“Vania Anathasya.” ujarnya singkat tanpa minat
Seluruh kelas langsung heboh begitu Vania memperkenalkan diri.
“Oh! Kamu pasti gadis yang tadi pagi maju ke podium karna terlambat ya!?”
Seisi kelas yang awalnya hanya berbisik-bisik membiacarakan Vania kini terbahak kala mendengar ucapan salah satu diantara mereka. Mereka menujuk, mengkritik, dan menertawai Vania.
Padahal dia hanya terlambat ya? Tapi kenapa dia diperlakukan bak orang habis berzina? Heran.
“Hei, kau tersesat, ya? Kenapa bisa masuk ke kelas elit ini? Kelasmu ini ada diujung sana, kelas E,” ujar seorang gadis dengan rambut dikuncir tinggi, ia tertawa menghina, kemudian iris matanya beralih menatap gadis lain yang duduk disampingnya, “Lihat itu, Berlina, dia juga mendapatkan pin diamond? mencuri dimana?” sindir salah satu antek-antek lainnya, Shaffa namanya.
Sedikit penjelasan, dalam SHS untuk pembagian kelas tergantung pada pin yang mereka dapat. Pin tersebut dibagikan sesuai dengan kemampuan(coret;kekayaan), prestasi serta bakat siswa-siswanya. Ada 4 warna pin, diantaranya;
Pin diamond, akan diberikan kepada penghuni SS atau sering disebut kelas elit yang mayoritas berisi anak-anak jenius, berbakat, berprestasi dan tentunya kaya-raya. Bahkan anak kembar presiden—Aris dan Ash menempati kelas ini. Dikelas ini terdapat 25 kursi yang diperuntukan khusus untuk anak-anak ‘sempurna’. Baik itu dompetnya maupun otaknya.
Hehe.
Pin emas akan diberikan kepada kelas ‘A’ dan kelas 'B' yang tingkatnya berada dibawah kelas elit. Kelas A merupakan kelas berisi anak-anak yang gagal masuk kelas elit. Walau begitu jangan remehkan otak mereka yang cerdas luar biasa. Namun sayangnya dalam hal fisik mereka kalah dengan kelas Elite dan kelas B yang mayoritasnya merupakan anak-anak yang memiliki keunggulan fisik. Oh hanya karna ini bukan kelas Elit atau kelas A bukan berarti mereka itu patut diremehkan. Justru dikedua kelas ini sangat aktif dalam memberi prestasi untuk sekolah—setelah kelas elite tentunya. Terutama kelas B, disana berisi atlit olahraga nasional yang seringkali mendapatkan mendali emas dibidangnya dan…
…jangan lupakan abs dan otot perut yang luar biasa untuk ukuran remaja itu.
Pin perak diberikan kepada kelas ‘B’ dan ‘C’. Biasanya berisi anak anak yang sedikit membenci pelajaran—terutama matematika dan hitungan lainnya. Mayoritas di kelas C banyak yang pandai dalam bidang seni serta musik.
Pin perunggu diberikan kepada kelas ‘F’ dan ‘E’. Kelas ini sering disebut sebagai kelas menyedihkan. Kebanyakan dari mereka tidak terlalu unggul di pelajaran, seni, ataupun olahraga. Hal itu membuat kelas ini sering dijadikan sasaran empuk untuk di bully. Ah, namun kepala sekolah tidak mungkin menerima mereka jika mereka tidak memiliki ‘sesuatu’, bukan?
By the way, pin tersebut terbuat dari diamond, emas, perak, dan perunggu asli. Tak ayal para murid dibuat berfikir dua kali untuk mmbuang pin super mahal itu.
Baiklah mari kembali ke cerita, dimana tokoh utama selalu menjadi sasaran bullly para perempuan yang katanya paling berkuasa disekolah.
Diruangan yang besar itu, rombongan Berlina masih menertawai Vania, membuat seisi kelas ikut melakukan hal yang sama. Minus beberapa orang, seperti contohnya Virgo yang sibuk dengan alat mini diatas meja, lalu ada Graha yang sibuk memainkan smartphone canggihnya, kemudian Rangga yang ternyata hanya memperhatikan keributan itu sejak awal, dan terakhir Leon yang menatap pemandangan daun gugur di luar jendela sana, kedua telinganya tersumpal earphone yang mengalunkan musik klasik menenangkan.
Mendengar ucapan rombongan si setan merah Berlina membuat Green marah bukan main, ia mengepalkan tangan mungilnya. Bersiap menghajar dan memaki gadis tidak tahu diri yang kini tersenyum miring bersama rombongannya itu. Hei, biar Green tegaskan. Yang boleh menghina sahabatnya itu Cuma dia tahu!
“Oh? Kalau begitu bagaimana denganmu? Darimana kau mendapat pin diamond itu, hm? Menyogok guru pembagi nilai supaya kau bisa masuk ke kelas ‘elit’ ini dengan memalsukan nilai?”
Tawa Berlina redam seketika, ia menggebrak meja dan menghampiri Vania. Menarik kerahnya dan menata gadis itu dengan tajam “Dasar kaum miskin sialan,” makinya dengan amarah meletup-letup.
Akibat gebrakan meja yang dilakukan oleh Berlina, atensi Virgo dan Graha seketika berubah. Mereka berdua nyaris saja menjatuhkan benda yang ada digenggaman kala melihat anak bungsu pemilik perusahaan Shi Corp tengah menarik kerah seorang gadis yang akhir-akhir ini menarik perhatian keduanya, si gadis podium, Vania!
“Miskin?” Vania tertawa pelan, manik jelaganya menatap lekat gadis angkuh dihadapannya, “Bersyukurlah aku miskin, karna jika aku kaya raya, kau adalah orang pertama yang akan kubuat melarat dan terlunta-lunta dijalanan,” ucapan sarkas Vania cukup membuat seisi kelasn tersentak. Terbukti dengan atmosfer kelas yang langsung terasa berat dan mencekam.
Hoi…hoi serius gadis podium itu mau melawan Berlina? Ayahnya itu salah satu donator terbesar sekolah ini loh.
Leon yang diam-diam mematikan alunan musik di earphone dibuat puas mendengar ucapan Vania. Rangga yang sedari tadi memperhatikan keributan yang ada juga merasakan hal yang sama. Kedua pemuda itu menyeringai secara bersamaan, seringaian setan yang seakan telah menemukan mangsa untuk dilahap.
Clap!
Suara tepuk tangan mengalihkan atensi kelas. Serentak mereka menatap sesosok lelaki jangkung yang tengah berdiri diambang pintu seraya tersenyum tipis. Disusul dengan suaranya yang mengalun lembut, menggetarkan hati para kaum hawa.
“Maaf, apa saya menggangu kalian?”
“Kyaa! Senior! Senior Raihan!” gadis-gadis dalam kelas elit itu nampak berteriak kesetanan begitu melihaat sosok jangkung yang merupakan salah satu idola sekolah kembali mengumbar senyum ramah khasnya.
“Maaf mengganggu, saya ingin memberi tahu kepada murid ajaran baru agar segera mengisi ekstrakulikuler yang diminati,” ujar Raihan dengan senyum ramah. Namun kali ini entah mengapa terlihat horor dimata Vania.
***
“Van, kau mau masuk ekstra apa?” Green mengintip kertas formulir ekstrakulikuler milik Vania. ertas biadab ini harus dikumpulkan setelah jam makan siang. Dan sialnya sekarang merupakan jam makan siang.
“Ini gawat, aku tidak minat apapun.”
Vania dan Green mendesah bersamaan.
Sejujurnya banyak sekali ekstra dalam SHS ini, contohnya; ekstra basket, voli, kasti, sepak bola, English club, jurnalistik, musik, akustik, seni rupa, dance, theater, bela diri, melukis, Sastra, memasak, dan masih banyak lagi.
“Hei Ino, kau masuk ekstra apa?”
Ino berjengit kaget, membuat kertas digenggamannya jatuh ke lantai. “Uh… emm ano….” Ujarnya dengan wajah merah merona.
Dengan sigap Green mengambil kertas putih yang dijatuhkan Ino dan membacanya. “Wah?! Ino masuk ekstra musik!” Green berteriak lantang, membuat wajah ino memerah sampai ketelinga. “Keren, Ino bisa alat musik apa saja?” tanya Vania antusias.
“I-iya… emm ano… aku bisa biola... s-sedikit bisa harpa juga.”
Vania dan Green menggebrak meja. Nyaris saja Ino terjungkal dari kursinya karena kedua ulah teman barunya. Suara keras yang dihasilkan oleh pita suara kedua remaja unik itu sukses menarik atensi penghuni kantin.
“Astaga! Keren!” pekik keduanya bersamaan.
“Ah itu bukan apa-apa... lagipula Green lebih keren, Green...pemenang lomba piano tingkat internasional."
Green tersenyum lebar, “tapi aku tidak bisa bermain biola dan tidak pernah masuk ke nasional saat mencoba ikut lomba biola,” godanya sembari menusuk-nusuk pipi Ino dengan jari telunjuknya, membuat wajah gadis imut itu makin memerah dibuatnya.
“Jangankan tingkat nasional, cara Green memegang biola saja mirip seperti tukang pukul memegang palu,” sindiran telak menghantam harga diri Green.
Seperti yang dikatakan oleh Ino, Green merupakan pemenang lomba piano tingkah internasional. Bakatnya dibidang musik memang tidak diragukan lagi, Vania masih sangat ingat bagaimana penampilan Green kala itu. Jemari lentiknya yang bermain diatas nots piano terlihat begitu anggun, begitu pula dengan alunan Piano concerto no 3 by Rachimaninoff yang begitu menakjubkan. Vania sempat berfikir, bagaimana mungkin ia bisa memiliki sahabat sesempurna ini?
“APA KAU BILANG?!”
Oh... biar Vania ralat, sahabatnya ini bukanlah orang yang sempuna. Ia adalah gadis serampangan yang ceroboh serta sangat berisik. Green jauh dari kata sempurna, catat itu.
“Dasar nona muda preman.”
Tiba tiba kantin yang awalnya hanya didominasi dentingan peralatan makan menjadi ramai penuh teriakan yang didominasi para kaum hawa. Vania mendesah pelan, hendak bertanya kepada Green. Namun ternyata gadis itu telah raib alias hilang entah kemana.
“Kemana Green?” tanya Vania dengan nada dongkol yang ketara.
Ino menunjuk ke belakang Vania, dimana terdapat segerombolan siswa perempuan yang menggerubungi sesuatu, hal itu mengingatkan Vania akan pudding cokelat yang dikerubungi semut tadi malam. Hampir mirip seperti itu, sama-sama mengerubungi sesuatu yang menggiurkan dimata mereka.
“Apa sih yang mereka ribut kan disana?”
“Umm… yang aku tahu, mereka itu fans fanatik 5 boys.”
Vania menyemburkan minumnya, lalu terbahak-bahak. “5 boys? Pfftt, itu benar-benar menggelikan. Mirip seperti judul drakor favorite Green dulu," ujarnya. Ino yang pada dasarnya merupakan gadis penurut dan tidak enakan hanya meringis dalam hati, kemudian menganggukan kepala
“Tapi mereka sangat terkenal,” ujarnya.
Tawa Vania terhenti seketika, gadis itu menghela nafas malas, lalu menyangga dagu diatas meja. Netra gelapnya nampak terlihat kesal dengan pernyataan yang dikeluarkan Ino. Nengan nada malas yang ketara ia bertanya, “Apa mereka se-terkenal itu?” Jikalau mereka memang sangat terkenal, logikanya mana mau mereka makan di kantin? tempat makan yang menurut mereka sangat 'kumuh'. Sudah pasti 5 Boys itu sedang berada dicafetaria. Menikmati makanan kelas atas yang harganya mampu membuat Vania tidak makan selama 2 bulan.
"Tentu saja kami sangat terkenal, sayang.”
Vania tersentak, refleks ia menoleh. Namun sejurus kemudian ia dikagetkan oleh wajah tampan yang terpaut jarak 5 cm dari wajahnya. Vania menahan nafas. Ia ingin menenggelamkan diri sekarang juga daripada berhadapan dengan wajah ini sedetik lebih lama.
“Bagaimana? Apa sekarang kau tahu mengapa kami terkenal?”
Vania mencium bau mint yang menguar dari mulut lelaki didepannya, diam-diam ia mengamati visual Adonis yang begitu dekat dengan pandangan matanya. Sengaja! Pasti pemuda didepannya ini sengaja ingin membuatnya salah tingkah, tipikal lelaki b******n yang selalu menebar uang sebagai jaring menangkap wanita.
“Graha.”
Vania berkedip, menyadari bahwa wajah tampan itu telah menjauh beberapa langkah. Seketika ia mengambil nafas panjang tanda lega seraya melemaskan ototnya yang terasa kaku. Terkadang, berhadapan dengan orang tampan memang bukan hal yang menyenangkan.
“Maaf Rai, aku benar benar tidak tahan,” ujarnya sembari tertawa tanpa dosa.
Sejurus kemudian Graha duduk persis didepan vania, diikuti oleh ke-4 temannya—yang juga tampan tentunya. Sementara itu Green nampak berbinar menatap senior tercintanya yang tengah duduk santai didepan mereka sembari menyeruput secangkir cappuccino.
“Hei Vania, jadilah pacarku.”
JDERRR!
Pernyataan cinta dari Graha bak petir di siang bolong, seketika itu pula Virgo menyemburkan jus avocado favoritenya, Raihan menghela nafas panjang, Rangga mendengus dan Leon kembali menyeruput kopi hitam yang ada didalam cangkir—ia nampak sangat tidak peduli.
Kantin langsung sunyi senyap. Sementara itu Vania mematung, mencoba memahami perkataan lelaki aneh didepannya. Barangkali dia keliru atau otakknya konslet hingga mengatakan hal yang sangat tidak masuk di akal.
“Jika terus begini, aku akan kehabisan nafas." batin vania meraung sebab merasa sesak dengan suasana hening serta atensi yang berpusat pada mejanya dan err… jangan lupakan para wanita yang menatap Vania sengit sebab merasa tidak terima idolanya direbut. Mereka dalah tipe spesies manusia yang hobi nge halu
Siapa juga yang merebut, Graha sendiri yang menembaknya tanpa tau tempat.
Vania menghela nafas kasar “apa kamu mabuk?” ungkapnya blak-blakan seraya menatap sengit lelaki dihadapannya.
“Ya, aku mabuk karena pesonamu.”
Vania speechless dengan perempatan siku imajiner mulai terpatri dipelipisnya. Ia memejamkan mata kembali menghela nafas panjang. Berusaha menenangkan diri. Sementara itu Graha menyangga dagu sembari menatap Vania yang tengah berusaha menahan amarahnya.
Lucu sekali, begitu fikirnya.
“Dasar sinting.”
Usai mengatakan sepatah kata yang mungkin dapat diartikan sebagai penolakan telak. Vania berdiri dari kursinya, menarik ino yang tengah meringis—mengucapkan ‘maaf’ berulang kali pada kelima remaja tampan dimeja mereka. Keduanya meninggalkan kantin yang mulai heboh. Akibat peristiwa yang disebut sebagai ‘iman baja seorang gadis podium’ membuat vania mendapat gelar wanita pertama yang menolak salah satu ‘most wanted’ di SHS.
“Ah, jangan buat aku tertantang dong. Bodoh.” Graha tersenyum iblis, menatap punggung mungil Vania yang mulai hilang dari jarak pandangnya.