Reason

1798 Kata
Sesosok pemuda dengan jas formal berdiri tegap dihadapan kursi kebesaran sang raja. Ditangannya tersampir jas putih bernoda darah serta dokumen-dokumen bersampul hitam ditangan satunya yang bebas. “King,” jeda sesaat. “ini dokumen yang anda inginkan.” Dengan penuh kehati-hatian pemuda itu melangkah maju dan menaruh dokumen yang dimaksud keatas meja. Dari setiap gerakan yang ia lakukan nampak begitu teliti, ketara sekali bahwa ia enggan melakukan kesalahan sedikitpun didepan sosok penuh wibawa itu. Walaupun harusnya ia tidak takut akan dipenggal jika melakukan kesalahan, mengingat dirinya merupakan pion penting dalam papan catur sang raja. Tapi tetap saja, siapapun akan menunduk jika berhadapan dengan aura wibawa yang terasa mencekik. Mungkin, bernafas dihadapannya saja sudah berat. Sampul hitam itu terbuka, menampakan kertas putih yang tertoreh tinta hitam berisi data-data dan informasi penting. “Bagaimana dengan dia?” “Sesuai seperti yang dikatakan oleh tuan muda, saya telah melihatnya.” Netra legam yang menawan itu beralih menatap sosok asisten yang tengah berdiri sopan. Sang pemilik onyx dingin itu menelisik wajah sang asisten. Membaca arti ekpresi serta senyuman dari pemuda yang sudah bertahun-tahun berada di sisinya. Seakan mengerti tatapan sang raja, pemuda bersurai abu-abu itu berkata, “Dia benar-benar rupawan.” Hanya keheningan yang membalas pernyataan sang puan. “Saya ragu bisa anda akan membiarkan kepala saya tetap menempel pada leher saya, karena sepertinya—“ "Aku tidak akan menjamin kepalamu masih ditempatnya jika kalimat selanjutnya yang akan kau katakan itu, 'aku menyukainya'." Pemuda itu bungkam seketika, aura berat dari sang 'raja' saja sudah cukup membebaninya. Dan sekarang ditambah dengan kehadiran dua sosok lain yang sama mengerikannya. Oh, tidak. Sosok kali ini memiliki reputasi yang sangat buruk. Ia dijuluki; The killing machine, The Bloodthirsty devil, dan julukan yang paling terkenal adalah The Reaper. Ya, sosok itu merupakan malaikat maut dengan handgun sebagai senjatanya. Sosok yang begitu menakjubkan kala dibasahi liquid merah kental. Netra legamnya yang senantiasa menjadi mimpi buruk bagi sebagian orang. Sementara itu yang satunya lagi memiliki reputasi yang tidak kalah mengerikan. Kehadirannya yang selalu berpadu dalam kegelapan, ditemani dengan senapan sniper membuat identitasnya sulit untuk diketahui. Tidak ada yang bisa melihat sosoknya walau peluru telah bersarang di tengkorak kepala mereka. Sniper yang sering ia gunakan saat misi adalah Barrett 416 Model 99. Sniper apapun akan menjadi mematikan jika yang memakainya adalah dia. Keduanya begitu mempesona sekaligus mengerikan di waktu bersamaan. Tiba-tiba gelak tawa keluar dari mulut 'raja'. Rokok yang terselip diantara mulutnya pun jatuh. Mengenai dokumen bersampul hitam. Tak butuh waktu lama, dokumen itu mulai terbakar hingga tidak tersisa. Namun 'raja' itu nampak tidak peduli. "Posesif sekali kau ini." Dor! "Berisik." Salah satu dari dua orang itu nampak tersinggung, ujung Glock '20 handgun mengarah pada dahi raja setelah beberapa detik lalu melubangi tembok disebelahnya. Sementara itu sang raja tidak merasa terancam meski senjata itu siap memuntahkan isinya kapanpun. Ia justru melempar dokumen bersampul ke hadapan kedua sosok malaikat maut itu. "Itu adalah misi terakhir." Iris merah darah beralih menatap dokumen yang tergeletak dilantai. Sang master sniper berinisiatif mengambil dokumen tersebut dan mengeluarkan isinya sebelum kemudian ia beri kepada pria ber netra ruby disampingnya. "Menyeludupkan n*****a ke wilayah tenggara?” netra ruby beradu dengan onyx, “Kenapa kita harus mendapatkan misi remeh seperti ini, ha?" ucapnya sarkas. Misi seperti ini bukanlah tanggung jawab anggota selevel mereka berdua. Sang raja mengangguk singkat seraya menaruh putung rokok pada asbak. Pandangannya lurus, nampak sangat santai sekaligus mengoyak setiap jengkal jiwa milik kedua ahli senjata api itu. "Misi ini tidak sesederhana itu, Gold," ucapnya singkat. Kerutan halus nampak didahi putih Gold, pemuda itu kembali mengamati tiap kalimat yang tertoreh pada lembaran misi lamat-lamat. Tiba-tiba ia tersadar, pupil matanya melebar sepersekian detik sebelum kemudian bibirnya menyeringai iblis. "Hoo... dasar licik." Gelak tawa membana hingga kepenjuru ruangan. Kejeniusan Gold membuat dirinya tidak merasa menyesal telah memberi latihan neraka pada si ahli handgun yang sudah terkenal dengan tittle pencabut nyawa di dunia bawah tanah. Ekor mata King beralih menatap sosok lelaki dengan AWSM dipunggung dan berbagai macam alat tempur jarak pendek, "Kau tau peranmu, Black," ujar sang raja dengan senyum puas. *** Skylight High school, 12.25.  “Psstt jangan dekat-dekat dengan gadis itu.” “Kau sudah dengan rumor tentang gadis podium itu, bukan” “Ya, kudengar—“ “Aku mendengarnya.” Vania muak. Semenjak kejadian kemarin Vania terus menjadi bahan perbincangan di seluruh penjuru SHS. Rata-rata dari mereka selalu memperingati satu sama lain untuk tidak mendekati Vania. Hei, demi tuhan, sebenarnya apa yang Vania lakukan hari itu? Para senior yang mengganggunya sekarang tidak terlihat lagi, mereka seperti hilang ditelan bumi. Kemudian para siswa SHS makin menjauhi dirinya. Yah, sebenarnya itu hal bagus karna berkat itu Vania tidak lagi menjadi bahan gunjingan disekolah elite ini. Namun ada juga hal buruknya yaitu gossip-gosip tentang Vania justru makin merebak luas. Ditambah tadi pagi ia datang ke sekolah bersama five boys, satu mobil dengan Rangga pula. “Selamat siang, bu, saya pesan—“ “Roti s**u dan milkshake?” Vania tersenyum, lalu mengangguk kepada sosok tua yang tengah menatap Vania dengan lembut. Yah, setidaknya disekolah ini masih ada ibu kantin yang masih membela dirinya apapun yang terjadi. “Ini dia pesananmu, nak.” Alis Vania mengernyit kala menyadari satu bungkus makanan yang tidak seharusnya ada dinampan. “Roti s**u tidak membuatmu kenyang, habiskan nasi kari nya, ya? Itu gratis,” ujar sosok tua itu seraya tersenyum teduh. Inilah salah satu alasan mengapa Vania selalu percaya bahwa masih ada malaikat ditengah-tengah neraka. “Terima kasih.” Sebelum menuju tempat duduk, Vania melempar senyum pada sosok ibu kantin tersebut. Kemudian ia berbalik dan mulai mencari bangku yang sekiranya masih kosong dan boleh ia tempati. Saat netra onyxnya mengedar, Vania mendapati sosok blonde yang tengah duduk didekat kantin bersama beberapa orang lainnya. Bando hijau yang sosok itu pakai serta iris safir yang tiba-tiba bersiborok dengan netra legam Vania menjelaskan siapa dia. “Nona Al, bukankah éclair di cafeteria lebih enak dibandingkan makanan disini?” Ya, itu Green Al Wright. Sahabat satu-satunya Vania yang kini sedang duduk satu meja bersama rombongan wanita berseragam ketat. Para ketua penggemar fanatic five boys yang kemarin mengisi kolong meja Vania dengan air serta sampah. Kelompok Berlina. Tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang dengan sengaja menabrak bahu Vania. Nyaris saja nampan ditangannya jatuh akibat hal itu, namun untung saja Vania dengan sigap menahannya. Jangan sampai nasi kari pemberian ibu kantin jatuh dengan sia-sia. “Oh astaga maafkan aku,” sang pelaku memasang raut menyesal, namun Vania sangat tahu bahwa itu hanya acting semata. Karena orang yang dengan sengaja menabrak bahu Vania merupakan salah satu anggota kelompok Berlina, Shaffa. “Aduh pasti bahu mu masih sakit karna berkelahi dengan Kak Reina dari kelas 11,” ucapnya dengan nada prihatin yang dibuat-buat. Sontak Vania memasang wajah bingung, Green yang melihat ekspresi Vania sontak mendecih. “Berkelahi?” Shaffa memincingkan mata, lalu bibirnya mengulas senyum licik, “Ya, kemarin kau berkelahi dengan kelompok Kak Reina dan membuat mereka semua masuk ke UGD,” ujar gadis bersurai pink itu. Para anggota kelompok Berlina yang lain lantas dengan terang-terangan memberi nama panggilan ‘calon pembunuh’ pada Vania. Sang puan pemilik netra legam itu tidak lagi memperdulikan ucapan kelompok Berlina. UGD? Bukankah kemarin Graha sudah berkata bahwa para pembully itu baik-baik saja? Tapi mengapa mereka semua justru berada di UGD? Sebenarnya apa yang terjadi kemarin? Apa yang Vania lewatkan?! “Kejam sekali kau Vania, layak dijuluki pembunuh—“ “Menjauh darinya.” Shaffa refleks menoleh kala mendengar perintah dari seseorang. Tak jauh dari tempatnya berada nampak Green yang tengah duduk seraya menopang dagu. Iris safirnya menatap tajam Vania yang tengah menunduk. Kantin yang semulanya berisik dengan suara dentingan alat makan dan percakapan orang-orang langsung sunyi senyap. Anak bungsu keluarga Wright yang merupakan salah satu keluarga yang masuk list 10 keluarga terkaya didunia telah mengeluarkan perintah yang tidak boleh dilanggar. Maka dari itu Shaffa yang biasanya hanya menurut pada sosok Berlina saja kini nampak bergerak menjauhi Vania. Iris mata Berlina menatap Green dengan intens. Ah, inikah kekuatan dari kekuasaan? Orang-orang bisa langsung tunduk dengan mudahnya. Tubuh proposional Green berdiri tegap, lalu kaki jenjangnya melangkah kearah Vania dan melewatinya. “Ikut aku.” Saat tubuh keduanya telah hilang dilahap bibir pintu, seluruh orang dalam kantin itu sontak menghela nafas lega. Aura intimidasi yang menguar dalam diri Green benar-benar mengerikan, namun hal yang membuat mereka bungkam bukan hanya aura intimidasi milik sang nona muda. Kengerian yang dulu pernah muncul ke permukaan, kini kembali memasuki setiap inchi tubuh mereka. Seakan menusuk kulit, mengoyak daging, serta menghancurkan tulang. Kemudian merambat ke tenggorokan dan memaksa mulut untuk terus bungkam. *** Derap langkah mengudara. Dua insan yang biasanya berdiri berdampingan dengan jarak yang tidak pernah lebih dari satu meter, kini nampak sangat jauh. Gadis bersurai blonde berdiri didepan, ia berjalan dengan tegap dan tatapan lurus kedepan. Membuat siswa lain yang kebetulan berpapasan refleks menyingkir dan memberinya jalan. Tiga meter dari gadis itu terlihat Vania yang sedang berjalan dengan kepala tertuduk. Nampak sangat kontras dengan gadis satunya. Pintu bertuliskan ‘toilet’ menjadi tujuan utama kedua gadis itu. Begitu keduanya memasukinya, sontak gadis-gadis lain yang ada disana buru-buru keluar dari toilet. Mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun mengusik Green Al  Wright serta Vania Anatasya disaat mood keduanya sedang buruk bukanlah ide yang bagus. Bunyi benda diputar terdengar, disusul dengan suara air yang mengalir. Membasahi tangan ramping Green yang di anggap kotor karna sempat menyentuh salah satu pundak anggota kelompok Berlina. “Apa yang terjadi?” Green masih sibuk membasuh tangannya. Ia mengabaikan pertanyaan dari sang mantan sahabat. “Apa yang aku lakukan? Kenapa kau…kenapa kau menghakimi ku tanpa alasan yang jelas?” Suara Vania melirih diujung kalimat. Selama ini mungkin dia selalu nampak abai dengan perkataan negative orang-orang. Memasang wajah acuh tak acuh kala mengetahui dirinya sudah dijadikan target empuk para fans five boys yang gila. Ia bahkan tidak peduli dengan sampah dikolong meja atau paku yang terselip disepatunya. Tapi melihat sahabat satu satunya bergabung dengan para pembully setelah bertengkar hebat itu rasanya benar-benar menyesakan. Sungguh, Vania sampai ingin menangis kala mempertanyakan apa kesalahan yang ia lakukan sampai membuat Green melakukan hal itu. “Kenapa Green? Katakan apa—“ “Aku kembali mencarimu ke Bar dan kau tidak ada disana, kemudian dengan bodohnya aku malah pergi ke apartemen, berharap kau telah pulang dan duduk manis dikamar,” Green menghentikan ucapannya, ia menarik nafas panjang, “Namun, kau tau apa yang kutemukan disana?” “Apa….” “Aku melihat kau… sedang berciuman dengan Senior Raihan,” bunyi air tidak lagi terdengar, digantikan dengan tarikan nafas yang seakan berusaha melegakan rongga d**a, “Di depan mataku.” Green berbalik, menatap Vania dengan tatapan nanar yang mengiris hati. Kekecewaan yang begitu dalam terlihat dikedua iris mata safir itu. Air mata mulai menggenang, menunggu waktu untuk tumpah. Vania paling tahu betapa sukanya Green pada Raihan. Ia sangat menyukai pemuda itu hingga sampai pada taraf dimana rela memberikan apapun untuk meraihnya. Green bahkan memasang poster Raihan di kamarnya, mengikuti semua media sosial Raihan, dan bahkan gadis itu pernah mengirim jam seharga jutaan dollar kala masih di junior high school. Maka dari itu Green begitu marah saat ia melihat sahabatnya sedang berciuman dengan orang yang ia suka. Di dalam mobil mewah Raihan, melalui kaca Green bisa melihat keduanya tengah berciuman. “Demi tuhan Green, aku tidak pernah berciuman dengan senior! Saat itu aku tertidur!” “Tidak perlu mengelak, aku tahu bahwa kalian—tunggu, apa?” Green mengurungkan niatnya untuk pergi dari toilet. Gadis itu berdiri kaku seraya memegang pintu toilet. Dua meter dari posisinya berada nampak Vania yang memasang wajah serius. Diam-diam gadis itu menghela nafas lega karena ia sempat mengutarakan penjelasan sebelum Green keluar dari toilet. “Iya, aku dan senior tidak berciuman, waktu itu aku tertidur.” “Hah?” Kesal dengan Green yang linglung, akhirnya Vania memutuskan untuk menarik gadis itu keluar dari toilet dan berjalan menuju ruangan dimana Raihan berada.    TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN