William’s POV “—apa… nona menyukai salju?” Tiba-tiba gadis itu terhenti, sejenak ia menatap mataku dalam diam. Ah… iris matanya legam sekali. Usai membuatku tenggelam dalam onyx yang menawan, dia malah menundukan wajah cantiknya. Gadis itu nampak tenggelam dalam lamunannya. Ku tatap lamat-lamat wajah mungil itu, bibirnya yang tipis, bola matanya yang menatap lurus aspal jalan, hidungnya yang mancung. Tanpa sadar ku elus sapu tangan yang beberapa menit lalu menyentuh wajah cantik Vania. Demi tuhan, gadis ini benar-benar membuat dirinya kecanduan. “Nona?” Dengan hati-hati kusentuh bahunya dan hei, tiba tiba dia ambruk! Refleks ku tangkap badannya sebelum wajah cantiknya menyentuh tanah. Apa pertanyaanku tadi menggali memorinya, ya? Ah… biarlah, lebih baik ku antar ia kerumahnya. ***

