BAB [16]

1572 Kata
Aku seperti terombang-ambing di dalam kesakitan yang kalian berikan padaku, rasanya lelah dan letih bukan lagi kalimat yang bisa aku utarakan untuk segala rasa sakitku ini." - Rekayla - ***** MATA Kayla mengerjap pelan saat sinar matahari masuk ke dalam kamarnya, dia sudah tertidur cukup lama dan berhasil dengan telat ke sekolah. Saat Kayla melirik kearah jam dinding miliknya, waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 pagi. Kayla sempat bingung ketika bunda atau A'anya tidak membangunkannya pagi ini, biasanya kedua orang itu akan sibuk menggendor pintu atau berteriak seperti tarzan ketika memanggil Kayla tapi sekarang Kayla dibiarkan tidur kesiangan seperti ini. Kayla bangkit dari kasurnya dan menuju kamar mandi untuk cuci muka terlebih dahulu baru turun ke bawah untuk menemui semuanya. Mata Kayla menangkap meja makan yang tersedia sarapan namun tidak ada siapapun disana selain orang asing yang membersihkan dapur. "Siapa?" Tanya Kayla mendekati orang tersebut. Orang yang merasa dirinya terpanggil berbalik, wanita paruh baya yang belum terlalu tua menatapnya dengan menunduk sedikit lalu tersenyum menyambut. "Pagi nona muda, saya pembantu baru disini yang dipekerjakan oleh nyonya Liana, nama saya Bi Lami," ucapnya sopan membuat Kayla terperangah. Sejak kapan bundanya mau susah-susah memesan asisten rumah tangga ketika dia bisa mengerjakan sendiri dengan Kayla. "Sejak kapan?" Tanya Kayla lagi yang masih bingung, " Baru hari ini nona, nona mau sarapan? Bibi bisa menyiapkannya sekarang," ucap Bi Lami. Kayla menggeleng pelan, "Gak usah bi, aku bisa nyiapin sendiri. Bunda sama A'a bibi tau kemana?" Tanya Kayla duduk di kursi yang kosong. "Oh nyonya berangkat pagi-pagi sekali nona, nyonya bilang ada urusan diluar kota dan baru pulang lusa sedangkan tuan muda belum pulang sejak kemarin karena menginap di rumah temannya," ucap Bi Lami menjelaskan. Tentang Aideen, Bi Lami diberitahukan oleh Liana sebelum berangkat ke bandara tadi pagi. Kayla yang mendengarnya hanya diam, tangannya mengoles selai ke dalam roti dengan pelan. Sudah Kayla duga bahwa tidak akan ada lagi sarapan pagi bersama. Nafsu makan Kayla tiba-tiba saja hilang saat memikirkan keluarganya yang berubah, dia segera menghentikan aktivitasnya lalu pamit pergi masuk ke dalam kamarnya. Kayla menatap ponselnya yang tergeletak di atas nakas, sejak pulang dari taman Kayla tidak lagi memperhatikan ponselnya. Ada ratusan panggilan dari Rey di layar ponselnya dan juga puluhan sms dari Rey membuat Kayla menghela nafas, sejak kemarin malam suasana hati Kayla memang kurang baik bahkan dikatakan sudah tidak baik. Kayla segera menuju kamar mandinya, membersihkan diri dan kembali lanjut beristirahat itu adalah agenda yang akan dia lakukan hari ini. Kayla bukan tipe gadis yang pemalas, tapi karena permasalahan yang terus datang menghampirinya membuat gadis itu sangat lelah dan perlu istirahat yang banyak. Dia juga perlu mengistirahatkan matanya yang sangat bengkak itu karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. ***** Rey menatap layar ponselnya berulang kali, padahal sekarang kelasnya sedang membahas soal-soal Ujian Nasional tahun lalu tapi fokus laki-laki itu lebih mengarah ke ponselnya. Berharap Kayla membalas pesan atau mengangkat teleponnya. Tapi itu hanya harapan, ketika laki-laki itu tau bahwa Kayla tidak masuk sekolah. Dia makin gencar menghubungi tapi tidak ada satu pun panggilan yang diterima, hanya dibiarkan masuk begitu saja tanpa ada yang mengangkat. "Sial," gumam Rey pelan dan melempar ponselnya ke laci meja dengan kasar. Rey kembali mencoba memperhatikan guru yang menerangkan pembahasan, sesekali melirik jam dinding. Bersyukurnya hari ini kelas 12 dapat pulang lebih cepat karena guru-guru ingin rapat membahas masalah Ujian Nasional. Sejak tadi malam pikiran Rey kalut, dia tidak bisa tenang sedikit pun. Kepalanya selalu memikirkan Kayla, dia sangat-sangat khawatir. "Kenapa lo?" tanya teman sebangku Rey yang melihat Rey sejak tadi gelisah. Rey menggeleng pelan sebagai jawaban. "Mikirin Kayla? Oh iya gue lupa ngasih tau, tadi gue sempet denger kalo Kayla katanya izin gak masuk sekolah hari ini," ucapnya membuat Rey menoleh. "Darimana?" tanya Rey. Laki-laki di hadapan Rey mengernyitkan dahinya bingung, "Apa yang darimana?" tanyanya balik. Rey menghela nafas, "Info," ucap Rey. "Info? oh maksud lo berita Kayla sakit? tadi si Aster heboh depan kelas dia. Teriak-teriak cari Letta terus bilang kalo Kayla izin," jawab laki-laki itu, tertulis di name tag nya Arya Wirawan. Rey terdiam, dia mencoba mencerna keadaan. Sangat jarang Kayla izin sakit seperti ini. Rey segera berdiri dari bangku nya, tak mengindahkan panggilan Arya padanya. Dia hanya ingin menemui Letta dan Aster untuk mencari tau kemana keberadaan gadisnya yang tak memberi kabar apapun kepadanya. Rey tau dia salah, dia tidak memberitahu apapun kepada Kayla tentang perjodohan dirinya bahkan bisa dibilang Kayla seperti orang bodoh saat datang ke rumah Rey kemarin. Rey hanya ingin menjelaskan semuanya kepada Kayla dan tidak ingin membuat gadis itu percaya bahwa dirinya hanya mencintai Kayla saja. "Aster!" Rey memanggil Aster yang asyik bercerita dengan Letta di koridor depan kelas mereka, kedua gadis itu seperti nampak serius membahas sesuatu. Mata Aster yang tadi menyimak pembicaraan Letta harus terhenti dan menemukan sosok Rey yang menghampiri dirinya dan Letta. "Letta ke dalam aja deh ya, Ter. Letta ada tugas yang belum disalin," ucap Letta saat matanya menemukan sosok Rey yang berjalan kearah mereka. Letta hanya takut tidak bisa mengontrol mulutnya jika Rey bertanya masalah Kayla, gadis itu sudah berjanji untuk menyimpan rahasia. Aster mengangguk, membiarkan sahabatnya itu masuk ke dalam kelas mereka. Aster menatap Rey yang sudah berdiri di hadapannya dengan raut datar. "Apaan? Lo cuma punya waktu 10 menit dari sekarang, setelah itu gue mau masuk. Mau nyalin tugas lagi," ucap Aster santai sambil melihat jari kukunya. "Kayla kemana?" tanya Rey to the point. Aster sudah menduga bahwa kedatangan Rey kepadanya atau Letta tidak jauh-jauh dari sosok Kayla. Laki-laki itu selalu bertanya masalah gadis itu pada dirinya dan Letta. "Lo kan pacarnya, harusnya tau Kayla kemana. Kenapa jadi nanya gue?" tanya Aster bingung. Rey hanya menghela nafas, "Gue lagi ada masalah, jadi jawab pertanyaan gue," tekan Rey tidak suka berbasa-basi. "Dia izin sakit, gue gak tau lagi. Bunda dia cuma ngabarin gitu doang ke gue, Kayla gak ada ngechat gue apapun. Cuma bundanya aja yang ngasih tau kalo dia gak bisa masuk hari ini," Penjelasan Aster membuat Rey terdiam, jadi Kayla tidak bertukar pesan dengan Aster atau Letta. Gadis itu sebenarnya kemana? Kenapa hanya bundanya yang memberitahu kabar gadis itu. "Kalo ada masalah cepet cari jalan keluar, karena kapan aja permasalahan lo berdua bisa jadi Boomerang buat hubungan lo. Dah gue masuk," ucap Aster menepuk bahu Rey pelan lalu masuk. Rey memikirkan perkataan Aster tentang hubungan dirinya dan Kayla, benar yang dikatakan gadis itu. Bisa saja permasalahan seperti ini akhir kisah mereka. Rey menggeleng, dia tidak membayangkan jika hubungan mereka benar-benar berakhir. Mungkin saja Rey akan benar-benar kehilangan gadis itu. Rey diberikan kepercayaan dari Kayla untuknya harusnya Rey bisa menjaganya dengan baik, bukan menghancurkan kepercayaan gadis itu. ***** Kayla memasuki Cafe langganannya, karena dia yang tidak sekolah hari ini membuatnya merasa bosan di rumah. Gadis itu memilih ke Cafe langganannya sekadar duduk sambil memesan minuman kesukaannya. Tatapan matanya hanya fokus kearah luar jendela, menikmati kesendiriannya tanpa gangguan siapapun. Semuanya sudah terasa berbeda, biasanya dia lebih ingin menghabiskan waktu dirumah jika tidak sekolah seperti ini. Membantu Liana membuat apapun yang bisa menambah ilmu dalam memasaknya. Tapi kali ini Bundanya sudah mulai bekerja, kembali menjadi wanita karier sebelum bertemu papah nya. Perjalanan bisnis pun baru saja dimulai, ini baru pertama dan Kayla yakin bahwa akan ada perjalanan bisnis selanjutnya yang akan Liana lakukan. Tidak menutup kemungkinan kebersamaan Kayla dan keluarganya akan sangat menipis, tidak akan semangat dulu lagi. Kenrick juga akan membawa keluarga barunya pergi untuk bertanggung jawab atas perbuatannya walaupun sang papah akan terus membiayai kehidupannya dari jarak jauh. Kayla tau, bukan hanya Kayla yang menderita disini tapi semuanya juga menderita. Apalagi Aideen yang harus siap menggantikan posisi Kenrick nantinya, melindungi dua perempuan yang Aideen sayangi. Kayla terkekeh, kenapa takdirnya selucu ini? Tring! Tring! Suara lonceng pertanda pelanggan baru yang masuk membuat Kayla menoleh sebentar, dia dapat melihat seorang laki-laki mungkin sepantaran dengan dirinya masuk ke dalam Cafe. Laki-laki itu mengedarkan tatapannya ke seluruh ruangan mencari tempat kosong, sampai mata keduanya bertemu. Laki-laki itu melangkah mendekati meja Kayla yang memiliki kursi kosong satu. "Gue boleh duduk disini?" tanyanya membuat Kayla yang menatapnya mengangguk tanpa berpikir lama. Lagipula Kayla sebentar lagi akan pergi, entah kenapa Cafe se siang ini sudah ramai pelanggan membuat tempat duduk terisi penuh dengan sendirinya. "Elang Radigta," Sebuah tangan terukur kearah Kayla yang sedang meminum Coffe miliknya, gadis itu melirik kearah laki-laki yang tersenyum ramah kearahnya. Kayla segera membalas uluran tangan itu, dia tidak ingin tangan laki-laki itu lelah terangkat. "Kayla Abitha Artharinus," ucap Kayla tersenyum tipis, tidak enak rasanya jika tidak membalas senyuman laki-laki ramah di depannya ini. Elang segera melepas tangan mereka, "Widih panjang juga nama lo, gimana pas Ujian Nasional? Cukup kaga kolomnya?" kekeh laki-laki itu mencoba menyingkirkan rasa canggung mereka. "Ya kaga lah," jawab Kayla ketus membuat Elang terkekeh mendengarnya. Kayla kira Elang adalah laki-laki yang ramah dengan auranya yang mempesona, ternyata jauh sekali dari ekspetasinya. Laki-laki itu sama saja bobroknya dengan teman-teman Rey. "Lo bolos ya?" Elang memicingkan matanya menatap Kayla membuat Kayla mendesah kasar. "Lo kali yang bolos, noh masih pake seragam ditutup jaket. Gue gak yakin jam segini sekolah lo udah pulang," balas Kayla dengan emosi sambil menatap sinis lawannya. Elang menggeleng kepalanya dengan cepat, "Ye enak aja, guru sekolah gue ada rapat buat Ujian Nasional kelas XII. By the way, lo kelas berapa?" tanya Elang. "Masih kelas X," jawab Kayla seadanya, dia sedang menikmati pesanan miliknya. Elang membulatkan mata tak percaya, dia pikir gadis di depannya sudah kelas XI sama seperti dirinya, ternyata dia adik kelas. "Anjir gue kira lo kelas XI, k*****t emang. Berarti lo adik kelas gue lah, panggil gue kakak," ucap Elang dengan senyum pedenya. Kayla hanya menggeleng heran, dia baru saja bertemu spesies makhluk tidak waras seperti Elang. Daripada berlama-lama lebih baik dia segera pergi dari tempatnya, ada hal yang harus dia urus kembali. "Weh mau kemana?" tanya Elang melihat Kayla yang beranjak dari kursinya. "Mau bunuh lo!" Jawaban Kayla membuat Elang melongo, dia menatap kepergian Kayla yang keluar dari pintu Cafe. Perlahan senyum di bibirnya terangkat, gadis itu menarik perhatiannya. Bahkan keketusan gadis itu tidak membuat Elang takut untuk menggodanya. "Lucu,"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN