"Aku pernah bahagia karena bertemu dengan cinta tapi aku juga berakhir hancur ketika cinta itu meninggalkanku."
- Rekayla -
*****
REY terus memeluk erat Kayla sambil menciumi pucuk kepala gadis itu. Dia sudah berada di kamar Kayla sejak satu jam yang lalu dan menjadi sandaran bagi Kayla sekarang.
Bahkan Rey rela tidak ikut pelajaran tambahan untuk hari ini demi menyusul Kayla ke rumahnya, dia terlalu khawatir takut terjadi sesuatu dengan gadisnya itu.
"Kean," panggil Kayla.
Gadis itu menatap ke atas, "Kenapa kesini? Bukannya ada pelajaran tambahan?" tanya Kayla.
Rey menghela nafas pelan, "Aku khawatir sama kamu, La," jawabnya, Kayla yang mendengar terdiam.
Sebegitu berharganya kah Kayla dimata Rey? Hingga laki-laki itu rela meninggalkan pelajaran tambahannya demi bertemu Kayla di rumahnya.
"Balik ke sekolah Kean, aku gak papa. Tadi aku gak angkat telepon kamu soalnya lagi tidur," ucap Kayla berbohong.
Untuk pertama kalinya gadis itu memasang kebohongan di depan Rey dan itu membuatnya merasa bersalah.
"Gak, aku mau nemenin kamu aja," ucap Rey kembali mengusap rambut gadisnya, rasanya Rey bisa mati berdiri jika Kayla kenapa-kenapa.
Rey tidak mau itu sampai terjadi.
"Kean, nanti mamah di telponin sama guru sekolah kalo kamu ga ikut pelajaran tambahan di sekolah. Kasian sama mamah, Kean," ucap Kayla memberikan pengertian agar laki-laki itu mau kembali ke sekolah.
Rey masih diam, tidak ingin menyahuti perkataan kekasihnya itu tapi Kayla punya banyak cara agar Rey mau mengikuti kemauannya.
Sayang, Rey sudah kelas 12 dan sebentar lagi akan Ujian Nasional. Bukan masanya Rey bolos pelajaran seperti ini, walaupun Rey tergolong siswa terpintar pun jika absen nya bolong tetap saja bisa cacat nantinya.
"Gak mau nurutin aku lagi ya? Padahal aku ngomong gini karena aku sayang kamu tau. Biar kamu ga dianggap melanggar aturan karena bolos pelajaran, aku gak mau ya kamu dinilai jelek cuma gara-gata ini doang," Kayla menatap Rey dengan lembut.
Tangan gadis itu mengusap pelan pipi Rey membuat Rey memejamkan matanya, rasanya sangat tenang jika Kayla mengusap wajah atau rambutnya. Itu sebabnya Rey tidak bisa jauh dari Kayla bagaimana pun caranya.
"Yaudah iya aku balik ke sekolah, tapi nanti malem ikut aku ketemu papah di rumah," ucap Rey menatap mata Kayla.
Kayla hanya mengangguk sambil tersenyum, "Iya-iya, pasti itu mah. Udah sana," ucap Kayla.
Rey hanya mendengus lalu beranjak dari kasur milik Kayla, laki-laki itu segera memakai jaket hitam nya juga masker miliknya.
"Aku pamit ya, eh bunda sama papah mana? A'a kamu juga mana? Aku mau pamit," ucap Rey membuat Kayla terdiam sesaat.
Pasti Aideen sudah pergi ke kampusnya lagi karena laki-laki itu akan mengurus beasiswanya. Aideen diikutsertakan dalam beasiswa kuliah di luar negeri tepatnya di Australia untuk lanjutan S2 nya.
Karena Aideen sudah menyelesaikan skripsi nya beberapa bulan yang lalu dilanjutkan sidang maka Aideen sudah bisa bersiap mengurus beasiswanya. Selain itu Liana juga pasti mengurus bisnisnya kembali karena kehidupan Liana tidaklah lagi bergantung dengan Kenrick sebagaimana mestinya.
Sedangkan Kenrick, setelah keputusan tadi malam. Pria dewasa itu memilih tinggal di apartementnya dan sibuk dengan pekerjaannya. Kayla bisa merasakan bahwa satu per satu keluarganya akan sibuk dengan urusan mereka masing-masing dan melupakan dirinya yang membutuhkan mereka sebagai penyemangat.
"Bunda sama papah ngurusin bisnis terus A'a balik ke kampus lagi kayaknya," ucap Kayla terdengar ragu dengan perkataannya.
Rey yang mendengar ada keraguan dalam perkataan Kayla membuat laki-laki itu menatap manik mata gadis itu.
"Kamu gak lagi bohong kan sayang?" selidik Rey membuat Kayla menggeleng dengan cepat.
Kayla berusaha memasang wajah santai nya agar terlihat baik-baik saja, dia tidak ingin Rey mengetahui masalahnya untuk sekarang. Dia belum siap bercerita.
"Yaudah aku pamit, kamu hati-hati di rumah. Makan lagi nanti, awas aja gak," pesan Rey menatap Kayla, "Siap kapten!"
Kayla bersikap hormat layaknya pemimpin upacara, Rey yang melihat juga hanya tersenyum. Rey mencium kening gadis itu dengan lembut lalu mengusapnya lembut.
Kayla tersenyum setelah mencium pipi Rey, dia mengantarkan Rey hingga ke depan pintu rumahnya. Setelah mobil laki-laki itu tidak terlihat, baru dia bisa bernafas lega.
Rasanya tidak bisa berbohong terlalu lama dengan Rey, karena bagaimana pun juga Rey tidak pernah menutupi apapun darinya begitu pun sebaliknya. Ini adalah kebohongan pertama yang terjadi di hubungan mereka.
"Oit nyet!"
Suara cempreng Aster menyentak lamunan Kayla, matanya menangkap Letta dan Aster yang baru saja tiba di rumahnya.
"Lah baru nyampe?" tanya Kayla bingung, "Sebenarnya kita udah dateng setengah jam yang lalu cuma liat ada Rey yaudah lah kita mampir makan bentar," jawab Letta.
Aster sendiri sibuk dengan snack miliknya, "Baru tau gue ada keripik seenak ini huee," jerit Aster. Wajahnya sangat menikmati snack tang dia beli.
Kayla yang melihatnya hanya bergidik ngeri, "Lo gak lagi di endorse jadi kaga usah selebay itu woi!" celetuk Kayla lalu masuk ke dalam rumah diikuti Letta, meninggalkan Aster seorang diri.
"Woi anjer jangan ninggalin!" seru Aster heboh.
Ketiga gadis itu masuk ke dalam kamar Kayla, Aster sudah merebahkan badannya diatas kasur Kayla dengan nyaman sedangkan Letta mengambil beberapa cemilan dan di letakkan ke atas kasur Kayla.
Sudah menjadi rutinitas Letta jika ke rumah Kayla ke bagian mengambilkan cemilan, biasanya Aster akan menyuruhnya seperti itu hingga menjadi terbiasa. Padahal Kayla sendiri pernah menegur Aster agar mengambil sendiri tapi tidak di dengarkan sama sekali oleh Aster.
"Aduh Let, si anak gorilla bisa aja ngambil sendirI tuh makanan," ucap Kayla tapi Letta malah menggeleng.
"Letta aja, lagian Letta gak keberatan kok Kayla," cengir gadis itu lalu ikut duduk di tepi kasur menikmati makanan di kamar Kayla.
Kayla sendiri sudah membuka jendela kamar miliknya agar bau makanan bisa keluar langsung dari jendela.
"Lo mau ngomong apa?" tanya Aster to the point, ciri khasnya yang tidak suka bertele-tele.
Kayla menghela nafas lalu memilih duduk di sofa yang ada di kamarnya.
"Gimana gue ngomongnya ya," keluh Kayla memijat pelipisnya.
Pusing tiba-tiba saja mendera kepalanya, terlalu banyak hal yang dia pikirkan sejak kemarin.
"Gue lulus tahun ini," ucap Kayla akhirnya mulai berbicara.
Kedua gadis yang sibuk memakan makanan itu menghentikan kegiatan mereka dan memandang Kayla dengan terkejut.
"SERIUS LO?!" teriak Aster kaget begitu pun Letta yang syok mendengarnya.
Letta menatap Kayla dengan pandangan masih tak percaya, "Kok Kayla cepet banget lulus nya, kan baru beberapa bulan di sekolah. Kok udah lulus aja?" tanya Letta.
"Lo jangan bercanda ya, gue lempar lo ke laut kalo bohong," ucap Aster menatap Kayla dengan melotot.
"Gue serius, gue juga udah dapet 4 beasiswa luar negeri," ucap Kayla pelan membuat kedua sahabatnya makin menjerit tak karuan mendengarnya.
"Allahu Akbar!"
Letta langsung lemas dan berbaring di kasur Kayla sedangkan Aster masih mencerna semuanya. Info yang dikatakan Kayla tentu saja membuat orang kaget mendengarnya.
"4 La? Buset anjir!"
Kayla mengangguk, "Gue dapet beasiswa Oxford University, Harvard University, Stanford University, sama Cambridge University," ucapnya dengan santai.
Sedangkan Aster dan Letta sudah menahan nafas saat mendengar Universitas yang disebutkan, semuanya bertaraf internasional dan terbaik di dunia.
Letta sendiri sampai menggigit kukunya, menahan diri agar tidak berteriak di rumah orang.
"Kayla itu keren banget," jerit Letta, "Kok bisa sih lo dapet beasiswa kesana, emang mereka mau nampung siswa kayak lo?"
Pertanyaan Aster tentu saja mendapat hadiah manis dari Kayla, gadis itu menatap datar sahabat terlaknatnya itu.
"t*i lo," maki Kayla.
"Terus masalahnya dimana? Ya bagus lah lo dapet beasiswa terus lulus duluan, gue aja malah jadi pengen. Oh gue tau nih, lo mau pamer ya?" selidik Aster membuat Letta mengerjapkan matanya.
"Ih Kayla gak boleh pamer tau, entar dapat dosa," ucap Letta dengan polosnya percaya dengan perkataan dari Aster.
Kayla mendelik, "Siapa yang pamer woi, lo jangan percaya ama omongan si Aster k*****t," ucap Kayla.
"Terus masalahnya dimana?" tanya Aster mulai menatap Kayla serius, "Itu udah banggain lah, La. Tinggal lo ngomong ama bunda sama papah lo, abang lo ama Rey juga selesai kan urusannya atau lo takut ngomong? Sini biar gue,"
Aster bersiap beranjak dari tempatnya namun suara dari Kayla membuatnya berhenti bergerak. Letta yang mendengar pun seketika tercekat, kedua orang itu menatap Kayla secara bersamaan.
"Orang tua gue cerai,"
Itu kalimat yang dilontarkan Kayla yang mampu membuat kedua sahabatnya terpaku menatap dirinya.
"Bercandaan lo ga lucu anjir," tawa Aster terdengar canggung. Gadis itu yakin Kayla pasti berbohong karena Kayla sangat sering mengerjai mereka berdua.
"Kayla jangan bercanda hal ginian ya, Letta gak suka," protes Letta.
Namun wajah Kayla yang menunduk dengan helaan nafas berat membuat dua gadis itu perlahan merasa bahwa Kayla sedang serius sekarang.
"Kenapa La?" tanya Aster dengan wajah mulai serius, Letta sendiri sudah menghampiri Kayla dan merangkulnya pelan mencoba memberi kekuatan.
"Kita gak maksa Kayla buat cerita kok, kalo misalnya Kayla mau nyimpen sendiri ya gak papa," ucap Letta lembut yang dibalas senyuman tipis Kayla.
"Papah hamilin perempuan lain tapi itu dilakuin saat papah gak sadar alias dijebak," ucap Kayla menceritakan semuanya, bercerita untuk dua sahabatnya saja sangat sulit apalagi dengan Reg nantinya.
"Papah ngakuin kesalahannya tapi papah gak mau keluarga gue hancur berantakan kayak gini, dia mau tanggung jawab tapi bunda udah terlanjur kecewa. Bunda gak suka sama yang merusak kepercayaannya dan gue---"
Suara Kayla tiba-tiba saja tercekat, dadanya sesak dan air mata mulai berkumpul di matanya bersiap untuk meluncur bebas. Letta segera memeluk sahabatnya itu dengan erat, air matanya juga jatuh.
Kayla memukul dadanya berusaha menghilangkan rasa sesaknya, menangis sekuat-kuatnya melampiaskan rasa sakitnya sekarang, tidak peduli dengan kedua sahabatnya. Aster segera beranjak dari tempatnya dan langsung memeluk kedua sahabatnya.
"Sakit," lirih Kayla.
Letta makin mengeratkan pelukannya, "Kayla jangan sakit, kita disini kok. Jangan sedih ya, apapun yang terjadi, kita berdua selalu ada buat Kayla," ucap Letta dengan isak tangisnya.
Melihat Kayla serapuh ini membuat kedua gadis itu ikut merasakan sesak yang dirasakan Kayla. Aster yang biasanya melihat Kayla penuh dengan tingkah jahilnya itu kini merasakan kesedihan sahabatnya itu, partner yang sering melakukan ulah bersamanya sedang rapuh sekarang. Bahkan terlalu rapuh.
Aster mengerti bahwa Kayla bisa saja terlihat baik-baik saja tapi tidak untuk sekarang. Saat ini pertama kalinya Aster dan Letta melihat Kayla menangis sepilu ini di depan mereka tanpa bisa dicegah lagi.
Letta melonggarkan pelukannya diikuti Aster, "Kayla, kita tau gimana perasaan Kayla sekarang. Tapi kita juga seneng liat Kayla gak memendam masalah sendiri, Kayla punya kita berdua yang bisa diajak berbagi," ucap Letta mengusap air mata Kayla membuat Kayla tersenyum sendu dibalik air matanya.
"La, serapuh apapun lo, kita bisa jadi sandaran lo. Nangis sepuas lo kalo itu bisa buat hati lo lega, sesak di d**a lo hilang," ucap Letta mengusap air matanya sendiri dan tersenyum.
"Makasih udah mau dengerin gue dan maaf karena nangis di depan lo berdua, gue cuma gak tau lagi harus cerita sama siapa. Gue belum bisa cerita sama Rey untuk sekarang," ucap Kayla menunduk.
"Gapapa Kayla, karena Kayla butuh waktu buat cerita sama dia dan Kayla gak usah minta maaf karena nangis depan kita," ucap Letta tersenyum lembut. "Lagian Kayla nangis aja tetep cantik," lanjutnya membuat Kayla terkekeh mendengarnya.
"Awas baju gue jadi gede nih," balas Kayla membuat Letta nyengir kuda.
Aster segera merangkul sahabatnya itu dengan cepat, "Kita berdua gak usah mellow, tadi yang terakhir ye. Soalnya kalo mellow itu cuma cocok sama si Letta, kita berdua mana cocok. Lebih baik nih ye, kita atur strategi buat besok bikin ulah lagi," ucap Aster.
Letta yang mendengar namanya dibawa-bawa melotot, "Kok Letta sih, Aster ya nyebelin banget!" ucap Letta kesal.
"Ya emang bener, yang gampang mewek kan lo. Kita berdua mah ga selebay itu, ya gak La?" tanya Aster menatap Kayla dengan senyuman jahilnya.
Kayla sendiri hanya tertawa geli melihat wajah Letta yang merah padam, terlihat sangat menggemaskan sekali sahabat polosnya itu jika marah.
"Letta gak sering mewek tau, cuma Letta itu lebih ke perasa orangnya jadi gampang tersentuh hatinya," ucap Letta memberikan alasan yang membuat Aster hanya menatapnya tak percaya, "Ngeles aja lo kutu monyet," ucapnya.
Kayla sendiri sedang asyik mengusap ingusnya dengan tisu yang berada di meja, gadis itu memperhatikan kedua sahabatnya sambil mengucek hidungnya dan mengusap air matanya.
"Ih ampe meler aja lo njir," ucap Aster geli melihat tisu yang ada di depan Kayla. "Apa lo, mau? nih makan!" ucap Kayla melemparkan tisu miliknya kearah Aster yang dibalas pelototan.
"Kasih tuh La, emang si Aster nyebelin banget," ucap Letta mengompori.
Aster yang mendengarnya hanya mendelik, "Halah tukang mewek gak usah komporin orang, entar dibalas langsung nangis lagi," ejek Aster.
"Aster mau Letta lemparin bantal ha?!" ancam Letta kearah Aster yang memeletkan lidahnya kearah Aster. "Aster ih nyebelin banget," jerit Letta.
Letta segera mengambil salah satu bantal di atas kasur Kayla lalu bersiap melemparkan bantal itu kearah Aster namun gadis itu sempat berlari kabur menyelamatkan diri membuat Letta mengejarnya.
Kayla hanya sibuk memperhatikan kedua sahabatnya dengan tertawa, kedua sahabatnya itu tau cara membuat Kayla tertawa kembali. Mereka seperti moodboster Kayla saja selain Rey dan makanan, selama masih ada kebobrokan Aster dan kepolosan Letta itu sudah cukup untuk menghibur Kayla yang sedang bersedih.
Ingin rasanya Kayla bercerita kepada Rey, tapi Kayla belum bisa bercerita sekarang. Kayla harus menyiapkan hatinya terlebih dahulu, tak semudah itu menceritakan masalahnya sekarang. Kayla hanya tidak ingin Rey khawatir akan dirinya.
Kayla hanya perlu waktu untuk menyiapkan dirinya bercerita yang sebenarnya kepada Rey.
Letta dan Aster sendiri bersyukur bahwa sahabat mereka sudah kembali tertawa, rasanya melihat Kayla menangis sepilu tadi dan untuk pertama kalinya di depan mereka tentu saja membuat keduanya ikut merasakan kesedihan itu.
Ketiganya saling menjaga satu sama lain, berusaha saling menguatkan dan selalu ada ketika salah satu mereka ada yang rapuh seperti tadi. Aster sendiri tidak suka jika kedua sahabatnya ada yang menganggu bahkan sampai menangis.
Kesedihan salah satu dari mereka merupakan kesedihan bagi semuanya maka dari itu Letta dan Aster berusaha mencari cara agar Kayla bisa kembali tertawa.
"Akhirnya ketawa lagi tuh bocah," celetuk Aster mengintip Kayla yang ada di kamarnya, "Iya, Letta jadi ikut sedih liat dia nangis tadi," sambung Letta.
Aster mengangguk, "Kesedihan satu orang dari kita sama aja kesedihan bagi kita semua, kita bertiga kan sahabat," ucap Aster.
Letta yang mendengar mengangguk dan tersenyum lalu kembali mengintip Kayla yang ada di kamarnya sendiri.