BAB [9]

2142 Kata
"Nanti kalau aku udah terbiasa sama kehadiran kamu, jangan pernah mencoba buat pergi ya? Karena sesuatu yang udah terbiasa ada ketika dia pergi akan terasa sakit nantinya." - Rekayla - *****      WAKTU masih menunjukkan pukul 05.30 pagi tapi Kayla dan yang lainnya sudah berbaris rapi di tengah lapangan, mereka akan melaksanakan olahraga pagi bersama guru pembimbing olahraga. Dan ya itu akan menjadi guru olahraga mereka jadinya, sebenarnya MPLS menginap ini sebagian besar untuk memperkenalkan para siswa baru dengan sekolah dan para warga sekolah seperti guru, staff, dan karyawan lainnya. Kayla menggerutu kesal bersama Aster, keduanya tak berhenti mengeluh karena sudah kelelahan. Mereka sudah melakukan banyak olahraga tapi belum ada tanda-tanda akan berhenti. "Anjer kapan si nih olahraga berhenti, udahcapek," dengus Kayla sedangkan Aster tak menanggapi hanya melirik sekilas Kayla. "Pak Danu gak mau ngasih istirahat ya? padahal matahari juga udah mau muncul, kita semua kan belum mandi," sungut Letta yang masih mengikuti olahraga walaupun sudah kelelahan lain halnya dua sahabatnya yang sudah memilih duduk sambil mengipasi wajah mereka. "Mesti dikasih main dikit nih," celetuk Aster, "Apaan?" tanya Kayla bingung. Aster membisikkan sesuatu kearah Kayla yang dibalas senyum gadis itu, "Lo mau ikut kaga Let?" tanya Aster sedangkan Letta mengerucutkan bibirnya. Letta menggeleng pelan, "Letta takut, kalian kan pada berani yaudah kalian aja nanti Letta support dari jauh," ucapnya membuat dua gadis di hadapannya menatap datar tanpa minat. "Yaudah yok gas!" Kayla berdiri dan menepuk sedikit celananya disusul oleh Aster, "Lo tunggu disini aja, kalo misalnya ada si Ketos nanyain kita berdua bilang aja lagi ke toilet," ucap Kayla memberitahu kearah Letta, "Tapi kan Letta gak bisa bohong terus gimana caranya?" tanya Letta dengan polosnya. Aster menepuk jidatnya, memiliki sahabat super polos seperti Letta harus banyak-banyak bersabar. "Aduh Letta sayang, bilang aja lagi ke toilet. Kita berdua emang mau ke toilet dulu si nanti," ucap Aster yang dibalas anggukan mengerti Letta, "Nah kalo beneran ke toilet Letta bisa aja bilang," ucap Letta dengan senyum polosnya. Kayla hanya mendengus lalu segera beranjak pergi darisana bersama Aster, mereka berdua akan melakukan sesuatu yang menyenangkan agar semuanya cepat berakhir. Keduanya berjalan mengendap melewati koridor dan mesti berhati-hati karena bisa saja ada panitia pengawas yang berkeliling menjaga. "Serem juga njir," celetuk Aster menoleh kesana kemari, "Udah kita mainnya pelan-pelan aja, sambil jaga kalo ada panitia lewat bahaya," ucap Kayla. Keduanya berjalan kearah toilet terlebih dahulu, membersihkan wajah mereka lalu beralih berjalan menuju ke ruang siaran. Biasanya selain digunakan sebagai tempat siaran, tempat itu juga untuk pengumuman dan memainkan musik senam sesuai jamnya. Ditambah pemberitahuan masuk kelas, bel istirahat, dan sebagainya juga disitu. "Gimana aman?" tanya Kayla yang sudah berada di dalam ruangan, Aster menoleh sebentar dan masuk ke dalam setelah menutup pintu. "Aman-aman," jawab Aster setelah mengusap keringatnya. Lalu keduanya memandang takjub ruangan yang penuh dengan barang elektronik, microphone, speaker, dan berbagai macam alat lainnya. Kayla dan Aster meneliti setiap benda disana yang menyala. "Yang mana nih tempat matiinnya?" tanya Aster bingung, Kayla menatap semua alat satu persatu. "Kayaknya dari laptop itu deh," tunjuk Kayla memutarkan satu video senam dari Youtube, "Nah yaudah matiin aja nih," ucap Aster. "Eh tunggu bentar," tahan Kayla membuat Aster terdiam lalu memandang kearah Kayla dengan tatapan bertanya. Senyum jahil tercetak di bibir gadis itu, "Kita main dulu dong," kekehnya lalu segera duduk dikursi. Dia segera mencari satu lagu dangdut dan bersiap memutarnya, Aster yang memperhatikan pun bersiap tertawa apalagi lagu yang dipilih dangdut koplo. "Astaga anjer ngakak," tawa Aster pecah saat Kayla menekan lagu tersebut. Sontak saja aksi keduanya berdampak di lapangan bahkan semua sudut sekolah, speaker yang terpasang memutar otomatis lagu dangdut koplo tersebut. Pak Danu dan beberapa panitia yang menjadi juru senam langsung terdiam otomatis. "Anjir lagu dangdut woiii!!" "Buset napa senam jadi dangdutan dah," "Oh ini remix senam tahun ini? campur dangdut? yaudahlah nikmatin," "Goyang woi!!!" "Aseekk tarik mang," "Napa lagu Juragan Empang anjer!" "Asalole jos," "Njir jadi seger gue denger lagu ini," "Woi Rehan joget han!" "Anjir biduan biduan ayo kita goyang," "SIAPA YANG BERADA DI RUANG SIARAN?!?!!" teriakan Pak Danu memekakan telinga seluruh orang  yang mendengarnya. Sedangkan di lain tempat, Kayla dan Aster sudah tertawa terbahak-bahak karena mendengar teriakan Pak Danu. Bahkan Aster mengusap sedikit sudut matanya yang berair karena tertawa, kelakuan keduanya memang selalu saja membuat heboh sekolah. Dua troubelmaker. "Yaudah buruan kita keluar sebelum ada yang tau kita disini," ucap Kayla diangguki Aster. Keduanya segera keluar darisana, tapi naasnya para panita sudah keliatan bergerak kearah ruang siaran membuat keduanya harus segera berlari darisana. Tidak mungkin mereka berurusan lagi dengan pihak Osis yang menyebalkan. BRUK! "Aduh!" Ringisan dari Kayla membuat Aster menolehkan kepalanya, "Astaga, La," Aster segera menghampir sahabatnya itu. Kayla baru menyadari bahwa tali sepatunya terlepas sehingga membuatnya terjatuh karena menginjaknya. "Anjir sakit, udah lo sana buruan lari," ucap Kayla memegang lututnya yang berdarah, selalu saja gadis itu membuat ulah yang membahayakan tubuhnya. Aster menjitak pelan kepala gadis itu, "Yakali gue lari ninggalin lo sendiri disini, mau gue gampar ha?!" ucap Aster mendelik kesal. "Buset dah udah tau gue kesakitan malah ditambah lagi, ga ada akhlak lo anjir!" seru Kayla kesal. Keduanya tak sadar, perdebatan mereka membuat beberapa panitia Osis menemukan mereka termasuk sang Ketua Osis sendiri yang sudah menatap keduanya dengan raut tak terbaca. "Heh lo berdua!" Gertakan itu membuat Kayla dan Aster menoleh ke belakang, mata keduanya membulat melihat beberapa panitia Osis sudah berdiri menatap mereka termasuk Dara dan Rey. "Liat tuh Rey kelakuan dua cewek itu, selalu aja bikin rusuh," adu Dara dengan wajah kesalnya, sedangkan Rey memilih tak peduli. Matanya masih menatap Kayla yang duduk di atas paving lapangan, tatapan tajam nya mengarah kearah lutut gadis itu yang mengeluarkan darah. "Ya Allah Rey, ini teh dua cewek kemaren lagi. Emang ya kaga bisa diem," celetuk Artha, "Itu ngapa lagi tuh ceweknya Rey jatuh segala, mana kaga bagus lagi jatuhnya, " sambung Arkan melihat kearah Kayla. Rey segera menghampiri kekasinya, berjongkok di hadapannya dengan tatapan datar seolah-olah sedang memikirkan hukuman yang pantas bagi Kayla. Lain halnya dengan Kayla yang hanya meneguk ludahnya. Harusnya dia dan Aster bisa lebih cepat mencari persembunyian, bukan dengan adegan jatuh seperti ini membuat keduanya harus kena batunya. "Untung sayang," gumam Rey pelan tapi masih dapat terdengar baik oleh Kayla. Kayla tentu saja diam dan menatap mata Rey hingga laki-laki itu menggendongnya, membawa Kayla pergi darisana dan meminta Arkan kembali mengurus Aster, sedangkan sisanya kembali mengawas agar kejadian ini tidak terulang kembali. "Turunin woi!!" jerit Kayla dengan hebohnya, dia tidak ingin dibawa kemana-mana. Dia hanya ingin menemui Aster, bagaimana pun ini kesalahannya dand ia takut jika hanya Aster yang dihukum sendiri. Rey tak memperdulikan sama sekali, bahkan dia tetap melangkah tanpa merasa terganggu sedikit pun. Kayla yang melihatnya hanya mengerucutkan bibirnya, dia langsung bersidekap d**a sambil memperhatikan Rey dari bawah. Jika dilihat-lihat Rey memanglah laki-laki yang sangat tampan dan itu cukup pantas ketika banyak sekali yang menginginkan dia menjadi kekasih bahkan memiliki banyak fans yang mengaguminya. Ketampanannya sungguh tidak diragukan lagi. "Iya aku tau, aku ganteng," suara Rey membuyarkan tatapan Kayla yang sedang menikmati wajah Rey, sungguh terlalu munafik jika tidak menggunakan kesempatan ini untuk melihat wajah laki-laki itu dari dekat. Rey masuk ke dalam Ruang Kesehatan, dia segera meletakkan Kayla di atas brankar lalu kembali melangkah untuk menutup pintu. Dia tidak ingin ada yang mengganggu ketenangannya bersama Kayla sementara waktu. "Kok kesini? aduh gu---eh aku ga papa," ucap Kayla sambil meralat ucapannya, Rey mengambil kotak P3K dan duduk di kursi di sebelah brankar. Laki-laki itu segera mengobati lutut Kayla yang berdarah, dengan pembawaannya yang tenang sekaligus dingin membuat Kayla menjadi kikuk sendiri. Posisi seperti ini terasa hening dan canggung untuknya. "Kenapa berulah lagi?" tanya Rey masih fokus mengobat luka Kayla, "Aku tuh punya alasan Kean kenapa ngelakuin itu," jawab Kayla. Kayla tidak sadar bahwa dirinya memanggil Rey dengan panggilan yang berbeda dari yang lain, bahkan Rey sempat menghentikan aktivitasnya saat mendengar gadis itu memanggilnya dengan sebutan Kean. Sederhana dan tidak ada yang emmanggil laki-laki itud engan nama tengahnya, karena semua pasti memanggilnya dengan sebutan Rey. Entahlah, Rey lebih menyukai Kayla memanggilnya dengan sebutan yang berbeda dari yang lain karena dia merasa bahwa itu seperti panggilan sayang Kayla untuknya. "Coba kasih tau," ucap Rey dengan lembut lalu segera membalut luka gadis itu dengan perban ditangannya, "Aku tuh ama Aster kasian sama anak-anak yang lain, masa iya kita disuruh olahrga ga berhenti-berhenti. Mana Pak Danu nya sok galak, capek tau disuruh olahraga terus. Dikira kita smeua tuh bukan manusia kali," ucap Kayla mengeluarkan semua unek-unek dalam dirinya. Rey yang mendengar hanya tersenyum tipis, gadis itu selalu saja bertingkah yang membuat Rey gemas sendiri dengannya. "Terus?" "Terus ya aku ama Aster bikin rencana deh ubah lagu senam jadi dangdutan, ya mayan lah buat hiburan," ucap Kayla dengan semangatnya, lain halnya dengan Rey yang menatapnya. Tatapan lembut itu sangat jarang sekali diperlihatkan kepada siapapun, termasuk orang tuanya sendiri. Hanya Kayla lah, orang yang pertama kali dapat melihat tatapan itu. "Kamu tau gak itu salah? ada banyak cara buat mengajukan pendapat, kamu bisa datang baik-baik ke Pak Danu atau panitia di area sana tanpa perlu buat ulah," ucap Rey memberikan pengertian dengan lembut, membuat Kayla terpaku. Sungguh tiba-tiba saja darah Kayla berdesir mendapat tatapan selembut dan seteduh itu, bahkan jantungnya berpacu cepat saat Rey memegang tangannya padahal hanya untuk mengobati telapak tangannya yang juga ikut berdarah saat terjatuh tadi. "Aku khawatir kalo kamu buat ulah Lala, kamu bakal dapat luka-luka kayak gini lagi," ucap Rey membuat Kayla terdiam, "Tap--tapi kan cuma ini kesenangan yang bisa aku lakuin, udah bawaan dari lahir," ucap Kayla menunduk. Rasanya dia tidak bisa menghentikan tingkahnya yang selalu mencari gara-gara, gadis itu sudah nyaman. Hanya dengan berbuat ulah, gadis itu bisa merasakan kesenangan walaupun orang tuanya harus terseret ke Ruang BK. Rey yang sudah selesai mengobati kedua tangan gadis itu langsung mengusapnya pelan, menatap balutan perban di kedua telapak tangan gadis itu. Lalu matanya beralih menatap Kayla yang diam. "Aku tau, tapi jangan bikin ulah yang bisa buat kamu luka. Bisa kan?" tanya Rey memandang Kayla yang dibalas gelengan, "Kalo luka mah itu bonus, aku aja gak bisa prediksiin kalo lagi berulah bisa buat nyakitin diri sendiri apa gak, yang penting kan bahagia aja dulu," jawab Kayla. Rey hanya tersenyum, senyum yang juga sama sekali belum pernah diperlihatkan kecuali untuk Kayla. Laki-laki itu segera menyelipkan rambut Kayla ke belakang telinga, mengusap pelan pipi gadis itu. Kayla yang merasa pipinya disentuh pun langsung mengangkat kepalanya dan kini mata keduanya saling bersitatap, tatapan yang cukup lama hingga diputuskan oleh Kayla yang langsung menutup mata Rey dengan telapak tangannya. "Jangan liatin kayak gitu anjir!!" gertak Kayla karena dia yakin pipinya sudah merona karena malu, Rey yang ditutup matanya hanya terkekeh geli, "Kenapa ditutup? aku mau liat pipi merah kamu lagi," ucap Rey. "Astaghfirullah, gak boleh entar khilaf. Udah jangan liat-liat kayak gitu, tau kok aku cantik," ucap Kayla kembali ke sifatnya yang semula. Rey memegang tangan gadis itu dan mencium perbannya, membuat Kayla menahan nafas. Gila saja, ini perlakuan yang membuat Kayla merasa jantungnya ingin melompat keluar. "La, aku tau kamu masih belum bisa nerima kehadiran aku yang mendadak apalagi langsung ngeklaim kamu pacar aku. Tapi aku gak pernah main-main untuk hal ini, aku serius. Belajar buat buka hati buat aku bisa kan?" tanya Rey. Kayla terdiam, matanya menatap lekat manik mata Rey yang menenangkan. Sungguh, Kayla sudah tenggelam dengan ketenangan manik mata itu. Jujur saja, Kayla ragu apakah ini nyata atau tidak? Walaupun ini pertama kalinya untuk Kayla menjalani hubungan tapi Kayla ingin yang pertama itu berkesan dan untuk yang terakhir, Kayla tidak ingin ada kata perpisahan setelah ini. Kayla hanya takut akan hal itu, dia hanya tidak ingin terluka batinnya karena Kayla belum siap untuk hal itu. Sekuat apapun fisik Kayla dalam melawan kakak-kakak kelas yang tidak menyukainya, tetap saja Kayla gadis lemah yang bisa saja tersakiti nantinya karena sebuah perasaan yang seharusnya Kayla belum memilikinya untuk waktu sekarang. "Aku---cuman ragu," ucap Kayla akhirnya bersuara, "Aku ragu perasaan kamu itu nyata atau cuma mau balas dendam karena sifat aku yang sering buat ulah dari pertama masuk sini, kalo iya lebih baik berhenti dari sekarang," lanjutnya dengan pikiran yang kalut. Rey menggenggam tangan Kayla erat, mengusapnya pelan sambil menatap Kayla. "Aku gak pernah main-main sama perasaan aku, aku juga gak pernah mau balas dendam tentang kamu yang sering bikin ulah disini. Aku cuma mau kamu, itu aja,"  Hati Kayla tersentuh saat mendengar kalimat laki-laki itu, terlalu manis untuknya bahkan Kayla sedikit takut bahwa itu bisa saja menjadi boomerang bagi laki-laki itu dan dirinya suatu saat nanti. Tapi siapa yang tidak lemah jika diperlakukan seperti ini, apalagi itu Rey. Seorang Ketua Osis yang memiliki banyak penggemar. "Kamu yakin?" tanya Kayla sekali lagi sambil menatap Rey, "Aku yakin, sangat yakin malah," ucap Rey dengan tatapan lembutnya. Kayla menghela nafas dan akhirnya mengangguk, dia akan mencoba membuka hati untuk laki-laki di hadapannya. Entah bagaimana ke depannya Kayla akan mencoba melewatinya, karena Kayla memegang penuh perkataan Rey untuknya. Jika suatu saat nanti Rey melanggarnya maka itu terakhir kalinya Kayla memberi kesempatan, karena di hidupnya tidak ada kesempatan kedua dalam hal apapun.  "Makasih," ucap Rey langsung memeluk gadis itu dengan erat sembari menghujaminya dengan kecupan manis di kepalanya. "YA ALLAH KEAN GAK BISA NAFAS INI MAH!!!!!!" Teriakan Kayla menjadi tawa bahagia untuk Rey, biarkan laki-laki itu merasakan kebahagiaan bersama gadisnya. Biarkan dia mengukir sebuah kisah bersama tanpa ada tinta hitam yang menghancurkannya. Harapan Rey hanya satu bahwa hubungannya tidak akan pernah berhenti karena Rey sangat-sangat menyayangi Kayla melebihi apapun walaupun pertemuan mereka sangat singkat. Karena rasa itu tidak pernah salah dalam memilih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN