Pertemuan Pertama
“Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?” Seorang wanita dari balik meja resepsionis bertanya.
“Selamat siang Bu, saya Zhafira dari Bank BUMN mau bertemu dengan pak Kaivan Gunadhya,” sahut Zhafira menjawab.
“Apakah sudah membuat janji sebelumnya?” Wanita itu bertanya lagi.
“Sudah,” balas Zhafira disertai senyum.
“Silahkan tunggu di sofa sana, nanti akan saya panggil.” Wanita itu menengadahkan tangan ke arah sofa set yang berada di tengah-tengah loby mempersilahkan Zhafira duduk sementara ia akan berkoordinasi dengan sekertaris Bosnya.
“Baik, terimakasih.”
Zhafira tersenyum kemudian membalikan badan menarik langkah menuju sofa yang dimaksud wanita resepsionis.
Semestinya yang datang ke anak perusahaan AG Group ini adalah Branch Manager Priority-nya.
Tapi beliau tertahan meeting dengan nasabah prioritas lain sehingga menghubungi Zhafira untuk mewakili karena kadung sudah membuat janji.
Zhafira mengedarkan pandangan ke sekeliling loby yang memiliki interior futuristik modern.
Cita-citanya dulu adalah menjadi seorang Arsitek dan Zhafira merupakan lulusan terbaik dari fakultas Teknik jurusan Arsitektur di Universitas Swasta di Bandung.
Tapi Zhafira harus mengubur cita-citanya karena mencari pekerjaan dalam bidang tersebut ternyata sulit.
Zhafira tidak sengaja melamar kerja di Bank dan ternyata malah lolos seleksi.
Saat itu ia sangat membutuhkan pekerjaan demi membiayai hidup sehingga mensyukuri pekerjaan apapun yang datang padanya.
Menjadikan Zhafira sebagai Customer Service Priority di sebuah Bank milik Negara.
“Ibu Zhafira.”
Wanita resepsionis memanggil, Zhafira beranjak dari sofa kemudian menghampirinya.
“Ini tanda pengenalnya,” kata wanita resepsionis seraya memberikan name tag dengan tulisan ‘Visitor’.
“Ruangan pak Kaivan ada di lantai lima belas nanti Ibu bertemu pak Gerry-sekertarisnya pak Kaivan dulu dan akan di arahkan ke ruangan pak Kaivan.” Wanita resepsionis memberikan intruksi.
“Baik, terimakasih,” ucap Zhafira tulus sambil membawa name tag dari atas meja resepsionis.
Akhirnya bisa bertemu sang pemimpin tertinggi perusahaan ini yang katanya super sibuk dan sulit sekali ditemui, beruntungnya Zhafira tidak perlu menunggu lama.
Ting ...
Pintu lift yang membawa Zhafira ke lantai lima belas pun terbuka.
Lantai itu sepi, hanya ada seorang security menyambut Zhafira.
“Saya mau bertemu dengan pak Kaivan atau pak Gerry.”
Zhafira memberitau sebelum pria security menanyakan maksud kedatangannya.
“Dengan Ibu Zhafira?” Pria security bertanya.
“Betul,” balas Zhafira cepat.
Sepertinya resepsionis di lobby dan security di lantai ini telah terkoneksi.
“Silahkan, Bu ... sudah ditunggu pak Gerry di dalam.”
Security membuka pintu kaca mempersilahkan Zhafira masuk.
Zhafira mengangguk sambil mengucapkan terimakasih kemudian melangkah menyusuri lorong.
Di ujung lorong, Zhafira melihat seorang pria begitu tekun menatap layar datar di hadapannya.
Pria itu cukup tampan dengan pundak lebar dan rahangnya yang tegas diselimuti bulu halus.
Rambutnya tebal menggunakan pomade sehingga tampak sangat rapih dan mengkilat.
“Selamat siang, saya Zhafira dari Bank BUMN ....”
Zhafira langsung memperkenalkan dirinya membuat pria tersebut mendongak lalu berdiri.
Sesaat Gerry terpana, wanita dengan suara lembut itu begitu anggun dan memiliki paras cantik asli di Indonesia.
“Saya Gerry, sekertaris pak Kaivan ....” Gerry mengulurkan tangan yang langsung dijabat Zhafira.
“Seharusnya pak Wisnu, Branch Manager Priority saya yang datang tapi beliau berhalangan sehingga mengutus saya ke sini.” Zhafira memberitau.
“Betul, saya sudah mendapat informasinya dari pak Wisnu ... silahkan, saya antar ke ruangannya pak Kaivan.”
Garry merentangkan tangannya ke arah dalam, melangkah terlebih dahulu menuju ruangan pimpinan tertinggi di perusahaan ini diikuti Zhafira.
Langkah keduanya berhenti tepat di depan sebuah pintu ganda dengan desain unik.
Sekali lagi Zhafira mengagumi interior di kantor ini.
Gerry mendorong pintu tersebut lalu mempersilahkan Zhafira masuk.
Zhafira mengangguk samar sebelum melangkah masuk lebih dalam.
Netranya langsung bersirobok dengan netra indah yang memiliki bulu mata lentik dan alis yang tebal.
Hidung lancip dan bibir tipis.
Garis wajahnya halus tidak setegas Gerry, rambut tebal dan lurusnya berpotongan undercut dengan belahan di pinggir, jika diperhatikan lebih seksama—nasabah prioritas yang satu ini begitu tampan mirip aktor-aktor Korea.
“Apa kriteria menjadi karyawan di perusahaan ini harus cantik dan ganteng?” batin Zhafira bertanya karena semenjak ia menginjakan kakinya di anak perusahaan AG Group ini mendapati semua karyawannya good looking termasuk sang CEO yang kini sedang menatap Zhafira tanpa berkedip.
“Cantik banget,” batin Kaivan memuji. “Apa gue enggak salah liat? Dia bidadari bukan sih?” Kaivan masih berbicara sendiri di dalam hati.
Jazziel Kaivan Gunadhya adalah anak keempat dari pasangan Narendra Gunadhya dan Jovanka Aura Lovata.
Kallandra Gunadhya yang merupakan kakek dari pihak ayahnya Kaivan adalah pemilik pertama AG Group, kerajaan bisnis di Indonesia yang kini telah merambah ke Vietnam dan Macau.
Menariknya, Shareena yang merupakan sang nenek dari pihak ayah Kaivan adalah mantan pegawai Bank.
Sedangkan Edward-kakek dari pihak ibunya adalah seorang dokter dan memiliki rumah sakit swasta terbesar dan terbaik di Jakarta.
Lain halnya dengan Monica-nenek dari pihak ibunya Kaivan selain pemilik agensi model bergengsi di Indonesia yang memiliki cabang di Paris juga memiliki brand fashion ternama yang telah mendunia.
Tak heran di usianya yang masih muda—Kaivan sudah menjabat sebagai CEO di anak perusahaan milik keluarganya.
“Ini ibu Zhafira, utusannya pak Wisnu.” Gerry memberitau.
Barulah Kaivan berkedip dari tatapannya yang memaku Zhafira.
Pria itu mengangguk sekilas menanggapi ucapan Gerry lantas beranjak dari kursi kebesarannya.
Kaivan ternyata memiliki tubuh tinggi dan atletis, hanya beberapa langkah saja sudah sampai di sofa set yang berada di tengah ruangan.
“Silahkan.” Gerry mempersilahkan Zhafira duduk karena gadis itu tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
“Terimakasih Pak Gerry.” Zhafira berujar dibalas senyuman sangat manis oleh Gerry sambil mengangguk sebelum akhirnya meninggalkan ruangan.
Zhafira kembali mengarahkan tatapannya pada Kaivan, ia bingung dengan kinerja jantungnya yang menaikan tempo debaran, telapak tangannya terasa dingin dan basah.
Apakah Zhafira sedang gugup?
Bagaimana tidak, pria tampan—pimpinan perusahaan besar dan cucu dari orang-orang terkaya di Negaranya sedari tadi memandang Zhafira tanpa jeda.
Zhafira mengambil duduk di sofa terdekat dengan Kaivan agar tidak perlu mengeraskan suara karena ia akan menjelaskan banyak hal kepada pria itu.
“Sebelumnya saya ingin menyampaikan permohonan maaf dari pak Wisnu karena seharusnya beliau yang datang tapi kebetulan beliau berhalangan sehingga mengutus saya ke sini.”
Kaivan mengangguk mengerti, seulas senyum masih terpatri di bibir tipisnya.
“Saya Fira yang akan membacakan portofolio keuangan pak Kaivan.” Zhafira mengulurkan tangan.
Kaivan menatap sebentar tangan Zhafira membuat gadis itu sempat menaikan satu alis nyaris menarik kembali tangan tapi Kaivan terlanjur menangkap tangannya, membalas jabatan tangan Zhafira.
Dan ketika telapak tangan mereka bersentuhan—Zhafira juga Kaivan merasakan arus listrik bertegangan rendah yang membuat keduanya nyaris terhenyak.