Hari minggu seperti janji Naya ke Mia beberapa hari yang lalu, Naya benar datang ke panti tempat Mia tinggal setelah menempuh perjalanan sekitar 3 jam karena terjebak macet. Naya bersama Mia datang menjelang makan siang, Naya membantu Mia dan Mira menurunkan barang-barang yang ia bawah setelah ibu panti datang menyambutnya. Naya membawa banyak makanan ringan, mainan untuk anak-anak dan juga sembako membuat ibu panti Mia dan semua pengurus panti sangat senang dengan kedatangan Naya yang sudah Mia beri tau sebelumnya.
" Hallo adik-adik,perkenalkan kakak namanya Naya. Kakak teman sekelas kak Mia, salam kenal," sapa Naya dengan ramah dan ceria sesaat sebelum masuk ke dalam panti.
" Hallo kak Naya," sapa balik anak-anak panti tak kalah ramahnya.
" Nak Naya terima kasih ya atas kunjungan kamu ke sini, kunjungan seseorang sangat berharga bagi anak panti di sini," ucap bu Risma sebagai ibu panti
" Iya bu sama-sama, saya juga senang sekali karena bisa di terima dengan baik di panti ini."
" Tentunya nak Naya, kami dengan senang hati menyambut kedatangan kamu dan panti ini akan selalu terbuka untuk kamu kapan pun kamu mau datang," ucap bu Risma lalu merangkul Naya membuat Naya tersenyum karena ia sudah lama tak di rangkul oleh sosok ibu.
Bu Risma pun meminta mereka semua masuk ke dalam panti, sesampainya di dalam bu Risma, Naya, Mia,Mira dan pengurus panti yang lainnya pun membagikan cemilan ke anak-anak panti membuat anak panti bersorak bahagia dan juga tak lupa mainan yang Naya bawa. Anak-anak panti pun berlari ke taman belakang untuk bermain sambil memakan cemilan mereka, Naya yang melihat kebahagiaan anak-anak panti pun ikut merasa bahagia dan ia tersenyum. Tak terasa sudah siang saja, Naya hanya tinggal duduk melihat anak-anak main sambil mengobrol dengan Mia namun waktu berlalu begitu cepat.
" Anak-anak saatnya makan siang, ayo istirahat," teriak bu Risma kepada anak-anak panti dan anak-anak panti tersebut pun langsung menghentikan aktifitasnya lalu masuk ke dalam panti.
" Nak Naya ayo ikut gabung makan siang bersama kami." Naya melihat Mia dan Mia tersenyum lalu mengangguk membuat Naya pun ikut tersenyum dan mengiyakan ajak bu Risma.
Naya dan Mira pun mengikuti bu Risma dan Mia yang masuk ke dalam panti lalu menuju ruang makan,di atas meja sudah tersedia makanan dan anak panti sudah duduk dengan rapi di kursi masing-masing.
" Silahkan duduk nak Naya,ayo silahkan di makan. Maaf cuman hidangan sederhana."
" Tidak apa-apa bu, saya bisa makan apa saja kok. Terima kasih banyak bu karena mau ajak saya makan siang bersama." Naya dan yang lain pun makan siang bersama dengan menu sederhana menurut Naya karena beda yang ada di rumahnya namun suasana makan nya yang sangat mewah bagi Naya.
Apapun makanan nya jika kita bersama-sama akan tetap enak dan mewah bagi Naya namun makan bersama yang Naya rindukan sudah lama tak terjadi lagi di rumahnya dan untuk beberapa tahun terakhir ini kali pertama Naya makan bersama-sama lagi, biasanya ia hanya makan sendiri di rumah atau di temani Mira dan Art nya.
Tak terasa waktu sangat berlalu begitu cepat, Naya sudah berpamitan pulang ke ibu panti karena sudah sore.
" Nak Naya jangan bosan-bosan ke panti ya, anak-anak senang dengan kehadiran nak Naya."
" Iya bu pasti, saya akan sering ke sini karena sahabat saya tinggal di sini." Naya pun merangkul Mia lalu tersenyum dan di balas senyuman juga oleh Mia.
" Kalau begitu saya pamit ya bu, Mia aku pamit ya. Sampai jumpa di sekolah." Naya dan Mira pun meninggalkan panti.
" Baik sekali ya teman kamu itu Mia," ucap bu Risma saat masih melihat ujung mobil Naya yang sudah meninggalkan panti.
" Iya bu, Naya memang sangat baik. Walaupun dia orang yang berada tapi dia tidak sombong dan pilih-pilih teman. Sayang saja dia selalu kesepian dirumahnya sehingga Mia ajak dia kesini."
" Iya sering kamu ajak dia kesini agar tidak merasa kesepian, kasian Naya."
Di perjalanan pulang Naya pun hanya diam menikmati pemandangan jalanan ibu kota Jakarta menjelang magrib dan mulai macet lagi.
" Mir, kalau ada mini market kita singgah ya. Aku haus." Mira pun mengiyakan permintaan bos kecilnya itu dan benar tak lama keluar dari kemacetan ada mini market dan Mira pun meminggirkan mobilnya ke depan mini market tersebut.
" Kamu mau minum apa Mir? Biar aku saja yang masuk."
" Kopi saja non."
" Ok bos, wait me here," ucap Naya dengan memperagakan gerakan hormat membuat Mira tertawa melihat tingkah majikannya itu.
Naya pun berjalan masuk ke dalam mini market tersebut dan mulai ke area lemari pendingin untuk mengambil beberapa minuman dan tak lupa ia mengambil cemilan juga karena sepertinya ia akan masih lama sampai di rumahnya karena ini waktu-waktu macet. Setelah memilih beberapa minuman dingin dan cemilan ia pun ke kasir mengantri, saat ia mengantri di depannya terdapat ibu-ibu yang sepertinya sedang mencari sesuatu wajahnya panik dan bingung.
" Bilang saja ibu memang tidak punya uang, ibu-ibu kok masih mikir mau menipu," ucap pegawai kasir tersebut ke ibu yang ada di depan Naya.
" Astaga mbak jangan bicara sembarangan, saya beneran lupa mengambil dompet saya," bela ibu itu.
" Hmm, permisi bu, ada apa?" Tanya Naya ke ibu yang ada di depannya.
" Begini nak, sepertinya saya lupa membawa dompet saya," ucap ibu itu lirih.
" Mbak, belanjaan ibu ini memangnya berapa?" Tanya Naya ke pegawai kasir tersebut.
" 500.000 mbak."
" Ya sudah,ini belanjaan saya. Kamu gabungkan saja sama belanjaan ibu ini," ucap Naya memberikan belanjaannya dan juga kartu kreditnya membuat ibu itu tercengang karena jarang ada orang di kota ini yang masih mau menolong seperti Naya.
" Astaga tidak usah nak, saya bisa menelpon anak saya untuk bawakan uang."
" Tidak apa-apa bu, saya ikhlas kok bantuin ibu."
" Sudah mbak, ini." Pegawai kasir itu pun kembali menyerahkan kartu Naya dan kantongan yang berisi belanjaan Naya.
" Ibu ini belanjaannya, saya pamit dulu ya bu." Naya pun menyerahkan belanjaan ibu tersebut
" Mbak terima kasih ya, dan kalau bisa lain kali jangan membentak orang yang lebih tua lagi, tidak baik," ucap Naya tersenyum ke mbak kasirnya membuat mbak kasirnya tersenyum kecut.
Naya pun langsung pergi namun saat di depan pintu masuk mini market seseorang tengah menahan tangannya.
" Tunggu nak."
" Iya bu ada apa?"
" Saya ingin berterima kasih atas bantuan kamu, kalau tidak ada kamu mungkin saya masih di dalam mendengar omelan pegawai kasir itu."
" Iya bu, sama-sama. Ya sudah saya pamit duluan ya bu, Assalamu alaikum." Naya pun langsung pamit karena melihat langit sudah gelap.
" Baik sekali anak perempuan itu, astaga saya lupa lagi tanya siapa namanya," ucap ibu itu memukul pelan jidatnya saat melihat Naya menaiki mobilnya.
" Semoga suatu hari nanti saya masih bisa bertemu gadis baik hati itu."
*****
Hari senin kembali menyapa, anak sekolahan mulai grasak grusuk untuk kembali beraktifitas di pagi hari,begitupun Naya. Pagi itu Naya sudah berada di kursi makan bersama Mira dan siap menyantap sarapan pagi yang di buatkan oleh mbok Darmi Art nya sejak ia masih kecil. Setelah menghabiskan semua nasi gorengnya, Naya pun mengambil tasnya yang berada di kursi sebelah dan bersiap ke sekolah karena jam sudah menunjukan pukul 6.30 namun kegiatan nya untuk melangkah terhenti di kala Mira memanggilnya.
" Non, sudah minum obat nya?"
" Ahhh, come on. Boleh tidak sehari saja saya tidak minum obat s****n itu," ucap Naya sarkas karena jujur ia sudah bosan minum obat-obat terus.
" Tidak boleh bicara seperti itu non, itu semua demi kebaikan non Naya," ucap mbok Darmi. Naya pun memanyunkan mulutnya lalu kembali mengambil kotak obat yang ada di tasnya lalu meminumnya seperti hari biasanya.
Entah Naya yang kecepetan datang atau siswa yang lain yang lambat datang tapi suasana sekolah saat Naya datang masih sepi,hanya beberapa orang saja yang terlihat di sekolah itu. Naya pun cuek saja lalu ia berjalan ke kelasnya dan bahkan kelasnya pun masih kosong, anggaplah Naya yang kecepatan datang karena beruntung saat ke sekolah tadi ia tidak menemui macet dimana pun,Naya pun berjalan ke kursinya.
" Apa dia tidak akan masuk kelas lagi?" Tanya Naya pada dirinya sendiri saat melihat kursi Gema yang masih kosong.
Ia pun mengingat kalau ia membawa bekal nasi goreng di tas nya untuk Mia awalnya tapi tiba-tiba ide nya muncul untuk memberikan nasi goreng itu ke Gema,Naya penasaran akan seperti apa ekspresi Gema saat melihat nasi goreng yang Naya berikan, apakah Gema akan buang atau di terima namun rasanya pilihan kedua akan jauh dari kata itu namun Naya tidak peduli, ia akan siap apapun yang Gema akan perbuat nantinya.
Naya pun mengeluarkan sebuah kotak bekal bermerk "Aware" berwarna ungu dari dalam tasnya, Naya mengambil selembar sticky note dan menuliskannya sebuah pesan lalu menempelkannya di atas penutup bekal makanan tersebut lalu ia siap menyimpan di laci meja Gema namun Naya kaget karena isi laci Gema ternyata banyak hadiah juga dari fans Gema, benar kata Mia, Gema sangat populer dan di sukai banyak wanita. Isi meja Gema ada bermacam-macam, dari buket bunga, coklat,cake bahkan minuman kemasan pun ada juga namun Naya cuek saja, ia pun meletakkan bekal makanannya bersama hadia lainnya untuk Gema lalu kembali ke kursinya menunggu Mia datang.
Sekitar 10 menit Mia pun datang dan langsung ke Naya.
" Selamat pagi Naya."
" Pagi juga Mia."
Dan teman sekelas Naya pun sudah mulai berdatangan karena jam masuk tinggal 5 menit lagi. Naya lagi-lagi menatap kursi Gema yang belum perpenghuni, Naya menghela nafas panjang sepertinya Gema tidak akan masuk kelas lagi.
" Mia aku ke toilet dulu ya, masih ada waktu," ucap Naya yang tiba-tiba ingin pipis.
" Aku temenin ya." Naya pun mengangguk memperbolehkan Mia ikut. Naya dan Mia pun berjalan ke toilet sambil bercerita namun saat masuk ke toilet beberapa siswi lainnya berada di dalam toilet tersebut dan sejak Naya masuk ke dalam toilet karena Mia menunggunya di depan pintu toilet. ada 1 wanita yang selalu menatap Naya hingga Naya keluar dari bilik toilet.
" Hei Lo," ucap cewek itu menunjuk Naya.
" Saya? Iya ada apa?"
" Lo Naya kan? Lo yang kemarin dengan berani dekat dengan Gema kan?" Naya mencoba mengingat kejadian kemarin.
" Ahh, yang di kantin kan? Iya saya. Kamu orang yang berada di dekat Gema kemarin ya?" Tanya Naya dengan polosnya.
" Dengar ya, Gue Laura anak kelas XII ips 1, gue minta lo tidak usah dekat-dekat lagi sama Gema atau berharap banyak ke Gema, Lo mengerti?" Ucap Laura penuh penekanan sambil menunjuk wajah Naya.
" Kenapa? Saya kan teman kelas Gema, jelas kami pasti akan dekat dan asal kamu tau sejak pertama saya melihat Gema, saya suka sama dia dan sejak itu saya akan mengejar Gema." Mendengar kalimat Naya yang tak takut dengannya membuat Laura geram.
" Lo bebal banget ya, asal kamu tau ya satu-satunya cewek yang bisa dekat sama Gema itu ya cuman gue. Jadi lo jangan bermimpi untuk bisa dekat sama Gema."
" Kita lihat saja nanti," ucap Naya tidak pantang menyerah, walau di dalam hatinya sedikit takut melihat ekspresi Laura yang sudah seperti siap menerkamnya di tambah pengikutnya yang mengelilinginya.
" Lo ya bener-bener_" ucap Laura tertahan karena sudah emosi karena untuk pertama kalinya di sekolahannya ada murid yang tak takut padanya bahkan membangkang dia.
" Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Naya bersiap meninggalkan Laura namun Laura menahan bahunya.
" Apa lagi?" Tanya Naya.
Laura memberi kode ke salah satu temannya dan cewek itu pun langsung menyiram Naya dengan air segayung membuat seragam Naya basah, rambutnya lepek. Naya menganga karena kaget mendapat perlakuan seperti itu, ia menatap Viona tak percaya.
" Itu akibat kalau lo tidak mau mendengar apa yang gue katakan, ini masih permulaan. Lo siap-siap saja kalau masih berani dekat dengan Gema setelah ini," ucap Laura lalu meninggalkan Naya yang sudah basah kuyup, dan Naya langsung merosot ke lantai.