BAB [15]

2224 Kata
"Terima kasih sudah menambah luka ini makin lebar, terima kasih untuk hal itu. Aku kira kamu penyembuh luka ternyata kamu sama dengan mereka, penyebab lukaku." - Rekayla - *****          KAYLA sudah siap dengan dress berwarna baby pink miliknya, gadis itu menghiasi wajahnya dengan make up natural ala dirinya sendiri. Kayla hanya ingin berpenampilan lebih rapi, mengingat ini pertemuan pertama dirinya dengan papah Rey. Dia harus meninggalkan kesan yang bagus. Setelah kedua sahabat gilanya itu meninggalkan rumahnya sejak sejam yang lalu karena usiran darinya, barulah Kayla bisa bersiap. Bayangkan saja kedua sahabatnya itu berencana ingin menginap dan menghancurkan kamar Kayla, tentu saja gadis itu menolak. "Oke Kayla, jangan mewek lagi. Malam ini lo bakal ketemu sama calon mertua pria dari pasangan lo," ucap Kayla menatap pantulan dirinya di cermin. Jujur saja Kayla agak sedikit nervous, apakah Kayla akan diterima nantinya sama seperti Bella menerima dirinya? atau malah sebaliknya. Memikirkan hal itu membuat Kayla berkeringat dingin, padahal hanya perkenalan biasa kenapa bisa segugup ini. Suara deruman mobil yang memasuki pekarangan rumahnya membuat Kayla kembali mengecek penampilannya, setelah itu mengambil slingbag miliknya. Rey pasti sudah menunggunya. Dengan terburu-buru Kayla turun dari tangga rumahnya, berjalan cepat memasuki mobil Rey yang sudah bertengger manis di depan pintu rumahnya. "Lama gak?" tanya Kayla setelah masuk ke dalam mobil. Rey yang menatap Kayla sejak gadis itu mengunci rumahnya hanya tersenyum lembut. "Gak kok, baru juga nyampe," jawabnya. "Cantik banget si, padahal cuma mau ketemu biasa," kekeh Rey mencubit gemas pipi Kayla. Kayla memang terlihat sangat cantik malam ini ditambah memakai dress walaupun biasanya gadis itu memang cantik tapi jika memakai dress seperti ini seperti menambah kecantikan gadis itu. "Ngegombal mulu, buru jalan entar kemaleman," ucap Kayla mencoba menutupi rasa malunya, pipinya memanas mendengar pujian Rey untuknya. Rey menjalankan mobilnya, sebenarnya sebelum menjemput Kayla. Laki-laki itu dari habis Ashar sudah pergi keluar mengunjungi omanya yang berada di Bekasi karena permintaan omanya. Untungnya dia bisa tepat waktu menjemput Kayla, perlu beberapa alasan ekstra ketika meminta izin pulang kepada omanya. Omanya itu memang sangat menyayanginya bahkan tidak ingin jauh-jauh dari Rey.  "Kean, papah kamu gimana orangnya? Gak makan orang kan?" tanya Kayla asal membuat Rey terkekeh mendengarnya. "Ya gak lah, yakali papah aku makan manusia. Kanibal dong," ucap Rey tertawa membuat Kayla mengerucutkan bibirnya. "Dih kali aja, ini serius aku nerveous tau. Padahal sama mamah kemaren gak kayak gini," ucap Kayla kelewat jujur, gadis itu sambil memainkan tangannya dengan gugup. Rey hanya terkekeh geli, lalu laki-laki itu mengusap kepala gadisnya dengan lembut. "Papah orangnya baik, La. Dia gak bakal gigit kamu dan bikin kamu mati di tempat," ucapnya. Kayla yang mendengar melirik sinis Rey dari sudut matanya, laki-laki itu tidak mengerti seberapa gugupnya Kayla sekarang. Ingin rasanya Kayla menendang laki-laki itu keluar dari mobilnya sendiri. "Nyebelin banget sih," ketus Kayla. "Ya lagian, kamu gak cocok segala. Masa tampang preman sekolah gugup cuma ketemu sama camer," ejek Rey lalu membelokkan mobilnya memasuki rumahnya. Tanpa Kayla sadari bahwa mereka berdua sudah sampai di kediaman kelularga Maheswara karena sibuk berdebat. "Kamu ngatain aku preman gitu?!" Kayla melototkan matanya kearah Rey yang sudah melepas sabuk pengamannya. Rey menarik hidung gadisnya itu pelan, "Kan emang bener, yaudah ayo turun. Kita udah nyampe," ucap Rey mengusap pipi Kayla lembut. Kayla mengedarkan matanya ke depan, dia baru menyadari jika dirinya sudah sampai. Mau tak mau rasa gugup itu kembali menyerang diri. "Kean, gugup," Kayla menatap Rey dengan wajah tegangnya yang malah terlihat lucu dimata Rey. Rey segera membawa Kayla turun dari mobilnya, mereka harus segera masuk akrena kemungkinan kedua orang tuanya sudah menunggu di dalam rumah. Sudah berapa kali Kayla harus mengatur nafasnya, jantungnya berdetak cepat. Setelah asisten rumah tangga di rumah Rey memberitahu keduanya bahwa orang tua Rey ada di meja makan membuat Rey langsung membawa gadis itu ke arah meja makan. Namun langkah keduanya terhenti saat melihat meja makan bukan hanya ada orang tua Rey melainkan ada tamu juga disana. Semua orang yang berada di meja makan menoleh kearah keduanya. Rey sendiri terpaku di tempatnya berdiri. Tangannya yang menggenggam tangan milik Kayla makin erat, tiba-tiba saja perasaannya tidak enak melihat pemandangan di depannya. Ditambah dia sedang membawa Kayla sekarang. Bella sendiri membulatkan matanya saat melihat anaknya datang bersama kekasihnya, padahal suaminya sudah membawa sahabat lamanya ke rumah bersama anak dan istrinya. Bella tidak tau jika Rey kembali dari rumah omanya membawa Kayla ke rumah. Kayla menatap Rey di sebelahnya yang diam tak bergerak sama sekali membuat Kayla semakin bingung. "Nah itu dia Rey, sini Rey!" Panggilan Arlan tentu saja membuat Rey makin diam tidak bergerak sama sekali, papahnya tidak memberitau apapun tentang kedatangan sahabatnya itu kepadanya. "Kean, kamu dipanggil tuh," celetuk Kayla menggerakan tangan Rey. Rey menatap Kayla dengan sorot mata lembut, "Ayo kita pergi aja," ajak Rey segera membalikkan badannya bersiap pergi bersama Kayla sebelum suara Arlan kembali terdengar. "Rey mau kemana kamu? Kemari!" Suara tegas milik Arlan membuat Kayla menyadari bahwa jika Rey pergi akan ada masalah yang akan datang.  "Nanti aja, kamu dipanggil tuh. Ayo kesana aja," ucap Kayla lembut. Rey menatap Kayla, dia yakin pasti ada yang tidak beres setelah ini. Pandangan matanya jatuh di mata abu gelap milik gadis itu. Mau tidak mau Rey menuruti perintah Kayla, laki-laki itu membawa Kayla ikut bersamanya duduk di kursi makan. Kayla sempat melemparkan senyumnya kearah Bella yang dibalas senyuman kaku Bella, Bella hanya merasa Kayla datang disaat yang tidak tepat. "Pah, aku baw---" "Rey kenalin ini sahabat papah namanya om Degta terus itu istrinya tante Diana. Mereka calon mertua kamu dan ini Audrey calon istri kamu," DEG! Tiba-tiba saja Kayla menatap Arlan, papah Rey yang baru saja melontarkan kalimat yang mampu membuat hati Kayla merasa tertikam. "Apa-apaan sih pah, aku kan udah bilang kemarin aku gak mau!" penolakan keras Rey membuat Arlan menatapnya dengan tajam, "Audrey ini anak om, Rey namanya," ucap Arlan seolah tak peduli dengan penolakan anak tunggalnya itu. Audrey, gadis yang terlihat cantik dengan wajah anggunnya tersenyum menatap Rey dan Kayla bergantian. Sebenarnya gadis itu sempat bingung melihat Kayla bisa bersama calon suaminya. "Audrey," ucapnya memperkenalkan diri. Rey hanya menatapnya dingin sedangkan Kayla hanya terdiam mencerna semuanya. "Jadi malam ini adalah malam pertemuan dua keluarga membahas pernikahan kalian setelah Ujian Nasional Rey dan Audrey selesai yang berarti bulan depan," ucap Arlan membuka pembicaraan maalm ini. Kayla terpaku di tempatnya saat mendengar pembahasan Arlan, rasanya sesuatu menusuk hatinya dengan kuat. Kayla menggigit bibir bawahnya menahan air matanya yang mendesak keluar, gadis itu berusaha kuat dengan mengepalkan tangannya. Rey yang mendengar pun terkejut, dia tidak diberitau sama sekali bahkan Arlan mengangkat pembicaraan ini tepat ketika Rey membawa kekasihnya untuk mengenalkannya kepada Arlan. Rey menatap Kayla dengan cepat. Rey bisa melihat Kayla yang terdiam menunduk tanpa berbicara sepatah kata pun. "Oh iya kamu siapa? teman Rey ya?" Arlan menatap kearah Kayla dengan santai, diam-diam sudut bibir pria itu tertarik. Arlan tau bahwa Rey akan mengenalkannya kepada kekasihnya, dibanding itu semua Arlan tidak peduli. Dia memandang rendah kearah Kayla, gadis yang dicintai anaknya itu. Kayla tidak cocok disandingkan bersama Rey, mereka terlalu berbeda. "Pah! dia it--" "Kayla om, iya saya temennya Rey," Jawaban Kayla tentu saja membuat Rey menatap gadis itu tak percaya, apa maksud kekasihnya itu mengiyakan pertanyaan Arlan.  "Ah salam kenal Kayla, tapi bisa kamu pulang dulu. Om harus membicarakan pernikahan Rey bersama calon keluarga barunya malam ini," usir Arlan secara halus. Bella yang mendengar pun tidak menayngka jika suaminya bisa bertindak sekejam ini, Bella yakin Arlan pasti tau bahwa Kayla adalah pacar anak mereka tapi mengapa tindakan Arlan bisa sekejam itu.  Jika pun Arlan tidak menyetujui hubungan Rey dan Kayla seharusnya Arlan tidak membuat hal seperti ini yang bisa saja melukai hati Kayla. Kayla meremas dressnya dengan kuat mendengar pengusiran secara halus Arlan kepadanya, Kayla dapat menyimpulkan bahwa Arlan tidak menerimanya disini bahkan sebelum Rey memperkenalkan dirinya sebagai kekasih laki-laki itu. "Baik om, maaf saya datang tidak di waktu yang tepat, maafkan saya," ucap Kayla berdiri dari kursinya, sontak saja Rey langsung menggenggam tangan gadis itu. Rey menatap mata abu gelap itu yang menatapnya dengan sendu, Rey menggelengkan kepalanya pelan berusaha agar Kayla mengerti bahwa Rey tidak ingin Kayla pergi darisana. Namun, Kayla hanya tersenyum lembut. "Pamit pulang ya," ucap Kayla menatap Rey, suara gadis itu dapat Rey dengar tercekat seperti menahan tangis. Rey semakin kuat menggenggam tangan gadis itu, Rey tidak bisa membiarkan Kayla menangis karena dirinya sendiri. Kayla segera melepaskan tangan Rey dari tangan miliknya dan berlalu pergi setelah tersenyum kepada semuanya. Rey yang ingin mengejar pun ditahan oleh Arlan dengan intruksinya membuat Rey hanya bisa menatap punggung kecil itu yang pergi meninggalkan ruang makan dengan tergesa-gesa. "Pah!" sentak Rey, "Aku udah bilang aku gak mau nikah sama dia!" lanjutnya menunjuk Audrey yang terpaku. Degta dan Diana pun memandang Rey dengan heran, tingkah laki-laki itu betul-betul menolak perjodohan ini dengan tegas.  "Jangan dengarkan dia, kita lanjutkan pembahasan kita. Jadi bagaimana?" tanya Arlan melihat kearah Degta. Degta yang tadi menatap kearah Rey kini beralih ke Arlan, "Aku dan istriku sudah menyusun konsep pernikahan mereka, kami memilih ballroom hotel kami untuk acara. Apa tidak masalah?" tanyanya, "Menurutku itu bagus sekali, bukankah ballroom hotelmu selalu menjadi tempat acara besar," kekeh Arlan. Degta hanya tersenyum, "Tidak sebesar ballroom hotel milikmu, jadi tidak usah membesar-besarkan seperti itu," ucap Degta. Pembahasan itu terus berlanjut walaupun Rey menatap dingin semuanya, laki-laki itu mengeluarkan aura tidak mengenakkan yang dapat dirasakan Audrey. Gadis itu terus melirik kearah Rey. Sebenarnya Audrey juga sempat menolak perjodohan ini namun hasilnya nihil, janji Degta dan Arlan seperti tali yang terikat mati. Sangat sulit untuk menghentikannya. Malam itu menjadi malam yang panjang untuk pembahasan acara perjodohan Rey dan Audrey, bahkan Rey terus menerus menghubungi Kayla selama obrolan itu berlanjut. Tentu saja Rey merasa gelisah setengah mati. Dia sangat mengkhawatirkan kekasihnya itu dibanding mendengarkan obrolan sialan seperti ini, namun sayangnya ponsel gadis itu tidak aktif sama sekali membuat Rey tentu saja kalut. Rey yakin, gadis kecilnya itu pasti merasakan luka yang besar mendengar hal ini semua secara langsung. Rey memejamkan matanya, dia benar-benar merasa bersalah sekarang. Hubungan mereka yang selalu tenang harus diterjang badai secara mendadak seperti ini. Rey takut, takut jika Kayla pergi meninggalkan dirinya nantinya.  Rey sudah terlalu jatuh dengan Kayla, hanya Kayla yang diinginkan Rey bukan gadis lain. Jika Kayla terluka maka itu sama saja menyakiti Rey secara tidak langsung, Rey merasakan perasaan Kayla yang mungkin saja saat ini tidak dalam keadaan baik-baik saja *****        Malam semakin larut tapi Kayla masih betah berlama-lama di taman tempat favorit yang selalu dia kunjungi disaat hatinya merasa tidak tenang atau sedih. Gadis itu menatap langit yang tidak memiliki bintang sama sekali. Angin yang sedikit kuat dapat Kayla rasakan karena dressnya berlengan pendek, membawa jaket pun Kayla tidak jadi dia membiarkannya saja. Sepertinya hujan akan turun, itulah sebabnya kenapa bintang tidak muncul di langit. Setelah menerima pengusiran halus dari Arlan, membuat Kayla pergi entah kemana dengan air mata yang mengalir. Gadis itu kembali menangis untuk kesekian kalinya. Lagi-lagi karena pengkhianatan dan kecewa yang membuat dirinya menangis seperti ini, setelah Kenrick papahnya yang berulah kini seseorang yang dia kira tepat untuknya juga menyakitinya secara tidak langsung. Luka di hatinya kembali menganga lebar ketika Kayla berusaha menyembuhkannya namun malah ada luka baru yang kembali muncul membuat luka sebelumnya semakin membesar di hatinya. Rasanya Kayla memang benar-benar hancur sekarang. Seperti semuanya sudah kompak untuk menyakitinya dengan bermain secara lembut, Kayla kira tidak akan pernah merasakan hal seperti ini di hidupnya karena Kayla yakin dia sudah bersama keluarga yang hangat dan kekasih yang tepat. Ternyata itu tidak lebih dari sekadar keinginannya semata, Tuhan punya takdir cerita yang harus dia jalankan.  "Kenapa gak bisa berhenti si?" lirih Kayla mengusap air matanya dengan kasar. Air mata itu terus saja mengalir padahal sudah dua jam lebih gadis itu duduk di taman tapi air matanya tidak mau berhenti sama sekali, sesakit itu kah hingga air mata dirinya pun tidak ingin berhenti mengeluarkan rasa sakitnya. Kayla sempat berharap bunda, papah, atau A'anya menghubunginya sekarang tapi itu hanya harapan karena tidak ada satu pun panggilan atau pesan yang masuk dari keluarganya itu. Hanya dari Rey yang terus-menerus memenuhi notifikasinya. Laki-laki itu tidak pernah berhenti menghubungi tapi Kayla tidak punya keinginan sama sekali untuk mengangkatnya. Kayla benar-benar sudah di titik rasa lelahnya, lelah akan semuanya yang terjadi. Rasa sakit itu datang bertubi-tubi yang perlahan membunuhnya dengan rasa sesak yang tak terkira. Jika dari awal Tuhan memang tidak menginginkannya bahagia, seharusnya Tuhan tidak harus memberikannya keluarga dan kekasih yang begitu membuatnya terlalu bergantung. Kini ketika Tuhan mulai membuat alurnya sendiri, Kayla yang belum siap pun hanya bisa pasrah menerima semuanya. Rasanya Kayla bisa saja mengakhiri hidupnya sekarang, tapi dia masih punya otak yang sehat jika melakukan itu. Bunuh diri tidak akan pernah bisa menghilangkan rasa sakitnya, itu pikirnya. "Kayla!" Suara berat seseorang membuat Kayla menoleh. Arkan yang baru saja membeli nasi goreng di dekat taman sekitar sini tak sengaja menemukan seorang gadis yang duduk di taman seorang diri, yang menjadi masalahnya waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam tapi gadis itu masih duduk santai di taman. Arkan yang pemberani saja tidak akan mau duduk di kursi taman yang sepi ini seorang diri saat malam hari, bisa saja dia menemuka hal-hal aneh nantinya. "Lo ngapain disini, udah malem woi, balik sana!" perintah Arkan tapi Kayla masih diam di tempatnya. Gadis itu hanya menatap sebentar Arkan lalu kembali menatap ke depan. Arkan yang melihat wajah sembap gadis itu dengan mata yang bengkak luar biasa membuat Arkan bertanya-tanya apa gadis itu sedang ada masalah? "Lo lagi ada masalah? mata lo bengkak banget, La. Berhenti nangis," ucap Arkan yang akhirnya duduk di sebelah Kayla. "Rey mana? Kenapa dia biarin lo keliaran pas tengah malem begini? Atau jangan-jangan lo gak ngasih tau dia ya!" tuduh Arkan dengan heboh. Namun Kayla masih diam tak menyahut, gadis itu lebih asik dengan dunianya dibandingkan menanggapi pertanyaan demi pertanyaan dari Arkan. "Duh berasa ngomong ama patung pancoran gue njir," gerutu Arkan kesal melihat tidak ada sahutan dari lawan bicaranya. Kayla yang merasa mulai terusik memilih segera beranjak dari tempatnya, meninggalkan Arkan seorang diri disana dengan wajah melongo tak percaya. "Anjir gue ditinggal!" ucapnya histeris.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN