“Huah! Hei Green, bukankah wali kelas kita sangat tampan?!”
Vania dengan segala kebisingannya mulai merecoki Green, gadis itu membicarakan banyak hal terkait guru matematika yang resmi menjadi wali kelas mereka. Ino yang berada ditengah-tengah ikut mengangguk semangat kala Vania mengatakan betapa lembut dan tampannya nya Damian.
Namun Green yang biasanya menganggapi dengan semangat kali ini hanya terdiam seraya menyesap s**u kotaknya. Sepanjang perjalanan dari kelas menuju kantin hanya diisi dengan celotehan Vania dan Ino. Ini aneh, bukankah pihak yang paling berisik disini itu adalah Green?
“Hey, Green, ada apa?”
Bibir pink Green menjauh dari sedotan, netra safirnya melirik Vania dan Ino yang sedang menampilkan ekspresi bertanya.
“Vania—“
“Hey, honey!”
Lagi-lagi perkataan Green terpotong. Gadis pecinta hijau itu mengerling kearah 5 orang pemuda yang berdiri tak jauh darinya. Seorang pemuda bersurai cokelat nampak melambaikan tangan sebelum akhirnya mereka semua mendekat.
“Hah…ada apa?”
Vania berusaha sabar. Ia ingin sekali mendengar alasan mengapa sahabat karibnya seharian ini cenderung diam dan melamun. Tapi hal itu terus di interupsi oleh serangkaian kejadian menyebalkan, seperti ; menghindari five boys, kabur dari Graha, hingga akhirnya terkunci di toilet bersama Leon.
Sebelumnya Vania sudah mencoba menanyakan hal ini pada Nyonya Wright a.k.a ibunya Green. Dan beliau berkata bahwa tidak ada masalah dikeluarga atau perusahaan sehingga membuat Green sampai berubah seperti itu.
Dirinya juga sudah menanyakan hal ini pada bibi pengasuh Green, dan bibi itu bilang Green berubah pendiam setelah ia pulang dari Bar Q. Dan menurut pernyataan Ino, Green sempat kembali menuju bar untuk mencari keberadaaan Vania, namun beberapa menit kemudian gadis itu pulang tanpa Vania.
Pasti ada sesuatu yang Vania lewatkan tadi malam.
“Mau pulang bersama kami?”
Senyum lembut Raihan membuat Vania merasa sungkan untuk menolaknya. Ditambah ia juga belum berterima kasih padanya.
“Err… Green—“
“Ya, pulanglah bersama mereka.”
Kali ini giliran Green yang terdiam, gadis itu kembali menatap lurus kedepan dan mulai melangkahkan kakinya kedepan—melewati kelima pemuda yang menatap Green dengan tatapan heran. Setau mereka, anak bungsu Keluarga Al tidak sheening ini. Ia sosok yang sangat berisik dan juga periang.
“A-ano… hati-hati, ya,” pandangan ke-enam remaja disana beralih menatap Ino, membuat gadis itu tersentak dan berkeringat dingin lantaran gugup, “A-a-aku akan p-pulang bersama Green saja, hati-hati, ya, Van!” usai mengucapkan hal itu Ino berlari mengejar Green yang telah jauh didepan—meninggalkan Vania yang berdiri diantara kelima pemuda yang mati-matian ingin ia hindari.
“Nah, honey! Satu mobil bersamaku, ya!”
Graha dengan segala godaannya berusaha merayu Vania agar mau satu mobil dengan dirinya. Sementara itu ke-tiga teman-temannya memutar mata bosan karena lagi-lagi mereka menyaksikan kebiasaan Graha yang tidak pernah berubah—mengincar perempuan sampai dapat, lalu setelah bosan ia akan membuangnya begitu saja.
“Tidak.”
Gadis itu melangkah kan kaki, kemudian dengan sengaja menabrak bahu Graha. Membuat pemuda itu tambah terkejut. Seumur hidup baru kali ini ada wanita yang tidak mau satu mobil dengan dirinya.
“Oh, Leon, mobilmu yang mana, ya?”
Sontak saja tatapan tajam terarah pada Leon yang hanya mampu menghela nafas panjang seraya berusaha menghalau tatapan kawan-kawannya yang seakan berkata, ‘Kau mengkhianati kami?!’
“Hah… yang abu-abu.”
Tanpa basa-basi lagi Leon melangkahkan kakinya menuju Vania dan berjalan berdampingan dengan gadis itu. Jujur saja, Leon tidak berani menoleh kebelakang. Karna ia merasa punggungnya panas akibat ditatap terlalu tajam. Mungkin jika tatapan bisa membunuh seseorang, Leon telah mati dengan keadaan mengenaskan.
***
Setelah perjalanan selama 30 menit, akhirnya Vania sampai di tempat tinggalnya—apartemen Green. Ia menghela nafas lega kala mengetahui akan keluar dari mobil mewah ini. Demi tuhan, selama 30 menit perjalanan, didalam mobil ini tidak ada percakapan sama sekali. Leon yang fokus menyetir membuat Vania enggan mengajaknya berbicara.
Padahal dirinya memilih pulang bersama Leon untuk menghindari Graha, ia juga tidak enak pada Green jika pulang bersama Senior Raihan. Sementara itu dirinya belum terlalu kenal dengan Virgo dan pemuda bersurai hitam yang tidak salah itu bernama Rangga! Ya! Pemuda itu lah yang menyelamatkan dirinya dari kabedon Graha. Haruskah Vania berterima kasih juga padanya?
“Hei.”
Vania mengurungkan niatnya untuk menutup pintu mobil dan berterima kasih. Iris legamnya menatap Leon yang tengah duduk di kursi kemudi. Ekspresi bingung tak luput diwajah ayu Vania.
“Apa? Kau meminta bayaran?”
Tidak ada jawaban dari Leon. Vania mengumpat dalam hati, benar juga, yang menawari dirinya untuk pulang bersama itu Senior Raihan. Dan Vania justru pulang bersama Leon yang tidak menawarinya apapun, sudah pasti pemuda itu akan meminta bayaran.
Jika benar begitu, maka ini gawat. Vania tidak mempunyai uang lain selain 50 ribu disaku roknya. Itupun niatnya akan ia pakai untuk delivery makan malam nanti.
“Kemarikan handphone mu.”
“H-hah?” Walau bingung, Vania tetap menyerahkan handphone nya pada Leon.
Netra legamnya mengikuti gerakan yang dilakukan oleh Leon, dimulai dari mengetikan sesuatu di handphone Vania, lalu mengarahkan handphone itu ditelinganya. Bersamaan dengan itu terdengar nada dering panggilan di saku celana Leon.
Setelah itu handphone milik Vania, Leon serahkan pada pemiliknya.
“Sudah lunas.”
Pintu mobil itu tertutup dengan sendirinya, kemudian melaju dengan kecepatan konstan—meninggalkan Vania yang cengo selama beberapa saat.
Vania merasa otaknya blank. Ditengah-tengah perjalanannya menuju kamar apartemennya pun Vania tetap memikirkan kejadian barusan. Netra legamnya terus mengamati handphonenya yang menampilkan notif bahwa ia melewatkan satu panggilan tak terjawab dari nomor tidak dikenal.2
“Oh? Apa barusan ia meminta nomorku?”
Sungguh, Vania tidak percaya dengan kenyataan yang ada didepan mata. Ini serius? Leon menaruh nomornya di handphone Vania begitu pula sebaliknya?
Apa Vania baru saja bertukar nomor dengan salah satu five boys yang digundrungi oleh gadis seantero Mounosver?
“Kali ini apa yang kau lakukan bersama Leon?”
Vania tersentak, sosok tinggi Green menyambut pemandangan kala ia membuka pintu. Gadis itu terlihat sedang menyender ditembok seraya melipat tangan di d**a. Sweater hijau dan hotpants berwarna putih menandakan bahwa Green sempat pulang untuk berganti baju sebelum berada disini.
“Oh, em, bertukar nomor? Kurasa….” jawab Vania dengan setengah tidak yakin.
Green nampak mendengus, ia mendesis seraya memutar matanya bosan melihat tingkah Vania yang terlihat malu-malu.
Vania yang mengetahui itu dibuat heran sekaligus kesal, “Ada apa?” tanyannya.
“Harusnya aku yang bertanya begitu.”
Vania makin dibuat bingung mendengar pernyataan sobat karibnya, sudah bertahun-tahun dirinya bersahabat dengan Green dan baru kali ini ia menjumpai sifat Green yang satu ini. Ya, mereka memang sering bertengkar karena hal-hal sepele. Namun Green tidak pernah bertingkah se menyebalkan ini.
“Ada apa denganmu? Hari ini kau seperti mempermasalahkan segala hal,” jelas Vania. Ditanggapi dengan pelototan tajam dari Green.
“Apa? Aku tidak merasa melakukan salah padamu, seharian ini kau yang menghindariku,” imbuh Vania.
Amarah Green makin menuju puncak, “Berisik! Kau itu benar-benar tidak tahu diuntung, ya?!” bentaknya.
Vania hanya diam, ia makin bingung. Apa saat ini Green sedang menstruasi?
“Kau merasa bisa mendapatkan segala hal, bukan?! Padahal tanpaku kau tidak bisa apa-apa!” jeda sesaat, Green mendecih kala melihat ekspresi bingung diwajah Vania, “Kau sama saja seperti mereka, berteman denganku agar bisa mendapatkan uangku serta fasilitas yang aku punya.”
Kantung kesabaran yang seharian ini Vania tahan, hancur sudah. Gadis itu melepas tas, lalu membantingnya ke lantai. Tangannya menjulur, menarik kerah baju Green—membuat wajah keduanya saling berhadapan.
Green dengan segala emosinya serta Vania dengan kekecewaan yang ada saling beradu. Kedua hal yang berlawanan itu saling berusaha mencerna, memberontak, serta menabrakan satu sama lain. Seakan memberitahu alasan mengapa mereka bisa naik ke permukaan—meluluh lantakan tali tipis yang bernamakan persahabatan.
Setelah beberapa menit, Vania melepaskan cengkraman tangannya pada kerah Green. Kemudian tanpa basa basi gadis itu angkat kaki dari apartemen Green tanpa mengucapkan sepatah katapun. Ia meninggalkan Green yang tertunduk seraya menggertakan giginya kesal.
Ben yang terlihat ingin naik menuju kamar yang ditempati Vania pun terkejut kala berpapasan dengan Vania yang baru saja keluar dari lift. Ia ingin menanyakan mengapa Vania keluar dari apartemen ini dengan terburu-buru. Namun iris legam Vania yang syarat akan kemarahan membuat Ben segan, ia akhirnya mengurungkan niat untuk bertanya dan memilih untuk naik. Memastikan keadaan sang nona karena ekspresi beliau nampak dingin kala keluar dari rumah utama.
***
Vania menghela nafas lelah, kali ini ia pulang sendiri. Jam putih yang melingkar ditangan sudah menunjukan pukul 17.30. Semburat jingga sudah meliputi langit, matahari sudah nyaris tenggelam dan Vania tidak tahu kemana arah tujuannya. Ia hanya pasrah mengikuti kakinya melangkah, membawa tubuhnya kemanapun tanpa tujuan jelas.
Ditendangnya kerikil dijalanan, kedua mata Vania fokus menatap kebawah. Ia tidak habis fikir dengan perkataan yang dilontarkan Green. Padahal mereka sudah bersahabat leih dari 10 tahun, tapi mengapa Green masih menyamakan Vania dengan para k*****t yang gila kekuasaan dan uang?
“Nona?”
Vania mengangkat kepalanya yang tertunduk kala mendengar suara asing memasuki indra pemdengaran, netra legamnya menangkap sesosok lelaki jangkung dengan rambut blonde tengah tersenyum ramah. Seorang bule dengan tinggi kisaran 185 ya.
“Ada apa?”
“Aku tersesat, apakah kau tau perumahan Roseline?” tanyanya dengan ramah, “Oh! Sebelum itu perkenalkan namaku William, nice to meet—”
“Oi.”
Ucapan pemuda blonde itu terpotong oleh panggilan seseorang. Iris mata Vania bergulir dan menjumpai Graha tengah memberhentikan mobil mewahnya tepat disamping Vania. Gadis itu mendengus sebal. Setelah kejadian menyebalkan di sekolah dan perdebatan denga Green, musibah apalagi yang kini akan menimpanya?
“Perumahan Roseline tidak jauh dari sini, kau tinggal lurus kedepan, kemudian belok kiri, setelah itu tinggal mengikuti jalan yang ada. Pasti kau akan menemukan gerbang Perumahan Roseline.”
Graha mengumpat dalam hati kala panggilannya diabaikan. Manik hazelnya mengikuti pergerakan Vania yang tengah menerangkan sesuatu pada lelaki asing dengan surai blonde. Beraninya gadis itu mengabaikan panggilan seorang Casanova paling digemari di Mounosver tahun 2021 ini. Ingin sekali dirinya menculik gadis itu dan membawanya memasuki mansion khusus yang telah ia persiapkan jikalau Vania menerima perintahnya untuk tinggal bersama.
“Vania—“
“Apa.”
Graha terdiam, delikan tajam yang diberikannya membuat Vania nampak terlihat sedikit menyeramkan sekaligus membuatnya gemas. Sementara itu sosok lelaki blonde tadi hanya menampilkan raut bertanya-tanya. Membuat Graha muak melihat tampangnya yang menurut Graha nampak ketara sekali tengah mendekati Vania.
F*ck.
“Mulai besok kau akan tinggal bersamaku.”
Hanya desau angin yang menjawab titahnya. Sejujurnya Graha merasa kesal. Tidak pernah ia dibuat repot oleh seorang gadis. Mayoritas dari mereka akan dengan senang hati melemparkan tubuh mereka padanya. Jikalau menolak pun, pasti esoknya mereka akan luluh jika di perlakukan dengan gentle. Ada juga yang menolak semata-mata untuk menarik perhatian Graha, tapi pada akhirnya mereka akan jatuh ke pesona Graha—sama seperti gadis-gadis lainnya.
Namun Vania ini merupakan gadis yang berbeda, ia sangat sulit ditangkap hingga membuat Graha kesal sekaligus makin tertantang.
“Baiklah.”
“Oh, tidak masalah jika kau menolak—tunggu, apa?”
Graha mengerjap, ada apa dengan hari ini? Apa akhirnya gadis itu menyerah dan memilih untuk menyetujui permintaan Graha setelah luluh akan pesona yang ada? Setengah mati Graha menahan senyumannya. Lihat! Pada akhirnya gadis manapun tidak akan bisa menolak Casanova sempurna.
Graha terkekeh, ternyata menakhlukan Vania akan semudah ini, begitu fikirnya
“Dengan syarat kau menandatangani kontrak yang akan ku ajukan.”
Graha menarik kembali ucapannya, sepertinya ini tidak akan semudah seperti yang ia fikirkan.
***