BAB [10]

2040 Kata
"Kamu itu milik aku dan selamanya tetap milik aku, kamu mengerti sekarang?" - Rekayla - *****       SUDAH tak terhitung berapa kali Rey menghela nafas, sedaritadi dirinya dan Kayla sudah memutar mall hampir lebih dari 2 kali karena Kayla sendiri yang meminta, alasannya belum ada yang menarik matanya. "Sebenarnya kamu mau apa sih sayang, daritadi kita udah muterin mall lebih dari 2 kali," keluh Rey membuat Kayla menengok kearahnya. Kayla meringis pelan, "Abisnya aku bingung mau kemana, Kean. Gak ada yang menarik sama sekali tau," balasnya sambil mengerucutkan bibir. "Terus sekarang kamu maunya gimana? Mau ke tempat lain? Mau makan? Atau mau pulang?" tanya Rey memberikan beberapa pilihan agar dirinya tidak lagi berkeliling mall seperti tidak ada tujuan yang jelas. Kayla mengangkat bahunya, "Gak tau juga," jawabnya dengan polos membuat Rey ingin sekali memakan kekasihnya itu sekarang juga. Rey dengan cepat melangkah mendekati Kayla lalu mencubit gemas kedua pipi gadis itu karena kesal. "Kamu ya daritadi bikin aku kesel aja," "Aduh aduh Kena jangan cubit, astaga ini pipinya tambah lebar woi!" ketus Kayla memukul tangan laki-laki itu. Tidak peduli tatapan orang kearah mereka, intinya Rey hanya ingin melampiaskan rasa kesalnya sekarang. "Sekarang aku tanya lagi, kamu mau kemana?" tanya Rey melepaskan cubitannya beralih mengusap pelan kedua pipi gadis itu yang memerah. "Aku gak tau mau kemana, kita pulang aja ya Kean," Manik mata gadis itu membuat Rey tak mampu menolak, Kayla mempunyai beragam tingkah yang meluluhkan hati Rey saat melihatnya. "Yaudah ayo!" Rey menggenggam tangan gadis itu dengan lembut, berjalan kearah basement mall untuk mengambil mobil rey. Asal tau saja, sekarang Kayla memakai hoodie milik Rey berwarna coklat yang sangat besar bagi ukuran tubuh Kayla. Bahkan Kayla terlihat seperti tenggelam di dalam baju itu, sungguh membuat Rey gemas setengah mati. Lain halnya dengan Rey, Kayla justru bingung sendiri dengan dirinya Dia tidak tau entah kapan dirinya sudah menerima perlakuan Rey dan mengakui hubungan mereka, sejauh ini Kayla selalu merasa nyaman bahkan bisa mengeluarkan sifat manjanya yang biasanya dia perlihatkan kepada orang tua dan A'anya saja. "A'a ke sekolah gak ya?" gumam Kayla, karena dirinya tadi sempat mengabari Aideen bahwa dirinya akan pulang bersama Rey hari ini, tapi justru Aideen tidak menjawabnya sama sekali. "Kenapa?" tanya Rey yang baru saja masuk ke dalam mobil, laki-laki itu sempat menerima telepon dari papah nya. "Gak papa cuma nunggu A'a balas chat aku aja, daritadi gak dibales-bales kan aku jadi takut," ucap Kayla dengan jujur. "Yaudah mungkin lagi ada tugas di kampus atau sibuk apa gitu, yang penting kan kamu udah ngabarin," Rey mulai menjalankan mobilnya keluar dari basement, sejak MPLS selesai. Laki-laki itu selalu menjemput dan mengantar pulang Kayla bersamanya dan Rey bahkan selalu membawa mobil ke sekolah. Alasannya hanya tidak ingin Kayla kenapa-kenapa, lagipula Kayla memakai rok sekolah yang cukup pendek dan bisa saja ada yang melihat walaupun ditutup pakai jaket sekalipun. Rey tidak mau itu terjadi. Kayla menghela nafas lalu menyenderkan kepalanya di bahu Rey, gadis itu menikmati waktu mereka berdua seperti ini. Sejak hari dimana dia ingin membuka pintu hatinya, perlahan Kayla menyukai setiap moment kedekatan mereka berdua. Rey selalu bersama dirinya entah bagaimana pun caranya, laki-laki itu seperti tidak mau jauh dari Kayla barang sedikitpun. "Stok s**u kotak dirumah masih ada gak? Atau mau beli?" tanya Rey mengusap kepala gadisnya dengan lembut, sesekali mengecup pelan kening gadis itu. Kayla menggeleng, "Stoknya masih banyak tau. Kamu kan sering bawain ampe bisa sekardus, bikin kesel aja. Kamu kira aku mau jualan s**u kotak," cibir Kayla membuat Rey terkekeh. "Kan biar kamu gak keluar dari rumah, makanya sering aku bawain makanan ama s**u kotak," ucap Rey, Kayla hanya mendengus. "Bodo amat serah!" Rey terkekeh geli, hanya dengan Kayla laki-laki itu bisa mencair seperti ini bahkan seperti bukan Rey yang dikenal dingin dan datar. "Kita udah berapa lama ya pacaran? Abis dari UKS itu berarti hampir udah 2 minggu dong sekarang," ucap Rey membuat Kayla mengangguk setuju apa yang dikatakan laki-laki itu. "Kenapa sih dihitung segala?" tanya Kayla bingung, "Ya gak papa, mau aja," balas Rey. " Tadi pagi bunda nyariin kamu katanya disuruh main lagi ke rumah," ucap Kayla sambil memainkan ponselnya. Ya, semenjak Rey meminta restu berpacaran dengan Kayla. Liana menjadi sering menanyakan perihal laki-laki itu dengan Kayla, bahkan Kayla merasa bundanya sangat menyayangi Rey. Karena setiap hari bunda selalu menanyakan tentang Rey, Rey, dan Rey. Kenrick juga sesekali bertanya tapi tidak sesering Liana. Untuk kedua orang tua Rey sendiri, Kayla belum pernah bertemu karena sibuk dengan bisnis keduanya. "Mamah katanya mau pulang minggu ini," ucap Rey memberitahu, "Beneran?" tanya Kayla memastikan. "Iya, nanti kamu ketemu ya," ucap Rey tersenyum lembut sambil mengusap pipi gadis itu. Kayla hanya mengangguk, sebenarnya dia juga gugup bertemu dengan kedua orang tua Rey. Entahlah, rasanya gugup bercampur takut akan respon kedua orang tuanya melihat Kayla sendiri. "Kean, gimana kalo mereka gak suka aku?" tanya Kayla menatap Rey dengan takut, "Gak mungkin, kalo mereka gak suka ya aku paksa suka lah," kekeh Rey dengan santai nya membuat Kayla berdecih. Tawa Rey menggema di dalam mobil, keduanya terlihat saling melengkapi padahal hubungan ini masih sangat baru bahkan terlalu baru untuk keduanya. Rey dengan sikap hangatnya yang hanya ditujukan kepada Kayla dan Kayla dengan sifat bar-bar dan juga cerianya membuat keduanya saling melengkapi. ***** "Let, udah belum?"       Aster dan Letta sedang berkutat di bangku mereka, menyalin jawaban dari Kayla yang tengah duduk santai dengan s**u kotak rasa coklat miliknya. "Ih Letta tuh belum, baru juga satu soal belum semuanya. Makanya Aster bareng Letta aja biar enak terus cepet selesainya daripada nunggu Letta entar keburu bel bunyi terus gurunya masuk," celoteh Letta. "Udah bener kata Letta, buruan sono entar lo dihukum ama Pak Danu kek waktu kemah beberapa minggu lalu," ejek Kayla dengan tawanya membuat Aster menatapnya datar. "Itu juga rencana lo maemunah, untungnya si Artha enak diajak kompromi jadi tinggal ajak dia makan berdua udah selesai," balas Aster menaikan kedua alisnya dengan senyumnya. Kayla mendelik, "Dasar cewek penggoda lo," ucap Kayla, "Sifat alami cewek itu sebenarnya menggoda, jadi ya gue jadikan aja bakat menggoda gue buat hal bermanfaat contohnya biar kaga kena hukum, bukan kek gitu noh!" Aster menunjukkan Stella yang berada di luar kelas mereka tapi bisa dilihat dari jendela oleh ketiganya, Letta yang fokus menulis pun melihat kearah yang ditunjuk Aster. "Kalo itu mah titisan anak dajjal," Kayla menatap kearah Stella, kakak kelasnya yang pernah ngajak ribut tapi berakhir mendapat amarah dari Rey. Gadis itu sekarang sedang memeluk dengan manja laki-laki yang mungkin satu angkatan dengan dirinya. Ketiganya memandang jijik saat melihat Stella mencium pipi laki-laki itu di depan umum tanpa mengenal malu. "Astaghfirullah, gak ada akhlak tuh cewek cium-cium depan umum," celetuk Aster, "Ih itu cowoknya risih gak ya?" tanya Letta dengan wajah meringis. Gadis itu seperti geli melihat pemandangan di depannya, Letta itu gadis polos dan jarang disuguhi pemandangan seperti itu di depannya. "Duh jijik sendiri gue liatnya," hina Kayla dengan wajahnya. Aster dan Letta kembali berkutat dengan salinan jawaban dari Kayla, kedua gadis itu harus menyelesaikan 20 soal Penjaskes sebelum bel berbunyi pertanda KBM akan segera dilaksanakan. Dan bersyukur Kayla ditemani oleh Rey menjawab soal tersebut sehingga gadis itu menjadi bahan contekan dua sahabatnya, ya itung-itung cari pahala. "Rey kemana? Tumben kaga nemenin lo sampe bel masuk, biasanya tuh cowok kek prangko aja kaga bisa lepas dari lo," Pertanyaan Aster membuat Kayla mengangkat bahunya acuh, "Katanya mau rapat bentar ama anggota Osisnya, jadi gak bisa nemenin gue. Bodolah, kalo tiap hari ditemenin mah gue juga kaga suka anjir, berasa ditempelin dedemit guenya," Sontak saja perkataan Kayla mengundang tawa membahana Aster, gadis itu sudah melepaskan pulpen dari tangannya demi memukul meja di depannya. "Siapa yang kamu bilang dedemit?" Suara berat seseorang membuat Kayla dan Aster terdiam, bahkan Letta yang menulis pun langsung berhenti. Entah sejak kapan Kayla melihat Rey berdiri di pintu kelasnya. Laki-laki itu dengan wajah datarnya memasuki kelas Kayla. "Lo sih, ngomong Rey segala," gerutu Kayla menatap Aster kesal, "Anjir kok gue?! Tadi yang ngatain dia siapa? Lo kan?" balas Aster tak mau kalah. Kayla hanya mencebikkan bibirnya, matanya melirik Rey yang sudah berdiri di meja mereka bertiga, laki-laki itu memilih duduk di sebelah Kayla dengan tatapan fokus ke gadis itu. "Eh ada Ketos, ngapain kak? Lagi ngecek kelas ya?" kekeh Kayla dengan terpaksa, tatapan Rey sungguh tidak bersahabat sekarang. Rey menghela nafas pelan, laki-laki itu memilih mengusap keringat yang ada di pelipis gadisnya itu dengan lembut. Semus orang yang melihat hanya bisa menahan nafas melihat kelembutan Rey. "Astaghfirullah keuwuan macam apa ini?!" "Anjir woy! Gue mau tukeran ama Kayla," "Ya Allah Kak Rey, ngapa bisa seuwu itu si ha?!" "Rey butuh selingkuhan ga? Gue siap nih daftar," "Kak Rey kalo bosen ama Kayla, dateng aja ke gue siap kok Rey," "Ye si t*i, mana mau Kak Rey ama lo berdua yang mirip serpihan kayu," "Temen laknat itu ya lo contohnya," "Enak ye jadi Kayla, punya doi perhatian kek gitu," "Muka Rey ngapa ganteng banget si kayak gak ada akhlak aja," "Abis ini gue cari pacar lah titik!" "Emang ada yang mau?" "Anying lo!" Kayla yang mendengar bisikan para teman di kelasnya pun hanya menatap mereka dengan raut wajah datar, mereka seperti belum pernah melihat kelakuan Rey saja. "s**u kotak nya udah abis?" tanya Rey dengan tatapan lembutnya, suara laki-laki itu pelan agar tidak ada yang mendengar keduanya berbicara. Kayla menggeleng pelan, "Masih ada 2 kotak tapi kayaknya nanti istirahat beli lagi deh soalnya gak bakal cukup sampai pulang sekolah," jawab Kayla dengan polisnya. "Gak usah, aku udah beliin," Rey mengeluarkan kantong plastik putih berukuran lumayan besar berisi beberapa s**u kotak coklat dan cemilan menemani Kayla belajar nantinya. Rey berusaha agar Kayla tidak beralasan izin saat pelajaran nanti lalu bolos ke rooftop sekolah, beberapa minggu mengenal Kayla, laki-laki itu jadi tau kebiasaan gadis itu. Kayla akan membolos bersama Aster jika dia merasa bosan dan tidak ada bahan makanan untuk dia makan, walaupun makan di saat jam pelajaran merupakan hal yang melanggar peraturan sekolah, tetap saja gadis itu tidak memperdulikannya. "Buset, lo ngeborong kantin Rey?" tanya Aster saat melihat plastik putih itu terisi penuh, "Hm," balas Rey seadanya. "Yipiii, nah daster kita ada bahan bakar nih. Sayang banget kaga bisa bolos hari ini," ucap Kayla sambil membuka plastik tersebut. Aster yang mendengar hanya menatap datar, "Kan lo bilang gak mau ketemu pelajarannya Pak Danu lagi," ucap Aster, "Ya mau gimana lagi, kalo disogokin makanan gini mana mau nolak. Emang lo kaga mau?" tanya Kayla. "Ya mau lah anjir!" Aster merebut keripik yang baru saja diambil Kayla dari dalam plastik, membukanya dan memakannya dengan cepat lalu kembali melanjutkan acara menyalin tugasnya. "Letta udah selesai!" Letta bertepuk tangan heboh melihat pekerjaannya sudah selesai, gadis itu fokus menyalin saat kedua sahabagnya sjbuk berdebat masalah bolos-membolos. Letta terkecuali bagi keduanya, gadis itu tidak akan mau diajak bolos barang sedikit pun. Meski pelajaran itu membosankan, rumit, susah, gadis itu tetap saja akan mengikuti pelajaran. Berbanding terbalik dengan Aster dan Kayla yang tidak akan tahan lama. "Kean gak ke kelas?" tanya Kayla menggigit sepotong roti sambil menatap Rey dengan wajah polos, Rey yang melihat hanya tersenyum tipis. "Bentar lagi, jangan bolos ya kali ini aja. Nama kamu udah terlalu banyak, ngerti?" Rey menggenggam lembut tangan Kayla, Kayla sendiri hanya mengangguk tak peduli. "Janji ga?" "Iya janji Kean!" ucap Kayla mendelik kesal, laki-laki itu terlalu berisik. "Good girl, yaudah aku ke kelas dulu. Belajar yang bener nanti ke kantin aku jemput," Rey mencium kening gadis itu dengan cepat membuat pekikan di kelas kembali terdengar, sungguh Rey bisa saja membuat jantung Kayla melompat dari tempatnya. Laki-laki itu selalu bertidak sesuai kemauannya dan berakhir dengan rona merah di pipi gadis itu. "Jangan cium-cium!" gerutu Kayla tak terima, "Kenapa?" tanya Rey bingung. Kayla melirik teman sekelasnya sebentar yang masih menatap mereka berdua, "Aku malu tau," cicitnya pelan membuat Rey gemas setengah mati. Ingin rasanya laki-laki itu membawa Kayla ke dalam pelukannya dan menghujam beribu ciuman di wajah gadis itu karena gemas. "Ada-ada aja, yaudah aku pergi," pamit Rey mengusap kepala gadis itu lalu pergi dari kelas Kayla. "Gila tuh anak, bisa bikin kuping gue sakit denger teriakan alay anak kelas," ucap Aster mendelik, "Kak Rey itu romantis banget ya jadi pacar, Letta iri ama Kayla jadinya," ucap Letta memasang wajah sedihnya. "Kenapa lo mau juga? Sana ambil!' ucap Kayla dengan santainya, "Ih Kayla! Emang Kak Rey barang apa yang bisa diambil sembarangan," balas gadis itu. "Siapa tau kan?" Kayla kembali melanjutkan makannya tanla memperdulikan Letta yang kesal dengannya. "Mau main skateboard gak nanti sore?" tanya Aster menatap Kayla setelah merapikan bukunya dan mengembalikkan buku Kayla ke meja gadis itu. Kayla mengangguk, "Boleh deh tempat biasa kan?" tanya Kayla memastikan yang dibalas anggukan oleh Aster, "Lo ikut gak, Ta?" tanya Aster. Letta yang sibuk menyiapkan alat tulis di mejanya hanya mengangguk, "Iya nanti Letta ikut," "Sip dah," Tak lama bel berbunyi, KBM mulai dilaksanakan. Kayla yang tadi fokus makan kini membalikkan badannya bersiap menyambut guru. Sekadar untuk formalitas awal, nanti ketika guru mulai menerangkan pelajaran Kayla akan melanjutkan aktivitasnya yaitu makan secara diam-diam tanpa ketahuan sedikit pun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN