Trilling

1652 Kata
Kling! Notifikasi ponsel membuat Vania menghentikan aktivitas mengeringkan surai hitamnya yang basah. Dengan segera ia mengambil benda persegi yang tergeletak ditengah kasur lalu menyalakannya, memasukan pin dan mendapati ada 82 pesan tak terbaca beserta 21 panggilan tak terjawab—yang dominan berasal dari si maniak hijau. Bibir tipisnya mengulas senyum tipis kala melihat foto profil Green memenuhi layar ponsel, ditemani dengan ganggang hijau ditengah bawah. Tanpa menunggu lagi ia tekan bulatan hijau itu dan menyeretnya keatas, lalu mendekatkan gedgetnya kearah telinga. “Hall—“ “Astaga Vania! Apa kau benar-benar sudah sampai rumah?!” Refleks Vania menjauhkan gedget dari telinganya begitu suara cempreng Green memasuki indera pendengaran. Ia meringis, merasa bahwa telinganya agak berdenyut akibat teriakan Green. “Tentu, aku baik-baik saja." Tidak ada lagi suara terdengar dari telfon, Vania kebingungan dibuatnya. Sangat jarang Green terdiam selama beberapa menit seperti ini, karena pada dasarnya gadis itu tidak bisa diam—baik saat berbicara melalui via telfon maupun melalui tatap muka secara langsung. "Aku ingin membicarakan sesuatu—"  "Kalau begitu kita bicarakan besok saja, ya? Sekarang ini aku butuh tidur,” jawab Vania gamblang, ia tidak terlalu suka membahas sesuatu melalui telfon atau pesan. Menurutnya itu merepotkan dan membuang-buang uang, lebih baik bersitatap muka dan membahasnya bersama—dengan begitu ia bisa menghindari teks yang terkadang memiliki makna ganda. Entah mengapa, tiap kali ua chatting dengan Green, rasanya nada suara gadis itu terputar bersamaan dengan Vania membaca pesan yang sobatnya kirimkan. Sungguh ajaib. “Baiklah, selamat malam.” “Selamat malam.” Dijauhkannya benda persegi itu dari telinga, nada khawatir yang terdengar dari pertanyaan sahabatnya membuat ia merasa bersalah. Pasti Green sangat panik kala menyadari ia menghilang dari jarak jangkauan manik safirnya itu. Tanpa sadar Vania menghela nafas panjang, sepertinya ia harus meminta maaf pada Green besok. Vania menaruh segelas cangkir berisi liquid cokelat di atas meja, merebahkan badannya pada kasur empuk bersize Queen. Apartemen milik Green benar-benar luar biasa, sangat berbeda dengan rumah Vania. Kasur disini sangat empuk dan luas, berbeda dengan kasur Vania yang nyaris tidak memiliki busa—terasa begitu keras dan membuat punggung sakit. Lalu yang lebih parah lagi, tiap kali ia berbaring, debu serta sarang laba-laba ditiap sudut kamar menyambut pandangan mata Vania. Yah, maklum saja, memang tidak ada hal bagus yang bisa Vania dapatkan dari gudang—kecuali benda-benda berharga yang dulu sempat ia kira telah dibakar oleh ‘ibu’—ah tidak tidak, memanggilnya ‘ibu’ saja membuat Vania muak. Bagaimana kalau dipanggil ‘titan tua’? Bukankah itu bagus? melihat tubuh gembrotnya yang penuh dengan lapisan lemak serta tinggi badannya yang cukup membuat orang lain mengira dia adalah titan yang hobi memakan anak kecil nakal selayaknya dongeng yang dibacakan para orang tua pada anak-anaknya. Sungguh, dia benar-benar menjijikan dengan lipstick merah menyala yang melapisi bibir besarnya. Kling. Khayalannya buyar kala mendegar notifikasi untuk yang kedua kalinya. Kali ini siapa lagi? Sebuah nomor tak dikenal membuatnya sedikit berjengit, siapa yang tahu nomornya? Setahu Vania, hanya 3 orang yang mempunyai nomor telfonnya. [Ini aku Raihan, apa aku menganggu?] Vania menghela nafas lega, segera ia menyimpan nomor dewa penolon—err ralat maksudnya adalah nomor seniornya yang sangat lembut dan dihormati. Vania berjingkrak kegirangan karna sekarang ponselnya bertambah satu nomor lagi. Ngomong-ngomong bukankah ia ini hebat? Seorang Vania—gadis seenaknya itu mendapatkan pesan dari senior yang menjadi idola seluruh sekolah… atau mungkin negara? Entahlah, habisnya Raihan dan kawan-kawannya itu memilik wajah tampan tiada ahlak.  Mau digampar tapi sayang. [Apa kau tidak apa-apa? Aku membelikanmu makan malam, aku taruh dimeja] Netra jelaganya mengerling, menangkap plastik putih berisi bubur yang terbungkus rapih. Vania merasa bersalah karna membuat seniornya repot. Vania segera membuka plastik itu dan mengeluarkan isinya. Semangkuk bubur dengan uap mengepul sukses membuat perutnya keroncongan. Tanpa basa-basi ia segera memakan bubur itu setelah diaduk hingga merata—Vania ini tim bubur diaduk asal kau tau. Cepat-cepat Vania membalas pesan sang senior. [Aku tidak apa-apa, sebelumnya terima kasih telah mengantarku pulang dan terima kasih untuk makanannya, senior.] Sembari menikmati makanan limited edition—karena merupakan makanan dari senior Raihan, Vania juga membagi atensinya pada ponsel. Tertera tulisan ‘mengetik’ dibawah foto profil senior. Bermodalkan iseng, Vania mengetuk foto profil itu dan mendapati foto Raihan yang tengah berdiri sembari menatap keluar jendela, ia tebak itu merupakan foto yang diambil diam-diam. Tapi… garis rahangnya, hidung mancung, bibir tipis, mata dengan sorot lembut. Astaga, sepertinya tuhan memasukan 1 jerigen kadar ketampanan saat sedang menciptakan Senior Raihan, deh. [Habiskan itu dan aku ingin minta maaf.] Gadis cantik itu mengernyitkan keningnya, merasa bingung dengan pesan yang dikirimkan oleh sang senior. Untuk apa ia meminta maaf? Seharusnya Vania lah yang meminta maaf sekaligus berterima kasih kepada Raihan karna pemuda itu sudah membantu Vania dari jeratan Graha dan Rangga. [Aku minta maaf karna telah menggendongmu dan masuk seenaknya kedalam kamarmu tanpa izin. Yah, kau tau, aku tidak tega membangunkanmu yang nampak lelap sekali.] Vania menyemburkan minumannya, wajahnya pias begitu membaca isi pesan dari Senior Raihan. Pantas saja ia tiba-tiba berada di kamar—padahal sebelumnya ia tertidur usai mendengar lagu milik Cristina perri berjudul Jar of heart  mengalun lembut dari earphone yang ia kenakan.  Jantung Vania berdetak kencang, ia was-was jika ternyata dirinya ngiler dan membasahi jok mobil Senior Raihan, bagaimana jika nanti Vania diperintah untuk ganti rugi?! Mobil Senior itu sangat mahal, menjual 2 ginjal saja sepertinya belum cukup. Manik onyxnya mengedar kepenjuru kamar, sekali lagi ia tersedak kala mendapati ‘wadah surgawi’ tengah menggantung di pintu. Belum lagi dengan celana dalam berwarna hitam yang tergeletak dilantai.  YA TUHAN, YA TUHAN, YA TUHAN. HANCUR SUDAH HARGA DIRI VANIA. “Senior… masuk kekamar… lalu…lalu….” Wajahnya bertambah pucat, ia melempar benda persegi itu ke atas kasur—mau dibanting ke lantai tapi eman. Tubuh rampingnya Vania biarkan bergelung didalam selimut seraya memukul kasur berulang kali, tidak lupa ia juga menyusun kalimat permintaan maaf pada Senior nanti. Selang beberapa menit kemudian gadis bar-bar itu tertidur, mengabaikan notifikasi yang terus berbunyi hingga jam 1 pagi. Esoknya Vania kembali ke rutinitas yang membosankan. Mandi kilat, sarapan, berang—err lebih tepatnya berlari ke sekolah, mengikuti pelajaran yang mampu membakar setengah dari komponen otak. Oh—Vania melupakan 1 hal penting yang seharian ini dilakukan olehnya. Menghindari 5 bo—tunggu, panggilan itu menggelikan. Baiklah, menghindari 5 remaja yang sampai mati tidak akan pernah Vania anggap tampan. “Aku aman, kan?” Saat ini Vania sedang kabur dari Graha, pemuda sinting itu terus menerus mengejar Vania seraya mengajaknya untuk tinggal bersama. Dan yang paling membuat gusar adalah Vania belum meminta maaf serta berterima kasih pada Senior Raihan. Padahal di jam makan siang tadi dirinya berpapasan dengan Raihan yang tengah berjalan seraya mengobrol dengan teman sekelasnya, namun memang dasar mental Vania yang terlalu ampas, ia tidak berani mendekati Raihan. “Sedang apa disini?” “?!” Badan Vania refleks mundur kebelakang kala mendengar suara berat yang masuk ke gedang telinga. Iris hitamnya menatap kedepan dan mendapati sosok Leon tengah berdiri seraya bersidekap. Raut wajahnya nampak tidak baik—bisa dilihat dari keningnya yang mengernyit dan bibirnya yang tertekuk kebawah. “Justru kau yang sedang apa dikamar mandi perempuan?!” jawab Vania lantang, netra indahnya bergerak gelisah. Ia tidak mau membuang waktu disini dan berakhir ditemukan oleh Graha. Leon mendengus lalu menunjuk papan disamping dengan dagunya. Papan itu bertuliskan, ‘Toilet laki-laki’ dan warnanya adalah biru. “Ini toilet laki-laki.” Vania menjerit dalam hati, pantas saja sedari tadi ia gagal masuk ke dalam ruangan setelah menunjukan wajahnya pada alat disamping pintu toilet. Rupa-rupanya toilet ini tidak diperuntukan untuk kaum perempuan. “Aku—“ “Honey~!” Nafas Vania tercekat, diujung lorong sana terdengar suara Graha yang makin mendekat, jantungnya berdetak cepat karena hal itu. Iris legamnya menatap liar sekeliling. Lorong ini sangat sepi, jam yang melingkar ditangan Vania menunjukan pukul 12.30 menit. Itu artinya semua orang masih berada dikantin atau cafeteria untuk menikmati makan siang. Tidak ada pillar untuk bersembunyi, berlari menuju kelasnya pun tidak mungkin. Bisa-bisa ia tertangkap oleh Graha sebelum sampai disana. Kini satu-satunya opsi yang ia punya adalah meminta bantuan pemuda yang ada dihadapannya. “Hei kau! Berikan kartu pelajarmu!” Leon menaikan satu alisnya, ia merasa bingung dengan Vania yang terlihat panik kala mendengar suara Graha. Ditambah gadis itu meminta kartu pelajar orang lain dengan kurang ajar, apa-apaan dia? Leon tidak yakin bahwa gadis ini akan menggunakan kartu pelajar milik Leon untuk hal yang baik. Perasaan Leon tidak enak, perempuan yang berhubungan dengan Graha pasti akan memberikan hal buruk pada dirinya. “Cepat!” Entah karena dorongan apa, Leon merogoh saku jasnya dan mengambil kartu pelajar yang ada disana, kemudian tanpa basa-basi memberikannya pada Vania. “Bagus!” Dengan segera Vania mengambil kartu pelajar itu dari tangan Leon, lalu menempelkannya di tempat identifikasi yang merupakan syarat bisa masuk ke dalam toilet. Begitu pintunya terbuka Vania segera masuk seraya menarik tangan Leon. Suara Graha yang terdengar makin mendekat itu membuat Vania ikut menarik masuk Leon kedalam bilik toilet yang ia temui. Karena bilik toilet yang sempit, badan Leon dan Vania terpaksa harus saling berhadapan dan menempel. Padahal SHS ini luasnya bukan main, namun bilik toilet mereka bahkan terlalu sempit untuk dipakai dua orang—tentu saja sempit, bilik toilet itu diperuntukan untuk satu orang saja. “Kau kemarilah.” Vania melotot saat Leon mendudukan dirinya diatas toilet, kemudian menepuk paha—isyarat supaya Vania duduk diatas paha sang pemuda—Hal itu bertujuan agar mereka bisa menghemat ruang yang ada. “Kau gila?!” bisik Vania. “Cih, aku tidak suka berdesak-desakan,” jawab Leon seraya menarik lengan Vania, memaksa gadis itu untuk duduk diatas pahanya. Kedua tangan Graha bertengger di pinggang Vania, menjaga gadis itu agar tidak berontak lalu berakhir jatuh dengan tidak elit dan menyedihkan. Sementara itu Graha yang berada diluar toilet dibuat bingung dengan hilangnya Vania. Padahal kata Green, Vania pergi kearah lorong ini beberapa menit yang lalu. Tidak mungkin juga dia sudah masuk kedalam kelas karna jarak antara lorong menuju kantin dan lorong menuju kelas itu cukup jauh. Iris hazel Graha melirik pintu toilet disamping kiri, “Hm….” Diam-diam pemuda itu menyangkal hipotesa bahwa Vania ada didalam sana. Karena tidak mungkin perempuan bisa masuk ke dalam toilet perempuan tanpa kartu pelajar, begitu pula sebaliknya. Tapi bukan Graha jika ia mempercayai hipotesanya sebelum memeriksa toilet terlebih dahulu. Pintu toilet terbuka setelah bunyi ‘pip’ terdengar dari alat scan disamping pintu. Begitu masuk ia disuguhi dengan deretan bilik toilet dibagian kiri, setengah deretan toilet tempat laki-laki buang air kecil dan sisanya merupakan wastafel serta cermin dibagian kanan. Pertama-tama Graha membuka bilik toilet yang paling dekat dengan pintu, dan tidak ada siapapun disitu. Kemudian ia membuka bilik kedua, ketiga, ke-empat, dan hasilnya sama seperti bilik sebelumnya—kosong. Graha menghela nafas panjang, sekarang tersisa satu bilik terakhir. Jika hasilnya masih tetap sama, maka ia akan berhenti mencari Vania dan segera masuk ke dalam kelas—mengingat sebentar lagi jam makan siang akan segera berakhir. “Ugh—jangan gerakan pinggulmu seperti itu, bodoh…ah!” TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN