Basecamp

1267 Kata
Malam harinya Mia dan Naya berbincang santai di dalam kamar rawat Naya karena sejak sore Naya sudah bangun dan senang sekali mengetahui Mia sudah datang dan Mia akan menginap membuat ia punya teman cerita. "Nay tadi pak guru kasih tugas Biologi mencari tumbuhan laut dan kita berpasang-pasangan. Aku sama Vadi dan kamu sama Gema. " " What, kamu serius Mi aku sekelompok sama Gema? " tanya Naya antusias mendengar ia berpasangan dengan Gema. " Iya, tadi Gema juga mencari kamu karena katanya mau kerja tugas. " " Aduhh Mia kamu tau ini kabar menyenangkan, aku harus ke sekolah hari senin nanti, kapan tugasnya di kumpul? " " Sabtu depan, tapi tidak bisa begitu ya Nay. Jangan pulang dulu sebelum dokter mengizinkan, memang nya kamu mau drop lagi? " " Ya tidak lah tapi aku sudah tidak sabar untuk ketemu Gema dan kerja tugas bersama. " " Hmm Nay, ingat kamu masuk rumah sakit begini karena siapa? karena Gema Nay. Kamu sudah 2 kali sakit dan itu semua karena Gema, kamu mau Laura bertingkah lebih dari ini? " " Tenang Mia, aku tau kamu khawatir sama aku tapi kamu tau Mia salah satu kebahagiaan ku setelah menemukan sahabat seperti kamu yaitu melihat wajah Gema. Aku tidak tau tapi hanya melihat wajah Gema aku merasa kuat dan sembuh Mi, jadi izinkan aku berjuang sekali lagi untuk bisa dekat selalu dengan Gema demi kesembuhanku, " pinta Naya dengan muka melasnya dan mau tidak mau Mia pun hanya mengangguk pasrah. Walau sejujurnya Mia khawatir karena ia lebih dulu mengenal Gema dan tak ada seorang pun yang bisa meluluhkan perasaan Gema even itu Laura karena sampai sekarang mereka juga belum berpacaran, dan itu berarti Laura pun belum bisa meluluhkan hati seorang Gema. " Mbak Mira tolong tanyakan ke dokter Riko, apa boleh aku sudah pulang besok? aku harus ke sekolah hari senin, ada tugas yang menungguku, " pinta Naya saat Mira dan mbok Darmi sudah masuk kembali ke ruang rawat Naya setelah dari membeli pesanan Naya yaitu buah anggur. " Memangnya tugas itu sangat penting? " tanya Mira karena ia heran kenapa Naya tiba-tiba ingin minta pulang padahal ia masih harus kontrol. " Sangat penting, ini demi keberlangsungan hidup aku mbak Mir. " Naya menjawabnya dengan sangat yakin membuat Mia geleng-geleng kepala. " Ya sudah, saya hubungi dokter Riko dulu. " Naya pun tersenyum penuh semangat. ***** " Kamu mau kemana bang? " " Mau keluar cari angin. " " Bunda mau bicara dulu, abang masih ada waktu kan?" tanya bundanya saat Gema ingin membuka pintu rumahnya. Gema diam dan tak jadi membuka pintu rumahnya. " Duduk dulu yuk, lebih enak bicara dalam posisi duduk," ajak bundanya menarik lengan Gema dengan pelan dan Gema pun hanya menurut saja untuk duduk di sofa. " Lihat bunda bang, abang marah sama bunda?" tanya bundanya pelan saat Gema mulai menatap bundanya. Gema menggeleng pelan menatap lekat mata wanita yang ia cintai ini. " Terus kenapa abang cuek ke bunda, setelah perbincangan kita tadi sore?" " Bunda tau, abang tidak bisa marah sama bunda. Bunda adalah wanita sekaligus orang yang paling berharga di hidup abang. Abang diam bukan karena marah tapi abang hanya kecewa tapi bukan sama bunda tapi sama keadaan dan orang itu. kenapa kita harus berada dalam keadaan seperti ini bund? kenapa orang itu tega menyeret kita ke dalam situasi kacau seperti ini? " Bunda nya membawa Gema ke dalam dekapannya, memeluk anak semata wayang nya dengan erat. " Dengarkan bunda nak, sebenci apapun kamu, dia tetap ayah mu. Ayah kandung mu , dia meninggalkan kita itu biarkan lah jadi urusan dia, mungkin ayah mu ingin mencari kebahagiaan lain dan tidak ada kita lagi di dalamnya. " " Tapi bund, dia bikin hidup kita sengsara demi wanita itu. Bunda harus banting tulang untuk Gema, bunda berjuang sendiri, menyekolahkan Gema sedangkan dia hidup enak dengan keluarga barunya dengan berkelimangan harta. Gema benci orang itu bund, dia tidak layak di sebut ayah lagi atau menyebut namanya di hidup kita lagi. Dia rela meninggalkan keluarganya demi membangun keluarga lain dan melalaikan tanggung jawabnya, apa dia masih pantas di sebut ayah? jangan paksa Gema bund untuk memaafkan dia karena luka yang ia torehkan terlalu besar untuk kita berdua," ucap Gema menatap bundanya lekat. Bundanya memeluk kembali Gema dengan erat. " Maafkan bunda dan papa mu nak, karena keegoisan kami kamu harus terluka dan berada di posisi saat ini tapi bunda janji akan berjuang demi kamu asal kamu terus jadi anak yang baik dan sekolah benar-benar," ucap bundanya saat memeluk Gema dan Gema hanya mengangguk dan sejujurnya dia sangat merasa sangat bersalah ke bundanya karena sudah membohongi bundanya namun ia begini karena ulah papanya juga, semua kekecewaan yang ia rasakan dan sakit hatinya ia lampiaskan saat keluar rumah dan berakhir ia menjadi seperti ini. Setelah acara melow-melow nya, Gema pun akhirnya keluar rumah untuk ke basecamp nya karena anggota Daredevil sudah menunggu di sana. Tak lama motor KLX150 BF SE mendarat dengan sempurna di depan rumah kosong yang menjadi tempat perkumpulan mereka. Gema berjalan memasuki rumah kosong itu dan menemukan teman-temannya dengan berbagai kegiatan, ada yang sedang main kartu, ngobrol,main hp dan juga lagi nyemil. " Tumben lama baru sampai?" " Biasa, bunda lagi melow tadi." " Gara-gara bokap lo lagi?" " Bukan, tidak usah di bahas. Ini bukan ranah untuk membahas keluarga gue." Gema pun duduk pada Single sofa Maroon yang memang biasa ia duduki. " Bagaimana, sejauh ini belum ada yang datang ke sini kan?" " Belum," ucap anggota Daredevil kompak. " Bagus tapi kita harus tetap waspada mulai malam ini, jangan ada yang pergi sendirian karena siapa tau mereka merubah strategi untuk menyerang kita." " Siap bos." Mereka pun melanjutkan acara malam mingguan mereka di basecamp di samping untuk berjaga-jaga akan serangan musuh mereka. " Ada masalah apa lagi hmm? " Tanya Vadi yang mendekat ke arah Gema di saat ia menyadari Gema sedang melamun di saat yang lain lagi heboh bermain billiard dan kartu. " Kenapa tanya seperti itu?" " Kita tidak berteman sehari dua hari Gema, jelas gue tau kapan kamu ada beban pikiran dan tidak. Jadi kamu mau cerita?" " Gue cuman menyesal menyueki bunda tadi sore sampai sebelum gue ke sini." " Alasannya?" " Seperti biasa, bunda membahas pria itu lagi." " Bagaimana bunda bisa berhenti untuk membahas pria itu, sedangkan pria itu adalah cinta pertamanya seperti ceritamu dulu meski kini cinta pertama itu telah pergi dan mencari cinta yang lain." " Makanya bunda harus berhenti membahas dia lagi karena dia sudah di sakiti dan di kecewakan." " Lo tidak akan mengerti bagaimana perasaan bunda Gem, meski seorang wanita di sakiti tapi jika hatinya masih menyimpan rasa, sesakit apapun yang ia rasakan masih bisa tertutupi oleh rasa cintanya dan kamu tidak akan paham itu sampai kamu merasakan nya sendiri jatuh cinta sampai kamu seperti orang gila." " Dan gue tidak mau merasakan hal itu, cukup sekali gue merasakan yang namanya jatuh cinta dan gue tidak mau mencobanya untuk kedua kalinya karena sepertinya semua ujungnya sama saja, sakit hati." " Jangan berkata seperti itu karena kita tidak akan tau ke depannya bagaimana, kita tidak akan tau kapan hati kita akan jatuh dan kepada siapa hati ini akan berlabuh. Siapa yang tau pulang dari sini tiba-tiba kamu tidak sengaja bertemu wanita dan jantung mu tiba-tiba abnormal kan?" " 25% kemungkinannya akan terjadi Vadi." Vadi hanya menatap Gema jengkel karena tak mau kalah dalam berdebat, Gema memang pendiam tapi jika dalam berdebat dan ia merasa benar, Gema tidak akan tinggal diam sampai lawannya bungkam dan itulah yang Vadi rasakan, dari pada terus melanjutkan perdebatan yang tidak tau dimana ujungnya lebih baik Vadi mengalah dan diam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN