"Aku menyerahkan segalanya karena aku tidak punya apa-apa lagi yang bisa aku berikan. Tolong, jangan membuat diriku menyesal melakukan semuanya."
~ Rekayla ~
*****
KAYLA menggeliat pelan saat cahaya matahari masuk dari balik jendelanya, menerobos masuk dari gorden yang ditutup rapat. Kayla mengerjapkan matanya pelan, menyesuaikan dengan sekitarnya. Kayla juga merasakan sesuatu yang memeluk dirinya dengan erat dibalik selimut tebal miliknya. Kini mata Kayla dapat melihat kekasihnya yang masih tertidur menghadap dirinya.
Mata Rey masih tertutup rapat dengan deru nafas yang teratur, senyum manis terukir di bibir Kayla saat melihat kekasihnya tertidur dengan nyaman tanpa terusik sedikit pun. Kayla mengingat semuanya yang terjadi kemarin, dia mengingat secara jelas apa yang sudah dia dan Rey lakukan. Dia sudah menyerahkan semuanya untuk Rey, termasuk kehormatannya sendiri demi keinginan Rey kepadanya.
Kayla sendiri bukan tanpa alasan menerimanya, Kayla sudah memikirkannya secara matang. Jika nantinya ini tidak bisa menyelamatkan hubungannya, maka dia akan merelakan dan menjauh dari semuanya. Tekad Kayla sudah bulat, semuanya memang sudah hancur dari awal.
Tangan Kayla terulur mengusap lembut pipi Rey dengan tangannya, menatap laki-laki itu seakan-akan tidak ada hari esok untuk melihatnya. Laki-laki yang sudah meruntuhkan benteng pertahanannya, laki-laki yang rela melakukan apapun demi dirinya dan hubungan mereka walaupun resiko itu sangat besar.
Segelintir rasa sesak saat mengetahui Rey dijodohkan dengan gadis lain oleh keluarga laki-laki itu membuat Kayla merasakan kecewa di hati kecilnya. Seakan-akan Tuhan memang memberikan cobaan terberat untuk dirinya sekarang.
"Morning sayang,"
Suara serak Rey membuyarkan pikiran Kayla saat melihat laki-laki itu mengerjap matanya dengan pelan. Kayla sedikit merinding saat mendengar suara Rey yang begitu berbeda di pendengarannya.
"Ayo bangun, kamu bikin kita gak masuk sekolah hari ini Kean," ucap Kayla dengan pelan lalu berusaha melepas tangan laki-laki itu dari pinggangnya namun Rey tetap memeluknya dengan erat seakan tidak ingin melepaskannya.
Rey kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, "Masih ngantuk," ucapnya membuat Kayla terkekeh, hembusan nafas laki-laki itu terasa di kulit lehernya.
"Kean, ini udah hampir siang. Kita belum makan dan kita harus beresin semuanya sebelum yang lain datang ke rumah," ucap Kayla memberi pengertian.
Entahlah, akhir-akhir ini gadis itu terlihat lebih kalem daripada biasanya. Seperti perbedaan yang jauh dengan Kayla yang dulu.
"Hm, makasih buat kemarin," ucap Rey menatap mata Kayla lalu tersenyum lembut dan mengecup kening gadis itu. "Mungkin ini salah, tapi aku bakalan tanggung jawab sama semuanya," lanjutnya.
"Aku percaya sama kamu," balas Kayla merapikan rambut laki-laki itu yang terlihat berantakan.
Keduanya segera beranjak bangun, Kayla sempat merintih kesakitan saat ingin menuju kamar mandi. Rey yang peka pun membantu gadisnya untuk pergi ke kamar mandi bersama. Setelah selesai, keduanya memilih keluar untuk makan siang di luar.
"Kean, aku takut," ucap Kayla pelan, matanya menatap kosong kearah jalanan di luar jendela mobil. Pikirannya berkelana kesana kemari.
Rey yang sedang sibuk dengan setir mobil menoleh kearah kekasihnya, tangan kirinya terulur untuk mengusap rambut gadis itu pelan.
"Aku disini, kita berjuang bareng-bareng. Aku gak bakal ninggalin kamu, La" ucap Rey tersenyum lembut.
Kayla menoleh kearah Rey, menatap bola mata laki-laki itu. Jujur saja, Kayla sangatlah takut dengan semua yang mereka lakukan, entah kenapa dia baru merasakannya sekarang.
"Aku ngerasa ini salah aja, aku ngerasa nan--"
"Shutt...udah gak usah mikir yang aneh-aneh, semua bakalan baik-baik aja. Aku bakal ngomong ke papah setelah ini," ucap Rey membuat Kayla hanya menghela nafas pelan.
Rey kembali fokus kearah jalanan di depannya, "Mau makan apa?" tanyanya mencoba keluar dari percakapan mereka yang bisa saja membuat keduanya sama-sama takut nantinya.
Kayla memilih menghentikan pikiran anehnya dan mencoba berpikir ingin makan apa hari ini, "Gimana kalo junkfood? aku udah lama gak makan itu," usul Kayla membuat Rey menggeleng tegas.
"Gak ada junkfood sayang, itu gak sehat. Cari lain," tolak Rey mentah-mentah membuat Kayla mengerucutkan bibirnya, "Tapi kamu nanya tadi aku mau makan apa, gimana sih?" ketus Kayla lalu melipat tangannya dengan wajah kesal.
Rey hanya terkekeh melihat kelakuan kekasihnya itu, "Tapi kan bukan junkfood juga, masih banyak makanan lain selain itu. Biasanya juga aku gak ngizinin kan makan kayak gitu, bunda juga bakalan marah kalo tau," ucap Rey memberi pengertian kepada Kayla.
"Tapi kan aku mau junkfood sekarang, lagian gak pernah kok sebelum-sebelumnya makan itu, masa masih gak dibolehin?" tanya Kayla masih mencoba bernegosiasi dengan kekasihnya sendiri.
"Sekali gak tetep gak ya," tolak Rey masih tetap mempertahankan pendapatnya.
Rey tidak ingin Kayla makan-makanan seperti itu yang sebenarnya memang membuat ketagihan, Rey hanya ingin menjaga pola makan Kayla dengan baik. Gadis itu selalu sembarangan memilih makanan jika tidak diatur. Liana pun menitip putrinya itu kepada Rey dan berpesan agar Rey melarang Kayla makan-makanan seperti junkfood.
"Males ah, yaudah pulang aja," ucap Kayla akhirnya malas, selera makan gadis itu tiba-tiba saja hilang.
Rey kelabakan dan langsung mengiyakan permintaan gadis itu dibanding membuat kekasihnya marah karena dirinya.
"Yaudah iya, kita makan junkfood abis ini," ucap Rey akhirnya membuat Kayla tersenyum senang.
Gadis itu langsung memeluk lengan laki-laki itu dengan erat dan tersenyum lembut.
"Sayang deh ama Kean," kekehnya membuat Rey hanya mendengus namun tetap mengecup rambut gadis itu.
Apapun akan Rey lakukan demi kekasihnya itu, asalkan gadisnya bahagia maka dia juga akan merasakan kebahagiaan.
"Besok jangan bolos lagi ya, seminggu lagi kamu ujian. Fokus belajar, aku gak mau tau," ucap Kayla dengan tegas. "Iya-iya sayang, " balas Rey.
*****
Arlan tersenyum sinis melihat laporan dari tangan kanannya, anaknya masih berhubungan dengan perempuan yang tidak disukai Arlan sampai kapan pun itu.
Bukan tanpa sebab Arlan tidak menyetujui hubungan anaknya dan Kayla, orang tua Kayla adalah musuh terbesar Arlan terlebih Kenrick. Dia tidak akan mau membiarkan anaknya berhubungan dengan keluarga yang dia benci itu.
"Papah sudah melarangmu Rey dan kamu masih berusaha melawan dengan cara menjijikan seperti itu. Bodohnya gadis itu mau-mau saja, ini akan membuatnya semakin hancur," ucap Arlan tertawa sinis.
Gerak gerik dari Rey dan Kayla mampu Arlan ketahui karena Arlan sudah menaruh pengawasan yang ketat untuk pasangan itu.
"Lihat saja Kenrick, aku akan menghancurkanmu dengan cara melewati putrimu ini. Ku harap tidak ada penyesalan setelah ini, setelah menyakiti Liana dan menemukan kabar putrimu. Ah, pasti sangat menyenangkan," senyum Arlan mengembang seiring langkahnya yang mendekati dinding kaca ruang kerja miliknya.
"Jika saja kau tidak membuat kesalahan di masa lalu, mungkin aku sangat senang anak kita memiliki hubungan. Namun, semuanya sudah berakhir. Aku akan menyakiti dirimu lewat anakmu," gumamnya.
Arlan kembali meraih ponselnya dan mengetikkan sesuatu kepada suruhannya, semuanya akan berjalan sesuai kendalinya. Rencananya dia akan membuat Rey fokus dengan ujiannya dan perjodohan laki-laki itu tanpa ada waktu lagi bersama Kayla.
Untuk hari ini, dia biarkan pasangan itu menghabiskan waktunya sebelum besok memiliki jarak yang tidak bisa mereka lewati kembali.
"Bersiaplah hancur Kayla,"