Gema tak masuk kelas

1532 Kata
15 menit sebelum bel sekolah berbunyi Naya sudah berada di dalam kelasnya bersama Mia, mereka sedang bercanda sambil bercerita sedangkan temannya yang lain sibuk dengan kegiatannya masing-masing, hingga tak terasa bel masuk pun berbunyi guru sudah datang di kelas Naya. Naya melirik kursi kosong yang berada di sampingnya, sampai guru mulai mengabsen nama siswa,sang pemilik kursi tersebut belum memunculkan batang hidungnya, Mia melihat Naya selalu melirik ke kursi kosong itu pun berbisik. " Tidak usah kamu lihat terus Nay,tidak akan kabur kok kursinya," bisik Mia lalu tersenyum menggoda membuat Naya meliriknya dengan tatapan kesal karena di goda Mia. " Yang punya kursi sudah biasa tidak masuk kelas Nay bahkan guru sudah mulai malas mencari mereka, dia sudah langganan dengan guru BK, jangan khawatirkan dia, fokus belajar saja," bisik kembali Mia saat Naya masih menatap kursi kosong di sebelahnya dan Naya pun hanya mengangguk lalu kembali fokus ke gurunya yang mulai menjelaskan mata pelajaran Biologi. Sampai 15 menit pembelajaraan berlangsung, guru bahkan tak menanyakan keberadaan Gema dan Vadi yang sampai saat ini belum datang juga namun itu mengganggu pikiran Naya. Naya pun akhirnya minta izin ke toilet, awalnya Mia berniat menemaninya ke toilet namun Naya tolak, Naya pun akhirnya berjalan dilorong sekolah yang sepi karena memang waktu pembelajaran. Hanya ada beberapa siswa yang terlihat di luar kelas itu pun mereka tidak belajar, mungkin guru mata pelajaran tidak sempat hadir. Setelah keluar dari toilet dan mulai berjalan untuk kembali ke kelasnya, Naya melihat seseorang menaiki tangga di bagian gudang, Naya pun berlari menuju orang tersebut. " Gema, Gema," teriak Naya , Gema yang mendengar namanya di panggilpun menghentikan langkahnya saat ingin menaiki anak tangga berikutnya dan balik badan, ia terkejut saat melihat Naya berada di ujung tangga dengan ngos-ngosan namun ia hanya tetap diam menatap Naya. " Kamu mau kemana? Ini sudah jam pelajaran, kenapa tidak masuk ke kelas?" Tanya Naya dengan mencoba mengatur pernapasannya karena lelah habis berlari setelah melihat Gema tadi yang ingin naik tangga. Gema hanya diam tak menanggapi pertanyaan Naya,ia lalu balik badan dan ingin melanjutkan naik tangga sebelum Naya memegang pergelangan tangannya. " Kamu mau kemana? Jawab pertanyaan aku Gema." Gema menatap pergelangan tangannya yang di genggam Naya, ia langsung menghempaskan tangan Naya dengan keras membuat Naya sedikit meringis. " Lo nggak usah ikut campur ," ucap Gema dengan suara berat dan penuh penekanan menatap Naya lekat dengan sorot mata yang tajam membuat Naya sedikit merinding melihat sorot mata Gema. Namun ia tak pantang menyerah saat Gema ingin kembali menaiki tangga,Naya lagi-lagi menggenggam pergelangan tangan Gema. " Tidak ya Gem, kamu harus ikut aku ke kelas. Bu widya menunggu kamu, ayo kita belajar," ucap Naya dengan gigih namun lagi- lagi Gema menghempas tangan Naya. " Lo punya kuping kan? Pergunakan dengan baik kuping kamu kalau begitu," ucap Gema kembali namun kali ini terdengar santai namun menusuk di d**a Naya. Naya pun hanya diam mematung dan membiarkan Gema pergi menaiki anak tangga berikutnya yang entah membawa Gema ke arah mana. Naya pun akhirnya kembali ke kelas, saat Naya mulai menulis catatan ia menghempas-hempaskan lengannya karena terasa sakit apalagi tadi di hempaskan Gema. Mia yang menyadari Naya menghempas-hempaskan lengannya pun mulai bertanya. " Lengan kamu kenapa? Kamu capek menulis?" Naya hanya menggelengkan kepalanya. " Terus kenapa? Jangan di paksa Nay, nanti kamu bisa catat di rumah, lihat catatan aku." " Aku tidak apa-apa kok Mia." " Terus itu lengan kamu hempas-hempaskan seperti itu gara-gara apa kalau bukan karena capek menulis?" " Ini tadi di hempas Gema," ucap Naya santai namun Mia yang mendengarkannya pun langsung heboh tak sadar kalau gurunya masih di depan. " Kamu ketemu dimana orang itu?" Tanya Mia dengan suara tinggi membuat mata yang ada di kelas menatapnya termasuk gurunya. "Mia, kalau kamu mau bicara silahkan keluar saja,"ucap gurunya membuat Mia meringis karena malu. " Iya maaf bu." "Makanya kamu tidak usah heboh seperti tadi Mia," bisik Naya mengejek. " Pokoknya aku menuntut penjelasan kamu ya Nay,"bisik Mia lalu mereka pun fokus belajar lagi karena tak ingin di tegur untuk kedua kalinya oleh gurunya. Tak terasa mata pelajaran Biologi pun selesai, bu Widya pun meninggalkan kelas Naya, Mia langsung menodong Naya dengan minta penjelasan. " Sekarang ceritakan tadi kamu di apain sama si Gema dan kamu ketemu dia dimana ?" " Apakah kamu punya cita-cita menjadi reporter Mia? Pertanyaan mu bererentetan sekali," ucap Naya menyinggung namun ia tak kesal, dan itu membuat Mia manyun. " Tadi saat aku habis ke toilet aku melihat seorang pria yang mirip Gema hendak menaiki tangga yang di dekat gudang yang tak jauh dari toilet, aku pun berlari ke arah orang tersebut untuk memastikan apakah itu Gema atau bukan dan ternyata benar itu Gema. Aku pun mengajak ia ke kelas namun ia menolak, aku pun tak menyerah. Aku menarik tangannya niatnya untuk membawa ia ke kelas namun ia menghempas tanganku sehingga membuat tanganku tadi sedikit sakit," jelas Naya. " Kamu pegang tangan Gema?" Tanya Mia terkejut membuat Naya hanya mengangguk. " Dengar baik-baik ya Nay, mulai saat ini kamu tidak usah berurusan lagi dengan Gema. Gema itu orangnya selain irit bicara, dia itu kasar dan tidak pandang bulu baik perempuan atau laki-laki. untung kamu cuman di hempas, dulu ada siswi yang berniat memberi Gema kado langsung di tangannya dan Gema langsung mendorong siswi itu hingga jatuh ke lantai membuat siswi itu nangis tersedu-sedu padahal siswi itu pun belum menyentuh tangan Gema," jelas Mia membuat Naya kaget mendengar fakta terbaru lagi tentang Gema. " Mau bagaimana lagi Mi, hati aku tuh sudah tertuju pada Gema." " Tapi aku tidak ingin kamu terluka karena Gema Nay, dia tidak akan terbuka pada wanita Nay. Hanya ada satu wanita sejak ia masuk hingga saat ini yang bisa dekat dengan Gema yaitu Laura, dan aku juga tidak mau kamu berurusan dengan Laura, ia sama berbahaya nya dengan Gema Nay." Naya pun tersenyum mendengar nasehat Mia yang mengkhawatirkannya dan tersenyum ke Mia. " Apakah sesulit itu mencapai satu persatu keinginan ku sebelum ajal menjemput? Aku hanya ingin merasakan bahagia dan di sayangi dengan tulus oleh orang yang ku sayang sebelum aku pergi meninggalkan dunia ini," ucap Naya dalam hati, ia berusaha menahan air matanya agar tidak tumpah membasahi pipinya. Jam ke 3 berlalu begitu saja karena guru mata pelajaran tak masuk karena ada acara sehingga bel istirahatpun kini berbunyi, seperti biasa Naya dan Mia memutuskan untuk pergi ke kantin dan seperti hari biasanya kantin sekolah selalu ramai oleh siswa siswi yang perutnya keroncongan. Setelah memesan 2 mangkok bakso dan 2 es teh, Naya dan Mia pun ke bangku yang masih kosong untuk menyantap makanan mereka. Namun saat menyantap makanan Naya melihat Gema dan teman-temannya berada di kantin ini juga tak jauh dari tempat duduknya namun Naya fokus ke wanita yang duduk di sebelah Gema dengan tenang, dan mungkin itu Laura wanita satu-satunya yang bisa dekat dengan Gema seperti yang Mia katakan tadi. Wanita itu cantik dengan rambut yang panjang namun berwarna coklat, wanita itu bahkan sangat dekat dengan Gema membuat Naya merasakan sesak di dadanya. " Dia Laura, orang yang aku ceritakan tadi," ucap Mia menatap Naya, dan Naya pun hanya tersenyum ke Mia. Setelah menyelesaikan makannya, Naya dan Mia pun berniat kembali kekelas sebelum Vadi menyapa Naya. " Hai Naya, akhirnya ketemu juga kita pagi ini. Pasti kamu cariin aku kan?" Goda Vadi yang sudah berdiri di samping Naya. " Astaga Vadi aku baru tau kalau kamu sekarang berganti profesi menjadi dukun," ucap Naya santai membuat Vadi melongo tapi sekaligus tertawa begitupun 3 sahabatnya yang lain kecuali Gema dan Viona yang ada di tempat itu. " Hahhaha, lucu deh kamu Nay. Kamu sudah mau ke kelas?" Naya hanya mengangguk. " Tunggu aku ya Nay, ya sudah bye." " Bye Vadi, bye eric,Leo dan Fandi," ucap Naya ramah " Ah iya, aku juga tunggu kamu Gema di kelas, bye," ucap Naya mencondongkan wajahnya ke muka Gema yang dari tadi hanya diam menatap mangkok yang kosong di depannya membuat semua isi kantin terkejut melihat keberanian Naya termasuk Laura yang melongo karena untuk pertama kalinya ia melihat Naya dan dia langsung terkejut karena Naya sangat berani ke Gema dan bahkan Gema hanya diam saja membiarkan Naya dan Mia pergi begitu saja. " Kamu memang cari gara-gara Nay," ucap Mia geleng-geleng melihat tingkah sahabat barunya saat mereka berjalan ke kelas dan Naya lagi-lagi tersenyum saja. " Itu cewek tadi siapa sih? Berani-beraninya dia begitu ke Gema?" Tanya Laura dengan suara tinggi dengan wajah kesal saat Naya sudah pergi. " Dia Naya, teman kelas aku. Kenapa memangnya?" Tanya Vadi sewot " Kamu masih tanya, aku kenapa? Kalian tidak lihat apa, berani sekali dia seperti itu tadi ke Gema," ucap Laura menggebu-gebu. " Sabar Laura, namanya juga anak baru. Belum tau Gema seperti apa,"ucap Leo. " Kamu juga Gem, kenapa diam saja saat cewek jadi-jadian itu mendekati wajahmu? Biasanya kamu akan mendorong mereka saat cewek-cewek mendekatimu,"omel Laura. Laura terus saja mengomel dan malah di kompori oleh Vadi dan yang lainnya membuat Gema pusing mendengarnya dan langsung berdiri dari kursinya. " Bacot lo pada," ucap Gema langsung meninggalkan Laura dan yang lainnya. " Kamu mau kemana Gem?" Teriak Laura saat Gema terus berjalan. " Woi Gem, tungguin kita," ucap Fandi dan langsung menyusul Gema bersama Vadi,Leo dan Erik meninggalkan Laura yang melongo melihat kelakuan Gema.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN