Before trouble started

1926 Kata
Esoknya Vania harus menderita pegal-pegal karena posisi tidurnya semalam, tidur dipaha Rangga dan dipeluk oleh Graha memang terasa hangat. Namun tangan mereka yang berat itu menimpa badan Vania semalam membuat badan gadis itu pegal. Jam lima pagi Vania mengerang kala bahunya dipijat oleh Raihan. Sementara itu ke-empat lelaki lainnya hanya berlalu, kembali melanjutkan tidur atau bersiap sekolah dikamar masing-masing. Sialan sekali mereka menutup mata usai membuat badan Vania kram luar biasa. “Apa sudah baikan?” tanya Raihan seraya memijat lembut. Vania mengangguk singkat, ia mengucapkan kata ‘terimakasih’ sebelum akhirnya naik ke lantai 3 menuju kamar—yang belum ia lihat sama sekali. Di dalam lift ia membayangkan betapa enaknya memiliki kakak lelaki seperti Raihan. Pasti hidupnya akan penuh dengan kelembutan yang Raihan berikan. Ting! Pintu lift terbuka, tanpa basa-basi lagi Vania melangkahkan kaki jenjangnya menuju kamar putih disebelah kiri—ingat disebelah kiri. Sangat tidak lucu jika kejadian kemarin terulang kembali. Nuasa peach menyambut pandangan kala pintu putih itu terbuka. Ranjang putih yang empuk yang menunggu untuk ditiduri nampak sangat manis disana. Gorden berwarna putih bersih tersingkir, menampilkan taman yang terawat. Dari jendela besar itu Vania bisa melihat mawar putih yang mendominasi taman, pohon sakura yang begitu kokoh—oh Vania menunggu musim semi, pasti kelopak bunga sakura yang berterbangan akan sangat indah. Vania menghempaskan badannya pada ranjang, menatap langit-langit ruangan seraya memikirkan banyak hal. Diraihnya kertas perjanjian yang sempat ia ambil, lalu Vania baca kembali dengan seksama. [Kontrak tinggal bersama.] Pihak pertama, Graha. Pihak kedua, Vania. Isi perjanjian sebagai berikut ; 1. pihak kedua akan tinggal satu atap bersama pihak pertama dalam jangka waktu satu minggu lamanya. 2. Pihak kedua dilarang melakukan kegiatan yang merugikan pihak pertama. 3. Pihak pertama dilarang menyentuh pihak kedua tanpa izin. 4. Jika terjadi kerusakan pada barang-barang dimansion, pihak kedua yang akan menanggung. 5. perjanjian ini bisa berubah sewaktu-waktu. Vania menghela nafas panjang kala membaca point ke 4. Barang-barang dimansion ini harganya tidak main-main, contohnya saja vas bunga berwarna putih yang berada di dekat tangga ruang tengah. Vania tebak, harganya diatas 20 juta. Jika dirinya sampai tidak sengaja memecahkan satu barang saja. Sudah pasti Vania akan berakhir menjadi pembantu disini karena tidak mampu ganti rugi. Hah, ingatkan Vania untuk tidak lari-larian di mansion luas ini.  Tiba-tiba saku rok Vania bergetar. Dengan malas ia mengambil handphone tersebut dan mengangkat panggilan tanpa melihat siapa yang menelfon. “Dimana kau!”  hardik seseorang diseberang telfon. Vania mendengus, mendengar suara itu membuat dirinya muak sekaligus jijik, “Dirumah teman,” jawabnya asal. Dalam hati ia memperingati dirinya sendiri supaya lain kali melihat nomor ID penelfon sebelum mengangkatnya. “Apa kau bilang?! Kau harusnya bekerja dibar tapi kau malah bersenang-senang dirumah teman?! Kau tahu tidak kalau kemarin rentenir mendatangi rumah?!  Dasar anak tidak tahu diuntung!” Rahang Vania mengeras, ia merubah posisi badannya yang mulanya terlentang menjadi duduk.  Jemari lentiknya memijit pelipis yang dirasa mulai pening sebab mendengar suara sang penelfon yang makin meninggi. “Aku akan pergi ke luar kota selama 3 hari, sebelum pulang kau harus sudah berada dirumah!” Genggaman tangan pada ponsel mengerat. Pandangan matanya lurus kedepan, mengabaikan ocehan-ocehan manusia memuakan diseberang sana. Manik jelaganya berkilat kala mendengar kata, “Dasar anak sial!” Panggilan ditutup begitu saja, ponsel hitam itu meluncur sebelum akhirnya jatuh menyentuh tanah. Vania menggigit bibir bawahnya seraya mencengkram lengan kirinya yang bergetar hebat. Peluh membasahi pelipis, kelereng hitamnya tertutupi oleh kelopak mata dengan bulu mata lentik. Sementara itu bibirnya nampak menghembuskan nafas berulang kali—Vania terus berusaha menenangkan diri. “Haa…tenanglah.” Beberapa menit kemudian telapak tanganya berhenti bergetar, usahanya berhasil, kini ia merasa tenang. Bibir tipisnya mengeluarkan u*****n pelan sebelum akhirnya Vania memilih untuk bangkit dan menuju ke kamar mandi. Mengguyur kepalanya dengan air dingin mungkin akan membuatnya lebih baik. Beberapa menit kemudian Vania telah selesai dengan kegiatannya dikamar mandi. Begitu keluar, ia dikejutkan oleh sosok pelayan yang sedang merapihkan tempat tidur Vania yang agak sedikit berantakan. “Ah, nona, selamat pagi.” Vania bungkam, tatapan matanya menyelidik ke pelayan tersebut. Sang pelayan yang peka dengan tatapan Vania lantas segera menunduk sopan, “Saya Amara, pelayan yang ditunjuk oleh tuan muda untuk menjadi pelayan anda, nona,” jelasnya seraya mengulas senyum. “Oh, Amara.” Benar, Vania ingat pelayan ini. Dia adalah pelayan yang mengantarnya menuju ruang tengah. Gadis berusia 15 tahun yang bekerja sebagai salah satu pelayan mansion ini. Oh, Vania lupa untuk bertanya pada Graha mengapa ia mempekerjakan Amara yang usianya masih dibawah umur. Amara mengangguk sopan, kemudian iris matanya menatap Vania yang sedang mengosok rambutnya dengan handuk kecil. Binar kekaguman terlihat dikedua mata Amara kala melihat rupa elok Vania. Sungguh, baru kali ini dirinya melihat manusia secantik ini. Rambut sang nona nampak terlihat halus, kulitnya sangat putih dan lembut, bibir tipisnya yang berwarna pink alami, serta sepasang bola mata beriris onyx yang dilengkapi bulu mata lentik menyempurnakan wajah cantiknya. Amara gemar mengikuti berita seputar 100 wanita tercantik didunia. Dan sepertinya, nona didepannya ini bisa masuk kedalam list wanita cantik tersebut. “Nona, biarkan saya mendandani anda!” Vania berjengit kaget kala mendengar nada suara Amara. Gadis kecil itu terlihat begitu berbinar kala meminta untuk mendadani Vania. Melihat wajah penuh harap Amara membuat Vania merasa sulit untuk menolak. “Baiklah.” *** “Selamat pagi.” Kali ini Vania memilih kelantai bawah menggunakan tangga, alasannya adalah menhindari Rangga—entah kenapa ia merasa aneh jika didekat lelaki itu. Jantungnya terasa berdegub 3 kali lebih cepat dan itu membuat Vania risih. “Wah, Vania-chan, ohayou!” Sambutan hangat Vania dapatkan dari si cebol, Virgo. Sementara itu ke-empat lelaki lainnya hanya mengangguk dan kembali melanjutkan sarapan mereka. Oh, kecuali Raihan yang tiba-tiba mengabaikan roti demi menarik kursi untuk Vania duduk. Gentleman sekali. Vania tersenyum kecil dan berterima kasih pada seniornya itu, kemudian atensinya berpindah pada Virgo. “Ohayou?” tanyanya dengan nada heran. “Ohayou itu sapaan selamat pagi dalam bahasa Jepang, bodoh,” ledek Rangga. Ck, ingin sekali rasanya Vania melemparkan garpu ditangan hingga menancap pada pelipis lelaki itu. Kemudian darahnya akan ia taruh di toples selai strawberry dan rencananya mayatnya akan Vania lempar ke iguana peliharaan Green. Ah, lagi-lagi Vania teringat dengan sahabat hijaunya itu. Sedang apa dia? Vania ingin sekali meminta maaf. “Mm, Rangga benar,” perkataan Virgo kembali menimbulkan pertanyaan baru dikepala cantik Vania. “Kau ini orang Jepang?” Virgo tersendak, buru-buru ia menenggak minumannya. Sementara itu Graha malah tegelak mendengar pertanyaan yang dilayangkan Vania. Sungguh, gadis itu benar-benar selalu mengatakan hal yang megejutkan. “Apa Vania-chan tidak pernah lihat berita ditelevisi?” Vania menggeleng. Sudah lama dirinya tidak melihat tayangan di televisi. Yah, alasan adalah karna pengaruh smartphone. Karena banyaknya hal yang bisa di lakukan di benda persegi itu membuat tayangan televisi tak lagi terlihat menarik untuk di tonton. “Kalau artikel?” Vania menggeleng lagi, lagipula artikel di Mounosver kebanyakan memberitahukan tentang tingkat kriminalitas yang makin meninggi tiap tahunnya. “Majalah?” Gelengan yang ketiga membuat Virgo menganga lebar. Ekspresi wajahnya seakan berkata ‘apakah kau ini manusia goa?’ pada Vania. Raihan hanya menggeleng kala melihat ekspresi itu. “Ayahku adalah orang Jepang dan ibuku adalah orang Amerika. Aku sendiri lahir di Jepang dan tinggal disana sampai berumur 5 tahun,” Virgo terdiam sejenak “Aku fikir seluruh orang dinegeri ini tahu, karna hal ini sering ditayangkan dimana-mana,” imbuhnya lagi seraya kembali berkutat pada roti bakar selai coklat kacang dipiring. “Singkatnya Virgo ini half-Jepang, half-Amerika.” Tawa Graha kembali pecah kala mendengar kalimat yang dilontarkan Rangga, lelaki itu tergelak seraya memegangi perutnya. Ia merasa kasihan sekaligus senang melihat Virgo tidak bisa melakukan sesuatu padahal dia begitu kesal setengah mati. Beberapa menit kemudian Raihan mengulurkan gelas berisi air putih pada Graha yang ternyata tersedak ludahnya sendiri akibat terlalu banyak tertawa. Sementara itu Virgo mengabaikan tawa ejekan Graha, ia berkutat pada gedget canggih yang entah sejak kapan telah berada ditangannya. Sorot matanya begitu fokus dan jemarinya menari diatas keyboard hp—begitu cepat sekaligus membuat Vania pusing mengikuti gerakan jarinya. “Virgo jangan terus berkutat pada layar ponsel dan Vania makanlah sarapanmu,” titah Raihan. Tanpa diperintah dua kali Vania melahap roti yang tersaji dihadapannya. Ia tidak menyadari tatapan gemas yang terpancar dari kelima remaja lain disana kala melihat Vania susah payah mengunyah dengan mulut penuh. Hening meliputi meja makan panjang sebelum akhirnya deheman singkat terdengar. Sesosok pria paruh baya dengan pakaian khusus kepala pelayan itu tengah berdiri tak jauh dari tempat mereka berada. Senyum ramah ia tampilakan seraya berkata, “Tuan muda Virgo, laptop dan dua buah smartphone yang anda pesan telah sampai, ingin ditaruh dimana?” Senyum Virgo mengembang. “Oh, taruh saja dikamar Vania-chan. Dan tolong suruh pelayan lain untuk membereskan semua barang-barang dikamar Vania-chan ya.” Pria tadi mengangguk sopan, lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruang makan untuk melaksanakan permintaan Virgo. Selang beberapa menit si cebol itu menaikan satu alisnya dengan kening yang berkerut samar, “Mm, bukankah aku hanya membeli laptop untuk Vania,” iris amber Virgo menatap sekitar, “Kalau begitu siapa yang membeli sisanya?” Seluruh atensi dimeja makan langsung beralih pada seorang lelaki yang sedari tadi nampak tidak perduli dengan keadaan yang ada. “Aku miris melihat ponselnya yang ketinggalan jaman.” Apa pula ini? Apa mereka semua berniat membuat Vania merasa hutang budi? *** Lamborghini dengan warna berbeda-beda nampak saling menyusul sama lain, atau lebih tepatnya mengejar Lamborghini berwarna hitam yang berada digaris terdepan. Ah! Mereka semua menuju kearah gerbang besar berwarna putih dengan logo emas bertuliskan ‘Skylight School’. Ke-lima mobil mahal itu menurunkan kecepatan kala berada di bibir gerbang. Yang kemudian disambut dengan jeritan para kaum hawa serta decakan sebal kaum adam. Sementara itu seseorang didalam mobil nampak sedikit gelisah dengan keramaian yang ada didepan mata. Ia mengutuk lelaki disampingnya yang memaksa dirinya untuk berangkat bersama. Sudah cukup Vania dijadikan bahan gunjingan karena terlambat dihari pertama sekolah. Kalau sampai sekarang ia di benci oleh perempuan dipenjuru sekolah, sudah pasti Vania akan menjambak Rangga dan menenggelamkannya. Dia tidak tahu betapa menyeramkannya wanita jika melihat idolanya direbut. Apalagi kalau dihina, BEUHH. Saking asyiknya mengutuk Rangga, Vania sampai tidak menyadari bahwa pintu disampingnya telah terbuka. Tangan putih terulur dari sana. Vania cengo, jangan bilang Rangga telah membuka pintu selayaknya seorang gentleman, lalu berniat menggandengnya keluar mobil seperti di adegan klise novel-novel teen? Oh sial, jika iya, ketara sekali alasan mengapa Rangga bertingkah demikian. Lelaki itu pasti berniat sekali membuatnya menjadi sasaran bully para penggemarnya atau biasa disebut Ra’Lovers—demi apapun, menurut Vania nama fans club itu benar-benar cringe. Niat buruk Rangga bisa Vania lihat lewat seringaian menyebalkan yang terpatri dibibir tipis dan mer—hei sedari dulu Vania penasaran mengapa bibir lelaki itu berwarna merah. Padahal dia tidak pernah sekalipun memakai pewarna bibir. “Aku bisa keluar sendiri,” tukas Vania seraya mengabaikan uluran tangan dari Rangga. Jeritan dan teriakan memuja makin kerasa kala kelima lelaki itu berjejer. Kesempatan yang sangat luar biasa bisa melihat kelima lelaki super tampan dan ekhem kaya raya tengah bersama-sama. Apalagi jika diantara mereka ada gadis—tunggu GADIS?! Suasana berubah, yang awalnya dipenuhi oleh jeritan dan kekaguman berganti menjadi penuh bisikan-bisikan. Mayoritas wanita disana bertanya satu sama lain yang pertanyaannya tak lain adalah, “Kenapa si p*****r itu bisa bersama mereka?” Oke, itu sangat menyebalkan bagi Vania. Setidaknya jika ingin menggunjing jangan didepan orangnya langsung atau setidaknya jangan berkata bahwa Vania itu p*****r. Perlukah Vania memberikan cermin besar agar para perempuan disana sadar siapa yang cocok disebut p*****r disini? “Jangan didengarkan—“ hembusan nafas terasa ditelingan Vania, “—mereka itu cuma iri.” Vania menangguk singkat mendengar ucapan Graha. Selang beberapa menit sebuah headset terpasang ditelinga Vania. Alunan musik klasik karya Beethoven yang berjudul Silence memenuhi penndengaran Vania. “Pakai ini ya supaya Vania-chan tidak mendengar perkataan mereka.” Seyum kecil terpatri dibibir peach Vania, ia memandang Virgo lembut seraya mengulas senyum kecil. Panah imajiner terasa menusuk hati si lelaki cebol. Demi tuhan, Virgo jadi merasa bahwa dirinya adalah seorang newbie yang sedang menghadapi serangan final boss berlevel 99+. “Terima kasih,” ujar Vania sebelum akhirnya melangkahkan kaki jenjangnya demi mengikuti Rangga menuju kelas elite. Disamping Vania ada Graha yang melempar candaan padanya, yang selalu ditimpali dengan sinis oleh Virgo. Diujung kanan ada Leon yang sedang sibuk mengotak atik tablet ditangan, headphone berwarna putih menggantung dilehernya. Sementara itu diujung kiri ada Raihan yang melempar senyum manis kepada para perempuan yang menyapa dirinya. “Lihatlah itu, bukankah sahabatmu itu sangat serakah?” Angin kecil dipagi hari itu dengan nakal menerbangkan surai blonde milik seorang gadis bernetra biru laut serta surai merah darah seorang gadis bernetra crinsom. Kedua iris cantik itu mengikuti langkah kaki Vania yang berjalan dengan pada adonis tanpa rasa bersalah. “Dia bukan sahabatku lagi.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN