The appearance of the devil

1478 Kata
Skip time, lorong kelas elite, 12.35. Istirahat siang telah tiba, kini saatnya Vania untuk melayani cacing diperutnya dengan hidangan yang berisi olahan daging—yah seharusnya sih skenarionya seperti itu. Tapi sialnya kenyataan tidak berjalan semulus pah—maaf maksudku adalah semulus ekspentasi. Setengah jam istirahat yang berharga ia korbankan demi menemui Graha. Pemuda itu terus meminta Vania untuk membelikan roti. Setelah itu dirinya membantu Virgo memperbaiki alat aneh ciptaan pemuda itu. Oh astaga, Vania juga nyaris melupakan kehadiran Ino yang sudah absen selama 2 hari. Katanya sih, baru katanya ya. Gadis manis itu harus menghadiri kontes biola di negara tetangga. Vania menghela nafas, sepertinya hanya dirinya yang benar-benar tidak bertalenta dan tidak punya kerjaan. “Hoi.” Kelereng hitamnya bergerak ke ujung mata, ia mendapati 3 sosok senior—yang mungkin kelas dua itu tengah menatapnya dengan raut wajah yang seakan berkata, ‘ewh, gadis kampung.’ Vania menelisik penampilan ketiganya; kemeja sekolah yang ketat, rok yang dinaikan lagi hingga 20cm diatas lutut— jika sedikit saja mereka membungkuk, sudah dipastikan celana dalam mereka akan terpampang, serta pin perak tersemat didasi ketiganya. Oh hei, mereka kemanakan jas sekolah SHS yang ada logo mahal itu?! Jika dilihat dari situasi lorong yang sedang sepi serta kehadiran dua senior di gedung kelas dua. Vania bisa memastikan ini merupakan salah satu problematika bersekolah di sekolah elite yang mayoritas adalah anak dari penguasa dan penguasaha yang tiap hari sibuk menghambur-hamburkan uang orang tua. Ya, benar, sebentar lagi akan terjadi bullying. Salah satu kegiatan negatif yang menjadi penyebab 80% remaja di dunia memilih jalan untuk bunuh diri. Ck, disaat seperti ini kemana sang penegak keadilan sekolah yang sering dijadikan tokoh dalam novel remaja. Ketua Osis. “Hm?” sahut Vania singkat. “Jauhi 5K.” Sontak alis Vania menukik, “5K? Apa itu nama baru brand minuman?” tanyanya asal. “5K itu singkatan Five kings yang berisi Rangga, Graha, Leon, Virgo, dan Senior Raihan,” seorang gadis yang Vania tebak merupakan ketuanya itu menjelaskan maksud 5K seraya menahan jiwa fangirl-nya agar tidak keluar dan berakhir teriak-teriak menganggumi sang idola. “Jadi jauhi mereka, dasar anak d***u!” Vania manggut-manggut faham. Sejujurnya ia ingin sekali tertawa mendengar sebutan itu. Sungguh, 5 kings itu jauh lebih menggelikan dibandingkan 5 boys. “Berhenti menempel padanya, aku memperingatimu.” Tidak tahukan mereka bahwa para idola mereka lah yang selalu menempel pada Vania. Terutama Graha, pemuda itu selalu mengikuti Vania selayaknya anak itik yang kehilangan induknya. Vania sendiri ingin sekali bisa lepas dari mereka dan melanjutkan kehidupan normalnya. Bersama five boys selalu membuat Vania nyaris gila karena ditimpa hal-hal mengejutkan. Kalau perlu ia tidak ingin berhubungan dengan mereka, lebih baik lagi jika saat mengobrol, Vania berada di Mounosver, dan mereka semua berada di Afrika—bertempur dengan hyena-hyena disana. “Pfftt.” Plak! “Kau menertawai kami ya?!” Bekas tamparan berwarna merah nampak membekas dipipi putih Vania, rupa-rupanya cab—em maksudku gadis-gadis itu merasa murka sebab melihat Vania cekikikan diam-diam. Ketara sekali dia sedang menertawai anggota gengnya ini. Ia merasa sangat puas karna bisa ‘mengajari’ adik kelasnya yang kurang ajar ini, memang angakatan sekarang harus banyak-banyak diajari sopan santun pada senior supaya mereka lebih tahu diri. “Hey.” Sekali lagi, onyx bengis itu menunjukan taringnya. Walau si pemilik hanya terdiam disudut sana, itu sudah lebih dari cukup untuk membuat seluruh pembully lupa bernafas karena merasakan ketakutan yang luar biasa. Mungkin, ini terdengar tidak masuk akal tetapi andai kau berada diposisi kami, kau pasti akan menyadari bahwa gadis itu benar-benar— “Siapa yang mengizinkanmu menyentuh wajahku?” —iblis. Sementara itu disuatu gang kecil dikawasan Nehemia. Terdengar suara-suara aneh disana. Dimulai dari suara benda yang bertabrakan hingga suara tulang yang patah pun juga ada. Bau amis yang diikuti dengan bau bubuk mesiu pun tak luput dari indra penciuman. Kekacauan dimana-mana didampingi dengan liquid merah yang menggenang. Puluhan mayat bertumpuk hingga menggunung. Dipuncaknya terdapat sesosok manusia dengan baju bersimbah darah—yang tentunya darah milik orang-orang dibawahnya. Kegelapan yang kontras dengan kulitnya tak membuat dirinya meringkuk ketakutan selayaknya sesosok lelaki paruh baya disudut gang. Jemarinya bergerak membersihkan senjata yang berlumuran darah dengan sapu tangan berlambang chimera. “Benar-benar tidak berguna.” Netra kelamnya bersinar dalam gelap. Begitu menakjubkan sekaligus mengerikan diwaktu bersamaan. Bibir tipis yang telah ternoda darah membentuk kurva lengkung. “Ah, rupanya kalian ingin aku bermain petak umpet ya.” Gelegar tawa yang keluar dari mulutnya cukup membuat pria paruh baya itu makin bergetar ketakutan. Ditemani dengan Desert Eagle Mark XIX yang menyempurnakan tittlenya sebagai malaikat pencabut nyawa. Tap Tap Tap Dor! “Bersiaplah untuk kalah,” iris legam itu berubah mengerikan. Onyx yang kelam itu berubah menjadi crimson mengerikan yang memancarkan haus darah. Kemudian ia pergi setelah meninggalkan kertas putih ternoda darah disamping seorang mayat pria berjas hitam dengan luka tembakan di dahi. [Let’s play hide and seek, Bastard] *** “Ugh, sial kepalaku….” Vania menyadari ada perban didahinya kala dirinya sedang menyentuh kepalanya yang terasa berdenyut menyakitkan. Manik jelaganya mengedarkan pandangan. Ruangan luas dengan dinding putih bersih, sofa dipojok ruangan, infus yang menjulang disamping badan, dan bau khas obat-obatan yang menusuk indra penciuman. “Aku datan—eh…?” jeda sesaat. “Minna! Vania-chan sudah bangun!” Rasa-rasanya telinga Vania berdenging mendengar suara berfrekuensi tinggi itu. Kemudian sakit dikepalanya makin menjadi-jadi kala mendengar suara pintu yang dibuka paksa disertai dengan derap langkah kaki orang-orang. “Akhirnya Vania-chan bangun!” Dekapan hangat melingkupi tubuhnya. “Virgo?” “Dasar bodoh! Harusnya kalau kau di bully seperti itu lapor pada kami!” Oh, benar, terakhir kali dirinya dihadang oleh tiga orang senior, lalu salah satu diantara mereka menampar pipi Vania. Setelah itu… setelah itu apalagi yang terjadi? “Berapa jam aku tidak sadar?” “Sekitar 4 jam setelah istirahat makan siang.” Pantas saja keadaan diluar terlihat sudah agak gelap. Jam di dinding uks ini sudah menunjukan angka 16.45. Tunggu dulu, jika ia tidak sadarkan diri selama 4 jam. Itu artinya mereka semua menunggu dirinya siuman? Tepukan lembut mendarat disurai hitamnya. “Bagaimana kondis—“ Brak! “Vania!” Derap langkah terburu-buru menggema, sesosok lelaki dengan surai cokelat tengah mendatangi ranjang Vania. Ditangannya terdapat suatu benda yang mirip gedget namun sangat tipis—yang Vania tebak merupakan hasil merampas si cebol genius. “Bagian mana yang sakit?!” ujarnya seraya menyentuh seluruh tubuh si gadis. “Apa paha cantikmu tak apa?!” Sontak wajah Vania merah padam, melihat si lelaki m***m tengah menyentuh—err lebih tepatnya mengelus paha Vania yang diperban. Oke cukup, ini pelecehan seksual. “Graha, merah atau biru?” Si pemilik nama bergidik ngeri, cepat-cepat ia melepaskan tangannya dari tempat yang bukan seharusnya. Jika Raihan sudah mengatakan kata sakral itu sudah pasti Graha tidak akan berakhir baik-baik saja. Sebenarnya Graha menyukai warna merah, tapi itu bukan opsi bagus untuknya. Warna merah artinya dirinya akan dipukuli oleh Raihan hingga bersimbah darah. Namun memilih warna biru juga bukan opsi bagus, karna itu artinya lehernya akan dicekik hingga wajahnya membiru. Ah, sial. Membayangkan Raihan melakukan keduanya seraya tersenyum membuat bulu kuduk berdiri. “Vania, kau ini bisa bela diri?” Alis Vania menukik, ia menatap Rangga seraya mengingat-ingat beberapa hal. Hmm, bela diri? Seingat Vania, dirinya pernah mengikuti klub karate saat di junior high school. Tapi kemudian ia dikeluarkan dari sana karna dirinya mematahkan lengan seniornya. “Memangnya kenapa?” Hening sesaat sebelum akhirnya Rangga kembali membuka mulutnya. “Tidak, lupakan,” ujarnya. Aneh. Walaupun dirinya tidak peka, Vania tahu bahwa kelakuan Rangga agak aneh. Biasanya pemuda itu nampak tidak akan peduli dengan semua yang ada. Dan juga tingkahnya juga menyebalkan. Tapi sekarang ini ia nempak begitu berfikir keras dibalik wajah dinginnya. Ah, lebih aneh dirinya yang bisa membaca raut dingin Rangga. “Ngomong-ngomong bagaimana kondisi para senior yang membully ku?” Hening meliputi ruangan luas itu begitu Vania melontarkan sebaris pertanyaan pada kelima remaja tampan dihadapannya. Mereka hanya diam dan menatap Vania, sontak saja hal itu membuat Vania bingung. Ketiga senior tadi tidak apa-apa, bukan? “Oh! Sudah sore! Sebaiknya kita cepat-cepat pulang.” Virgo memecahkan keheningan yang ada, disetujui oleh keempat kawan-kawannya. “Benar kata Virgo! Kita harus pulang dan mengurus luka-lukamu ini, akan merepotkan kalau sampai lukamu bertambah parah,” Graha menambahkan seraya mengulurkan tangannya pada Vania, bermaksud membantu gadis itu untuk berdiri. “Maaf merepotkan kalian,” sesal Vania seraya menerima uluran tangan Graha. Kemudian lengan gadis itu dikalungkan pada pundak Graha. Dengan sigap Graha memegang pinggan Vania—menjaganya supaya tidak terjatuh. “Yeah, sekarang ini kau tinggal bersama Graha, otomatis kau tanggung jawab si playboy satu ini,” Virgo menyenggol pinggang Graha, membuat Graha dan Vania nyaris saja terjatuh jika Raihan tidak segera membantu Graha memapah Vania. “Dan tanggung Graha juga tanggung jawab kami,” Raihan menambahkan. Entah mengapa hal itu membuat Graha terharu. Ternyata ia mempunyai teman-teman yang baik. “Hei kalian, cepatlah atau kutinggal.” Ke empat remaja itu menatap kedepan, memperhatikan sosok Rangga dan Leon yang telah berada beberapa meter dari tempat mereka berada. “Rangga bilang, ‘Kau tidak merepotkan, Vania’,” ujar Graha tiba-tiba. Vania tergelak, “Kau seperti translator Rangga saja,” ucapnya. Disetujui oleh Virgo dan Raihan. “Tentu saja, aku ini bersama dia sejak bayi, jadi aku orang yang paling cocok menjadi translatornya.” Ketiganya tergelak bersamaan. “Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana kondisi para pembully itu?” Sungguh anak yang baik, Vania masih mengkhawatirkan keadaan orang-orang yang sudah berbuat buruk padanya. Haruskah kita semua beri dia apresiasi untuk itu? “Tidak perlu khawatir, mereka baik-baik saja.” Ketiganya tergelak bersamaan. “Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana kondisi para pembully itu?” Sungguh anak yang baik, Vania masih mengkhawatirkan keadaan orang-orang yang sudah berbuat buruk padanya. Haruskah kita semua beri dia apresiasi untuk itu? “Tidak perlu khawatir, mereka baik-baik saja.” Ketiganya tergelak bersamaan. “Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana kondisi para pembully itu?” Sungguh anak yang baik, Vania masih mengkhawatirkan keadaan orang-orang yang sudah berbuat buruk padanya. Haruskah kita semua beri dia apresiasi untuk itu? “Tidak perlu khawatir, mereka baik-baik saja.” Ketiganya tergelak bersamaan. “Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana kondisi para pembully itu?” Sungguh anak yang baik, Vania masih mengkhawatirkan keadaan orang-orang yang sudah berbuat buruk padanya. Haruskah kita semua beri dia apresiasi untuk itu? “Tidak perlu khawatir, mereka baik-baik saja.” TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN