bc

Kiss My Boss

book_age16+
40
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
possessive
arrogant
dominant
goodgirl
comedy
bxg
office/work place
enimies to lovers
poor to rich
like
intro-logo
Uraian

Milan hanya mencari penghidupan di ibu kota. Bekerja siang dan malam dengan giat meski Nyonya Besar sering kali memarahinya. Dia tidak pernah mengira bahwa kedatangannya ke Jakarta membuat Davies bersaudara begitu menginginkannya. Abel, si bungsu yang begitu ramah dan membuatnya nyaman. Dan Juan, pewaris utama keluarga Davies yang begitu arogan.

Hingga suatu malam, tanpa sengaja Milan membuat Juan begitu marah. Tidak hanya membuat Milan sengsara, Juan juga tidak suka jika Milan dekat dengan lelaki lain dengan alasan apapun.

Dengan penuh peringatan, Juan membuat dekrit bahwa Milan adalah miliknya.

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Milan Dan Jakarta
Naina Milani namanya. Perempuan yang baru saja menginjak usia dua puluh tahun itu menapakkan kaki di ibu kota. Sesekali mengusap peluh di dahinya yang sebesar biji jagung. Dia baru pertama kali datang kemari. Berniat mencari penghidupan di ibu kota. Milan, begitulah ia dipanggil, dulunya seorang penjaga toko grosir di Solo. Tepatnya daerah Kartasura. Sekarang hendak beradu nasib di ibu kota. Ibunya yang menyarankan, katanya ada sebuah rumah besar di ibu kota yang perlu diurus. Tempat budenya bekerja membutuhkan tenaga baru. Milan turun dari kereta, berjalan keluar dari stasiun dengan menyeret koper besar hitamnya. Ponselnya sudah teronggok tak berdaya di tas punggung, kehabisan baterai. Sekarang dia bingung, bagaimana caranya dia ke tempat tujuan. Milan duduk di depan stasiun. Dia benar-benar buta arah. Dia tidak tahu apapun tentang Jakarta. Lalu kemana dia harus pergi. Milan menenggak air mineral yang sempat ia beli. Setelahnya menatap lalu lalang ramai di stasiun. Sementara memikirkan kmeana dia harus pergi. Milan merogoh saku celananya. Beruntung dia sempat mencatat alamat tujuan. Setidaknya dia bisa menuju kesana dengan ojek. Milan hendak mengeluarkan ponsel, memesan ojek online sebelum ingat bahwa ponselnya mati. Menepuk dahinya geram. Milan memang pelupa. Milan memutuskan berjalan keluar. Disana beberapa ojek terparkir, taksi juga. Milan menghampiri seorang pria yang sedang duduk di motor. “Pak, permisi. Saya mau ke tempat ini.” Milan menunjukkan kertas yang ia bawa. Bapak ojek mengangguk. “Kira-kira bisa nggak pak?” “Bisa-bisa.” Bapak itu mengangguk mantap. Lega sudah rasa cemas Milan. “Tapi maaf, mbak. Jaraknya lumayan jauh dari sini, jadi ongkosnya lumayan mahal. Masih mau?” Milan mengetuk dagunya. Uang yang ia bawa menipis. Dia tidak membawa banyak uang dari rumah. Apakah cukup? Tapi tidak apa-apa. Semoga saja cukup. Lagipula dia bisa apa jika terus duduk disini? “Ya udah, nggak apa-apa, Pak.” Si Bapak ojek mengulurkan helm hitam merk motor yang mereka tumpangi. Kemudian ketika Milan dan koper sudah siap di atas motor, mereka melaju membelah padatnya jalanan. Sejauh mata memandang hanya ada kemacetan, beberapa pengendara sepeda motor begitu lincah menghindari macet. Begitu juga Pak Sali – bapak ojek yang tadi sempat mengenalkan diri, begitu lihai menyalip mobil dan melewati jalan tikus agar tidak kena macet. “Jakarta emang macet mbak, jadi maklum kalau kemana-mana lama. Apalagi naik mobil, jadi lebih enak pesan ojek dari pada taksi.” Milan mengangguk. Tapi teriknya matahari membuatnya lelah. Panas sekali. “Mbaknya dari Jawa ya?” “Iya, pak.” Sebenarnya Milan ingin bertanya definisi ‘jawa’ itu bagaimana. Bukankah Jakarta juga berada di pulau Jawa? Lalu apakah kata ‘jawa’ hanya diperuntukkan bagi orang yang berasal dari kampung? Pak Sali mengangguk lagi. “Saya juga dari Jawa mbak. Saya dari Blora. Mbak tahu Blora?” “Tahu, Pak. Kalau saya dari Solo.” Pak Sali tertawa. “Wah mbak, Kalau asalnya dari Solo kenapa merantau ke sini? Sama aja mbak kerjaannya, malah lebih panas di Jakarta.” Milan menyeka keringatnya. Jaraknya masih jauh dari tempat tujuan. “Iya, Pak. Sebenarnya saya nggak mau ke sini. Lebih enak di tanah sendiri. Tapi bude saya perlu bantuan di sini. Ibu saya maksa juga, jadi nggak ada pilihan lain.” Pak Sali bergerak menuju jalan raya. Mereka kembali bersatu dengan jalanan yang dipenuhi kendaraan merayap. “Ya udah mbak. Yang penting hati-hati kalau di sini. Banyak orang jahat, jambret sama preman kalau di pasar banyak. Orang Jakarta juga bukan kayak orang Jawa yang alus.” “Iya, Pak. Kalau kata bude saya Jakarta itu keras. Jadi harus benar-benar pintar kalau mau percaya sama orang.” Percakapan mereka terhenti. Kata Pak Sali, jarak mereka tinggal dua kilo meter lagi. Mereka juga mulai memasuki perumahan dengan hamparan rumah-rumah mewah. Motor berhenti di depan gerbang berwarna putih. Nomor B9. “Mbak, ini ya alamat rumahnya. Semoga betah ya kerja di Jakarta.” Milan mengeluarkan nominal uang yang disebutkan Pak Sali. Setelah memastikan Pak Sali meninggalkan rumah besar itu, Milan bergerak menarik kopernya mendekat. Meskipun dia berasal dari ‘jawa’ dia tidak sekatrok itu. Milan pernah mengenyam bangku kuliah meski harus berhenti karena terkendala biaya. Dulu Milan belajar Sastra Inggris, hanya sampai empat semester. Tapi itu cukup. Kini meski bahasa Inggris Milan tidak selancar itu, dia masih bisa memahami bahasa asing itu. Milan juga pernah mengikuti kegiatan mahasiswa, dia juga anggota himpunan mahasiswa. Milan punya bekal yang cukup untuk hidup di ibu kota, setidaknya menghindari untuk tidak dibodohi. Milan menekan tombol bel. Perlu menunggu lama hingga seorang pria berpakaian keamanan keluar. Pria bertubuh gempal itu menatapnya tak berkedip. Mungkin yang dia pikirkan sekarang, ini gelandangan dari mana? Karena percaya atau tidak, kini penampilan Milan lebih mirip tuna wisma dari pada seorang pelamar kerja. Wajahnya sudah tidak berbentuk karena make up yang sempat ia pakai luntur oleh keringat. “Nyari siapa?” Satpam dengan name tag Andi itu bertanya sopan. Mungkin usianya kisaran tigah puluhan tahun. Milan meletakkan kopernya. “Saya Milan, mau nyari bude saya. Namanya bude Nur.” Pria bernama Andi itu mengangguk paham. Matanya sedikit melebar. “Oh, Bu Nur? Jadi ini keponakannya yang dari Solo?” Milan tersenyum lega. Setidaknya dia tidak salah tempat. Dia datang ke alamat yang tepat. “Iya, Pak. Saya Milan keponakannya bude Nur.” Memasuki pekarangan rumah dengan mayoritas warna putih itu, Milan tidak bisa menutup mulutnya. Rumah itu lebih layak dipanggil istana presiden ataupun kastil. Luar biasa besar dan megah. Mungkin biaya pembangunan rumah ini bisa mencapai triliunan. Pak Andi – pria itu yang meminta dipanggil mas tapi Milan tidak mau, mengantarnya ke dalam rumah. Melewati jalan di samping rumah hingga tiba di paviliun belakang. Disana terdapat dua rumah yang berdiri bersebelahan. Pak Andi menjelaskan bahwa dua rumah itu adalah tempat tinggal pegawai yang tinggal di sini. Rumah di sebelah kanan untuk para pria dan yang sebelah kiri untuk pegawai wanita. Milan diminta menunggu sebentar di kursi panjang sementara Pak Andi pamit sebentar untuk memanggil bude Nur. Katanya wanita tersebut tengah berada di dapur rumah utama. Rumah utama, begitulah semua orang memanggilnya. Halamannya luas, mungkin bisa dipakai untuk bermain sepak bola sekampung. Pintunya menjulang besar dan tinggi. Entah bagaimana di dalam. Milan penasaran. Gadis itu memilih meluruskan kakinya sebentar. Tubuhnya lelah setelah perjalanan panjang. Dia juga lapar, belum sempat makan. Beberapa menit kemudian bude Nur datang disusul pak Andi di belakangnya. Bude Nur yang berteriak histeris berlari menghampirinya. Memeluknya erat hingga membuatnya susah bernapas. “Ya ampun, Milan! Kamu udah besar, Nduk. Dulu waktu bude di kampung, kamu masih minum s**u kambing karena nggak suka s**u sapi.” Milan mengusap wajahnya malu. Kenapa yang seperti itu yang dibahas. Banyak topik lain yang bisa dibicarakan. Bude Nur melepas pelukan. Kedua tangannya menangkup kedua sisi wajah Milan. Mengamatinya dengan seksama. “Milan kamu sekarang cantik banget. Dulu masih ingusan, ompong. Kalau main ke rumah tetangga nggak mau pakai kaos. Cuma pakai dalaman aja, kok sekarang bisa cantik dan manis begini, Mil.” Milan sudah menyerah. Memang budenya satu ini suka membongkar segala aibnya. Beruntung pak Andi segera pergi keluar. Tidak sempat melihat dirinya yang hampir terkulai pingsan karena Bude Nur memeluknya terlalu erat. “Ya udah, ayo masuk dulu, Nduk. Kamu pasti capek perjalanan. Tadi udah makan belum?” “Belum bude. Milan dari stasiun langsung berangkat kesini.” Bude Nur membantu membawakan koper ke dalam paviliun. “Ayo, bude tadi udah masak banyak. Kamu kurus begini, nanti bude bakal bikin kamu lebih gemuk.” Milan tidak menyahut. Setelah memasuki rumah di paviliun, matanya tak bisa berpindah dari interior rumah yang menawan. Milan pikir rumah itu hanya berisi dua kamar dan ruang tamu. Seperti kamar kos. Tapi tidak. Ternyata rumah itu luas. Ada ruang utama dengan sofa ditengah ruangan, TV dengan layar super tipis dan lebar itu menjadi pemandangan utama. Di sana tersaji banyak bilik. Bude menjaskan bahwa rumah itu dihuni tiga orang, sekarang menjadi empat dengan Milan. Sebenarnya masih banyak karyawan yang bekerja di rumah utama. Namun semuanya tidak tinggal disini, mereka memilih mencari kontrakan atau tinggal di rumah yang dekat dengan tempat ini. Kembali lagi ke rumah paviliun. Mereka menuju dapur. Sementara barang bawaan Milan masih berada di ruang tamu. Di dapur terdapat meja besar di tengahnya. Empat kursi memutari meja tersebut. Seakan rumah ini memang khusus di desain untuk empat orang. Bude Nur meminta Milan duduk sedangkan dia menyiapkan beberapa lauk dan nasi. Banyak sekali hidangan yang bude Nur masak. Ada pepes, opor ayam hingga rendang. Tak lupa dengan sambal dan tempe goreng. Milan semakin lapar. “Bude biasanya nggak masak banyak. Tapi karena kamu mau kesini jadi bude habisin bahan makanan di kulkas. Ayo makan yang banyak, lihat tubuhmu cuman tinggal tulang. Ibumu pasti nggak mengurusmu dengan baik di kampung.” “Makasih, bude.” Milan menghabiskan nasinya. Bahkan mengangguk ketika bude Nur semakin menambah kapasitas nasi di piringnya. Milan benar-benar kelaparan. Semuanya di sikat habis seperti tidak makan beberapa hari. “Enak, to, masakan bude?” Bude Nur menyombongkan makanannya. “Enak bude. Enak banget.” Milan setuju. Rasanya memang luar biasa mantap. “Buruan dihabisin. Bude mau bersihin kamarmu dulu, nanti kamu langsung mandi aja. Terus tidur. Mulai kerjanya besok, bude bakal jelasin job desc kamu besok.” Milan mengangguk. Membiarkan perutnya hampir meledak karena penuh dengan makanan. Bude Nur sudah berlalu meninggalkan dapur. Milan menepuk dadanya karena makan terlalu cepat. Kemudian terburu-buru menenggak segelas habis air putih. Dia bersendawa begitu kencang. Setelah selesai makan, Milan membersihkan piring kotor. Dia juga mencuci dan membersihkan dapur. Dia tidak menjadi tamu di sini, dia bekerja. Makanya Milan harus lebuh tahu diri dan bekerja dengan tekun. Setelah selesai, Milan berjalan ke kamarnya. Bude Nur sudah menata sleuruh pakaiannya di lemari. Semuanya sudah tertata rapi. Sepertinya bude Nur sudah pergi ke rumah utama. Milan buru-buru meraih pakaian ganti dan membersihkan diri. Badannya sudah bau oleh keringat. Milan mandi cepat. Matanya sudah setengah terpejam saat mengguyur tubuhnya di bawah shower. Setelah selesai dia bahkan belum sempat menyisir rambut, segera terkapar di ranjang hingga pagi tiba. *** Jam lima pagi kamarnya diketuk. Suara Bude Nur mengalun halus. “Nduk, sudah bangun belum? Ayo bangun, mandi terus sarapan.” Milan meregangkan tubuhnya. Ototnya sudha tidak sekali kemarin. Sekarang tubuhnya segar dengan suasana hati yang ceria. Milan memukul dahinya ketika sadar belum menghubungi ibunya sejak sampai di sini. Mereka pasti khawatir. Milan mencari ponselnya, mencari stop kontak untuk mengisi baterai. Milan masih belum berniat untuk mandi. Opsi lain yang ia pilih adalah berjalan menuju dapur. Dua orang lain yang mungkin akan menjadi rekan kerjanya sudah sibuk di sana. Mereka terlihat rapi dan wangi. Sepertinya sudah mandi pagi. “Milan mandi dulu sana.” Bude Nur yang mengetahui eksistensinya berseru. Tangannya sibuk menumis bumbu di wajan. Milan menggeleng. “Mandinya nanti saja bude. Milan nggak enak karena bangun paling siang. Sini Milan bantuin.” Bude Nur menggeleng. “Haduh kamu ini memang malasnya nggak sembuh-sembuh. Ya udah sana bantuin Yani motong sayuran.” Milan tidak tahu siapa yang bernama Yani. Karena dia belum sempat berkenalan dengan keduanya. Tapi Milan menuju meja di tengah dapur. Kemungkinan dia yang bernama Yani karena kini dia tengah memotong kentang. Sementara yang satunya menyiapkan nasi. “Mbak, biar saya bantu.” Wanita yang mungkin berusia awal tiga puluh tahunan itu tersenyum ramah. “Kamu bisa bantu potong kangkungnya?” Milan mengangguk. Mengambil dua ikat kangkung. Segera mengerjakan tugasnya. “Jadi kamu yang namanya Milan. Bagus ya namanya Milan. Kayak nama kota di Eropa.” Yani terkekeh pelan. Milan ikut tersenyum. Memang namanya seperti klub sepak bola Eropa. Tapi Milan suka, apapun nama yang diberikan ayahnya, Milan akan menyukainya. “Iya, mbak, nama saya Milan.” Yani menepuk sikunya. “Nggak usah formal sama aku. Kita umurnya nggak beda jauh. Umurku masih dua puluh empat, panggil aja Yani.” Milan mengangguk. Dalam hati meminta maaf karena sempat mengiranya berumur awal tiga puluh. “Oke, Yani.” Mereka melanjutkan kegiatannya. Sesekali Yani menjelaskan sedikit tentang dirinya, juga Erna. Nama wanita yang sedang menanak nasi. Yani bilang agar Milan tidak mudah tersinggung dengan Erna. “Erna itu judesnya minta ampun. Dia juga merasa paling berkuasa diantara kami. Tapi dia takut sama Bu Nur,” katanya tadi. “Erna umurnya berapa, Yan?” Yani bergerak berdiri. Hendak mencuci kentangnya, namun sebelumnya menunduk dan sedikit berbisik. “Erna udah tua. Tapi nggak mau mengakui kalau tua, umurnya udah dua sembilan.” Milan mengangguk. Dari gelagatnya saja Milan sudah tahu, dia akan mendapat banyak pertikaian dan omelan dari Erna. Tatapannya Sadi dan mematikan. Seakan tidak menerima kehadiran sosok Milan di sini. Tapi gadis itu memilih tidak ambil pusing. Lima belas menit kemudian, mereka sudah siap dan duduk melingkari meja makan. Tadi Pak Andi sempat kemari untuk meminta lauk. Maklum, paviliun itu hanya dihuni para pria. Tidak ada yang pandai memasak selain masak nasi. Katanya sudah setiap hari mereka berbagi lauk. “Milan nanti ngapain aja, Bude?” Milan bertanya saat mereka masih menikmati sarapan. “Biasanya kita mulai kerja jam enam pagi, Mil. Bude bagian masak di dapur sama Yani. Erna bagian nyuci sprei dan pakaian kotor. Juga bersih-bersih di ruang tamu. Nanti bagian kamu bersihin kamar, ya. Bantuin yang lain juga kalau mereka minta tolong. Kamu disini tugasnya ngurangin beban yang lain.” Bude Nur menjelaskan. “Tapi nanti kalau Tuan Muda udah pulang, kita kerjanya mulai jam tujuh ya, Mil. Soalnya Tuan Muda nggak suka kaalu rumahnya berisik pas pagi.” Yani menimpali. Milan mengangguk takzim. “Di rumah utama ada siapa aja? Biar Milan bisa belajar hafalin majikan.” “Ada Nyonya Besar, Tuan Besar sama Tuan Muda. Sekarang yang masih di rumah cuman Nyonya Besar. Tuan Besar dan Tuan Muda sedang perjalanan bisnis ke luar negeri. Bulan depan baru pulang.” Kali ini Erna yang menjawab. “Milan nanti pakai seragam ya. Habis itu bude antar buat ketemu Nyonya Besar dulu. Kamu harus sopan dan rapi, jangan banyak bicara. Nyonya Besar lebih suka lalu rumah utama tenang.” Bude Nur menasehati. Milan mengangguk untuk kesekian kalinya. “Habis ini Milan mandi dulu ya, bude. Milan juga mau mengabari ibu dulu. Dari kemarin belum Milan kabarin.” Bude Nur mengangguk. Setelah sarapan, Milan mandi. Setelah selesai kemudian mematut diri di deona cermin menggunakan seragam hitam putih seperti di dalam drama. Milan juga sudah menghubungi ibunya. Berkata bahwa ia sampai dengan selamat tanpa kekurangan apapun. Dia juga berkata bahwa tempat kerjanya bagus, bude Nur juga banyak membantu. Setelah selesai, Milan berjalan menyusuri jalanan yang ditata dari batu menuju rumah utama. Di sana, Erna sudah memegang sapu dan kemoceng. “Bu Nur ada di dapur,” jawabnya ketika Milan bertanya dimana sang bude. Milan bahkan tidak tahu dimana letak dapur dan toilet. Lalu dia harus pergi kemana? Milan berputar, menuju ek pintu belakang. Meminta Erna untuk mengantarnya. Tapi ketika Milan sudah sampai di teras belakang, Erna sudah menghilang. Bahkan kemoceng dan sapu yang ia bawa tidak terlihat. Milan mengemhembuskan napas berat. Dia akan berusaha mencari letak dapur berada. Milan tidak sempat terpana akan keadaan dan barang di rumah. Dia hanya bingung karena lantai ruangan yang luas, smeuanya tersekat rak dan dinding. Membuatnya seperti labirin. Milan seperti anak kucing yang tersesat di rumah raksasa. Gadis itu hampir jatuh terjungkal saat pundaknya ditepuk dari belakang. Milan hampir berteriak jika, dia tak lebih dulu menginterupsi. “Heh, ini aku, Yani. Ayo, kamu ngapain disini. Nanti kalau Nyonya Besar lihat, bisa kena marah.” Yani menyeretnya meninggalkan ruangan besar denagn lampu gantung raksasa itu. Milan mengikuti Yani yang berpostur lebih pendek darinya melangkah. Keduanya harus melewati dua sekat sebelum sampai di dapur. Rumah ini lebih mirip perangkap tikus yang rumit dari pada kastil. “Kamu kemana aja, bude cariin dari tadi.” Sesampainya di dapur, Milan disuguhi pemandangan yang sibuk. Sepertinya waktu sarapan sang majikan sebentar lagi, Bude Nur tampak kesusahan memasak dengan tiga kompor yang menyala. “Ayo sini, Milan. Bantuin bude masak ini. Malah berdiri kayak patung.” Milan segera bergerak. Beradaptasi dengan kecepatan Yani dan bude Nur yang begitu tangkas mengendalikan wajan dan kompor. “Erna tadi kemana? Perempuan itu selalu saja pergi dan menghindar di saat penting begini.” Bude Nur bersungut kesal. “Nggak tahu, Bu. Tadi pas aku ajak kesini, katanya mau beresin teras belakang.” Yani menyahut. Tangannya masih sibuk menumis wajan yang mengepulkan aroma pedas. “Anak itu perlu sesekali dimarahi. Bekerja nggak penah benar, kalau pas dibutuhkan kayak sekarang cepat banget larinya.” Bude Nur masih mengomel. Milan membersihkan beberapa potong ayam. “Ini mau dimasak apa bude?” Yang dipanggil menoleh sebentar. Memastikan kemudian kembali fokus pada tumisannya. “Bumbu kuning aja, Mil. Nanti digoreng. Mas Abel suka banget sama ayam goreng.” Milan mengangguk. Meski tidak tahu siapa itu Abel. Dia hanya mengerjakan apa yang ditugaskan padanya. Milan tidak mau menjadi Erna versi dua yang tidak bisa mengerjakan hal dengan benar. “Tumben sekali Tuan Muda sudah pulang. Tadi malam ya sampainya?” Yani bertanya. “Dari yang kudengar dari Andi, Mas Abel sampai jam dua dini hari.” Semuanya siap ketika jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Waktu yang pas ketika penghuni rumah utama biasanya sarapan. Milan diminta bude Nur membawa segala makanan ke ruang makan. Menggunakan troli besar yang biasanya ia lihat di restoran. Saat Milan sampai, seorang wanita berusia setengah abad duduk di kursi paling ujung. Wajahnya memancarkan wibawa kuat yang membuat siapapun tidak berani berdebat dengannya. Milan melihat Erna sudah berdiri di sana, menyiapkan piring untuk sarapan pagi. Padahal Erna tidak membantu apapun. Mungkin itu yang membuat bude Nur dan Yani kesal. Saat tengah menghidangkan makanannya, Nyonya Besar mengenali eksistensinya. Memanggil bude Nur yang berdiri di sudut ruangan. “Nur, ini keponakanmu?” Bude Nur bergerak maju. Memberikan hormat dengan menundukkan separuh badan sebelum mulai berbicara. Bude Nur menyikut lengan Milan. Memberinya kode agar mengikuti gerakannya. Setelah Milan memberikan hormat, bude Nur mulai memperkenalkan Milan. “Nyonya Besar, ini Milan. Keponakanku yang aku ceritakan dulu. Dia gadis pekerja keras dan baik, dia akan membantu kami dalam mengurus rumah jika Nyonya mengizinkan.” Nyonya Besar memindai Milan dari kepala hingga kaki, dai kaki hingga kepala. Setelah yakin, baru kemudian mengangguk. Tersenyum samar. “Baik, Nur. Tidak perlu kuperiksa, siapapun yang kamu bawa pasti baik. Dan kamu, siapa namamu?” “Milan, Nyonya.” “Iya, Milan. Bekerjalah dengan giat. Aku tidak suka pegawaiku bermalas-malasan.” Milan mengangguk. Dia mulai menyukai Nyonya Besar. Pemilihan kata yang menyebut mereka sebagai pegawai dan bukan pembantu sungguh menghangatkan hatinya. Mungkin ini yang membuat ia begitu dihormati. “Ayo, cepat sajikan sarapan. Perutku lapar sekali. Sebentar lagi Abel turun tolong siapkan s**u hangat, ya.” Yani mengangguk. Bergegas menghangatkan s**u di dapur. Setelah semuanya tertata rapi, bude Nur memberi isyarat agar seluruh pelayan kembali ke dapur. Membiarkan Nyonya besar menikmati sarapannya dengan tenang. “Tuan Muda udah turun?” Yani bertanya pada mereka yang baru memasuki dapur. Erna yang datang paling terlambat menyahut. “Udah, baru aja.” Yani sudah menyiapkan segelas s**u hangat di atas nampan. Sudah melangkah hendak keluar dari dapur tapi kembali berbalik. Menyerahkan nampannya pada Milan. “Kamu aja ya, aku belum siap ketemu Tuan Muda.” Yani tersipu sendirian. Astaga ada apa dengan gadis itu, batin Milan ketika meninggalkan dapur. Dari kejauhan, Milan mendengar suara Nyonya Besar yang sedang berbicara. Milan tidak tahu bahwa Tuan Muda yang dimaksud adalah dia. Pria muda dengan setelan kaos putih dengan celana training itu duduk di meja makan. Milan gugup. Belum pernah dia bertemu dengan pria sewangi dan setampan ini. Pantas saja Yani tadi berkata demikian. Bahkan seantero kampung halamannya, tidak ada yang tampan seperti ini. Milan meletakkan segelas s**u disamping Abel. Sedikit gemetar. “Makasih.” Suara Abel memenuhi gendang telinganya. Terdengar ramah sekali. “Oh, gue pikir Yani? Ma, ini siapa?” Nyonya Besar yang sedang mengunyah makanan memindai Milan. Berusaha mengingat namanya. “Pegawai baru, namanya Meli.” “Milan, Nyonya.” Milan meralat. Nyonya Besar menamgangguk tak acuh. “Namanya susah.” Abel tertawa. Menampakkan deretan giginya yang tertata rapi. Tawanya renyah sekali, membuat Milan salah tingkah sendiri. “Mama harus sering olahraga, sekarang udah tambah pikun.” “Namanya yang susah, bukan Mama yang tambah tua.” Suasana hening sejenak. Hanya terdengar suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Dan Milan juga tidak tahu kenapa dirinya masih berdiri di sudut ruangan. “Gimana perjalanan bisnisnya?” “Nggak enak, Ma. Abel lebih suka kuliah daripada kerja.” Abel menggelengkan kepalanya. “Abel mau lanjutin S2 dulu.” Nyonya Besar melotot tidak terima. “Kamu mau kuliah di luar negeri lagi, kan? Mau jauh dari Mama? Abel. Kamu udah mandiri dari kecil. Kalau kamu mau kuliah lagi nggak apa-apa, asal di Jakarta. Biar kamu bisa tinggal di sini sama Mama.” “Tapi, Ma. Abel udah daftar di Harvard. Surat pendaftaran Abel juga udah di acc, Abel diterima di manajemen bisnis, Ma.” Mereka seperti lupa akan kegiatan utama. Yakni sarapan. Nyonya Besar yang hendak menyahut menangkap eksistensi Milan yang masih berdiri di sana. “Kamu ngapain masih di sini? Sana bantuin yang lain.” Milan tersedot ke permukaan. Menyadari betapa bodohnya kenapa ia masih di sana. Setelah membungkukkan badan, Milan melangkah pergi. Menggerutu karena dengan percaya diri ikut mencuri dengar. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.3K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.9K
bc

Kali kedua

read
221.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.2K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook