Pulang dari rumah sakit

1439 Kata
Setelah acara bujuk membujuk di hari minggu pagi antara Naya ke dokter Riko akhirnya dokter Riko mengalah ke pasien keras kepalanya itu setelah berdebat sekitar sejaman di ruangan Naya dan berakhir Naya di izinkan pulang setelah Dhuhur. Ia sangat senang karena setelah semingguan berada di rumah sakit akhirnya Naya bisa kembali ke rumahnya di temani Mira dan Mia dan di sambut mbok Darmi dan pekerja rumahnya yang lain. Sesampainya di rumah, Naya langsung ke kamarnya di temani Mia sedangkan mbak Mira membereskan barang bawaan Naya dari rumah sakit. Naya menghempas tubuhnya di atas kasur karena ia sudah rindu sama kamarnya ini. " Hati hati Naya, kamu baru sembuh lo," tegur Mia. " Mia aku ini habis demam bukan patah tulang jadi ya tidak apa-apa lah, kan aku juga tidak apa-apa." " Hmm terserah lah, malas berdebat sama orang bebal." Naya hanya tertawa mendengar omelan Mia yang duduk di kursi belajarnya. Mia sudah mengenal watak Naya yang keras kepala itu walau baru beberapa bulan kenal, mereka memang sudah sangat dekat. " Jadi besok kamu sudah mau ke sekolah Nay?" " Jelas dong, jangan di tanya lagi. Untuk apa aku merengek ke dokter Riko kalau aku tetap akan melewatkan hari senin besok. Kamu tau Mia aku tidak sabar untuk bertemu Gema, pasti dia kaget kalau lihat aku sudah masuk ke sekolah besok," ucap Naya antusias sambil menatap lampu gantung di kamarnya. " Ingat pesan aku Nay, jangan terlalu dekat sama Gema kalau kamu masih sayang sama dirimu sendiri, ingat Gema punya pawang." " Hewan kali ah pakai pawang, ia tenang saja Mia ku sayang. Ananda Naya akan berhati-hati," jelas Naya di ikuti cengiran. Membuat Mia geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu yang mulai Bucin sama Gema namun yang di sayangkan oleh Mia, Naya bucin pada orang yang kurang tepat. Mereka berdua pun melanjutkan acara mengobrolnya sampai tak terasa mereka berdua tertidur di atas kasur hingga sore hari dan setelah bangun Mia baru pulang di antar oleh supir Naya. ***** Ketika seseorang sedang jatuh cinta, bau badan nya dari jarak 5 meter pun dia juga bisa rasakan, melihat atap rumahnya saja juga bisa buat dia senang apalagi bertatap muka langsung, jantungnya langsung bekerja 3 kali lipat dari biasanya dan hatinya seperti di penuhi tanaman bunga. Kedengaran nya terlalu berlebihan tapi begitulah yang mereka rasakan jika sedang jatuh cinta, hal kecil pun bisa bikin ia tersenyum bahagia dan tak terkecuali bagi Naya. Pukul 6 pagi Naya sudah siap berangkat ke sekolah di antar oleh Mira, pagi ini ia lebih antusias lagi ke sekolahnya karena ia akan bertemu sang pujaan hati yang telah terpisah semingguan akibat dia sakit. Saking tidak mau telat ke sekolah padahal belum tentu Gema datang ke sekolah hari ini, Naya memilih sarapan di mobil karena takut telat datang ke sekolah padahal biasanya ia masih sempat untuk sarapan di rumah dan belum pernah terlambat juga ke sekolah nya tapi dasar otak bebal, Mira menurut saja kemauan bos nya itu. Naya menikmati Sandwich buatan mbok Darmi dengan sekotak s**u full cream, sepulang dari rumah sakit, Naya di wanti-wanti untuk menjaga pola makan dan minumnya dan harus terus rutin mengkomsumsi obatnya oleh dokter agar ia bisa sehat kembali. Naya berjalan masuk ke gerbang sekolah dan Mira menunggunya di cafe yang kebetulan tak jauh dari depan sekolahan Naya. Naya berjalan menyusuri koridor sekolahannya yang masih sepi karena jam baru menunjukan pukul 6. 48 dan jam masuk sekolah masih ada setengah jam lebih. Naya akhirnya sampai juga di dalam ruang kelasnya yang seminggu ia tinggalkan, ia masuk ke dalam kelas yang masih sangat sepi, hanya ia seorang diri. Sekitar 5 menitan, Naya bosan di dalam kelas, ia menenteng tas nya lalu berjalan keluar kelas entah ia mau kemana. Ia berjalan di koridor kelasnya hingga ia sampai pada tangga untuk menghubungkan ke Rooftop dan tiba-tiba Naya penasaran dan berniat ke atas. Setelah melewati anak tangga, Naya membuka pintu dan mulai berjalan masuk tapi ia terkejut pada seseorang yang tak jauh dari dirinya sedang berbaring pada kursi kayu panjang dengan menutup wajahnya pakai lengan sehingga Naya tidak bisa mengenali orang itu. Naya takut mengganggu sehingga Naya berniat balik saja namun saat balik badan, Naya menendang sekotak kaleng bekas dan membuat suara bising sehingga orang itu langsung bangun duduk. " Lo, ngapain di sini?" Tanya orang itu kaget melihat Naya. " Gema," ucap Naya tak kalah kaget karena kenapa Gema sepagi ini di sekolahan dan malah tidur di sini. " Kamu kenapa sepagi ini di sekolahan?" Tanya Naya yang mulai mendekati Gema yang mulai kembali ke posisi awalnya. " Kamu bermalam di sekolah Gema?" Naya kembali bertanya karena Gema belum menjawab pertanyaan Naya. " Kamu sakit?" Tanya Naya lagi dan mencoba memegang dahi Gema namun Gema langsung menangkisnya sehingga tangan Naya sedikit terhempas. " Berisik tau nggak," bentak Gema. " Ya habis nya, di tanya malah diam jadi ya saya tanya lagi lah." " Pergi sana, ganggu saja." Tanpa menggubris ucapan Gema, Naya malah mengeluarkan sekotak bekal yang ia sengaja bawa memang khusus untuk Gema. Naya memegang kedua tangan Gema dan menarik Gema bangun membuat Gema kaget dan memasang wajah garang dan siap memaki Naya namun Naya terlebih dahulu bicara. " Tahan dulu marah nya, ini makan. Saya tau kamu pasti belum sarapan kan?" Naya menyerahkan kotak makanan itu dan menyimpannya di samping Gema dan Naya duduk jongkok di hadapan Gema. " Sok tau, ambil saja. Gue tidak butuh makanan lo." " Satu lagi, besok gue bawain kotak makan lo yang satu." " Tidak usah, simpan saja toh masih banyak kotak makan ku untuk bekalin kamu atau buang saja kalau kamu merasa tidak butuh." " Tidak usah bawa bekal lagi untuk gue, gue bukan an_" ucapan Gema terhenti karena tiba-tiba mulutnya sudah di penuhi makanan. Naya menyuapi Gema nasi goreng yang ia bawa karena malas mendengar Gema ngomel dengan kata-kata pedis nya. " Telan, enak kan makan dari pada ngomel," ucap Naya cekikikan apalagi melihat wajah Gema yang sedang berusaha menelan makanan yang ada di mulutnya karena Naya memasukan makanan nya sangat banyak untuk menyumpal mulut Gema. " Lo, kurang ajar ya lama-lama," ucap Gema geram. " Ssttt, saya bilang jangan ngomel dulu. Makan saja, tidak baik menyianyiakan makanan di depan mata, cukup saya saja yang kamu sia-siakan." Gema terdiam dan memalingkan wajahnya lalu kemudian ia mengambil nasi goreng tersebut dan memakannya membuat Naya diam-diam tersenyum. Sejujur nya Gema memang sedang lapar karena ia di sini sudah sejak subuh hari, semalam papa nya datang ke rumahnya mencari bundanya entah alasan apa namun bundanya tak ada karena sedang ke Bandung untuk menghadiri acara sehingga papa nya pun bertemu Gema saja dan berakhir mereka cekcok dan membuat Gema kabur dari rumahnya meninggalkan papanya yang masih di dalam rumah. Gema mengendarai motornya ke Basecamp nya namun subuh hari entah kenapa ia pergi dan berakhir di sekolahan dan penasaran cara Gema masuk? Seperti saat terlambat, ia memarkirkan motornya pada warung samping sekolahan dan manjat masuk ke dalam sekolah dan sesampai di rooftop karena masih jam 4 subuh, ia memilih tidur di bawah langit di terpa angin subuh yang sangat dingin namun karena ia sedang tidak baik-baik, ia biarkan saja kedinginan merasuki dirinya yang memang sedang butuh ketenangan apalagi ia baru saja adu mulut bersama papa nya. " Ambil, nggak enak," ucap Gema menyerahkan kotak bekal Naya yang sudah kosong dan membuat Naya melongo melihat kotak bekal itu sudah habis isi nya. " Tidak enak? Kok habis?" " Ya kata lo kan nggak boleh menyianyiakan makanan, jadi ya terpaksa gue makan." " Hmm, bagus lah karena kamu masih bisa menghargai makanan namanya . Terus saya nya kapan kamu hargai perjuangannya?" " Ada minum nggak? Kalau nggak ada, pergi sana." " Kok ngusir? Ini." Gema meneguk botol air mineral yang Naya memang sengaja juga bawa untuk Gema, Naya pun memasukan kembali kotak bekal itu ke dalam tas nya. Dan mereka kembali terdiam beberapa menit hingga Naya pamit kembali ke kelas karena sudah pukul 7.10 dan tanpa respon dari Gema, Naya pun mulai berjalan meninggalkan Rooftop namun sebelum Naya keluar dari pintu, Gema berbicara. " Oi, lo nggak usah nyebar kejadian tadi ke teman-teman lo atau yang lain, anggap saja tadi gue kerasukan jadi mau makan bekal lo." Naya tersenyum tipis ke Gema membuat Gema sejenak tertegun melihat senyuman Naya dan tak lama Gema kembali tersadar. " Ia tenang saja, saya tidak akan membocorkan nya kok karena saya tidak mau yang lain ikut-ikutan sama cara saya untuk dekat sama kamu," ucap Naya tersenyum dan akhirnya ia pun pergi meninggalkan Gema sendirian di Rooftop. " Dasar gadis aneh, " ucap Gema sepeninggal Naya. " Tidak semua cinta berawal dari rasa suka, ada juga cinta yang berawal dari rasa benci dan akhirnya merambat menjadi cinta." - Nayanika
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN