“Ugh—jangan gerakan pinggulmu seperti itu, bodoh…ah!”
Gerakan Graha membuka bilik seketika terhenti kala mendengar suara aneh memasuki gendang telingannya. Ia memasang wajah aneh kala suara itu terdengar familiar ditelinga.
“Leon?”
Kedua remaja berbeda gender disana seketika membatu saat mendengar suara Graha didepan bilik. Sang gadis sampai menahan nafas dan mengeratkan pegangannya pada baju sang pemuda.
“A-apa?”
Seperti yang Graha duga, suara tersebut berasal dari Leon. Entah apa yang ia lakukan didalam sana, namun itu benar-benar membuat fikiran Graha menjadi liar.
“KE—hmph!”
Didalam bilik, Leon tengah mati-matian membekap mulut Vania agar gadis itu tidak berteriak. Kaki jenjangnya menjulur kedepan—berusaha menginjak serangga coklat yang membuat Vania nyaris berteriak.
“Sstt tenanglah, bodoh,” bisiknya dengan suara rendah pada telinga sang gadis, memerintah gadis itu untuk menenangkan diri karena serangga sialan tadi sudah mati terinjak.
Demi tuhan Vania, tenangkan dirimu. Jika tidak bisa setidaknya berhenti menggerakan pinggulmu! Tak tahukah kau bahwa gerakan pinggulmu sebab panik itu membuat sesuatu dalam diri Leon terbangun?!
“Jangan menggangguku, Graha.”
Dahi Graha mengernyit mendengar perkataan Leon yang terkesan memerintah, ia juga sempat mendengar suara perempuan didalam sana, dugaan Graha bahwa Leon sedang melakukan ‘itu’ di bilik toilet makin menguat.
Pemuda bersurai cokelat itu menghela nafas panjang, “Setidaknya jika berbuat m***m, jangan disini,” jeda sebentar, pemuda itu menyeringai. Benar juga, hal ini bisa ia gunakan untuk mengancam Leon nanti. Mengingat pemuda dingin itu tidak pernah mau memberi tahu nama perusahaan yang sedang ia kelola, “Oh, besok aku akan menyewakan hotel untukmu, bung.” imbuhnya seraya menendang pelan pintu bilik—bermaksud menggoda Leon dan perempuan yang ada didalam sana.
Usai mengatakan itu Graha pergi keluar dari toilet dengan suasana hati yang bahagia, biarlah ia gagal bertemu dengan Vania dan mengajaknya tinggal bersama. Yang terpenting ia punya rahasia Leon yang tidak pernah diketahui oleh siapapun.
“Ck ck, pantas dia tidak pernah mau ku perkenalkan dengan wanita pilihanku. Ternyata lebih suka langsung bermain itu, ya.”
Sementara itu didalam bilik, kedua remaja didalam sana saling menghela nafas panjang kala mendengar suara langkah Graha telah menjauh. Sang pemuda menatap intens wajah gadis yang hanya terpaut beberapa centi dari wajahnya. Gadis itu tidak menyadari jarak mereka karena ia sedang fokus mendengarkan langkah kaki Graha, apa benar si Casanova itu sudah menjauh?
“KECOA b*****t!” teriak Vania ketika langkah kaki Graha sudah tidak lagi terdengar, gadis itu turun dari pangkuan Leon lalu menginjak kecoa malang itu berulang kali, membuat badan serangga kecil itu makin rusak karenanya.
Setelah puas menginjak kecoa malang itu, Vania berbalik dan menatap Leon yang masih terduduk diatas toilet. Netra legamnya bersiborok dengan netra abu-abu milik sang lawan bicara, namun tatapan matanya terpaksa harus terputus karna Vania menghadap kearah pintu.
“Siapa namamu?” tanya Vania seraya mendorong pintu bilik—bermaksud untuk keluar.
“Leon.”
Vania menoleh, ia berkedip dua kali sebelum akhirnya tersenyum manis.
Deg
“Oh Leon, ya… Terima kasih sudah membantuku. Aku akan membayar kebaikanmu besok,” gadis itu menatap jam tangan yang melingkar ditangan kanannya, lalu kembali menatap Leon seraya melempar senyum manis, “Aku pergi dulu, bye.”
Walau pintu bilik itu kembali tertutup, walau sang gadis telah keluar dari dalam ruangan sempit ini. Leon masih bisa merasa bahwa jantungnya berdetak begitu cepat. Iris onyx itu masih terasa melumat dirinya hingga ke bagian terkecil, membuat ia lingung bak terkena hipnotis dari seorang pesulap. Entah mengapa, netra legam itu terlihat lebih menawan kala dibarengi dengan lengkungan senyum dibibir peachnya.
Leon meremat seragamnya—lebih tepatnya dibagian d**a kiri, dimana detak jantungnya bertalu-talu cepat hingga membuatnya kelabakan. Satu tangannya yang bebas menutup setengah wajah rupawannya, menutupi rona merah yang terasa membakar pipi.
“Tenanglah… Leon….”
Entah mengapa, sensasi ini tidak terlalu buruk seperti yang ia bayangkan sebelumnya.
***
Langkah kaki menggema dilorong panjang yang telah sepi, sebulit keringat mengalir melewati pipi mulus, kemudian berakhir jatuh ke lantai dan terinjak oleh sepatu putih yang membalut kaki seorang gadis. Bajunya yang mulai berantakan karena diterpa angin tidak ia idahkan, dasi sekolah yang mengendur serta jas yang bagian lengannya dilipat hingga siku itu pun sama berantakannya.
Vania dengan segala kepanikannya berusaha mencapai kelas dimana tempat ia belajar. Berdoa semoga dirinya sampai lebih dulu daripada seorang guru yang mengajar tepat setelah jam makan sekolah selesai.
Maka dari itu begitu pintu putih didepannya terbuka dan menampilkan keadaan kelas yang berisik--serta meja guru yang masih kosong. Vania akhirnya mampu menghela nafas lega.
"Oh! Honey!"
Suara riang yang menyebalkan, surai cokelat yang akhir-akhir ini selalu tertangkap oleh netra legam Vania, serta wajah tampannya yang nampak bahagia melihat gadis pujaan. Membuat Vania seketika menghela nafas lelah. Ia kira hari ini ia akan tenang karena berhasil menghindari sang casanova, namun ia lupa dengan satu fakta bahwa ia dan Graha menempati kelas yang sama.
Kelas kebanggaan Skylight High School--Kelas Elite dimana para penghuni perempuannya sedang memelotot tajam kearah Vania. Belum lagi mereka yang kedua orang tuanya memiliki kekuasaan dan harta yang melimpah--makin terang-terangan lah menebar kebenciannya pada Vania.
Dengan setengah malas Vania berjalan menuju tempatnya berada, di meja baris ketiga--lebih tepatnya disamping jendela kelas.
"Kau bersembunyi dimana, honey? Sangat sulit mencarimu."
Graha langsung bersandar dimeja Vania, membuat gadis itu mendengus kesal.
"Berhenti memanggilku dengan panggilan menggelikan itu--" peringatnya seraya memasukan tangannya menuju kolong meja. Namun bukan permukaan buku yang Vania rasakan, ia justru merasakan benda cairan dingin yang membasahi tangannya, disusul dengan bunyi plastik kala ia menggerakan tangan.
Graha yang melihat Vania terdiam tentu merasa heran, netra legamnya melirik tangan Vania yang masih berada dikolong meja. Karena merasa janggal dengan tingkah sang gadis pujaan, Graha akhirnya berjongkok demi melihat isi kolong meja Vania.
Dan voila! Graha dibuat terkejut kala mendapati buku-buku Vania telah basah dan tangan gadis itu juga demikian, belum lagi sampah sisa makanan juga memenuhi kolong meja Vania.
Seketika Graha bangkit, ia melirik kelompok gadis yang tengah terkikik geli di tempat mereka. Melihat itu, Graha berasumsi bahwa antek-antek Berlina lah yang melakukan hal ini. Merundungi setiap gadis yang didekati oleh Graha maupun anggota five boys.
Graha kemudian mengangkat bahu, "Vania, sebaiknya kau segera mencuci tanganmu," saran Graha seraya duduk kembali dikursinya, tempat pemuda itu persis berada disamping tempat duduk Vania.
Apa? Kenapa kalian semua mengumpat kala membaca respon Graha terhadap kelakuan Berlina? Apa kalian semua berharap pemuda itu akan balik mendamprat para pembully Vania selayaknya lelaki superhero di novel teen yang selalu laku keras itu? Jangan bermimpi, jika Graha melakukan itu, ia akan kehilangan para fansnya. Karena kelompok Berlina itu merupakan pemimpin fans club five boys dan Graha lovers. Maka dari itu jika Graha berlaku kasar pada mereka, sudah pasti para jalang sialan itu akan menebarkan rumor yang tidak-tidak tentang Graha dan membuat pemuda itu terlihat buruk dimata public, seperti yang mereka lakukan pada Leon.
Namun untungnya pemuda dingin itu tidak peduli dengan reputasinya di public, berbeda dengan Graha yang menomorsatukan fans dan pandangan public.
"Vania, kemarikan tanganmu."
Sang pemilik tangan mengangguk, lalu mengeluarkan tangannya dari kolong meja dan mengulurkannya ke arah Green yang telah berdiri disamping meja Vania. Sekelompok gadis yang melihat tangan Vania basah dan kotor itu sontak makin terkikik geli, sementara itu anak lainnya nampak tidak peduli. Mereka sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.
Dengan telaten Green membersihkan tangan Vania yang kotor dengan tisu yang ia bawa, kemudian setelah dirasa bersih Green kembali membersihkan tangan Vania untuk yang kedua kalinya menggunakan tisu basah. Baru setelah itu menyemprotkan handsanitizer ke tangan sang sahabat untuk menghindari kuman yang menempel.
"Woah, walau tanganmu sudah bersih, bagaimana dengan meja nya?"
Vania dan Green menatap ke depan, ke tempat dimana si jenius duduk. Pemuda itu nampak menyangga dagu seraya memegang sebuah alat ditangan satunya yang bebas.
"Apa maksudmu?" Salah satu gadis nampak bertanya dengan raut wajah yang tidak suka.
Si jenius itu terkekeh, kemudian menatap kelompok Vania dengan tajam seraya mengulas senyum miring.
"Maksudku adalah kau harus menukar mejamu dengan meja Vania."
Kelompok Berlina nampak menggeram tidak suka mendengar perkataan si jenius yang lebih menjurus ke perintah. Sayangnya, walau mereka tidak suka, mereka tidak bisa melakukan apapun selain menatap pemuda itu dengan tajam.
"Mana sudi! Lebih baik aku yang duduk disana!" ujar Shaffa--antek-antek Berlina yang paling berani. Bukan tanpa alasan Berlina mengatakan hal itu, ia tidak bodoh. Walaupun meja Vania kotor, tempat gadis itu duduk merupakan posisi yang paling stategis karna diapit oleh ke empat pangeran tampan itu.
Coba lihat, di samping Vania merupakan tempat duduk si casanova--Graha, kursi dibelakang Graha ditempat oleh si tampan Rangga. Sementara itu di depan Vania merupakan tempat milik si jenius Virgo dan dibelakang Vania adalah tempat milik si misterius Leon.
Gadis itu berada dalam posisi dimana ia dikelilingi oleh para adonis. Sungguh tempat duduk yang paling di incar oleh seantero siswi perempuan SHS. Tapi sayangnya Vania lah yang mendapatkan kursi itu karena perintah sang ketua kelas. Salah satu alasan wali kelas memerintahkan Vania duduk disana adalah karna jika Vania duduk disekitar kelompok Berlina, gadis itu akan mudah di rundung.
Mengingat Vania merupakan siswi langka yang berhasil masuk ke SHS melalui beasiswa, ditambah lagi ia memenangkan salah satu dari 25 kursi yang menjadi impian pelajar diseluruh Mounosver dan menjadi bagian dari kelas Elite.
Tentu saja karena hal itu Vania akan menjadi sasaran empuk para pembully sejenis kelompok Berlina.
"Kau yang duduk disana?"
Shaffa mengangguk cepat, teman satu kelompoknya pun ikut mengangguk. Mereka angkat suara bahwa selain Berlina, Shaffa juga sangat cocok untuk duduk diantara para adonis.
"Jangan bercanda, aku tidak akan pernah mau duduk disekitar babi menjijikan sepertimu."
"?!"
Seketika ruang kelas itu hening kala mendengar jawaban Virgo, Shaffa dan teman-temannya melotot tidak percaya mendengar hal itu. Apakah arti dibalik perkataan si jenius itu adalah bahwa Shaffa jauh lebih buruk dari Vania sekaligus ia setara dengan babi?!
Iris mata Shaffa menatap tajam Vania yang sedang menampilkan ekspresi bingung, "Ini semua karna kau!?"
"Pfftt--"
Shaffa yang berniat menghampiri Vania seketika berhenti kala mendengar suara Graha yang sedang menahan tawa.
"Sekarang aku tahu mengapa kau sangat membenci apapun yang mengandung babi, V."
Virgo mengerling kemudian tersenyum sinis, "Ya, karma babi mengingatkanku dengan perempuan-perempuan macam mereka."
Ting!
"Ada apa ini?"
Kelompok Berlina tersentak kala mendengar suara berat menyela, refleks seluruh siswa kelas elite segera menoleh dan mendapati sosok pria berusia 25 tahunan sedang berdiri diambang pintu. Raut wajahnya terlihat bingung dengan situasi kelas yang terasa tidak enak.
Tapi dengan tenang, pria itu masuk dan berdiri didepan kelas. Netra hijaunya mengedar, meneliti seluruh anak kelas elite yang kini telah duduk dengan manis ditempat mereka masing-masing.
Kemudian ia mengulas senyum lembut, "Aku adalah wali kelas kalian, maaf kemarin saya tidak sempat datang saat hari pertama kalian masuk," ujarnya.
Sekali lagi ia mengulas senyum yang menenangkan.
"Namaku Damian, senang bertemu kalian."
***