-THE GANGSTER KING EPS 3; 5 BOYS, START-
Brakk!
“Yo guys! Coba tebak apa yang aku dapatkan.”
Ketukan dengan suara diluar nalar nampak membuat seluruh orang dalam ruangan itu nyaris meloncat kaget, beberapa diantaranya melotot pada lelaki dengan surai coklat sebahu yang sedang tersenyum lebar dengan gadget canggih ditangan kanannya.
“Aku berhasil menggaet kakak kelas yang katanya paling cantik se-angkatan, yuhuuu!” perkataan lelaki itu membuat orang diruangan itu mendengus jengkel, “Nah nah, karna aku menang taruhan. Jadi sekarang beri aku mobil Ferrari kalian!” imbuhnya dengan semangat membara
Selang beberapa menit kemudian 3 buah kunci mobil seharga jutaan dolar telah terkumpul diatas meja. Seisi ruangan menyesal telah ikut taruhan dengan playboy kelas kakap itu. Padahal hasilnya juga pasti akan kalah.
Damn it.
“What?! kemarin aku sudah mencobanya dan yang kudapat adalah elusan serta anggapan bahwa aku ini anak junior high school yang tersesat!” Salah satu diantara orang diruangan itu nampak menggertakan gigi kesal, “Tsk Graha, padahal aku kan lebih kaya darimu," sambungnya.
Lelaki dengan surai coklat sebahu itu bernama Graha Aditya Permana, ia merupakan playboy super kakap dengan kekayaan melimpah. Ayahnya merupakan CEO perusahaan Permana Corp yang nyaris merajai ekonomi, dan ibunya merupakan seorang mentri. Sementara ia sendiri merupakan seorang model dan memiliki bepuluh-puluh bar. Sekali lagi ku katakan Graha merupakan playboy kelas kakap, dengan wajah campuran jerman-jepang, ia bisa dengan mudah mendapatkan wanita manapun. Yang buruk dari sosok Graha ini, dia sangat gemar mengencani wanita. Melakukan one night stand kemudian meninggalkannya.
“Ah c’mon V, setidaknya kau harus mempunyai tinggi badan minimal 180! Dengan begitu kamu bisa masuk kategori cowok tampan!” Setelahnya graha tertawa terbahak bahak, membuat seorang remaja laki-laki dengan wajah baby face kesal bukan main,
“Jika kurang dari itu, kau masuk kategori cowok dibawah standar!” tawanya makin membahana.
“Ck, orang tinggi kelihatan tua tau!” wajah baby facenya mengerut imut.
“Kalau begitu apa aku terlihat tua?” nada datar nan dingin mengaggetkan si empu berwajah imut. Ia tersenyum lebar sebelum akhirnya menjawabnya tanpa ragu.
“Ah kalau boleh jujur sih iya.”
“VIRGO!”
Virgo Candra Nugraha namanya, lelaki berparas imut nan baby face itu merupakan salah satu laki laki dengan fans terbanyak setelah Graha. Walaupun tingginya hanya kisaran 165, Virgo telah banyak mendapat undangan dari agensi-agensi terkenal untuk menjadi bintang besar maupun model terkenal err… model baju imut tentunya. Namun sayangnya semua undangan itu ia tolak mentah mentah, ia lebih suka meneruskan perusahaan ayahnya yang merupakan perusahaan teknologi terkemuka. Virgo sendiri sangat kecanduan akan dunia teknologi. Sedikit informasi, Virgo sering disebut sebagai ‘bintang jenius’. Ia diakui masuk jajaran manusia dengan IQ tertinggi. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya teknologi-teknologi yang ia ciptakan, robot anjing yang sekarang sedang berlarian kesana kemari itu merupakan salah satu ciptaannya yang mampu membuat dirinya mendapatkan penghargaan. Ngomong-ngomong terakhir kali dicek, IQ virgo sudah mencapai 196. Namun orang-orang percaya bahwa otak lelaki imut itu lebih tinggi dari itu.
“Pfftt Rangga, tinggimu kan 185. Ah… kau memang tua haha!”
“Shut up!”
Lelaki dengan wajah datar itu bernama Rangga Wijaya Pratama. Jangan heran atau sakit hati akan ucapan maupun tatapan dinginnya, itu merupakan sifat alami yang sudah menjadi ciri khasnya. Bibirnya tipis, alisnya tebal dan matanya tajam. Kulitnya putih, badannya lebih gagah dari usia anak seumurannya—jangan lupakan abs yang merupakan hasil gym rutin itu. Tak heran jika ia masuk jajaran lelaki ‘most wanted’ dinegaranya. Ia juga merupakan pewaris tunggal perusahaan yang merupakan salah satu dari tiga perusahaan terkenal di dunia. Graha pernah mengaku bahwa Rangga hampir tidak pernah mengalami kesusahan dalam hidupnya—bahkan dalam urusan wanita. Ah sudahlah, jika kau memaksaku untuk menuliskan semua kelebihannya, aku yakin ini tidak akan selesai sampai last bab.
“1… 2… 3… eh? kurang satu!”
Semua orang dalam ruangan itu mendengus jengkel.
“Berhentilah bersikap seperti orang melarat,” lelaki dengan kulit putih pucat menatap Graha dengan tatapan dingin. Bibirnya merah merona, netra abu-abunya makin menajam seiring bertambahnya kekesalannnya.
Virgo mengangguk setuju dengan ucapan yang dilontarkan Leon. “Padahal kau bisa 15 ferrari jika kau mau,” ungkapnya sembari bermain dengan robot anjingnya.
“Ah, ayolah Leon! Bukan soal melarat, hanya saja ini soal taruhan.”
Lelaki itu bernama Leon Robertshon. Tidak banyak yang mampu dijelaskan dari pria misterius pemilik netra abu-abu menawan. Ia memiliki wajah bak Adonis dengan sorot mata tajam, alisnya tebal, bibirnya tipis dan merona alami. Menurut pengakuan Graha, jika Leon di beri make up maka ia akan jauh lebih cantik dari gadis tulen. Dan semua orang menyetujuinya. Adapun sepintas leon mirip sekali dengan Rangga. Namun pada kenyataannya ia sangat jauh berbeda dengan Rangga. Ia merupakan lelaki yang otaknya sedikit mampu menyaingi Virgo, hal itu membuatnya mampu mengelola perusahaannya sedari umur 15 tahun. Berkat ke jeniusannya itu, Leon membawa perusahaannya menjadi perusahaan yang begitu besar hingga bisa masuk dalam jajaran perusahaan terkemuka di dunia. Berbeda dengan Rangga yang sudah mendapatkan kekayaan sejak usia dini.
“Oh ya ngomong ngomong—” suara virgo mengambang, remaja berbadan pendek itu menjeda kalimatnya. ketara sekali sengaja membuat seluruh atensi terpusat kepadanya,“Gadis podium itu cantik ya.”
Graha nampak melongo. Ia begitu heran dan kaget, sejurus kemudian ia mengucek mata dan mencubit dirinya demi membedakan kenyataan dan mimpi. Bagaimana mungkin seorang Virgo yang jelas jelas mengalami phobia langka bisa mengucapkan hal se-aneh itu?
“V! Serius ini kamu? Bukan hantu, dedemit atau semacamnya, bukan?” suara histeris Graha lah yang terdengar pertama kali.
“Yah, aku setuju,” ucapan Rangga dibalas oleh anggukan tanda setuju dari Leon, “Gadis itu memang cantik,” imbuhnya setelah disibukan dengan ponsel pintar digenggam.
Rahang Graha seperti akan terjatuh dari tempatnya. Tunggu dulu, ini benar-benar mereka bukan sih?!
“Kalian kenapa sih?!”
Mungkin setelah ini Graha akan mengguyur kepala ketiga sahabatnya dengan bunga 7 rupa dan membacakan doa-doa. Sepertinya santet dari pesaing bisnis ketiganya ini berhasil membuat mereka semua gila.
Sementara itu gadis yang menjadi perbincangan lima pemuda tampan tadi tengah sibuk memaki dan mengomel sana-sini, ditemani sang sahabat yang nampak fokus akan peta ditangan.
“Hey, Green! Ini letak kelasnya dimana sih?!”
Derap langkah nampak mengiringi perjalanan dua gadis remaja itu. Green yang mendengar omelan Vania malah menulikan diri--pura-pura tidak mendengar Vania.
“Aku tidak tahu! Aku sedang berusaha membaca petanya!” balasnya. Muak mendengar Vania yang terus mengomeli keadaan.
“Terus kenapa kita nyasar?!”
“Mana aku tahu! Arahnya bener kesini kok!”
“Agh, siapa sih yang bikin sekolah sebesar ini? Nyusahin!” Vania mengacak rambutnya gemas, sekolah ini terasa seperti labirin. Sudah 5 kali mereka menjumpai papan pengumuman, rasanya mereka hanya berputar-putar saja. Sementara itu Green mengerucutkan bibirnya sedikit menggerutu, sembari beberapa kali mencoba untuk kembali membaca peta.
“Dasar orang kaya sialan! Menghambur-hamburkan uang demi gedung sebesar ini! Saking besarnya sampai harus pake peta loh! Dan sialnya walau udah pake peta, kita tetep aja nyasar!”
Terkutuklah para arsitek beserta para orang kaya yang membuat gedung sebesar ini.
Green memutar bola matanya sebal, ia tidak habis fikir dengan Vania yang mengomeli para pemilik sekolah elite ini. Tak tahukah ia bahwa Green adalah cucu dari pemilik sekolah ini?
“Jangan mengumpat sekolah ini didepan pemiliknya, bodoh," ujarnya.
Vania mendengus, mengabaikan ucapan sahabat karibnya itu. ia tidak takut memaki sanng pemilik sekolah. Toh, Green tidak akan menghukumnya karena alasan konyol seperti itu.
Tiba tiba Green tertawa, hal itu mengundang kerniyan bingung tertera diwajah Vania. “Berasa lagi cari harta karun,” ujar Green.
“Saat kecil kita sering main permainan ‘cari harta karunnya’. Kau yang buat peta dan aku yang menyembunyikan kotak harta karunnya. Sayangnya sekarang petanya sudah hilang. Alhasil, barang-barang kita yang ada didalam kotak tidak bisa di ambil lagi,” imbuhnya sembari terus menerus mencoba memperkirakan dimana mereka berada.
“Itu karna kau bodoh. Padahal isi kotak itu cincin berlian mamamu yang harganya sampai 10 juta dollar.”
Segulung kertas tebal menjitak manis dahi putih Vania, sang pelaku penjitakan hanya bersunggut-sunggut kesal, mengabaikan Vania yang nampak mengaduh kesakitan.
“Grukk… krukk....” suara aneh memecah konsentrasi Green
“Ya tuhan... aku pergi ke toilet dulu, Green, jangan kemana-mana!”
“Eh—van! HEY!”
Terlambat. Vania sudah lari dengan kecepatan maksimal, ia nampak berkeringat akibat menahan panggilan alam yang tiba tiba menyeruak saat dewi fortuna sedang tidak berpihak pada mereka.
“Suara perutnya seperti suara monster, memang dasar anak setan,” maki Green dengan kekesalan tiada tara.
“Permisi, Green bukan?”
Beberapa menit kemudian.
“Leganya....” Vania menepuk perutnya, sejurus kemudian ia berjalan kembali ketempat dimana terakhir kali ia bersama Green. Koridor panjang yang terdapat papan pengumuman.
“Sorry, tadi aku ti—Green?!” sedetik kemudian Vania melongo melihat tempat seharusnya Green berada telah kosong melompong, menyisakan tanda tanya besar dikepala vania.
“Masa iya Green dibawa hantu?”
***
“ Kemana Raihan? Kenapa tadi tidak ikut ke markas,” Virgo nampak memanyunkan bibir tipisnya, jemarinya mengutak atik gadget canggih yang ada digenggaman. “Curang, mobil mewah dia tidak jadi diambil sama mata duitan Graha deh. huh!”
Sejurus kemudian wajahnya memerah,
“Damn! robotku pasti dirusak oleh si jangkung itu, cih, aku jadi tidak bisa tau dimana keberadaanya… padahal aku membuatnya sampai seukuran lalat," ucapnya kesal. Gadget canggih itu hampir akan remuk oleh genggaman tangan virgo.
“Inilah kenapa aku benci orang orang yang otaknya sedikit menyamaiku!”
Sejenak Virgo mendongakan kepala, rehat sejenak dari gadget yang membuat matanya pegal. Ia mendengus dan menoleh ke kanan kiri.
“Hei, ada yang bisa ku bantu?”
Suara baritone khas mengagetkan Virgo, matanya jelalatan mencari sumber suara familiar itu.
“Suara Raihan....” Gumam Virgo sembari bersembunyi dibalik pilar, matanya dengan tajam mengamati eksitensi lelaki jangkung yang nampak sedang mengobrol dengan seorang gadis yang akhir-akhir cukup terkenal dan menarik perhatian dirinya serta kawan-kawannya.
“Nope,thanks”
Virgo terkikik mendengar jawaban dingin gadis podium itu, Vania.
Netra hazel Raihan melirik pin berbentuk persegi panjang yang tersemat di dasi Vania. “Aku tau kelasmu, biar kuantar,” ucapnya dengan senyum lembut.
Gadis cantik itu mendesah pelan, otaknya menimang-nimang tawaran lelaki didepannya. Jujur saja Vania ingin menolak, namun ia ingat bahwa sekarang dirinya ditinggal oleh Green. Maka dari itu dengan terpaksa ia mengangguk dan mengekori lelaki yang telah jalan terlebih dahulu.
“Berdiri disampingku nona, kau bukan pembantuku.”
“Ha....”
Virgo mengerling, sejurus kemudian dia meninggalkan tempatnya bersembunyi setelah memikirkan banyak rencana. “Wah, Raihan udah ngambil langkah duluan nih," gumamnya dengan senyum licik.
Ah tidak nak, sepertinya otak jeniusmu terlalu berlebihan.
***
“Astaga sahabatku BakaVan! Miss you my beloved Lucy!"
Dalam larinya yang dramatis demi mencapai sahabat sialannya. Tiba-tiba Vania menubruk seseorang berbadan besar dan kekar, ia pun tersadar dan refleks menoleh ke kanan-kiri. Tunggu sebentar, kenapa banyak sekali orang orang berjas hitam dengan wajah tak bersahabat?!
Seakan mengerti pertanyaan yang tergambar diwajah sang sobat, Green tersenyum lebar.
“Tadi aku bilang ke papa kalau aku tersesat, jadi papa mengirimkan beberapa orang untuk mengantarku ke kelas,” jelanya dengan kekehan khas sembari menjawab banyak pertanyaan dari Ben yang berbicara diseberang telfon. Seketaris pribadi Green yang kini menghadiri rapat di Kanada untuk menggantikan sang nona muda.
“Dia bilang apa? Beberapa bodyguard? Apa Green tidak lulus materi hitungan? Bodyguard puluhan ini dia bilang beberapa?!” batin Vania meraung raung menyadari betapa berlebihannya orang-orang kaya itu,
“Hah inilah kenapa aku benci orang kaya,” gumamnya pelan.
“Wah! Senior Raihan?!’
Astaga, jeritan Green persis di telinga Vania. Nyaris saja gadis bersurai hitam legam itu tuli permanen jika tidak cepat-cepat menjauh dari suara dengan frekuensi 2000000+ Hz.
“Van! Kenapa kau bisa lebih hoki dariku?! Curang, kamu selalu satu langkah didepanku! Bagaimana mungkin kamu bisa diantar ke kelas oleh salah satu ‘most wanted’ disekolah ini!?”
“Oh itu berkat kau yang meninggalkanku sendirian.”
Vania bersidekap, netra legamnya menatap tajam Green yang sedang memanyunkan bibir dan menempel di punggung Vania.
“Ah, hehe maafkan aku.”
“Hm.”
Green mencolek pinggang jahil. Hal itu sukses membuat Vania mendelik dengan tatapan tajam. Yang tentunya dibalas dengan tawa dan sikap luar biasa santai.
“Ekhem," deheman Raihan mengintrupsi kegiatan Green. Sontak gadis penyuka hijau itu menghadap sang idola seraya tersenyum manis.
"Jadi namamu siapa?” tanyanya, basa-basi.
“Green! Ah, khusus untuk senior boleh panggil Tata!”
Vania cengo, namanya itu Green Al. Darimana coba panggilan ‘Tata’ itu diambil? Dasar sinting.
Raihan terkekeh geli, 'Tata' terdengar lucu ditelinganya. “Kalau dia?" tanyanya lagi sembari menatap lembut gadis bernetra hitam yang berdiri disamping Green.
“Ini Vania! Panggil dia Athii!”
Vania mengernyit, buru-buru ia menegur Green,“Hei! Sudah kubilang! Jangan panggil aku dengan sebutan itu!” ujarnya.
Green tersenyum lebar “Memangnya kenapa?nama panggilan itu kan imut buatmu,” balasnya tanpa beban.
Raihan tersenyum tipis, mata teduhnya beralih menatap gadis imut yang kini bersidekap sambil mengerucutkan bibit pinknya-ngambek “Ah, kenapa kau dipanggil Tata?” tanya Raihan tiba-tiba, ia penasaran dengan panggilan imut itu, darimana dia mendapatkannya?
“Itu karna kuda hijau ini terlalu bebal untuk sekedar membuat nama panggilan,” Vania menyerobot dialog yang harusnya menjadi bagian Green. Membuat sang empu dilalap emosi seketika.
“Ulangi sekali lagi ucapanmu itu primata!” Green melotot, wajahnya memerah sempurna. Lantas ia menoleh ke Raihan, menarik dasi lelaki itu dan menatapnya lekat, “Senior tahu kenapa Vania dipanggil Athii!?”
Sontak Raihan terkejud saat dasinya ditarik, membuat wajahnya menjadi lebih dekat dengan wajah Green. Oh andai gadis maniak hijau itu sedang tidak dalam kondisi marah, mungkin ia akan merona tidak karuan, “Mm, kenapa?”tanya Raihan. Mencoba santai.
“Karena Vania adalah reinkarnasi Lucifer!”
Butuh beberapa detik agar Raihan bisa mengerti maksud dari Green. Pemuda itu tertawa, matanya menyipit dan aura charming langsung menguar dari tubuhnya. Saking silaunya, Green sampai melepaskan dahi Raihan. Seketika itu ia sadar bahwa dirinya sudah terlalu dekat dengan senior yang ia kagumi itu. Astaga, jika mereka berdua tidak sigap memakai kacamata hitam, pasti mereka sudah pingsan dengan hidung mengeluarkan banyak darah.
“Kalian itu akrab sekali, ya?” ujarnya sambil membenarkan dasi yang ditarik Green beberapa menit yang lalu.
Ah, benar-benar tidak baik untuk jantung.
“Tidak!” sepasang sahabat itu berseru bersamaan, saling membelakangi satu sama lain dan menggerutu. Membuat Raihan tertawa lagi karenanya.
“r u f*****g kidding me?! Siapa juga yang mau berteman dengan prim—“
Ucapan Green terputus, bersamaan dengan itu ketiganya tercekat begitu melihat guru berbadan besar sudah berdiri didepan pintu. Entah sejak kapan ia menyimak percakapan mereka bertiga. “Seru mengobrolnya?” tanyanya dengan sindiran keras yang ketara.
Green yang melihat rotan milik guru tersebut tentu merasa takut, Vania sendiri juga merasakan hal yang sama. Tanpa sadar mereka berdua saling mendekat hingga bahu mereka bersentuhan. Namun tiba-tiba rotan itu tidak lagi terlihat, rupa-rupanya pemandangan tadi tertutupi oleh punggung kokoh sang senior.
“Mrs Asti, maaf membuat keributan. Saya mengantarkan anak kelas 10 yang tersesat.”
Seketika nada bicara Mrs Asti langsung berubah, rotan yang ada ditangan ia taruh dibelakang pintu. “Astaga, Raihan. Baik sekali kamu, memang presiden siswa yang patut diteladani,” ungkapnya sembari berkedip genit.
Vania dan Green hampir muntah mendengarnya, saking menjijikannya mereka sampai tidak mendengar kata 'Presiden siswa' yang sempat disinggung oleh guru gendut itu.
“Dasar tante girang,” bisikan Green mendapat anggukan setuju dari sahabat sehidup-sematinya.
“Memang dasar Bu As,” Imbuhnya lagi dengan wajah memerah menahan tawa.
“Ya sudah kalau begitu kalian berdua masuk duluan saja, kalian berdua beruntung karna materi hari ini adalah perkenalan… dasar anak-anak nakal,” ungkap Guru bahasa itu dengan ujung kalimat yang dipelankan, ia tahu bahwa salah satu gadis disana merupakan pemilik sekolah tempat ia mengajar.
Manik legam Vania melirik Raihan yang ternyata sedang memandanginya juga.
“Thanks,” Vania langsung memasuki kelasnya usai mengatakan sepatah kata yang cukup membuat Raihan menyunggingkan senyum tipis.
Green mengerlingkan manik biru indahnya lalu menyunggingkan senyum lebar, “Dadah senior!” ujarnya sembari mengekor dibelakang Vania.
Begitu masuk, suasana dalam kelas dengan dinding bercat putih itu nampak begitu berisik. Green dan Vania dibuat shock dengan keadaan kelas yang luar biasa jauh dari ekspentasi. Mereka kira, kelas elite seperti ini akan sangan tenang dan damai. Para siswanya sangat kalem dan sibuk membaca pelajaran. Namun apa yang mereka dapatkan?! Kelas super bising dimana anggota kelas tersebut sibuk akan kegiataannya masing masing! Dan kegiatan itu tidak ada sangkut pautnya dengan kegiatan belajar!
“Virgooo!! Majuuu 45 NE NEEEEEEEE!!”
“2 squad knock! Bagi minum!”
“V, posisi!”
“Arah jam 2, 14 meter dari posisi kita ada 3 orang. Arah jam 5 dan 7 ada sekitar 4 orang. Arah jam 10 ada 1 orang, 15 meter arah jam 12 ada 4 orang.”
“Perkiraan hasil V?!”
“Jika melihat waktu, jumlah musuh, posisi, persediaan bahan healing, jarak antara kita dengan musuh serta kapasitas peluru kita berdua. Mungkin kita mampu mengalahkan pemain dalam waktu 30 detik, namun karena kamu akan knock karena kehabisan peluru. Mm… dan juga jika kulihat waktu perpindahan, letak serta pola zona mungkin zona akan menyusut dan berpindah 126 meter kearah selatan hal itu membuat musuh dari arah utara akan mendekati posisi kita. kesimpulannya kita mampu mengalahkan musuh dalam waktu 1 menit 7 detik—termasuk healing kau yang nanti knock. Tetapi musuh dari arah utara juga patut dipertimbangkan.”
Kumpulan orang dengan bentuk melingkar itu kompak cengo, ternganga dengan kalkulator berjalan dihadapan mereka.
“Auto chicken nih.”
—Ada yang bermain game....
“Batalkan semua agenda untuk besok karena aku akan terbang ke Indonesia untuk menghadiri rapat penting.”
“ Rangga, perusahaan dari Skotlandia menawarkan kerja sama dengan hadiah yang menurutku cukup besar.”
“Sebutkan hadiahnya.”
“Pertambangan emas, 5000 batang emas murni, tanah dibagian barat Skotlandia dan 1 buah jam rolex khusus untuk anda.”
“Tolak.”
—Yang berbisnis....
“Kau tahu tidak kalau si dia itu bla bla bla”
“Aku tahu! Gadis menyebalkan yang naik ke podium itu, bukan?! Cih aku benci dia!”
“Kudengar dia anak beasiswa, pantas saja kelakuannya kurang ajar.”
—bahkan yang ngeghibah pun ada.
“klik, ting.”
Pintu dengan teknologi canggih yang tentu saja buatan si cebol Virgo nampak terbuka, setelahnya masuklah Mrs Asti.
"Sedang apa kalian? Ayo masuk," perintahnya pada kedua gadis yang terlihat sedang cengo didepan pintu.
Mendengar suara Mrs Asti sontak saja seluruh penghuni kelas mewah itu berhenti melakukan kegiatan mereka masing-masing dan menatap lurus kedepan.
“Baiklah disini ada teman kalian yang terlambat memperkenalkan diri,” Guru sastra itu melirik, memberi kode kepada kedua gadis itu untuk segera memperkenalkan diri.
Green maju selangkah, dengan riang ia memperkenalkan diri. Senyum manisnya membuat kadar keimutannya menjadi 2 kali lipat. Berkat itu ia berhasil mencuri atensi sebagian siswa laki-laki didalam sana.
“Halo, namaku Green Al Wright! Salam kenal dan mohon bantuannya, ya!”
'Imut' adalah kata pertama yang terlintas di fikiran penghuni kelas kala melihat gadis mungil itu.
Setelah Green memperkenalkan diri, kini saatnya giliran Vania untuk melakukan hal yang menurutnya begitu merepotkan. Kaki jenjangnya membawanya maju selangkah, dibahunya tersampir jas hitam khas SHS. Manik jelaganya mengamati seisi kelas. Tanpa sengaja, matanya bersiborok dengan manik yang memiliki warna yang sama dengannya. Ya, pemilik manik kelam itu adalah orang yang ditemuinya tadi pagi. Segera, ia mengalihkan pandangan.
“Vania Anathasya,” ujarnya singkat tanpa minat
Seluruh kelas langsung heboh begitu Vania memperkenalkan diri.
TBC