-THE GANGSTER KING EPS 6 ; Bar, START-
“Van kau gila, kau gila, kau gila,” Green bergumam, mengatakan hal yang sama berulang kali. Layaknya sebuah mantra sihir untuk menyadarkan sahabat karibnya.
“Aku tidak gila! Dia saja yang gila karna tiba tiba menyatakan cinta! Aku saja tidak tahu dia siapa!” ujar Vania tidak mau kalah, ia meremas kotak s**u yang sempat ia bawa sebelum kabur dari kantin.
Green meraung, “Astaga Vaniaku yang manis! Dia itu Graha putra permana, anak bungsu Keluarga Permana! Dan dia juga merupakan pemilik bar dimana tempatmu bekerja! Dan kau! BARU SAJA MENOLAKNYA 5 MENIT YANG LALU DENGAN MENGATAKAN DIA SINTING!” pekiknya seraya mengacak rambut pirangnya kesal.
Sementara itu Vania melotot, merasa syok mendengar fakta yang diberikan oleh Green. Wajahnya seketika cengo, sekarang ia tidak tahu harus melakukan apa setelah mengetahui bahwa bar tempat ia bekerja merupakan milik pemuda tadi. Oh god! yang benar saja! Tiap kali bekerja Vania selalu bertemu digaji oleh seorang pria tua berkumis yang ramah! Bukan oleh Graha yang ada disana!
“Jadi lelaki sinting itu tadi adalah bossku?! ASTAGA AKU MAU GILA SAJA!”
Kedua gadis itu berteriak frustasi.
“Ano… Vania bekerja?” Ino yang sedari tadi menyimak keributan Vania dan Green mulai angkat suara.
Green menggebrak, ia mendesah pelan lalu memijit pelipisnya yang terasa nyut-nyutan karna ulah sang sobat, “Ya, dia bekerja dibar kawasan Nehemia. Dan si bodoh ini malah menolak pernyataan cinta bosnya secara kurang ajar, bahkan dia juga memaki!” jelasnya
Ino menaikan alisnya, menatap kedua gadis yang lagi-lagi melakukan aktivitas rutin, adu mulut. Tapi untungnya Ino mulai terbiasa, walaupun pada awalnya ia gemetaran dan hampir menangis sebab melihat adu mulut kedua gadis cantik itu sudah diluar batas--sampai menyeret nama-nama kebun binatang.
“Tapi bukankah murid SHS (Skylight High School) itu dilarang bekerja?” ujar ino menghentikan pertengkaran kedua gadis itu. Iris aquamarine Green melirik Vania yang sedang membuka bungkusan plastik roti coklat.
“Jika aku menuruti peraturan, aku pasti akan mati kelaparan,” Vania menghela nafas panjang seraya menyumpalkan roti cokelat kemulut Green “Aku meski menghidupi diriku sendiri, aku bukan anak orang kaya yang bisa menghamburkan uang orang tua setiap harinya,” imbuhnya santai.
“Maksudmu kau it—"
“Yap, aku yatim piatu.”
Ino menatap vania iba.
“Jangan menatapku seperti itu, aku tidak suka dikasihani.”
Ino menundukan kepalanya “Maaf,” sesalnya.
“Mm sebenarnya Vania tidak disebut yatim piatu juga sih, dia masih punya bibi,” ujar Green seraya mengunyah roti cokelat yang beberapa menit lalu disumpalkan kedalam mulutnya. Gadis maniak hijau itu menyangga dagu, mengabaikan tatapan penasaran yang tercetak diraut wajah Ino dan dengusan khas Vania.
"Dia--"
“Lain kali aku ceritakan,” Sambar Vania cepat, membuat Green menutup mulutnya yang akan terbuka, perkataan yang tadinya mau ia keluarkan terasa menyangkut ditenggorokan dan berakhir tertelan bersamaan dengan roti coklat tadi.
“Ah, hei kalian berdua! Barusan aku mendapatkan ide bagus!” seru Green tiba-tiba dengan wajah girang bukan main.
Entah kenapa, perasaan Vania tidak enak.
Kota A, Bar’Q, 10.00 PM.
Vania menelan ludahnya gugup, jemari lentiknya meremas seragam kerjanya hingga kusut. Sementara itu dibelakang Vania terdapat kedua gadis dengan seragam yang sama, Ino dan Green.
“Ayolah, aku tidak perlu melakukannya. Lagipula dia tidak menyadari aku bekerja disini kan,” ungkap Vania dengan jeritan tertahan. Gadis itu merasa bahwa ia ingin mati saat itu juga.
“Ya untuk saat ini mungkin begitu, tapi bagaimana dengan kedepannya? Bagaimana kalau dia mengetahuinya? Kau pasti akan dipecat detik itu juga.”
Gadis maniak hijau itu menaruh jari telunjuknya dileher dan menariknya kesamping—gestur menyembelih. Diikuti dengan si gadis imut, Ino.
Rupanya bergaul dengan Green membuat otak gadis imut itu sedikit bergeser.
“Sudahlah, lebih baik kau berjalan kearahnya, meminta maaf sembari membungkuk sopan. Setelah itu kau pergi dari sana, kembali bekerja, dan semua masalah sialan ini beres!” ungkap Green sembari mendorong sahabat karibnya maju.
"Green sialan," maki Vania dalam hati kala melihat Green tengah mengacungkan jempolnya. Gestur menyemangati.
Gemerlap lampu menyambut iris onyx Vania kala melewati pintu yang menjadi penghubung ruang pelayan dan ruangan menyebalkan yang enggan ia jelaskan. Gadis cantik itu menutup telinganya saat suara memekan telinga memasuki indera pendengaran. Ia mendecakan lidah saat menatap sosok Dj stylish yang nampak asyik memutarkan lagu dengan suara luar biasa keras.
Netra legamnya mengedar, mencari sosok Graha diantara lautan orang-orang yang asik menggoyangkan pinggul--mengikuti irama lagu. Dan gotcha! Vania menemukan Graha yang sedang bersama b******u dengan seorang wanita. Disamping kanan-kirinyaada beberapa wanita yang bergelayut manja.
"Inilah kenapa aku membenci bar."
Vania melangkahkan kaki jenjangnya, berusaha keras melewati orang-orang yang tengah menggerakan badan mereka sesuai dengan nada dan irama. Melewati ini bukan perkara mudah. Vania harus menjaga badannya agar tidak disentuh oleh para laki-laki yang tengah menatapnya penuh nafsu. Sementara itu matanya terfokus pada remaja yang tengah duduk di sofa biru seraya dikelilingi banyak perempuan dengan pakaian minim.
Grep!
Vania tersentak, lengannya dicekal oleh pria tinggi besar berkulit tan.
“Sweety, wanna play with me?” ujar pria tersebut sembari menjilat bibirnya seduktif
Iris onyxnya melebar kala mendapati bahwa pria menjijikan itu merangkulnya dan berniat mencium bibirnya. Sekuat tenaga Vania berontak, tapi perbedaan antara kekuatan laki-laki dan perempuan membuat Vania kewalahan. Pada akhirnya ia menutup mata seraya menggelengkan kepala.
SRETT
“She is mine. Don’t touch her with your f*****g hands, Bastard.”
Aroma mint yang khas menyapa indra penciuman Vania. Gadis cantik itu langsung membuka mata dan mendongak. Manik jelaganya mendapati lelaki dengan surai coklat tengah mendekapnya erat. Walaupun nada bicaranya terdengar main-main, iris hazelnya tidak berkata begitu. Tatapan pemuda itu itu makin menajam dan sukses membuat pria menjijikan tadi terdiam, lalu pergi dari hadapan mereka.
“Sudah kuduga kau akan mencariku, sayang," bisiknya tepat ditelinga Vania, hembusan nafasnya ikut menerpa leher sang gadis, membuat Vania merinding seketika.
Refleks Vania mendorongnya dan menatap lelaki itu sengit. Manik jelaganya menelisik penampilan lelaki itu dari atas sampai bawah. Surai coklatnya yang acak-acakan, kemeja hitam dengan dua kancing atas yang terbuka, lengan kemeja yang di gulung hingga siku, dan terakhir wajahnya yang tampan itu terbias oleh gemerlap lampu--menyempurnakan fashion stylenya.
"Graha," gumamnya pelan.
"Yes, honey?"
Sedetik kemudian tatapan mata Vania menajam kala mendapati Graha satu langkah mendekati dirinya. Bibir peachnya mengatup dan ia tetap mempertahankan tatapan tajamnya. Graha langsung mundur 2 langkah ketika mengetahui gadis incaran tengah memasang pose defensif.
“Wow… wow… santai saja say—“
“Jangan panggil aku dengan sebutan itu.”
“Ugh, baiklah Vania, jika kau ingin bicara biar kita cari tempat yang cocok. Disini terlalu gaduh, bagaimana?” ujar Graha.
Vania mengangguk, dan mengikuti langkah kaki lelaki jangkung didepannya.
***
"Green?"
Green tersentak, patah-patah ia membalikan badannya. Manik safirnya langsung menangkap sosok lelaki tampan yang tengah menatap mereka dengan senyum ramah seperti biasanya. Ditangannya terdapat kaleng soda serta kunci mobil ditangan kanannya.
"Ah, senior? Sedang apa disini?"
Raihan menaikan satu alisnya, merasa aneh dengan pakaian yang dikenakan oleh Green dan gadis mungil disampingnya, Ino.
"Ah, aku mencari Graha, kau sendiri?" tanya nya lembut.
Green bergerak gelisah, gadis cantik itu meremas rok hitam pendek setengah paha yang ia kenakan hingga kusut. Hal itu membuat Raihan makin curiga. Ditambah dengan penampilan Green yang memakai seragam pelayan bar membuat kecurigaannya makin berlipat ganda. Tidak mungkin kan gadis ini bekerja part-time disini?
"Kami sedang menunggu Vania yang sedang meminta maaf terhadap Graha. Tapi karena banyaknya orang di bar membuat Vania tidak terlihat lagi oleh kami. Senior, bisa tolong carikan Vania tidak? Tadi Green hampir menangis karna panik."
Rahang Green serasa mau jatuh dari tempatnya, ia menatap gadis mungil yang tengah tersenyum manis dengan wajah tanpa dosa. Apa-apaan dia, setengah mati dirinya menyembunyikan kebenaran. Tapi dengan seenak udel Ino membeberkan semuanya. Mana dia ngadu tentang aibnya lagi, padahal Green sudah mengatakan dengan sangat gamblang bahwa ini merupakan misi rahasia.
Saking rahasianya Green sampai membolos les bahasa prancis, ah sial, padahal guru privat Green kali ini sangat tampan dan luar biasa lembut serta berbakat.
Ah, tidak adil! Ino mengatakannya dengan wajah super imut. KALAU BEGITU MANA BISA AKU PUKUL DIA! jerit Green dalam hati. Ia sangat lemah dengan hal-hal berbau imut dan tampan.
'Wajah imut itu benar-benar kriminal, kejahatan kelas kakap,' umpatnya lagi.
Kekehan keluar dari mulut Raihan. Pantas saja daritadi Green hanya menunduk dan enggan menatapnya, rupanya gadis cantik itu tengah menyembunyikan matanya yang sembab.
Headpat lembut dari Raihan dihadiahkan untuk gadis didepannya ini.
"Baiklah, biar kucarikan Vania," Raihan tersenyum lembut. "Kau bawa mobil?" tanyanya lagi.
Green mengangguk pelan.
"Kalau begitu kalian pulang duluan ya, nanti Vania biar aku saja yang antar."
Ino tersenyum lebar, ia menarik lengan Green dan berlari keluar melalui pintu belakang yang terhubung dengan ruangan pelayan. Raihan mengulum senyum tipis kala sosok Green menjauh usai membisikan sepatah kata.
"Tolong cari Vania ya... jika sudah ketemu, kabari aku."
Benar-benar persahabatan yang manis.
***
Semilir angin malam mengalun lembut, menerbangkan helaian surai hitam dengan wangi khas yang menggoda. Sepasang remaja nampak tengah berdiri diatas rerumputan. Hening menyelimuti sebelum akhirnya Graha membuka mulutnya.
"Jadi?" ucapnya singkat, aroma mint menguar, membuat hidung Vania tergelitik.
Vania menggeleng pelan, berupaya mengeyahkan pemikiran liarnya, "Ehem, aku ingin minta maaf untuk perkataanku tempo hari," ungkapnya setengah tidak ikhlas.
Ia menghela nafas panjang sebab merasa lega. Entah permintaan maafnya akan diterima atau tidak, yang terpenting adalah peluang ia dipecat akan mengecil, namun jika yang terjadi malah sebaliknya sepertinya Vania akan memilih menenggelamkan diri saja.
"Hm...."
Tak ada jawaban berarti. Namun dibalik itu, batin Graha sudah memekik kegirangan sebab mendengar permintaan maaf dari gebetannya itu. walau disisi lain dirinya juga merasa dilemma. Dimaafkan atau tidak?
Lelaki dengan mahkota cokelat itu menyeringai.
Tiba-tiba saja Graha menghadap ke arah Vania dan pemuda itu maju satu langkah ke depan. Sontak saja membuat lawan bicaranya mundur kebelakang, berusaha sebisa mungkin membuat jarak dengan Graha yang tengah menyeringai khas. Vania menyilangkan kedua tangannya didepan d**a--pose defensif. Manik jelaganya menatap tajam Graha yang terus mengikis jarak, seringaian lelaki itu membuat Vania merinding.
"Berhenti, sebelum kulempar kau ke kolam ikan disana."
Bukannya menuruti perkataan Vania. Graha justru makin mengikis jarak diantara mereka. Seringainnya melebar kala punggung si gadis menabrak tembok, membuat pergerakannya berhenti. Vania mengumpat dalam hati, mengapa hari ini ia begitu sial.
"Mm, aku akan memaafkanmu dengan syarat--"
Vania menahan nafas kala kedua lengan kekar Graha mengukungnya, membuatnya tidak bisa melarikan diri kemanapun. Istilah lainnya adalah kabedon. Inginnya sih menyelusup dibawah lengan kekarnya. Tapi Vania takut jika nanti kaki Graha ikut maju demi men-ultra kabedon dirinya supaya mati kutu.
Kalau begitu jadi makin repot.
"--mulai sekarang kau akan tinggal bersamaku," bisik Graha dengan nada seduktif.
Gadis itu menganga, syok dengan ucapan lelaki adonis didepannya. Belum cukup sampai situ nafasnya dibuat tercekat kala wajah Graha mulai mendekat. Helaan nafas hangatnya menerpa wajah Vania, aura mint familiar kembali ditangkap oleh indra penciuman. Badan Vania terasa kaku saat Graha mulai memiringkan wajahnya seraya terus mengikis jarak diantara mereka.
SRETT
Vania merasa lengannya ditarik, kemudian kepalanya membentur pelan sesuatu yang keras. Hm, keras...?
"Apa yang kau lakukan?"
Vania mendongak, manik jelaganya menangkap sesosok lelaki berparas tampan dengan iris mata yang serupa dengan dirinya.
"Arschloch Rangga! ku sedang memaafkan dia," ujar Graha dengan u*****n diawal kalimat.
Rangga menajamkan pandangannya seraya mengeratkan pelukannya pada pinggang si gadis. Bibirnya mengatup dan rahangnya mengeras. "Dengan memaksanya untuk tinggal bersama?" timpalnya sarkas.
"Cih," Graha mendecih, ia mati kutu. "kau sendiri mengapa bisa disini?! Stalker Vania, heh?"
Lelaki dingin itu hanya mendengus mendengar jawaban kurang ajar dari sahabat cokelatnya, "Bukan urusanmu," jawabnya singkat.
Merasa ditatap terlalu intens, Rangga menundukan pandangan, yang kemudian langsung disambut dengan onyx jernih yang memabukan. Tanpa sadar ia terus menatap iris yang serupa dengannya, Hal itu mengundang dengusan Graha.
"Akhirnya ketemu."
Serentak ketiganya menatap sesosok jangkung yang berdiri tak jauh dari mereka. Ia tersenyum lembut kala mendapati gadis yang dicarinya tengah dalam keadaan baik-baik saja didekapan Rangga. Itu cukup membuatnya merasa lega.
"Green mencarimu," Kaki jenjangnya membawa badannya mendekat. "Ayo pulang, biar ku antar," ucapnya seraya mengulurkan tangan.
Vania menangguk semangat, gadis cantik itu melepaskan dekapan Rangga dan berlari pelan kearah Raihan. Bibirnya mengulas senyum lebar sebab merasa bebas. Akhirnya bisa lepas dari duo iblis disana, begitu fikirnya dengan senyum yang tak kunjung luntur.
"Ayo senior!" ujarnya menggebu-gebu. Tanpa sadar dia menarik tangan Raihan dan membawanya menjauh dari sana. Sebisa mungkin ia harus membuat jarak dengan Rangga--terutama Graha. Keduanya membuat Vania merinding.
Sementara itu kedua pemuda di belakang sana justru merasa kesal, ditambah lagi senyum lembut Raihan di detik-detik Vania menuju ke arah pemuda itu membuat Rangga serta Graha makin kesal. Entah mengapa senyuman itu seakan mengandung ejekan dan perkataan,
'Aku yang akan menang'
TBC