Resolved?

1892 Kata
Bunyi ketikan keyboard yang mendominasi ruangan, dipadu dengan dinginnya AC dibulan juni serta keheningan yang jarang ia dapatkan kala bersama ke empat kawan-kawannya. Hal-hal diatas merupakan surga untuk sosok Raihan yang selalu disibukan dengan setumpukan dokumen terkait para siswa. Menjadi ketua dewan siswa terkadang menjadi hal yang cukup melelahkan bagi Raihan. Kalian lihat saja, tiap hari harus berhadapan dengan layar monitor yang seringkali membuat mata Raihan pegal. Ditambah dengan kasus-kasus yang terjadi di SHS ini sudah cukup membuat dirinya berniat untuk lepas dari jabatan ini sesegera mungkin. Raihan akui SHS merupakan sekolah terbaik di penjuru negeri. Sistem pembelajarannya sangat efektif, tidak heran para siswa disini terkenal berbakat dan jenius. Namun, sayangnya sekolah elite ini terlalu mengedepankan kemampuan IQ dibandingkan EQ. Akibatnya banyak anak-anak cerdas yang tidak memiliki etika yang baik. Buktinya saja mayoritas anak-anak disini melakukan bullying pada anak yang mereka anggap kurang mampu dalam segi kecerdasan maupun materi. Tidak heran Raihan selalu mendapatkan laporan terkait kasus bullying. Sudah berkali-kali ia memperingati hal ini melalui para osis. Namun hal ini terus saja terjadi. Para korban yang terkena bully pun lantas ikut membully orang yang lebih lemah dengan dalih balas dendam. Bullying memang pantas disebut sebagai lingkaran setan. BRAK! Ah, maaf senior, sepertinya surga yang kau idam-idamkan itu harus ditunda sementara waktu. “Hei, honey! Jangan mendobrak pintu!” Graha memperingati. Oh, sepertinya aku lupa menuliskan bahwa diruangan itu juga terdapat Five Boys yang sedang bersantai seraya menghabiskan waktu istirahat mereka disana. “Senior, tolong jelaskan pada Green bahwa kita tidak berciuman.” Leon yang sedang meminum kopi kaleng sampai tersedak kala mendengar kalimat yang keluar dari mulut Vania. Bunyi benda jatuh juga menyusul, oh, ternyata bunyi itu berasal dari gedget mahal milik Virgo yang meluncur jatuh ke lantai. Raihan berdehem kala merasakan seluruh atensi berpusat padanya. Ia berusaha menghindari tatapan serta lirikan tajam dari Rangga dan Graha.  Demi tuhan, mereka ber-empat benar-benar tidak menyangka bahwa Raihan merupakan orang yang diam-dia menghanyutkan. Tapi—argh ayolah! Raihan itu pemuda yang sangat sopan dan lembut. Demi tuhan, mereka tidak menyangka bahwa Raihan telah satu langkah didepan. “Ciuman?” “Ya! Green mengaku bahwa ia melihat kita berciuman!” Seketika ingatan Raihan mundur ke beberapa hari yang lalu. Saat ia mengantar Vania dari Bar Q, tempat dimana Vania bekerja part time. “Oh itu….” Tatapan penuh rasa penasaran terpancar dari mata seluruh orang dalam ruangan. Semuanya berharap bahwa Raihan tidak melakukan itu, mereka berharap bahwa first kiss Vania masih lah aman dan belum di curi oleh siapapun. “Itu hanya salah faham, waktu itu aku berniat melepas selt belt Vania sebelum menggendongnya keluar dari mobil. Mungkin Green melihatnya dari posisi dimana kami terlihat seperti berciuman, haha.” Bunyi helaan nafas lega terdengar, mereka semua bersyukur doa mereka dikabulkan oleh tuhan. Bibir serta first kiss Vania serta Raihan masih aman. Tiba-tiba Green menerjang Vania, membuat gadis bersurai hitam itu terjungkal sebab tidak mampu menahan berat badan Green yang menimpa dirinya secara mendadak. Graha serta Virgo yang melihat hal itu sontak panik. Tetapi mereka tidak berani mendekat karna mendengar isakan keluar dari bibir Green serta Vania yang terlihat mengelus punggung Green dengan penuh kasih sayang. “Astaga aku juga ingin berpelukan!” Virgo berjalan mendekati Vania dan Green, kemudian mendekap erat kedua gadis itu. Graha yang tidak mau kalah segera menarik Rangga serta Leon yang sedang duduk disofa dan pada akhirnya mereka semua berakhir berpelukan selayaknya teletubies.  “Baiklah sudah cukup pelukannya, sekarang waktunya pulang.” Mereka semua lantas menganggukan kepala dan melepaskan pelukan. Virgo yang melihat wajah Green penuh dengan air mata dan ingus seketika tertawa. Di ikuti dengan Graha yang juga ikut menertawai gadis itu, mengatakan betapa jeleknya wajah Green yang sedang menangis. Raihan yang menyaksikan keributan teman-temannya hanya mengulas senyum tipis. Sepertinya keputusannya untuk mengatakan setengah kebenaran adalah hal yang benar. *** “Fyuh… akhirnya sampai juga….” Vania menghela nafas panjang saat dirinya menginjakan kaki dimansion. Kedua lelaki disamping kanan dan kirinya hanya menganggukan kepala—menyetujui ucapan sang gadis. Kaki jenjang mereka berjalan menuju ruang tengah. Secara bersamaan mereka menjatuhkan diri ke sofa empuk yang berada disana. Demi tuhan, seluruh kegiatan serta masalah yang terjadi hari ini menguras energi mereka semua. Ingin rasanya mereka merebahkan diri di kasur yang empuk, namun melihat anak tangga menuju lantai dua itu benar-benar…membuat frustasi. Ah, sebenarnya ada lift, namun mereka semua terlalu lelah untuk menuju kesana. Terkadang Graha menyesal telah menyetujui rancangan para arsitek tanpa melihatnya terlebih dahulu. Jika saja ia tahu jadinya akan sebesar ini, Graha pasti sudah memerintahkan mereka untuk menggambar ulang bangunan yang lebih kecil dan simple. “On.” Tv lebar yang menempel di dinding menyala ketika Virgo mengucapkan satu kata diatas. Dengan malas mereka bertiga menatap tayangan yang ada di televisi. Sosok cantik yang merupakan pembawa berita itu nampak sedang membacakan kasus di Mounosver. “Telah terjadi pembunuhan di salah satu gang kawasan Nehemia. Korban ditemukan dengan luka di dahi serta terdapat juga sebuah kertas disamping mayat korban. Kepolisian telah menduga bahwa ini merupakan kasus pembunuhan—” “Pembunuhan, ya? Pantas Leon buru-buru pergi,” ujar Virgo. Disetujui oleh Graha. Vania yang tidak tahu apa-apa hanya menaikan satu alis, ia bingung dengan maksud dari perkataan Virgo. Tangan besar Graha mendarat dikepala Vania, lalu mengelus surai hitam gadis itu dengan pelan, “Leon mempunyai kakak laki-laki yang bekerja di kepolisian dan ia sering dimintai tolong oleh kakaknya untuk memecahkan beberapa kasus besar,” jelasnya seraya menopang dagu dan memainkan rambut Vania. Sebuah jus jeruk tersodor didepan Vania, gadis itu segera berterima kasih pada Virgo sebelum meminumnya. “Aku juga seringkali membantu kepolisian saat mereka atau Leon menemukan jalan buntu.” Vania hanya menganggukan kepala seraya meminum jus jeruknya. Ia sudah tidak ragu dengan kecerdasan Virgo. Pemuda bermarga Nugraha itu memang sudah terkenal jenius, Vania baru ingat namanya saat ia tidak sengaja melihat nama Virgo tertera di piala yang ada diruangan kepala sekolah. Ia juga sempat melihat nama Leon dan Rangga di salah satu mendali emas yang berdampingan dengan piala Virgo. Kalau diperhatikan tiap alat canggih disini memiliki symbol ‘V’, contohnya saja pintu canggih yang ada di masing-masing kelas atau pemindai kartu untuk membuka pintu toilet. Semuanya memiliki symbol ‘V’ dengan ukuran kecil. “Lalu bagaimana dengan Rangga?” Graha mengigit apel yang ada digenggaman, “Oh, kurasa dia ada urusan dengan ayahnya,” jawabnya. Kepala Virgo mengangguk, menyetujui ucapan Graha, “Kau tau Van, Om Wijaya benar-benar seram!” ucapnya seraya memeluk dirinya sendiri dan memasang wajah ketakutan. Melihat kelakuan Virgo, sepertinya Vania tahu orang seperti apa Om Wijaya itu. Hm, biar Vania tebak. Beliau merupakan pria yang kaku dan tegas serta seorang Alpha-man yang kolot. “Benar, Om Wijaya seringkali menyambut tamu nya dengan ramah.” Seketika alis Vania mengernyit, selain agak merasa bingung karna tebakannya salah. Vania juga merasa janggal dengan ucapan serta perilaku keduanya yang bertolak belakang. “Alasan kami takut itu karna tatapan beliau.” Graha mengangguk setuju. Tangan pemuda itu beralih menuju kerah, membuka satu kancing atas karna merasa sesak sekaligus panas. Kemudian ia menurunkan suhu AC seraya berujar, “Om Wijaya itu memang sangat ramah dan tenang, namun yang membuat kami takut adalah beliau seringkali menatap lawan bicaranya dengan tatapan yang mengerikan. Mirip seperti tatapanmu kala sedang marah, honey.” “Saat pertama kali bertemu dengan beliau saja aku langsung ciut saat melihat matanya,” Virgo menambahkan. Ketiga remaja itu kembali bungkam. Hanya suara televisi yang mengisi ruangan luas itu, diikuti dengan langkah kaki yang berada beberapa meter dibelakang mereka. Sosok tegap kepala pelayan terlihat begitu mereka menoleh kesamping. “Saatnya makan malam, tuan dan nona muda.” Jarum jam menunjukan pukul enam lebih lima menit. Waktu makan malam yang dinantikan oleh Virgo sejak tadi. Semoga saja koki mansion ini membuat makanan favorite Virgo. Oh, mungkin memakan éclair sebelum makan malam merupakan ide yang bagus. “Ah, kalian berdua duluan saja, nanti aku menyusul.” Usai mengucapkan itu Vania beranjak menuju lift. Meninggalkan Virgo dan Graha yang terdiam seraya menatap punggung sang gadis.  *** Segelas champage terogok dimeja putih, disampingnya berdiri sesosok lelaki muda dengan penampilan acak-acakan. Di antara jari telunjuk dan jari tengahnya terselip sebatang rokok yang telah tersisa setengah. Dirinya ingin berterima kasih pada angin malam yang ikut adil dalam menenangkan frustasi yang menggumul dikepala. Bibirnya mendecih kesal kala bayangan si gadis kembali memenuhi isi kepala. Sia-sia saja dirinya berdiri dibalkon apartemen berjam-jam jika gadis itu terus menghantui. Terkutuklah Vania, karenamu aku tidak bisa tidur. Aneh, bukan? Padahal tubuh gadis itu tidak seksi seperti para model yang pernah mengajaknya kencan, dia juga tidak bermartabat atau elegan selayaknya wanita-wanita yang pernah ayahnya kenalkan. Dia malah cenderung urakan, sok kuat, aneh, dan menyebalkan. Tapi entah kenapa hanya Vania yang bisa membuat seorang Rangga Wijaya pratama berantakan. Manik onyxnya memincing, dibawah tempatnya berada terdapat sesosok bertudung hitam. Tengah mematung dengan seringaian lebar, alarm tanda bahaya dalam diri Rangga serasa meraung-raung. Apalagi ditangannya terdapat senjata api, dipandangi sosok itu lamat-lamat. Sebisa mungkin Rangga harus mengetahui ciri-ciri sosok itu secara terperinci. karena hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang. Selang beberapa menit sosok itu berbalik dan melangkah pergi, Rangga segera mengambil benda persegi disaku celana. Mengetik beberapa suku kata lalu menempelkan smartphone itu ke telinga. “Raihan, sepertinya kita mendapat masalah.” Pelabuhan A, Nehemia city, 10.23. Suara desingan peluru beradu. Di ikuti dengan bunyi ledakan yang memekakan telinga. u*****n serta teriakan pun tidak luput dari ramainya situasi di salah satu pelabuhan di kota Nehemia. Pelabuhan A yang merupakan tempat pelayaran kapal-kapal kini nampak luluh lantak. Dua kapal berwarna hitam nampak sedang diamankan oleh orang-orang berseragam. Baiklah, mari kita fokuskan penglihatan kalian pada dua orang bertudung hitam yang tengah berdiri diatas salah satu kapal berwarna putih. Mereka terlihat mengamati pertarungan yang ada didepan mata mereka. Selang beberapa menit muncul sosok lain yang juga mamakai tudung serupa. “Kenapa kau pergi seenaknya, hah?!” Sosok tinggi besar meleparkan tatapan penuh amarah pada sosok bertudung yang baru saja sampai tadi. Dibalas dengan senyuman miring serta tatapan mengerikan yang seakan mengoyak serta meleburkan tulang berulang lawan bicara. “Hanya menemui si bayi,” bunyi pergantian peluru terdengar, “Ah…tapi sekarang dia sudah besar.” Sosok tinggi besar dengan M134 Minigun ditangannya itu menarik kerah pemuda sosok yang ada dihadapannya. Manik ruby bersiborok dengan Onyx, atmosfir yang ada disekitar keduanya berubah menjadi berat. Sementara itu sosok lain dengan sniper ditangannya nampak tak peduli—ia mengabaikan keributan dua orang disampingnya dan memilih untuk membidik orang-orang yang ada dihadapan mereka secara akurat. One shoot one kill. “Lihat itu! karenamu misi terakhir kita gagal!” serunya. Bunyi tembakan dimana-mana, mayat bergelimpangan dan terogok diatas jalanan. Tak ada yang peduli dengan hal itu, mereka semua siap menginjak-injak mayat itu demi bisa bertahan hidup dineraka ini. Dua kubu yang saling berlawanan itu bertempur demi prinsip yang mereka pegang teguh. Demi sepatah kata bertuliskan loyalitas. Atau mungkin sebenarnya mereka melakukan itu semua hanya untuk nafsu duniawi yang disebut jabatan dan kekuasaan? Tidak, itu tidak lagi penting. Orang-orang berseragam itu sudah jelas berusaha mencegah berlayarnya kapal berisi ribuan narkotika menuju tenggara. Sementara itu para penyeludup pun tidak tinggal diam, secuil pun mereka tidak akan membiarkan sumber uang mereka diambil begitu saja. DOR! “Menyerahlah!” Pria berseragam itu mendecih kala seruannya tidak ditanggapi oleh musuh. Dengan sigap ia menembaki lawan dihadapannya, mendekati tiga sosok manusia bertudung dengan topeng yang membalut setengah wajah mereka. “Itu dia! Tangkap tiga sosok bertudung disana! Mereka adalah para eksekutif The Gangster King!” Sementara itu ketiga sosok yang dimaksud hanya menampilkan wajah datar— oh ralat, sosok dengan badan paling besar diantara kedua rekannya itu justru memasang wajah garang dibalik topeng yang ia kenakan. “Polyphemus, majulah. Kau itu tank, bukan.” “Jangan panggil aku dengan nama aneh itu, Gold!” balas si Polyphemus. Usai itu ia melompat turun dari tempat mereka berdiri, menyerang lurus seraya menembaki mereka dengan M134 Minigun yang memuntahkan puluhan peluru. Korban makin berjatuhan olehnya. Sosok yang dipanggil Gold itu menyeringai, dengan santai ia mengisi 2 Glock ’20 tanpa susah payah. Manik jelaganya mengerling dan mendapati ruang disampingnya telah kosong. Sudah dipastikan si master sniper itu telah pergi mencari posisi baru. Mengingat kubu mereka telah didesak oleh jumlah musuh yang makin bertambah. Bibirnya mengulas seringai kejam, di ikuti dengan berubahnya iris onyx di kedua bola matanya. Pertanda bahwa ia telah siap kembali mengotori tangannya dengan darah. “Dasar anjing pemerintah.” The grim reaper spreading terror TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN