10. Akhir

2562 Kata
*** Vierra tengah memasang wajah cemberutnya di meja makan pagi ini. Sudah seminggu kejadian hari itu berlalu, sikap kakaknya semakin overprotektif padanya, ditambah juga dengan Bella. Kedua orang itu terus memberikan wejangan pada Vierra setiap saat. Bahkan sekarang, Vierra dilarang membawa mobil oleh Sean. Pria itu mengatakan tidak akan pernah lagi mengizinkan Vierra membawa kendaraan sendiri atau bahkan pergi menggunakan taksi. Sean selalu mengantar dan menjemput Vierra dari kampus. Kalaupun jika Vierra mempunyai tugas kelompok bersama teman-temannya, Sean selalu memberi batasan waktu pulang yaitu pukul sembilan malam. Ponsel yang harus selalu menghidupkan lokasi terkini agar bisa dilacak jika Vierra tak kunjung pulang. Vierra semakin terkekang sekarang. “Kak, Vierra ingin-” “Habiskan makanmu lebih dulu, Ra.” Vierra mendengus saat mendengar ucapan Sean. Dengan cepat ia menghabiskan sarapannya. Setelah selesai, Vierra segera akan berbicara tetapi Sean lebih dulu berkata, “Minum dulu, Ra.” Vierra hanya bisa berdecak kesal. Ia minum dengan tergesa dan menaruh gelas itu sedikit keras hingga terdengar suara bising. “Kak, Vierra ingin membawa mobil sendiri. Vierra ada tugas kelompok nanti sore, jadi tidak bisa jika harus menunggumu.” Sean menyudahi makannya. Pria itu menatap pada wajah Vierra yang memelas. Dan tetap gelengan kepala sebagai balasannya. Vierra menghembuskan napas penuh rasa kecewa. “Maafkan kakak, Ra. Bukan maksud kakak ingin membuatmu terkekang atau membatasi gerak-gerikmu, tapi hanya saja kakak tidak bisa membuat kejadian yang sama terulang lagi. Kakak khawatir padamu, Ra.” Penjelasan dari Sean tidak bisa diterima oleh Vierra. Namun, yang Vierra lakukan hanya diam tak menanggapi. “Ayo, berangkat.” Sean merapikan jas kantornya dan bangkit dari duduknya. Pria itu menyempatkan untuk mengecup puncak kepala Bella dan mendekat pada Vierra guna mengajak gadis itu. Vierra tersenyum paksa pada Bella dan bangkit mengikuti Sean yang lebih dulu keluar. Perjalanan berjalan cukup membosankan bagi kedua orang yang berada di mobil itu. Tidak ada yang membuka suara untuk memulai obrolan lebih dulu, baik itu Vierra maupun Sean, keduanya sama-sama diam sibuk dengan kegiatan masing-masing. Hembusan napas kasar dari Vierra mengganggu pendengaran Sean. Pria itu menatap jam tangannya dan menepikan mobil itu di jalanan yang cukup lenggang. “Ra, tolong mengertilah. Kau sudah besar, jangan kekanakan lagi,” tegas Sean dengan posisi menghadap Vierra yang memalingkan muka darinya. Kekanakan? Vierra menatap balik mata yang menatapnya tajam. Bagaimana bisa sikap yang Vierra lakukan disebut kekanakan? Vierra hanya ingin sedikit kebebasan, apakah salah? Ada apa dengan semua orang? “Vierra tidak kekanakan, Kak! Vierra hanya ingin bebas! Vierra ingin mandiri tanpa kalian perlakukan seperti anak kecil lagi. Vierra sudah berusia 20 tahun,” bantah Vierra dengan menggebu-gebu. Sean menggertakkan rahangnya hingga rahang itu terlihat menegang. Sean benci jika Vierra membangkang seperti ini. Apa gadis itu begitu ingin bebas? Lalu apa gadis itu sudah mempertimbangkan kemungkinan apa yang akan terjadi jika Vierra terlalu bebas? Di jaman sekarang, remaja seumuran Vierra sudah mulai memasuki pergaulan yang mana ada baik dan buruknya. Beruntung jika Vierra masuk pada pergaulan baik dengan teman-teman yang positif vibes. Namun, jika teman-teman adiknya ini merupakan orang-orang dari pergaulan bebas? Tentu saja cepat atau lambat Vierra akan masuk lingkup pertemanan yang sama. Sean tidak akan membiarkan itu terjadi. “Apa kau tau bagaimana mandiri itu, Ra? Bagaimana kata bebas yang sebenarnya? Kau tidak tau, Ra! Kau masih terlalu kecil untuk memahami itu!” ucap Sean dengan nada membentak. Dirinya sudah terpancing emosi. “Terlalu kecil? Heh, kita hanya beda satu tahun, Kak,” balas Vierra terkekeh miris. “Tidak. Sekali aku bilang tidak, maka itu yang akan terus terjadi ke depannya.” Sean memilih menahan amarahnya dan melajukan mobil itu kembali. Raut kemarahan di wajahnya masih terus tampak walau fokusnya sudah beralih pada jalan di depan sana. “Teruslah seperti itu sampai aku membencimu, Kak.” Citt! Mobil yang Sean kendarai berhenti mendadak, untung saja tidak ada kendaraan lain di belakang mereka yang mungkin akan menyebabkan kecelakaan. “JAGA UCAPANMU, VIERRA!” bentak Sean yang sudah sangat murka. Tatapan Sean bahkan terlihat berapi-api menatap gadis di sampingnya itu. Sementara Vierra, ia hampir saja jantungan dengan apa yang dilakukan kakaknya barusan. Jantungnya menggebu-gebu karena dua perkara. Pertama karena mobil yang berhenti mendadak tadi, dan kedua adalah saat melihat amarah kakaknya. “Kau ingin bebas? Kau ingin mandiri? Baiklah, sekarang keluar.” Deg. Tubuh Vierra menegang kaku. Dirinya menatap Sean tak menyangka. Benarkah yang ia dengar? Apa kakaknya tega menurunkan ia di pinggir jalan seperti ini seorang diri? “Keluar, Ra!” Vierra tersentak, ia menatap lamat pada mata Sean yang begitu memancarkan kemarahan. Apa ia sudah berbicara keterlaluan tadi? “Kak-” “KELUAR SEKARANG!” Vierra terpaksa keluar saat mendengar suara lantang sang kakak. Saat pintu mobil tertutup, mobil itu melaju kencang meninggalkan Vierra di pinggir jalan begitu saja. Vierra menatap ke sekeliling dengan tatapan sedikit takut. Ia menatap ponselnya yang menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Kendaraan yang berlalu lalang masih cukup sedikit dan belum ada taksi yang ia lihat melewatinya. Dari kejauhan Vierra melihat sebuah truk yang menuju ke arahnya, sebelum truk itu semakin mendekat, Vierra memutuskan untuk duduk di kursi panjang yang berada di seberang jalan. “Bebas, ya? Memang apa arti bebas yang sesungguhnya?” gumam Vierra dengan senyum kecewanya. Matanya yang berkaca-kaca sebisa mungkin ia hilangkan. Vierra tidak boleh cengeng. Ia harus membuktikan jika dirinya bukan anak kecil lagi. Ya, harus! *** Sean memasuki basecamp mobil di kantornya. Pria itu berjalan dengan deru napas yang tak bisa ia atur normal. Pria itu meregangkan dasinya dan berjalan menuju lift khusus yang langsung menuju ke ruangannya. “Brengs*k!” umpat Sean setelah menghempaskan tubuhnya di kursi kebesaran ruang CEO itu. Tangan pria itu masih tetap terkepal seperti semula. Amarahnya terlalu besar kali ini. “S*alan, kenapa aku menurunkannya di sana!” teriak Sean frustasi. Harusnya ia bisa berpikir lebih jernih tadi dan menahan segala amarahnya, bukan malah menurunkan Vierra di jalan itu begitu saja. “Tuan, apa-” “Undur rapatnya, aku ada kepentingan mendesak,” potong Sean saat sekretarisnya masuk hendak menyampaikan jadwalnya hari ini. Sean bangkit, menggenggam kunci mobilnya dan kembali ke basecamp. Jantung Sean berdetak amat kencang. Entahlah, ia merasakan firasat buruk akan terjadi jika dirinya telat datang. Mobil yang Sean kendarai melaju amat kencang hingga tak jarang ia mendapat u*****n dari beberapa pejalan kaki di sana. Sean belum bisa tenang sebelum dirinya sampai di tempat itu dan menemukan Vierra di sana. Sean menyesal sudah bertindak bodoh barusan. Saat mobilnya semakin mendekat ke lokasi dimana ia menurunkan Vierra, semakin pelan pula laju mobil itu. Sean mengernyit saat melihat keramaian di depan sana. Sean memilih menepikan mobilnya sedikit jauh dari keramaian itu. Ia juga tak sengaja menatap sebuah truk yang mengepulkan asapnya. “Dia tewas di tempat.” DEG! Wajah Sean memucat seketika. Tubuhnya bahkan bergetar hebat saat mendengar kalimat dari salah seorang di sana. Vierra? Apa itu Vierra? Tidak! Tidak mungkin itu adiknya. Namun saat menyadari lokasi kecelakaan itu bertepatan dengan posisi ia menurunkan Vierra, maka persentase kemungkinan itu adalah Vierra cukup besar. “Tidak! Di-dia bukan Rara-ku,” bantah Sana berusaha menenangkan dirinya. Sean berlari membelah kerumunan itu, ia dapat merasakan bau anyir darah yang pekat dari tengah kerumunan itu, tapi tidak Sean hiraukan. Ia kini sudah berada tepat di tengah mereka dan menemukan sosok yang tertutupi kain putih. Sean tak sanggup untuk tidak menangis pilu. Ia hendak mendekati sang korban, tetapi terhalang oleh seorang polisi. “Lepaskan aku! Aku ingin melihat dia adikku atau bukan! Lepaskan aku, s*alan.” Sean meronta dengan tak sabar saat polisi itu menahan tubuhnya. “Berhenti, Tuan. Tenanglah! Anda akan memperlambat evaluasi korban jika terus seperti ini!” tegur sang polisi. “BAGAIMANA AKU BISA TENANG, SEMENTARA AKU TIDAK TAHU APAKAH ADIKKU SEDANG BAIK-BAIK SAJA SEKARANG! LEPASKAN AKU, BRENGS*K” ucap Sean semakin brutal memberontak. “Siapa nama adik Anda? Apakah atas nama Vierra–” “Ya, di-dia adikku.” Suara Sean terdengar mengecil. Bibirnya bergetar ketakutan, jangan sampai kenyataan bahwa sosok itu adalah Vierra. Tidak! Tidak mungkin itu adalah adiknya. Vierra-nya masih hidup! Tadi mereka baru saja bertengkar kecil saja, tidak mungkin hal mustahil ini terjadikan. Tidak mungkin Rara-nya pergi bebas dalam artian ini. Bukan bebas ini yang ia inginkan! Bukan seperti ini yang ia maksud. “Katakan jika yang saya pikirkan tidak sesuai dengan kenyataan ini. KATAKAN!” Polisi itu menatap Sean dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ia berbalik menghadap salah satu rekannya dan memanggil salah satu diantara mereka. “Dimana dompet korban?” tanya sang polisi. “Ini.” Polisi itu kembali menatap pada Sean. Ia memberikan dompet berwarna putih yang bercampur darah. “Apa benar ini dompet adik Anda?” tanya sang polisi sembari memberikan dompet itu ke hadapan Sean. Tubuh Sean jatuh berlutut di aspal. Pria itu berteriak pilu menyaksikan sosok yang berada dibalik kain putih bernoda darah itu. Ia meraung kesetanan. Tubuhnya lemas tak berdaya. Bagaimana ini? Apa Tuhan mengabulkan keinginan Vierra yang ingin bebas? Sean menangis kencang hingga menyebabkan orang-orang yang menyaksikan ikut merasakan duka. Tak sedikit dari mereka ikut menangis. Sean meraih dompet itu dan membukanya dengan napas memburu, dan bak tersambar petir, foto Vierra serta tanda pengenal gadis itu tertampang jelas di sana. Kartu rekening bahkan segala identitas berada di sana. Tubuh Sean seolah tak bertenaga. Dirinya amat syok dengan kejadian ini. Pria itu meraung bak orang gila hendak memeluk sosok Vierra yang telah menghembuskan napas terakhirnya dengan tragis di sana. “RA, INI KAKAK! BANGUN, RA!” Raung Sean. Tubuh pria itu tidak bisa memeluk tubuh adiknya karena tahanan dari polisi. “RA, KATAKAN JIKA INI HANYA ILUSI!” “AMPUNI KAKAK, RA. JANGAN HUKUM KAKAK SEPERTI INI. AMPUN RA, AMPUN.” Suara ambulans terdengar memekakkan telinga. Saat tubuh Vierra diangkat, tangan berlumurkan darah itu terjatuh menggantung hingga menjatuhkan cincin dari genggamannya. Sean melihat itu dengan jelas, saat ia menatap cincin yang terjatuh menggelinding tak jauh darinya, saat itu dunianya hancur berkeping-keping tak bersisa. Harapannya bahwa Vierra akan tetap hidup menjadi angan-angan belaka. Itu benar Vierra-nya, Rara-nya, gadis kesayangannya. Korban itu benar adalah adiknya. Sean tidak bisa menahan tubuhnya agar tetap sadar, ia terlalu syok hingga menyebabkannya jatuh pingsan. Sebelum pingsan, dapat ia lihat samar-samar sosok bayangan yang tersenyum padanya. Mulut itu bergerak seolah mengatakan. “Terima kasih. Berbahagialah dengannya.” “TIDAK!” Sean terbangun dengan kondisi tubuh basah karena keringatnya yang terlalu banyak. Sean menatap ke sekitar dengan liar berharap ia baru saja terbangun dari mimpi buruk. Saat matanya menatap ruangan serba putih dengan bau obat-obatan itu, kekecewaan menghantamnya keras. Sean berada di rumah sakit yang berarti kejadian tadi bukanlah mimpi belaka. Itu benar terjadi pada adiknya. Vierra telah tiada. Hidupnya hanya sampai di sini. “Ti-tidak mungkin! Ini tidak benar! Aku hanya bermimpi buruk, ini tidak mungkin!” Sean menampar pipinya kuat berulang kali hingga dirinya merasakan denyutan nyeri. Mendengar teriakan dari ruangan Sean, seorang suster masuk dengan panik. “Apa ada yang terluka, Tuan?” tanya sang suster. “Di-dimana dia?” Sang suster mengernyit bingung. Siapa yang dimaksud Sean? “Dia siapa?” “Adikku, Vierra. Dia korban kecelakaan. Apa dia berada di sini juga?!” tanya Sean dengan tatapan kosong penuh duka. “Korban kecelakaan yang datang bersama Anda tengah berada di ruang jenazah dengan para polisi dan beberapa dokter untuk melakukan autopsi.” Alis Sean mengerut menandakan empunya heran dan sedikit tidak terima. “Untuk apa mereka melakukan autopsi pada adikku! Hentikan mereka sekarang!” bentak Sean. “Maaf, Tuan. Korban mengalami putus kaki dan kepala yang hancur akibat benturan. Pihak polisi bersama dokter sedang melakukan pembedahan agar saat korban dipulangkan dalam keadaan yang layak untuk dimakamkan.” Sean bisa merasakan hatinya yang bergetar pilu dengan retakan yang nyaring. Darah seolah berhenti mengaliri tubuhnya. Sean tidak bisa berkata apapun sekarang. Ia ingin menghentikan mereka menyentuh adiknya, tapi itu akan mempersulit dia dan adiknya. Vierra bisa saja tidak tenang di alam sana. Vierra benar-benar telah tiada. “ARGHH!” Sean meraup wajahnya penuh frustasi. Ia menarik rambutnya dengan tangisan tanpa suara. Amat sakit hatinya saat merasakan kehilangan adik kesayangan. Ia menyesal telah bertindak bodoh hanya karena emosi. Seorang polisi memasuki ruang rawat Sean dan memberikan dompet Vierra sembari mengatakan, “Korban adalah sosok gadis bernama Vierra Nathania Xander, mayatnya akan kami antar pulang pukul tujuh malam setelah selesai autopsi. Saya harap Anda bisa menerima ini dengan lapang d**a, Tuan.” “Apa bisa aku bertemu dengannya? Tolong katakan ini tidak benar, kan?” Sean masih saja berharap bahwa ini tidak nyata, akan tetapi harapannya hancur kala mendengar polisi berkata. “Saya turut berduka cita atas kematian adik Anda.” Sean menunduk dalam, ia memijat pangkal hidungnya demi meredakan sakit kepala yang mendera. Pria itu merasakan beribu ton beban di pundaknya. Bagaimana ia menjelaskan pada orang tuanya bahwa Vierra telah tiada akibat dirinya? Bagaimana Sean bisa mengatakan itu dengan lancar nantinya? “Sebaiknya Anda pulang, ada tersisa waktu lima jam lagi sebelum mayat korban kami antar pulang,” ucap sang polisi lalu menepuk pundak Sean memberikan semangat. Setelahnya, polisi itu memilih keluar dari ruang rawat Sean. Sean bangkit dari brankar itu dan berjalan tertatih menuju pintu. Dengan memaksakan diri, kini Sean telah berada di luar ruang jenazah sembari menatap pintu yang tertutup dengan perasaan kacau. Ia tidak bisa berjalan masuk atau berkata apapun. Tubuhnya limbung hingga jatuh terduduk di lantai yang dingin. “Jika aku tau begini akhirnya, maka akanku izinkan kau membenciku, Ra. Aku rela kau benci seumur hidupmu, asal jangan sampai kau pergi meninggalkanku.” *** Sean terus meneguk alkohol itu tiada henti, pria itu memesan ruangan VVIP guna ketenangannya. Sean meminum sebanyak yang ia mau hingga tubuhnya sudah amat mabuk berat. Sean tidak tahu harus melampiaskan pada siapa atas rasa kehilangan ini. Baginya dunia sudah tidak berarti jika Vierraa-nya sudah pergi. “Kenapa kau tega, Ra!” racau Sean tiada henti. “Kau tega meninggalkan kami semua hanya untuk mencapai kebebasan yang Tuhan tawarkan?” “Tuhan, kenapa Kau begitu jahat mengambil adikku. Aku hanya memilikinya sebagai satu-satunya saudara. Kenapa Kau ambil?” “KENAPA!” Sean seperti orang gila yang terus menerus meracau. Ia berteriak marah lalu kembali menangis tersedu-sedu. Terus seperti itu hingga tubuhnya tak lagi bertenaga untuk membuka suara. Sean berhenti meminum alkoholnya. Dengan bantuan seorang karyawan, Sean mampu memanggil sopir pribadinya untuk menjemput ia pulang. Sean akan pulang sekarang, ia tidak ingin mayat Vierra pulang lebih dulu darinya. *** Tubuh Sean yang mabuk menyulitkan sang sopir guna menuntun tubuh Tuannya untuk memasuki mansion. Dengan langkah perlahan namun pasti, akhirnya tubuh itu bisa didudukan di ruang tamu mansion dengan selamat. Sang sopir undur diri saat Bella menghampiri mereka. “Ada apa denganmu, Sean?” tanya Bella dengan khawatir. Melihat wajah sembab milik Sean membuat Bella yakin bahwa prianya ini habis menangis. “Hey, kau mabuk?” tanya Bella saat mencium bau alkohol yang amat menyengat. “Maafkan Kak Sean, Ra.” Sean kembali meracau. “Vierra? Kenapa dengannya?” bingung Bella. “Dan dimana dia? Kenapa tidak pulang bersamamu? Apa yang terjadi sebenarnya ini?” tanya Bella yang amat kebingungan. “Vierra...” Bella menanti kelanjutan kalimat yang akan Sean ucapkan. “Telah tiada.” DEG! Jantung Bella bagai ditikam pisau tajam detik itu juga. Wanita itu menutup mulutnya tak percaya. Bagaimana bisa? Apa yang terjadi? “Vierra tewas tertabrak truk besar, Bell. Tuhan telah menjemput adikku.” Bella ikut menangis bersama Sean. Wanita itu memeluk tubuh bergetar Sean dan memberikan ketenangan untuknya. Ini tentu kabar yang begitu memilukan bagi mereka. Tuhan, jaga dia untukku. Maaf tidak bisa menjadi kakak yang terbaik untukmu, Ra. Maaf. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN