"Aku tetap berdiri disini, menunggumu untuk kembali lalu kembali melanjutkan perjuangan kita. Aku berjanji."
- Rekayla -
*****
KAYLA menatap tak percaya dengan dua garis yang ada di tangannya sekarang. Hasil itu tentu saja membuat Kayla merasakan ada beban berat yang akan dia tanggung sebentar lagi.
Di baru saja menyelesaikan ujian untuk kelulusannya, dia siswa terpilih yang berhasil mendapatkan kelulusan pertama di kelas akselerasi lebih cepat dari siapa pun. Lalu setelah itu dia harus mendapatkan kabar bahwa dirinya hamil.
Test Pack yang dia pegang pun rasanya seperti hantaman besar untuknya, tangannya bergetar. Tetesan air mata itu mulai mengalir dari pipinya, harusnya dia bahagia dengan berita ini yang bisa menjadi perjuangannya bersama Rey.
Tapi melihat akhir-akhir ini Rey sulit dihubungi dan jarang bertemu dengannya membuat Kayla merasa ragu dan takut. Dia tidak ingin hal buruk terjadi kepadanya. Bahkan yang dia tau, lusa adalah pertunangan Rey bersama Audrey karena Rey sudah menyelesaikan ujiannya.
Entah apa yang terjadi, namun itu semua membuat Kayla merasa sesak dan terluka kembali. Kayla hanya butuh seseorang yang mau mendengarkannya.
"Gimana sekarang?" lirihnya pelan.
Kayla menatap perut ratanya yang di dalam sana sudah tumbuh malaikat kecil miliknya dan juga Rey. Kayla memantapkan hatinya untuk mencoba berjuang bersama Rey kembali. Entah ada Rey atau pun tidak, setidaknya Rey harus tau bahwa apa yang mereka lakukan membuahkan hasil.
Kayla keluar dari kamarnya, dia akan pergi menemui Rey.
"Mau kemana?" Aideen melihat adiknya itu yang terlihat sangat buru-buru. "Mau ke rumah Kean, Kayla pergi bentar ya," pamitnya segera berlalu.
Aideen mengerutkan keningnya, pasalnya hari sudah malam dan adiknya ingin pergi ke rumah Rey dengan terburu-buru. Sebenarnya ada apa?
Lain halnya dengan Rey yang sekarang sedang berada di Australia, dia baru saja tiba karena paksaan dari bodyguard Arlan. Laki-laki itu sudah memberontak namun dia tidak akan mampu melawan banyaknya bodyguard itu yang menghalanginya.
Dia sudah jengah dengan tingkah papahnya yang memperkecil pergerakannya untuk bertemu dengan Kayla. Sudah lebih dari seminggu dia tidak diperbolehkan sama sekali bertemu dengan Kayla dan hari-harinya dihabiskan untuk fokus ujian dan mempersiapkan pernikahan dirinya dan Audrey.
Ya, sebuah pernikahan.
Arlan mengubah rencananya yang seharusnya hanya mengadakan pertunangan terlebih dahulu kini mengubah untuk mempercepat pernikahan saja. Keluarga Audrey pun tidak keberatan akan hal itu.
"Pah, apa-apa sih ini! Rey gak mau, papah gak bisa maksa Rey kayak gini. Rey punya hak nentuin pilihan Rey sendiri," bantah Rey menatap tajam Arlan yang duduk dengan tenang di sofa.
"Lalu?" Arlan menyesap kopinya sambil menatap anaknya itu dengan datar tanpa merasa bersalah sedikit pun. "Aku mau balik, aku harus ketemu sama Kayla. Ujian aku udah selesai," ucap Rey yang segera beranjak dari tempatnya.
"Kamu pulang maka nyawa Kayla yang akan hilang,"
Suara dingin Arlan tentu saja membuat Rey menghentikan pergerakannya, dia membalikkan badannya dan matanya menatap Arlan dengan nafas memburu.
"MAKSUD PAPAH APA?!" bentak Rey sudah tidak tahan.
"Papah gak main-main, pernikahan kamu akan dilaksanakan besok. Terima tidak terima itu semua akan dilangsungkan, tinggalkan Kayla atau gadis itu akan mati," ucap Arlan dengan tegas lalu memilih pergi dari ruangannya.
Rey mematung tak percaya, gadisnya menjadi taruhan papahnya sekarang. Arlan mengancamnya lewat Kayla, yang benar saja? Sebenarnya apa yang diinginkan papahnya itu? Mengapa Arlan sebenci itu dengan Kayla?
Rey menghela nafas gusar, dia ingin menghubungi Kayla namun ponselnya telah dirusak oleh Arlan dan menggantikannya dengan yang baru tapi sayangnya Arlan tidak bisa menemukan kontak Kayla.
Bahkan Arlan melarang anaknya itu bertemu dengan sahabat-sahabatnya akhir-akhir ini. Ya, Rey mengerjakan ujian di rumah tanpa hadir ke sekolah sama sekali membuat Arkan dan Artha bingung setengah mati.
"La, aku harus gimana sekarang?" lirihnya meremas rambutnya dengan kasar.
Bagaimana pun dia harus bertemu kekasihnya untuk mengatakan semuanya agar gadis itu tetap percaya padanya.
*****
Kayla mengusap air matanya dengan kasar. Setelah pulang dari kediaman kekasihnya, Kayla mendapatkan berita mengejutkan yang membuatnya sudah tidak ada harapan lagi.
Rey akan menikah dan laki-laki itu sudah pergi ke luar negeri untuk melangsungkan pernikahannya tanpa memberitau Kayla sama sekali. Kayla tidak diberi tau kemana laki-laki itu pergi.
Rasanya dadanya benar-benar sesak, apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia takut, takut keluarganya kecewa jika tau kehadiran janin di perutnya karena ulah dirinya dan juga Rey.
Bundanya pasti akan benar-benar kecewa padanya jika tau seperti ini akhirnya, Kayla tidak ingin. Dia tidak ingin Liana kembali merasakan sakit setelah papahnya yang menyakiti mereka.
"Tuhan, aku harus gimana?" lirihnya.
Mobil taksi yang dia tumpangi kini sudah berhenti di depan rumahnya, rasa takut kembali menyeruak saat tau mobil Liana terparkir rapi disana begitu pula mobil Kenrick.
Entah kenapa semuanya tiba-tiba saja berkumpul. Kayla dengan cepat memberikan uangnya kepada supir taksi dan masuk ke dalam rumah.
PRANKK!!!!
Suara benda pecah terdengar nyaring hingga Kayla yang belum masuk rumah pun terkejut bukan main saat mendengarnya.
Kayla dengan cepat membuka pintu dan kini matanya kembali memanas melihat bundanya yang terus memberontak di pelukan Aideen.
"Kamu lihat!!!! Gak kamu, gak Kayla sama aja! Kenapa kalian semua nyakitin aku sesakit ini sih hah?!?! Aku salah apa? Tolong kasih tau aku, kenapa kalian nyakitin aku lagi. Luka ini belum sembuh!" teriak Liana dengan histeris kearah Kenrick, mantan suaminya.
"Bunda tenang,"
Aideen menarik bundanya itu ke dalam pelukannya dengan segera, Aideen tau perasaan Liana bagaimana sekarang. Liana tidak sengaja ke kamar Kayla untuk mengecek keberadaan gadis itu, namun suatu benda membuat Liana hampir saja pingsan.
Putrinya sendiri kini tengah mengandung, bahkan Aideen terkejut tak percaya. Adiknya bukan gadis yang liar, Kayla hukan gadis seperti itu.
"Harusnya kamu yang jaga dia dengan baik, kamu memegang hak asuhnya. Kamu tau perkembangan dan pergaulannya, harusnya itu kewajiban kamu Liana," suara tegas Kenrick bergema di ruangan itu.
Kayla sendiri pun sudah tak berdaya, kekuatannya untuk melangkah masuk ke dalam sudah tidak ada. Dia mengerti, dia sadar bahwa keributan ini dimulai karena dirinya. Keluarganya pasti sudah tau.
"Bunda, papah, A'a," panggilnya membuat ketiga orang itu menoleh.
Liana yang melihat Kayla berdiri di ambang pintu pun murka, rasanya sangat kecewa ketika melihat wajah putrinya itu. Sebuah luka besar di torehkan Kayla kepada dirinya tanpa ampun setelah Kenrick sebelumnya juga menyakitinya.
"Ngapain kamu pulang? Sana! Jadi perempuan liar!" teriak Liana murka membuat Aideen kembali menenangkan bundanya itu. "Bun, jangan kayak gini. Itu anak bunda juga," ucap Aideen walaupun dirinya juga menatap kecewa kearah adiknya.
"Kenapa Kayla?! Kenapa kamu nyakitin bunda kayak gini? Apa yang salah dari bunda, kamu bikin kecewa bunda, La. Ini sakit, nak," lirih Liana ambruk ke bawah. Menangis dengan kencang.
Kayla tidak mampu melihat Liana yang sudah menangis karena ulahnya sendiri, rasanya seperti hantaman besar untuknya. Dengan sekuat tenaga, Kayla berlari memeluk Liana dengan kuat.
"Maaf bunda, maaf," lirih Kayla menangis kencang sambil memeluk Liana.
Liana sendiri berusaha memberontak minta dilepaskan, rasanya dia tidak bisa menerima putrinya sementara waktu. Kayla tetap harus diberi pelajaran akan ulahnya sendiri.
"Lepasin bunda! Jangan pernah sentuh bunda sebelum kamu bener-bener merasa bersalah sama perbuatan kamu sendiri!" bentak Liana murka.
Semua yang disana pun terkejut bukan main, pasalnya Liana tidak pernah semarah ini kepada keluarganya sendiri. Liana sosok bunda yang penyayang dan pengertian bagi keluarganya tapi malam ini semua berbeda.
"Jaga bicara kamu Liana," ucap Kenrick menahan amarahnya, dia menarik putrinya itu ke dalam pelukannya.
Kenrick dapat merasakan getaran ketakutan dari Kayla yang terus menangis, gadis itu benar-benar takut dan hancur secara bersamaan.
"Keluar dari rumah bunda! Bunda gak mau nerima kamu disini lagi!" teriak Liana menarik Kayla dari pelukan Kenrick dengan kencang.
"Bunda! ampun bunda! Jangan usir Kayla dari sini, Kayla minta maaf!" Kayla berusaha melepaskan tangan Liana yang terus menariknya keluar pintu rumah dengan kasar.
"Pergi dari sini! Jangan pernah balik sebelum kamu bertanggung jawab sama perbuatan kamu sendiri!" ucap Liana memandang Kayla dengan wajah kecewa.
"Bun, jangan kayak gini," Aideen sudah tidak tahan melihat perlakuan Liana terhadap adiknya sendiri.
"Inget kata-kata bunda ini Kayla, jangan pernah pulang kalo kamu masih belum bertanggung jawab sama perbuatan kamu sendiri dan menyesal sudah melakukannya," ucap Liana dengan suara bergetar lalu menutup pintu dengan kencang.
"BUNDA!! BUNDA DENGERIN KAYLA DULU!! KAYLA MINTA MAAF BUNDA!! BUNDA!! PAPAH!! A'A!!!"
Kayla berusaha keras memukul pintu itu dengan kuat, berteriak seperti orang kesetanan demi mendapatkan maaf keluarganya. Kayla mengingat kembali wajah kecewa keluarganya terhadap dirinya sendiri.
"Maafin Kayla," lirihnya merosot jatuh ke atas lantai teras rumahnya.
Kayla tidak tau lagi akan kemana setelah ini, mencari Rey untuk bertanggung jawab rasanya terlalu kecewa dan Rey pun tidak bisa dihubungi.
Entah kenapa Tuhan benar-benar menguji dirinya sekarang, Kayla merasa dipukul dengan kuat agar sadar dengan semua kesalahannya. Kayla merasa dirinya terlalu kotor saat memikirkan kembali perbuatannya bersama Rey.
Seharusnya Kayla paham, Kayla mengerti dan menolak apa yang dikatakan Rey. Ini semua tidak akan menyelamatkan hubungan mereka, bagaimana pun perjuangan mereka Arlan papah Rey tetap akan dengan pendiriannya.
Kayla kecewa, Kayla merasa dirinya percuma saja melakukan semuanya. Kayla menyesal.