Vierra terasa amat berat baginya. Vierra merasa lelah terus berpura-pura seperti ini. Ia merasa tidak tenang berada di sekitaran Bella, apalagi saat berhadapan dengan Sean. Entah kenapa tidak ada gairah tersendiri untuknya berhadapan dengan kakaknya. Vierra mengunci pintu kamarnya dan memilih untuk segera mandi saja. Gadis itu memilih berendam dalam bathup saja. Air hangat beraroma mawar itu menghinggapi penciuman Vierra. Saat kakinya perlahan masuk ke dalam air yang hangat itu, tubuh Vierra berangsur rileks..Gadis itu menenggelamkan tubuhnya hingga menyisakan kepalanya saja di permukaan. “Aku harus hidup mandiri dan terlepas dari kak Sean.” Vierra terus merenung sembari mencoba mencari jalan keluar agar bisa mendapatkan izin kedua orang tuanya terutama kakaknya agar bisa hidup mandiri. “Mari mulai dengan meminta izin lebih dulu, lalu setelahnya baru memilih apartemen yang dekat dari mansion Ryder. Dan hidup dengan aman dengan mencoba melupakan rasa cinta ini,” ucap Vierra yang sudah mengatur segala rencana ke depannya. “Baiklah ini mudah, Ra.” Vierra mencoba memberikan dorongan semangat pada dirinya sendiri. “Ya, mudah sekali.” Vierra menghembuskan napas kasar saat ia sadar apa yang ia katakan tidak semudah apa yang akan terjadi nanti. Alex mungkin akan memberikan izin pada Vierra, tapi tidak dengan Mega dan Sean. Kedua orang itu amat protektif pada Vierra. Pikiran Vierra buntu. Gadis itu memasukkan kepalanya ke dalam bathup cukup lama hingga ia merasa oksigennya sudah berkurang banyak, barulah Vierra kembali memunculkan kepalanya kembali. “Apapun itu, aku pasti bisa!” tekad Vierra mantap. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN