"Sebenarnya kita ini seperti apa? Dulu pernah saling mendekat, saling mencoba melengkapi. Tapi mengapa mulai detik ini, jarak semakin membentang seperti tak ada celah untuk kita bisa menggenggam erat?"
- Rekayla -
*****
REY memarkirkan mobilnya tepat di depan rumah Kayla, setelah pulang sekolah laki-laki itu memilih segera bertemu dengan Kayla. Rasanya sesak jika keduanya tidak bersama barang sedikit pun.
Rey sedikit heran saat rumah itu terlihat sangat sepi padahal waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore. Sebenarnya sekolah sudah memulangkan murid kelas XII lebih awal tapi karena kendala pelajaran tambahan mau tidak mau Rey harus mengikutinya demi kesuksesan ujiannya nanti.
Rey segera melangkahkan kakinya ke depan pintu utama, menunggu seseorang membukakan pintu untuknya setelah menekan bel rumah.
Ceklek
Pintu itu terbuka, mata Rey menangkap tubuh mungil kekasihnya yang sedang menggenggam tumpukan buku di kedua tangannya. Kayla pun sedikit terkejut melihat Rey yang datang tanpa memberitahu sama sekali kepadanya.
BRUK!
Buku-buku itu terjatuh ketika Rey dengan cepat memeluk Kayla tanpa peduli dengan apa yang dibawa Kayla.
"Maaf," lirih Rey memeluk erat kekasihnya itu, memejamkan mata sambil menikmati aroma tubuh gadisnya.
Kayla hanya menghela nafas, Rey tidak salah disini dan seharusnya Kayla juga tidak marah dengannya.
Kayla balas memeluk laki-lakinya itu dengan sabar, "Gapapa, aku ngerti," balas Kayla tersenyum lembut walaupun Rey tidak melihatnya.
"Jangan pergi dari aku," pinta Rey membuat Kayla terkekeh, "Siapa yang pergi si? Aku disini aja, udah ah sana. Kamu buat buku-buku aku jatuh tau," ucap Kayla melepaskan pelukan keduanya.
Rey menatap dalam mata Kayla, laki-laki itu benar-benar sudah jatuh kepada Kayla. Rasanya tidak bisa menjauhi gadisnya barang sedetik pun.
"Kamu tunggu di ruang keluarga aja, aku taruh buku-buku ini dulu," ucap Kayla memungut kembali buku-bukunya yang jatuh berserakan.
Rey dengan cepat membantu, tak mau kekasihnya mengerjakannya sendirian.
"Mau dibawa kemana?" Tanya Rey, "Mau aku taruh di kamar," jawab Kayla membawa bukunya menuju ke kamar diikuti Rey di belakangnya.
Ini pertama kalinya Rey memasuki kamar seorang perempuan terlebih itu milik pacarnya sendiri. Ada rasa canggung namun Rey menepisnya karena dia hanya ingin membantu kekasihnya saja untuk membawakan buku, bukan untuk apa-apa.
"Orang rumah pada kemana? tumben sepi? biasanya kan ada bunda sama A'a kamu jam segini,"
Rey sudah terlalu sering ke rumah Kayla hingga menghafal pada jam-jam tertentu keluarga ini berkumpul. Kayla sempat terdiam, ingin berkata sejujurnya namun merasa ini belum saatnya. Gadis itu memilih hanya menggeleng pelan.
"Mereka lagi pergi, A'a belum pulang dari rumah temennya nginep semalam," jawab Kayla seadanya lalu menaruh buku-bukunya diatas meja.
Dia sempat tersenyum saat mengambil buku dari tangan milik Rey.
"Kamu ngapain kesini? Kenapa gak pulang siapin buat ujian Minggu depan? Malah kesini lagi," ucap Kayla turun ke bawah bersama Rey.
Rey hanya menggeleng, "Aku khawatir sama kamu, katanya kamu sakit ada bunda ngasih tau sahabat kamu," ucapnya membuat Kayla tersenyum kecut.
Liana memberitahu kepada sahabatnya bahwa dirinya sakit, padahal kenyataannya gadis itu sehat fisik hanya batinnya saja perlu disembuhkan karena terluka terlalu dalam.
"Sayang," panggil Rey membuyarkan lamunan Kayla, "Eh iya apa?" Tanya Kayla.
"Kamu kenapa? Cerita sama aku," ucap Rey mengusap pipi Kayla dengan lembut.
Kayla menggeleng pelan dan membawa Rey ke ruang keluarga, menyiapkan cemilan dan minuman untuk sang kekasih.
Rey sempat menatap pergerakan Kayla dengan lekat, gadisnya seperti menyembunyikan sesuatu kepadanya entah apa itu. Namun, Kayla memilih diam tanpa memberitahu dirinya. Kemungkinan gadis itu belum siap menceritakan kepada Rey.
"Papah kamu---yang kemarin itu aku boleh tau kenapa?" Tanya Kayla hati-hati saat dirinya sudah duduk tenang di sebelah Rey.
Rey segera memeluk gadis itu dari samping sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu. Menghirup aroma gadisnya dengan dalam.
"Papah ngejodohin aku sama anak sahabatnya, aku gak tau malam itu papah udah ngundang mereka ke rumah gak ada ngabarin aku sama sekali," ucap Rey menjelaskan semuanya.
Matanya menatap sendu kulit leher Kayla, ucapan papahnya yang terus mengatakan bahwa setelah dirinya ujian maka akan dilaksanakan pertunangan dan setelah kelulusan akan dilangsungkan pernikahan.
Jujur saja Rey takut, dirinya sangat takut menyakiti Kayla. Gadisnya itu sudah terlalu dalam memasuki hatinya bahkan sudah mengendalikan dirinya sendiri. Rey akan merasa kecewa dengan dirinya sendiri jika Kayla menangis karena dirinya.
Rey tidak ingin itu terjadi, sampai kapan pun hanya Kayla yang berhak menjadi istrinya bukan perempuan lain. Rey hanya ingin memiliki keluarga bersama Kayla nantinya.
Kayla sendiri hanya menghela nafas pelan, belum selesai masalah keluarganya. Kini dia sudah menghadapi masalah dari hubungannya sendiri, semua datang secara bersamaan membuat Kayla merasa tersiksa dalam diamnya.
"Terus kapan acaranya?" Tanya Kayla yang tadi hanya diam mendengarkan.
Rey yang mendengar pertanyaan Kayla sontak saja duduk dengan tegak lalu menatapnya dengan kernyitan dahi tidak suka.
"Aku gak mau, aku cuma mau sama kamu bukan cewek sialan yang dijodohin sama aku," tolak Rey dengan kasarnya membuat Kayla memutar bola matanya malas, "Kasar amat tuh mulut, gitu-gitu juga jadi calon istri kamu kali,"
Kayla mengambil setoples keripik dan memakannya dengan tenang, tak menghiraukan Rey yang menatapnya dengan kesal setengah mati.
"Habis ujian papah ngadain acara pertunangan,"
Kayla berhenti mengunyah saat mendengar perkataan Rey, hatinya tercubit mendengar semuanya. Sebegitu cepatnya kah papah Rey mempersiapkan semuanya bahkan Kayla tidak tau alasan papah Rey tidak menginginkan dirinya sama sekali.
"Aku udah nolak tapi papah tetap sama keputusannya, sedangkan mamah juga udah mati-matian bantuin aku tapi sama aja hasilnya," ucap Rey frustasi.
Kayla mengusap punggung tangan Rey pelan, memberikan kekuatan kepada laki-laki itu. Dirinya tersenyum lembut, dia ingin berjuang untuk hubungannya tapi bagaimana?
"Aku bakal usaha perjuangin hubungan kita apapun keadaannya, aku gak mau sama dia sayang," lirih Rey menatapnya dengan sendu.
Suara laki-laki itu bahkan bergetar karena ketakutan terbesarnya yaitu kehilangan Kayla.
"Kita bisa kok, aku bakal bantu kamu. Papah kamu pasti luluh nantinya kalo liat perjuangan kita, percaya sama aku," ucap Kayla meyakinkan.
Rey menatap gadis itu dengan lembut, pancaran keyakinan Kayla terhadapnya membuat Rey menarik Kayla ke dalam pelukannya. Menyalurkan perasaannya sekarang kepada gadis itu.
Rey terus mengecup kepala gadisnya dengan penuh kasih sayang, bahkan rasa Rey terlalu besar untuk Kayla dan bagaimana bisa dia menghancurkan hubungan mereka karena papahnya sendiri tidak merestui.
"Ada satu jalan yang bisa kita lakuin, La," ucap Rey ketika terdiam cukup lama.
Dirinya merenggangkan pelukannya dengan Kayla lalu menatap bola mata gadis itu lagi.
"Apa?" Kayla mengernyitkan dahinya bingung, ketika dirinya mencari jalan keluar tapi Rey sudah mendapatkannya dengan cepat.
"Kita bikin cucu buat orang tua kita," ucap Rey membuat Kayla menahan nafas tak percaya dengan apa yang diucapkan Rey.
Sungguh itu tidak pernah terpikirkan oleh Kayla, karena Kayla tidak akan pernah memikirkan hal seperti itu. Semuanya bisa saja berjalan tidak sesuai dengan yang diinginkan dan dirinya menjadi korban selanjutnya.
"Kamu gila ya Kean?!" suara Kayla sedikit meninggi karena terkejut dengan pemikiran Rey yang jauh dari perkiraan.
Rey menghela nafas frustasi, "Cuma itu yang bisa kita lakuin, sayang. Papah pasti bakal setuju kalo kamu hamil anak aku. Masalah bakalan selesai, kita habis itu nikah," ucap Rey memberikan penjelasan kepada Kayla.
"Kalo pun kita pakai cara lain itu kecil kemungkinan dan papah pasti gak bakal peduli. Percaya sama aku sayang," ucap Rey menggenggam tangan Kayla, menatapnya penuh keyakinan.
Kayla menggeleng pelan, "Gak semudah itu Kean, ini tentang kehormatan aku. Aku gak bisa dengan mudah percaya," balas Kayla dengan lirih.
Kehormatannya dipertaruhkan hanya untuk hubungannya ini, dia tidak bisa melakukannya jika semuanya tidak menjamin bahwa dirinya akan bahagia setelahnya.
Rey mengusap punggung tangan gadis itu, "Aku sayang sama kamu, La. Apapun bisa aku lakuin demi hubungan kita, aku tau ini jalan yang salah tapi cuma ini cara satu-satunya. Aku yang bertanggung jawab sayang, yakin sama aku. Aku mohon kali ini aja," ucap Rey meyakinkannya.
Kayla menatap mata Rey, gurat keyakinan penuh terpancar dari bola mata kekasihnya. Ada raut keinginan yang besar untuk hubungan mereka ke depannya dan Kayla bisa melihat itu semua.
Kayla menghela nafasnya dan mencoba meyakinkan dirinya kembali, jika semua ini tidak menjamin kebahagiaannya nantinya maka Kayla siap untuk pergi jauh dari semuanya, melepas semuanya. Itu yang akan Kayla lakukan.
Kayla mengangguk pelan pada akhirnya membuat Rey tersenyum dan memeluk gadis itu dengan erat.
Rey dengan segera menggendong Kayla menuju kamar gadis itu, biarlah kesalahan besar ini mereka lakukan karena hanya dengan itu hubungan mereka bisa direstui. Rey akan mempertaruhkan semuanya nantinya, laki-laki itu akan benar-benar menjaga Kayla setelah ini.
Tekadnya bulat bahwa hanya Kayla yang bisa memilikinya seutuhnya begitu pun sebaliknya.
*****
Aster menghembuskan nafasnya dengan kasar, hari ini Kayla kembali tidak masuk sekolah. Kemarin dia sudah mencoba menghubungi gadis itu namun tidak aktif sama sekali. Dia sudah berencana untuk ke rumah gadis itu bersama Letta namun tidak memungkinkan.
Dirinya yang sudah ada janji menjaga butik mamahnya dan Letta yang harus les tambahan yang tidak bisa ditinggalkan sama sekali membuat keduanya tidak bisa ke rumah Kayla.
"Kayla kapan masuk sekolah?" Tanya Letta dengan cemberut, dia sudah lelah menatap kearah pintu bersama Aster sedaritadi. Namun batang hidung milik Kayla sama sekali tidak terlihat.
"Sakit apa sih tuh anak tumben juga bisa sakit, biasanya juga maksain diri sekolah kalo gak dimarahin dulu," ketus Aster kesal.
"Apa ini sakitnya agak parah ya sampe Kayla gak bisa masuk tapi tadi Letta lihat si Rey juga gak nampak batang idungnya," ucap Letta.
"Serius lo?" Tanya Aster tak percaya, pasangan itu seperti janjian untuk tidak masuk sekolah bersama.
Letta mengangguk mengiyakan, "Iya tadi Arkan nanyain Kayla sama Letta terus Letta bilang gak masuk terus kata dia sama dong kayak Rey gitu,"
Aster hanya mendengus, dua sejoli itu memang akan dia habisi setelah ini. Secuek dan seberantakannya Aster, gadis itu selalu khawatir jika sahabatnya tidak mengabarinya sedikit pun seperti ini. Aster hanya takut Kayla kenapa-kenapa.
Jujur saja semenjak Kayla mengakui masalahnya membuat Aster berusaha menjaga Kayla sebagai saudaranya sendiri karena diantara mereka bertiga, Aster lah yang paling tua dan harus menjaga keduanya dengan baik.
"Yaudah nanti pulang sekolah kita kudu wajib ke rumahnya, bodo amat gak ada lagi nunda-nunda atau gue bakar rumahnya Kayla," celetuk Aster asal dan kembali ke tempat duduknya, meninggalkan Letta yang tercengang mendengarnya.
"Ih Aster mah ganas banget,"
Letta mengerucutkan bibirnya dengan kesal lalu mulai bersiap untuk belajar karena bel sudah berbunyi, membuat keduanya harus menghentikan percakapan mereka.