***
Vierra memasuki mansion yang terlihat sepi dengan tatapan redup karena kelelahan. Gadis itu tak kuat lagi berjalan menuju kamarnya. Kakinya gemetar karena saking lelahnya ia. Vierra terlalu memaksakan dirinya untuk terus-menerus mencari kesibukan agar tidak memiliki waktu luang yang banyak di mansion ini. Vierra mencoba untuk mencari pelampiasan, termasuk menyusun tugas akhirnya di semester ini. Dalam kurun waktu 5 bulan lagi, Vierra harus bisa menyelesaikan skripsi nya dan pergi dari mansion ini.
Beberapa hari lalu saat Vierra meminta izin untuk tinggal di apartemen, sesuai dugaannya bahwa Mega dan Sean menentang keras keputusannya itu. Vierra tidak diberi izin sama sekali untuk jauh dari mereka. Maka dari itu, ia telah membulatkan tekad bahwa dirinya harus selesai kuliah di tahun ini karena salah satu syarat yang diajukan Sean agar Vierra dibolehkan tinggal di apartemen adalah saat gadis itu telah resmi wisuda.
“Dimana mereka?” gumam Vierra. Kepalanya ia sandarkan pada sandaran sofa hingga mendongak ke atas. Suasana yang sepi membuat mata itu perlahan terpejam. Tidak bisa terelakkan saat kantuk menyerang. Vierra jatuh tertidur saat itu juga dengan posisi yang tidak cukup nyaman baginya.
Seseorang turun dari lantai atas mansion itu dengan keadaan shirtless menuju dapur. Dia lah Sean. Sean menuju dapur karena merasa kerongkongannya terasa amat kering kerontang. Saat Sean ingin kembali menuju kamarnya kembali, Sean mengernyit sebab melihat sosok tengah duduk di sofa ruang tamu tanpa bergerak sedikitpun. Sikap waspada tiba-tiba Sean tunjukkan. Dengan langkah perlahan sembari membawa sebuah pisau yang sempat ia ambil dari dapur, Sean berjalan perlahan mendekati sosok itu.
Degup jantung Sean menggebu saat dirinya berdiri di depan sosok itu dengan pisau yang mengarah tepat di hidung Vierra. Sontah Sean bernapas lega. Ia menurunkan pisau itu dari hadapan Vierra dan meletakkannya di atas meja.
Sean memilih tetap pada posisinya. Mata tajam pria itu menatap lamat-lamat pada wajah kelelahan Vierra. Sosok di depannya ini terlalu rapuh. Entah perasaannya saja atau memang itulah yang terjadi, menurutnya Vierra dan dirinya mulai menjauh satu sama lain karena kesibukan mereka. Sean yang tidak lagi memprioritaskan Vierra membuat ia jarang mengobrol akrab seperti itu bersama Vierra. Sean merasa komunikasi mereka kian hari kian berkurang dan yang Sean takutkan adalah mereka berubah asing nantinya. Sean tak pernah lagi mengantar atau menjemput Vierra kuliah.
“Apa ada yang salah dari kita, Ra?” gumam Sean. Entah kenapa perasaan Sean menjadi sensitif seperti ini. Mengingat bagaimana saat Vierra meminta izin tinggal di apartemen, tentu saja Sean tahu penyebabnya. Vierra tidak nyaman dengan keberadaan Bella di mansion mereka. Namun dengan membiarkan Bella tinggal di apartemen sendirian itu juga bukanlah keputusan yang benar. Apalagi membiarkan Vierra pergi dari mansion ini untuk tinggal di apartemen, itu juga salah.
“Kenapa menjadi rumit seperti ini?”
Sean berjongkok di hadapan Vierra. Pria itu mendongak demi melihat wajah sang adik. Pria itu meraih pipi Vierra dan mengusapnya perlahan. Dingin. Pipi itu terasa amat dingin di telapak tangan besar Sean. Mata Sean membulat tak menyangka akan merasakan suhu sedingin ini. Pria itu beralih menggenggam tangan Vierra dan dirinya semakin terkejut. Tangan itu amat dingin bagaikan baru saja keluar dari kulkas. Sean menatap jam besar yang tak jauh darinya, dan betapa terkejutnya ia saat menyadari pukul berapa sekarang. Pukul setengah sebelas malam. Sean meyakini gadis ini baru pulang karena tak lama sebelum ia turun ke dapur, ia sempat mendengar suara berisik dari gerbang depan.
“Dasar gadis nakal,” ucap Sean dengan raut cemasnya. Tanpa pikir panjang, Sean segera menggendong tubuh adiknya yang tengah tertidur itu menuju lantai atas, tepatnya kamar Vierra. Gigi Sean bergemelutuk murka. Ia merasa tidak becus menjadi kakak saat melihat keadaan Vierra yang seperti ini.
“Astaga, kenapa dengan Rara?” pekik Bella yang baru saja keluar dari kamarnya dan Sean.
“Dia tertidur di ruang tamu dengan keadaan tubuh amat dingin, tolong buatkan teh hangat untuknya, Bell.”
Bella mengangguk cepat, wajahnya terlihat cemas dan segera berlari menuruni tangga demi membuatkan teh hangat untuk gadis itu. Sementara Sean telah menidurkan tubuh Vierra di ranjang, ia melepaskan sepatu sneaker yang dipakai Vierra dan menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut yang tebal. Bibir Vierra yang bergetar membuat Sean semakin panik. Gadis itu terlihat amat kedinginan. Sean menggenggam tangan dingin itu, melingkupinya dengan kehangatan tangannya. Sean juga menggosok pelan tangan mereka agar kehangatan semakin terasa. Ia juga tak lupa menaikkan suhu kamar menjadi lebih hangat.
“Ra, apa kau baik-baik saja?” ucap Sean sembari mengusap kening Vierra yang berkeringat.
“Uhm...” Vierra tidak bangun dari tidurnya. Matanya masih terpejam. Gadis itu seolah mencari kehangatan yang lebih dari ini. Tubuhnya mengigil hebat bahkan bibir yang biasanya berwarna merah muda sekarang berubah pucat sekali.
“Ra,” panggil Sean berusaha menyadarkan gadis itu. Sean menepuk pipi Vierra pelan berharap gadis itu segera bangun.
“Boleh aku masuk?” tanya Bella yang berada di balik pintu.
“Masuklah, Bell.”
Bella masuk dengan nampan berisi secangkir teh hangat dan sebaskom air hangat beserta kainnya. Wanita itu berniat untuk membasuh tubuh Vierra dengan air hangat itu agar Vierra merasa nyaman.
“Ra, bangun.” Hanya butuh satu kali Bella memanggil nama Vierra, dengan ajaibnya Vierra membuka mata sembari meringis karena dingin yang menusuk tulangnya.
“Ya Tuhan syukurlah, apa kau baik-baik saja, Ra?” tanya Sean dengan suara yang terdengar sangat lega.
“Ya,” balas Vierra seadanya karena ia tidak memiliki tenaga guna mengeluarkan kalimat lebih panjang dari itu.
“Minum tehnya, Ra,” ucap Bella sembari menyodorkan secangkir teh itu pada Vierra. Tangan Vierra terulur mengambil gelas, tapi sayang sekali tangannya terlalu gemetar untuk memegang cangkir itu sendiri. Akhirnya Sean memilih untuk membantu Vierra meminum tehnya. Berkat teh hangat itu, tubuh Vierra sedikit terasa lebih baik, tidak sedingin sebelumnya.
“Apa yang ter-”
“Sean, ada baiknya Vierra membersihkan tubuhnya lebih dulu. Aku akan membasuh tubuhnya, kau keluarlah,” ucap Bella dengan senyumnya. Wanita itu seolah mengatakan pada Sean bahwa Bella bisa diandalkan.
Sean menghembuskan napas kasar, ia menatap wajah pucat adiknya dan memilih keluar dari kamar, “Baiklah. Tolong lakukan dengan hati-hati, Bell.” Bella mengangguk pelan dengan senyum yang tak kunjung luntur dari wajahnya.
Saat pintu tertutup, kini hanya ada Bella dan Vierra saja. Dengan pelan, Bella membantu melepaskan seluruh pakaian yang melekat di tubuh Vierra kecuali celana dalam dan b*a-nya.
“Maaf jika ini terasa tidak nyaman, Ra.” Vierra mengangguk lemah. Ia kembali memejamkan matanya saat kain basah itu menyapu tangan, kaki hingga seluruh tubuhnya. Bella bahkan menggunakan air bersih lain guna menghapus segala make up yang Vierra gunakan. Bella membantu Vierra memakai piyama gadis itu. Dan setelah selesai, Bella segera menyelimuti kembali tubuh itu sampai ke leher Vierra.
Merasakan semua perlakuan lembut Bella terhadapnya setelah sikap tidak suka yang Vierra tunjukkan terang-terangan padanya, entah kenapa menyentil relung hati Vierra. Gadis itu merasa jahat karena telah membenci sosok sebaik Bella. Melihat tingkah keibuan yang ditunjukkan Bella, pantas saja kakaknya amat sangat mencintai wanita itu. Dibandingkan dengan Vierra yang hanya bisa menyusahkan saja. Vierra malu sekarang. Gadis itu memalingkan wajahnya dengan air yang keluar merembes jatuh di sudut matanya.
“Ra, kau menangis?” panik Bella.
“Apa aku melukaimu?”
“Katakan, Ra. Apa ada yang sakit? Dimana? Sini aku lihat,” ucap Bella dengan panik.
“Ra-”
“Maaf,” potong Vierra. Gadis itu terisak kecil dan menatap wajah khawatir Bella. Gadis itu merasa bersalah karena telah membenci wanita sebaik Bella.
“Maaf? Untuk apa?” heran Bella.
“Maaf karena sempat membencimu, maafkan Rara, Kak.” Pengakuan Vierra membuat kekhawatiran Bella menjadi hilang seketika. Wanita itu malah tersenyum maklum menatap Vierra.
“Tidak masalah, Ra. Kak Bella tahu kau hanya tidak terima Sean lebih memprioritaskan kakak daripada dirimu,” balas Bella sembari mengusap rambut Vierra.
Perlakuan dari Bella itu semakin membuat Vierra bersalah. Ia tahan sebisa mungkin untuk tidak menangis keras. Menangis karena merasa bersalah atau karena mulai menyerah. Bella adalah sosok yang cocok untuk kakaknya. Sementara dirinya sendiri, gadis yang hanya bisa merepotkan dan tidak memiliki bakat keibuan seperti Bella saat ini. Vierra kalah telak.
“Maaf telah membuat kalian mengkhawatirkan Rara,” ucap Vierra.
“Tidak masalah, Ra.”
“Apa kau ingin langsung tidur, hm?” tanya Bella dengan suara amat sangat lembut. Ah, Vierra semakin dibuat minder olehnya.
“Entahlah.” Hanya itu yang bisa Vierra katakan, memangnya apalagi?
“Kalau begitu, bisakah kakakmu mengajakmu mengobrol sebentar? Sean terlihat amat sangat cemas tadi. Dia menggendongmu terburu-buru menaiki tangga dengan tampang paniknya,” aku Bella.
“Benarkah Kak Sean mengkhawatirkan ku?” gumam Vierra yang masih bisa didengar oleh Bella.
“Tentu saja, Sayang. Bukankah Rara adalah adik kesayangan Kak Seanmu? Tentu saja dia sangat khawatir, apalagi tubuhmu tadi sedingin es.” Mendengar kata adik yang dilontarkan Bella kembali menyentak angan-angan Vierra yang bodohnya berharap lebih. Gadis itu memilih mengangguk saja.
“Baiklah, tunggu sebentar.”
Bella keluar dari kamar itu sembari membawa cangkir teh dan baskom berisi air tadi. Tidak sampai satu menit, Sean telah memasuki kamar itu. Pria itu bahkan menutup kamar agar tak ada satupun pelayan yang mendengar pembicaraan mereka. Sementara Bella tadi izin ke kamarnya lebih dulu. Sekarang tinggallah Vierra dan Sean berdua di dalam kamar itu.
Sean duduk di samping ranjang menghadap tubuh Vierra. Tangan besarnya segera menggenggam tangan mungil dingin itu. Sean merasakan sesuatu seolah menyengat tubuhnya saat sentuhan mereka terjadi. Melihat Vierra yang hanya bisa terdiam menatapnya sejak tadi, semakin membuat rasa sedih melingkupi hati Sean.
“Apa yang terjadi, Ra? Kenapa kau bisa kedinginan seperti ini?” tanya Sean. Pria itu membawa telapak tangan Vierra menyentuh pipinya dan sesekali mengecupnya sayang.
“Bukan masalah besar, Kak.”
“Bukan masalah besar apanya! Kau hampir mati kedinginan jika saja aku tidak turun dan menemukanmu,” bantah Sean dengan suara sedikit membentak.
Vierra terdiam. Ia bimbang antara memilih untuk diam atau bercerita pada kakaknya. Namun jika ia memilih diam saja, maka kemarahan akan melingkupi Sean. Sementara jika Vierra berkata jujur, maka rasa bersalah akan melingkupi Sean. Semua terasa sulit bagi Vierra.
“Katakan, Ra!” desak Sean.
“Kemana mobilmu? Bukankah kau membawa mobil? Lalu dimana? Tadi saat kakak berniat memasukan mobilmu ke bagasi, mobil itu tidak ada. Kakak yakin seratus persen kau belum memasukkan ke dalam bagasi dan itu benar. Sekarang dimana mobil itu dan kenapa kau bisa pulang dengan keadaan seperti ini? Kenapa kau terlihat pucat pasi tadi? Kenapa dengan dirimu yang tidur di sofa ruang tamu? Katakan, Ra. Katakan.” Desakan Sean semakin menyudutkan Vierra. Dan tidak ada cara lain selain berkata sejujurnya pada kakaknya ini.
“Mobil Vierra mogok di saat perjalanan pulang tadi,” jelas Vierra dengan suara pelan.
“Vierra mencoba mencari bantuan tetapi jalan yang Vierra lalui terlalu sepi, bahkan kalaupun ada mobil taksi yang melintas, mereka tidak akan berhenti karena berlawanan arah dari Vierra”
Gigi Sean bergemelutuk murka. Ia bisa membayangkan saat dimana Vierra berdiri di pinggir jalan dengan keadaan mobilnya yang mogok di malam hari pula. Sean memejamkan mata kuat demi menahan amarahnya.
“Lalu kenapa tidak hubungi kakak saja?” tanya Sean. Nada suaranya terdengar kesal sekarang.
Vierra memejamkan matanya mengingat kalimat menyakitkan tadi yang terlontar jelas dipendengaran Vierra. Bahkan masih terngiang-ngiang sampai sekarang.
“Jangan mengangguku, s****n! Kau mengacaukan kegiatan bercintaku, b******k! ARGHH!”
Tut...
“Vierra sudah mencoba, bahkan berkali-kali Vierra coba, tapi tidak Kak Sean angkat. Dan saat panggilan berhasil diangkat di saat-saat terakhir sebelum ponsel Vierra habis daya adalah saat suara Kak Sean yang menggeram marah dengan suara membentak, setelah itu Kak Sean memutuskan panggilan sepihak. Kak Sean bilang jangan mengganggu kegiatanmu yang entah apa itu.”
Deg.
Sean merasa lemas sekarang. Pria itu baru sadar jika orang yang menggangu aktivitas seksnya bersama Bella adalah Vierra. Pria itu tidak sempat membaca nama di ponselnya karena ia sedang dalam puncak kenikmatan. Sean marah karena dering ponselnya menganggu, bahkan ponsel itu ia banting ke dinding hingga rusak dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Tubuh Sean lemas saat menyadari itu. Ia sibuk meraih kenikmatan dunia sementara adiknya dalam keadaan sulit. Sean memilih menuntaskan hasratnya daripada menyempatkan diri untuk sekadar mengangkat panggilan Vierra.
“Lalu apa yang Rara lakukan setelah ponselmu habis daya? Apa ada yang menolongmu?” Sean berharap ada yang menolong Vierra dan tentunya Sean akan membalas bantuan orang itu dengan berkali-kali lipat. Namun sayangnya kepala Vierra malah menggeleng dengan wajah sedih. Tubuh Sean bergetar. Pria itu menangkup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia meraup wajah frustasi.
“Lalu bagaimana kau bisa pulang?”
“Rara berjalan kaki,” gumam Vierra takut kakaknya marah besar.
Grep.
Sean memeluk tubuh adiknya itu untuk ia peluk erat. Mendengar Vierra berjalan kaki menuju mansion seorang diri di tengah kegelapan malam membuat ketakutan Sean akan adanya orang jahat yang bisa saja memanfaatkan situasi.
“Dimana mobilmu mogok? Seberapa jauh kau jalan kaki, Ra?” tanya Sean masih dalam dekapannya.
“Di Jalan Adelwiss sekitar lima kilometer dari sini, mobilnya Rara tinggalkan di sana begitu saja. Rara takut untuk tetap berada di dalam mobil di tengah jalanan sepi. Maka dari itu Vierra memutuskan untuk berjalan kaki saja. Setidaknya itu lebih baik daripada menunggu orang jahat datang.”
Penjelasan dari Vierra semakin menumbuhkan rasa bersalah dalam hati Sean. Pria itu semakin mengeratkan pelukannya. Tubuh Sean bahkan bergetar karena ketakutan. Takut jika nasib buruk menghampiri adiknya itu. Dan menyadari Vierra berjalan kaki sekitar lima kilometer, tentu saja itu jarak yang tidak dekat. Kaki Vierra bisa saja mati rasa karenanya.
“Apa kakimu sakit?” Saat Vierra hendak menggeleng, Sean lebih dulu menyingkapkan selimut itu. Mengecek sendiri kaki Vierra. Dan lagi-lagi Sean merasa tidak berguna saat melihat telapak kaki Vierra yang memerah, pergelangan kaki yang lecet dan jangan lupakan lutut Vierra yang terlihat terluka.
“Kau terjatuh, Ra?” tanya Sean panik.
“Hm, tapi tidak apa- AU!” Vierra berteriak sakit saat betisnya dipegang oleh Sean. Amat nyeri sekali.
“Ma-maafkan kakak, Ra.”
“Tidak masalah, ini bukan salahmu, Kak.”
“Maafkan Kak Sean yang tidak becus,” ucap Sean dengan mata yang berkaca-kaca. Melihat kondisi kaki Vierra yang membengkak, membuat perasaan Sean semakin campur aduk. Andai saja ia tidak mementingkan hasratnya, mungkin ini semua tidak akan terjadi.
“Ingin kakak panggilan dokter keluarga kita sekarang?” tawar Sean.
“Tidak perlu, ini sudah tengah malam. Tidak baik mengganggu waktu istirahat orang,” ucap Vierra.
“Baiklah, sekarang Rara tidurlah lebih dulu. Kak Sean akan di sini menjagamu sampai tertidur.” Vierra mengangguk patuh. Gadis itu memejamkan matanya dan mencoba tidur.
Namun tiap kali Vierra ingin merubah posisi tidur agar lebih nyaman, ia meringis kesakitan akibat kakinya yang bengkak sulit digerakkan. Sean menyadari hal itu. Hatinya tak kuasa dan tangan besar itu kini sudah berada di kaki Vierra, memijatnya perlahan. Sean mencoba sebisa mungkin menghilangkan nyeri pada kaki Vierra dengan pijatannya. Dan berhasil. Vierra perlahan mulai tertidur menuju alam mimpinya meninggalkan Sean bersama rasa bersalahnya yang semakin membesar.
Maaf beribu maaf, Ra.
***