Bound

2367 Kata
Graha’s mansion, 18.45. Manik hazel Graha mengikuti baris demi baris kalimat yang tertera diatas kertas putih digenggaman. Bibirnya mengatup rapat, kemeja sekolah ia gulung hingga siku—menampilkan lengannya yang terlihat kokoh. Cahaya matahari yang menyelinap dijendela menyirami figure Graha yang sedang duduk diatas sofa putih. Vania bukan wanita munafik, ia sangat mengakui bahwa Graha yang serius seperti ini sangat menawan—ia nampak seperti reinkarnasi Apollo, dewa ketampanan dalam cerita yunani kuno. “Hm…baiklah aku setuju.” Kertas putih itu Graha taruh dimeja, kemudian atensinya beralih menatap sang gadis yang tengah memperhatikan lukisan di dinding. Diam-diam ia memperhatikan rupa gadis yang beberapa hari ini menarik perhatiannya. Berawal dari ke tidak sopanan gadis itu pada kepala sekolah hingga menolak dirinya didepan siswa sekolah. Vania adalah sosok sangat sulit ditebak, sampai sekarang ia saja tidak mengerti sebenarnya yang mana kepribadian gadis itu. “Jadi dimana kamarku?” Graha tersentak kala Vania menoleh dan balik menatapnya. Selama beberapa detik ia tergugu oleh onyx yang dimiliki oleh gadis itu. Selayaknya supermassive black hole yang mampu menyerap alam semesta, Graha nyaris tersedot kedalamnya. “Oh—ah naiklah ketangga menuju lantai dua kemudian belok kanan, lalu lurus dan disana—” “Kamarku?” potong Vania cepat. Gadis itu sudah jengah dengan penjelasan Graha yang terbelit-belit. Err… lebih tepatnya mansion ini yang terlalu luas dan besar sehingga penjelasan Graha terkesan panjang dan terbelit-belit. Argh, jika saja Vania tidak berdebat dengan Green, mungkin sekarang dirinya tengah bersantai dikamar apartemen seraya menyantap ayam goreng. “—Bukan, disana ada kamar mandi.” Jawab Graha dengan senyum manis. Dalam hati ia terkekeh melihat ekspresi Vania yang mulai terlihat masam dan kesal. Pasti gadis itu sangat ingin beristirahat, namun penjelasan Graha yang sengaja dibuat terbelit itu menghambat keinginan Vania. Tapi sungguh, wajahnya yang cemberut itu sangat imut. Graha jadi tidak tahan untuk tidak menggodanya. “Dari kamar mandi kau belok kanan, kemudian lurus mengikuti lorong. Mm disitu ada sekitar 10 kamar lalu kau cari kamar warna putih. Nah, itu adalah—“ “Kamarku?” “Bukan, itu kamar pembantu pribadimu.” Ingin rasanya Vania membanting lelaki didepannya kemudian melemparnya dari lantai tiga mansion. Vania berfikir bahwa lebih baik langsung memberi tahu kamar yang akan ia tempati, atau mungkin mengantarnya kesana. Menjelaskan satu persatu jalur serta ruangan yang ada dimension ini benar-benar hal yang tidak perlu! Ingatkan aku untuk membunuhnya saat ia tertidur, maki Vania dalam hati. “Nah kamarmu ada dilantai tiga, pintunya warna putih, disebelah kiri.” “Kalau kamarku ada dilantai tiga, kenapa kau justru menjelaskan ruangan dilantai dua?!” Vania berlalu menuju lantai tiga menggunkan lift yang ada. Meninggalkan Graha yang terkekeh geli. Sepanjang jalan menuju kamarnya ia terus mengumpat dan memaki casanova sialan itu. Saking asyiknya memaki, Vania sampai melewatkan kamarnya. Tanpa basa-basi lagi ia segera berbalik dan menemukan dua pintu putih disisi kanan dan kiri. “Yang sebelah kiri kan?” Tanpa pertimbangan lagi Vania segera masuk kepintu putih disisi kiri. Menguncinya dari dalam lantas merebahkan badannya di ranjang king size super empuk usai melepas jas sekolah dan menaruhnya di sofa kamar. Gadis cantik itu menutup matanya seraya menghirup dalam-dalam aroma cool yang menguar dari bantal yang ia peluk. “Apa yang kau lakukan disini?” Suara baritone yang terkesan dingin membuat mata Vania terbuka lebar. Sontak ia mendudukan dirinya dan jelalatan mencari asal suara. Selang beberapa detik netra legamnya langsung menangkap sesosok lelaki yang hanya mengenakan handuk kecil setengah paha untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Tatapannya merambat keatas, terpampanglah abs—yang Vania yakin merupakan hasil dari gym rutin. Air menetes dari surai hitamnya yang basah, kemudian turun menyelusuri badannya yang atletis. Sungguh pemandangan yang sangat indah. “Kenapa kau menatapku seperti itu, dasar gadis mesum.” Lamunannya buyar, Vania menatap sengit lelaki itu. Menunjukan aura permusuhan yang ketara. “m***m?! Yang benar saja! Ini salahmu karna keluar hanya memakai handuk kecil begitu!” sanggahnya dengan wajah memerah sempurna. Hal itu mengundang smirk evil dibibir lelaki itu. dengan santai lelaki itu mendekati Vania yang tengah panik seraya memundurkan badannya. Seringaiannya melebar kala mendapati Vania tidak bisa kemanapun karena terpojok oleh tembok. Vania merasa déjà vu. “Siapa yang masuk ke kamar seorang pria dengan kondisi seragam yang ‘mengundang’ itu, hm?” Sontak wajah Vania memerah hingga telinga, ia memalingkan wajahnya seraya berusaha keras memasang dua kancing seragamnya yang telah lepas. Sementara itu ribuan fantasi liar kini bersiuran dikepala. Vania meruntuki otaknya yang telah sedikit tercemari oleh Graha. Vania! Bodoh! makinya dalam hati seraya menahan debaran yang kian menggelora. “Apa yang kau lakukan dikamarku?” Seakan tersambar petir di siang bolong, Vania sontak berdiri. Menatap horror lelaki didepannya yang mengernyitkan dahi tanda bingung—ohh jangan lupakan tatapan aneh nan menusuk yang dilayangkan untuk Vania. “Hah?! Kamarmu?! Ini kamarku!” ujar Vania mutlak Kernyitan didahi lelaki itu bertambah. “Apa kau tidak datang saat tuhan mengadakan pembagian otak? Lihat tulisan didepan pintu, bodoh.” Tanpa basa-basi Vania memacu langkah kaki demi mendekati pintu yang dimaksud. Pupil matanya melebar kala mendapati dua kata terjejer manis didepan pintu. ’Rangga’s room’ Detik ini juga, Vania ingin menenggelamkan dirinya ke samudra atlantik. “Hei!” Tubuh mungilnya berbalik, menghadap kearah lelaki yang masih setia berdiri dibibir pintu kamar mandi seraya mengeringkan surai hitamnya dengan handuk kecil. “Hm?” “Maaf!” Usai mengatakan kalimat singkat itu, Vania langsung ngacir keluar dari kamar. Kaki jenjangnya memacu langkah hingga mendekati lift. Lantas menekan tombol dan masuk kesana. Vania menghela nafas panjang seraya menunggu lift ini berjalan turun. Ia sedikit menyesali telah angkat kaki dari apartemen Green sehingga berakhir di kandang ‘serigala’. Padahal sebenarnya ia bisa saja pulang ke tempat itu, namun kenapa otak bodohnya ini justru menerima penawaran Graha untuk tinggal bersama?! Ting! Pintu lift terbuka dan memperlihatkan ruangan super duper luas yang tadi sempat ia lewati bersama Graha. Ini merupakan ruangan yang akan kau temui ketika memasuki mansion. “Nona?” Vania terkesiap, sontak saja ia berbalik dan mendapati sesosok gadis dengan pakaian hitam putih khas maid ala Prancis tengah tersenyum formal. “Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya ramah. Vania menganggukan kepala. “Ya, dimana Graha?” tanyanya seraya menatap sekeliling ruangan, mencari keberadaan sang Casanova. “Tuan muda ada di ruang tengah, nona.” Sejurus kemudian Vania kembali memacu langkah ke tempat yang dimaksud. Ia tidak menyadari tatapan aneh yang dilayangkan untuknya. “Pasti pelacurnya tuan muda lagi.” *** Vania terus saja melangkah kakinya, mencari keberadaan ruang tengah yang pelayan tadi maksud. Saking fokusnya mencari, ia sampai tidak menyadari bisikan-bisikan para pelayan yang sempat dilewati oleh Vania. Para pelayan itu memang sudah terbiasa dengan kebiasaan sang majikan yang membawa wanita keluar masuk ke mansion ini. Mayoritas dari mereka adalah para artis papan atas, model ternama, selebgram, dan wanita-wanita cantik lainnya. Namun baru kali ini mereka menjumpai sang majikan membawa satu wanita yang levelnya sangat rendah. Lihatlah, gadis itu belum mengganti seragamnya, ditambah rambutnya kusut dan sepatunya bukan dari merk ternama. Tapi mereka tidak memungkiri bahwa wanita kali ini memiliki wajah yang sangat cantik—jauh lebih cantik dari wanita yang sering dibawa oleh sang majikan. Jika sejenak mengabaikan penampilannya yang berantakan, mungkin mereka sudah menyangka bahwa wanita ini merupakan salah satu artis atau selebgram terkenal. “Hei.” Seorang pelayan nampak terkejut, ia buru-buru menolehkan kepalanya dan mendapati seorang gadis berparas cantik tengah menatapnya. Itu dia wanita yang sedang dibicarakan oleh para seniornya tadi. “Ada yang bisa saya bantu, nona?” tanyanya dengan hati-hati. Ia takut ditampar seperti waktu lalu oleh salah satu wanita sang majikan. “Dimana ruang tengah?” Pelayan itu berkedip sesaat, “Ah, biar saya antar,” jeda sesaat, pelayan itu kembali menatap wajah gadis dihadapannya. Diam-diam menanggumi rupa nya yang sempurna, “Mari, nona.” Vania mengangguk singkat dan mulai mengikuti pelayan tersebut. Ia menatap punggung kecil sang pelayan, mengira-ngira berapa umurnya. “Apa kau berumur 16 tahun?” Pelayan tadi tersentak, “Anu, umur saya 15 tahun,” jawabnya. Iris Vania melebar. 15 tahun katanya? Gadis sekecil ini harusnya sedang mengenyam pendidikan. Mengapa ia justru bekerja disini? Apa Graha sudah sinting memperkerjakan gadis semuda ini? “Nona, sudah sampai, Tuan muda ada didalam.” Begitu memasuki ruang tengah, ia menjumpai Graha yang sedang duduk santai diatas sofa. Satu tangannya menggengam sebuah gelas, dan tangan lainnya memegang handphone. “Hoi, Graha!” Graha terkesiap, cangkir kopi yang niatnya akan menempel pada bibirnya ia urungkan. Bibirnya mengembang kala melihat Vania yang mendekat, kemudian duduk disampingnya. Ia mulai menelisik penampilan gadis cantik itu. Nafas yang memburu, wajah memerah, keringat yang turun menyusuri leher jenjangnya, dan dua kancing atas yang tidak sepenuhnya terkancing dengan benar— Graha yakin kancing itu terbuka lagi sebab berlari, dan gadis itu tidak menyadarinya sama sekali. Graha meruntuki penampilan Vania yang sukses membuatnya tegang. “Kenapa ada Rangga?” Vania menghela nafas panjang, “Bukankah hanya kita berdua yang akan tinggal disini?” tanya nya seraya mengatur nafasnya yang masih terengah-engah sebab bolak-balik mencari letak ruangan ini. Senyum Graha melebar, apakah itu artinya Vania keberatan dengan eksitensi lain dan hanya ingin tinggal ‘berdua’ bersamanya? “Rencana awalnya memang begitu, tapi tiba-tiba saja Rangga sudah ada dimansion ini satu jam sebelum kau datang,” jelas Graha seraya menghela nafas panjang. Sejujurnya ia merasa kesal dengan Rangga yang mengganggu keberlangsungan acara pendekatannya dengan Vania. Susah-susah Graha menyiapkan mansion agar ia bisa melakukan hubungan intim—er ralat, maksudnya adalah bisa bersenang-senang dengan Vania. “Dia bilang akan tinggal disini sementara.” Rahang Vania seakan jatuh dari tempatnya, pupil matanya melebar mendengar ucapan Graha. Astaga yang benar saja, bersama satu anggota five boys saja sudah membuatnya gila. Apalagi kalau sampai dua anggota. Jika seandainya seluruh anggota five boys menetap disini, sudah dipastikan Vania akan angkat kaki dari sini dan memilih untuk pindah planet. “Graha!” Kedua remaja itu menoleh, mulut Vania menganga kala mendapati 3 sosok lelaki tengah berdiri diambang pintu ruang tengah seraya mendekati tempat dimana Vania dan Graha berada. “Raihan bilang kau dan Vania-chan akan tinggal bersama,” diam-diam Virgo menyeringai saat melihat dengusan sebal Graha, “karena kami tidak mau sahabat tercinta kami melakukan ‘sesuatu’ lagi, maka kami memutuskan untuk ikut tinggal disini sampai Vania-chan pulang ke rumahnya,” imbuh pemuda cebol. Disetujui oleh Raihan. Ingatkan Vania untuk berbenah dan meluncur ke mars. “Apa Vania keberatan?” Si pemilik nama hanya mengangguk lesu, ingin rasanya ia berkata ‘PERGILAH SANA, SIALAN!’ Tapi ia urungkan mengingat yang berbicara adalah senior ramah yang merupakan idola Green sekaligus senior yang telah menyelamatkan dirinya dari marabahaya yang disebut ‘dilahap’ serigala. “Bagus kalau begitu~” Dengan tidak tahu dirinya Virgo menempatkan badannya diantara kaki jenjang Vania seraya menonton tayangan di televisi. Hal itu sukses membuat Graha kesal bukan main, dengan sekuat tenaga Graha menjitak dahi Virgo seraya berharap agar otak pemuda itu sedikit tumpul karenanya. Suara aduhan menyebalkan keluar dari bibir tipis si lelaki cebol. “Hei! Kau kenapa sih! Sakit tahu!” hardiknya seraya memegang bekas jitakan, sementara itu si pelaku melengos tak peduli. Selimut cokelat mendarat dipangkuan Vania, gadis bermahkota surai hitam itu menoleh dan mendapati Raihan tengah menatapnya dengan sorot yang disulit artikan. Senyum Vania mengembang, ia memakai selimut pemberian Raihan pada kakinya yang tidak tertutupi rok pendek seragam yang tengah ia kenakan. Kata ‘terima kasih’ diberikan pada sang senior. Walaupun bibir Raihan hanya membentuk kurva garis lemgkung. Vania tahu bahwa lelaki itu mengatakan ‘sama-sama’ dalam diam. “Sudah melihat kamarmu?” Tepukan hangat dikepalanya membuat Vania menoleh, ia menggeleng singkat sebagai balasan dari pertanyaan Senior Raihan. Fokusnya kembali pada televisi yang menayangkan adegan baku hantam. Sementara itu Raihan hanya mengangguk singkat dan mendudukan dirinya pada salah satu sofa putih disana. “Ngomong-ngomong mana Leon?” tanya Graha. Virgo menghentikan kegiatannya mengunyah keripik kentang favoritnya, “Oh, katanya ada masalah diperusahaan,” tiba-tiba Virgo terkikik geli, “Katanya kakaknya tidak sengaja membakar dokumen penting perusahaan!” jelasnya seraya terbahak. “Woah, aku bisa tahu bagaimana mengesalkannya itu,” Graha begidik membayangkan bagaimana jika ia sekarang sedang di posisi kakaknya Leon. Pasti dirinya sudah dicincang oleh pemuda dingin itu hingga beberapa bagian. Tiba-tiba Virgo berbalik, kepalanya ia dongakan sedikit demi menatap langsung manik jelaga milik gadis cantik didepannya. Si empu pemilik manik indah itu menundukan kepala kala menyadari tatapan intens yang mengarah padanya. Onyx bersiborok dengan Amber. ‘Maniknya legam sekali, seperti tidak ada dasar,’ Virgo membatin. “Apa ada sesuatu diwajahku?” “Kau—“ “Honey, sudah makan malam, hm?” Ucapan Virgo dipotong oleh Graha. Pemuda bersurai cokelat itu rupanya sudah berdiri disamping telfon rumah yang terletak agak jauh dari sofa—ia siap memesan makanan apapun yang gadis itu mau. “Belum.” Graha mengangguk faham, “Kau mau makan apa?” tanyanya seraya menatap Vania dengan penuh perhatian. “Aku—“ “Ya, belikan aku cheese burger.” Lelaki blasteran itu mengusan sebal, ketara sekali ia merasa kesal karena tawarannya di jawab oleh orang yang bukan seharusnya. “Rangga, aku tidak bertanya padamu,” jawabnya seraya menatap sinis Rangga yang sedang turun melalui tangga. “Vania mau makan apa?” tanya-nya lagi dengan pandangan yang fokus pada Vania. “Aku! Aku! Aku mau 2 porsi ayam goreng ukuran jumbo!” “Dan belikan aku kopi hitam.” Lirikan sebal dihadiakan untuk Virgo dan Raihan, “Aku tidak tanya pada kalian berdua,” tukasnya “Dan cukup belikan aku cappuccino.” “AKU TIDAK TANYA KALIAN BODOH!” Pekikan Graha mengundang tawa satu-satunya gadis disana. Seakan terhipnotis, ke empat remaja tampan itu hanya menatap Vania. Bahkan Leon yang baru menginjakan kaki diruangan itu pun dibuat terlena mendengar suara tawa Vania. Mereka dengan setia mendengar suara tawa yang mengalun dari kedua bibir tipis Vania. Ya, hanya ada suara tawa Vania disana. Dan gadis itu belum menyadari bahwa ia kini jadi pusat atensi seisi ruangan. “Bagaimana kalau membeli 3 kotak pizza dan beberapa botol soda?” usul Vania seraya mengusap air mata diujung mata. Ia terlalu banyak tertawa sepertinya. Hening. “Eh? Kenapa muka kalian memerah?” Kelima remaja itu kompak memalingkan wajah. Mereka melakukan reaksi yang berbeda-beda. Lihatlah, Rangga menyenderkan badannya pada sofa dan bersidekap—dengan wajah yang memerah sempurna tentunya, Leon menghela nafas panjang dan menutup mata menggunakan lengan, Graha memalingkan menutup mulutnya dengan telapak tangan, Raihan menatap jendela seraya menghela nafas pelan, Virgo membalikan badan seraya kembali fokus pada gedget ditangan. Rona merah diwajah mereka semua nyaris menyamai merahnya lobster rebus. “S-sudah kupesan. Tunggu sebentar lagi.” Kemudian sisa hari itu dihabiskan dengan party. Memakan semua pizza yang ada, ditemani oleh se-plastik soda kaleng yang sukses membuat perut mereka kembung.  Memainkan banyak permainan dan taruhan. Pada malam itu gelak tawa mewarnai mansion mewah itu. Kehadiran sang gadis ditengah-tengah lingkaran persahabatan mereka seakan memebesakan kelimanya dari masalah pelik yang membelenggu jiwa. Lantas setelah party, mereka semua jatuh tertidur disofa. Dengan paha Rangga yang dijadikan bantalan Vania. Virgo yang tidur dengan posisi duduk—dengan kedua lengan yang terlipat diatas sofa. Lalu Graha yang tidur seraya memeluk perut Vania, dan terakhir Leon yang memilih tidur di sofa single yang terletak tak jauh dari tempat kawan-kawannya tertidur. Raihan masih terbangun malam itu, ia menyelimuti para adik kelasnya dengan selimut yang ada. Menjaga mereka agar tidak sakit ke esokan harinya. Menjadi anggota tertua dikelompok ini membuat ia menjadi sedikit lebih dewasa dibandingkan yang lainnya. Di malam yang penuh kehangatan itu, kenangan masa lalu membanjiri kepala Raihan—membuatnya bernostalgia akan alasan ia sampai bisa disebut anggota five boys ini. Tanpa disadari mereka telah membangun ikatan tidak kasat mata, terhubung satu sama lain selayaknya benang takdir yang mulai menjerat satu sama lain. Kilasan masa depan mulai muncul secara acak, menunggu waktu untuk disusun hingga menjadi kepingan yang sempurna. Sang takdir mulai mengatupkan bibir dan menyerahkan sebagian besar misteri pada sang penguasa waktu. Membiarkan memori masa lalu mulai terbentuk untuk menjawab masa depan yang terkutuk. Karena takdir tidak pernah bercanda. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN