Terjebak bersama

1505 Kata
Entah sudah berapa lama mereka berdua terjebak di dalam gudang karena mereka tidak mempunyai Hp untuk melihat jam dan keduanya juga tidak memakai jam tangan, yang jelas ini belum malam karena dari sela-sela lobang gudang masih ada sedikit cahaya yang masuk membuat mereka tau keadaan di luar. " Gema, kamu kenapa bisa berada di gudang? Vadi dan yang lain kemana? " Karena bosan saling diam, Nayanika memberanikan diri memulai perbincangan entah Gema mau menjawab atau tidak, yang jelas Naya mencoba saja memecah keheningan ini. " Please Gema, jawab aku. Aku tidak mau mati kebosanan disini bersama kamu, setidaknya kalau tidak ada yang menolong kita dan entah apa yang terjadi nantinya. Aku bisa tenang karena bisa mengajak kamu bicara kalau memang pada akhirnya aku tidak bisa memilikimu. " Gema menatap Naya heran, kenapa omongan wanita di depannya ini mulai melantur, apakah ia benar-benar bosan? Gema menatap sorot mata tajam Naya dengan memohon dan Gema pun akhirnya mengalah karena dia juga lama-lama sudah bosan. " Gue tidur, Vadi dan yang lain gue suruh duluan pulang. " Nayanika tersenyum karena akhirnya Gema mau meresponnya walau terdengar masih kaku perbincangan mereka tapi itu bukan masalah bagi Naya. " Pantesan kamu tidak ada di kelas tadi, tapi memang kita tidak belajar sih. " " Hmm, Gema kamu lapar tidak? " " Sudah berapa lama kita terjebak di sini,menurut lo? Tidak usah bertanya kalau tidak punya solusi dari jawabanku. " Nayanika cemberut, tapi dia tetap mengeluarkan sesuatu dari dalam tas nya. " Ini, aku masih punya roti sisa bekal tadi, " ucap Naya menyodorkan kotak bekal ke hadapan Gema. " Jadi ini sisa? " tanya Gema penuh selidik dengan muka yang bikin Naya kesal. " Hmmm ya sisa lah karena aku tidak habiskan tapi ini bukan bekas gigitan aku kok. Ya sudah kalau kamu tidak mau, aku makan sendiri, " ucap Naya lagi dengan kesal lalu menarik kembali kotak bekalnya dan membuka tutupnya. Saat Naya akan menggigit roti isi coklat itu, tiba-tiba tangannya di cegat dan tangan Naya terputar menjadi ke arah mulut Gema menjadi Naya menyuapi Gema membuat Naya melongo tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini. " Kkewnaapa, lhooww twidhak shukaw? " tanya Gema dengan mulut berisi roti dan lagi-lagi Naya hanya menggeleng. " Itu sisa nya buat lo, gue yang ini, " ucap Gema lalu akan mengambil sisa 1 potong roti yang berada di dalam kotak bekal itu. " Kamu sisahin aku? " " Kenapa? Ya sudah gue makan semua saja, " jawabnya dan mengambil roti dari tangan Naya. " No, itu punya aku, " jawab Naya lalu menahan tangan Gema saat akan memasukan roti itu ke dalam mulutnya dan membawa tangan Gema ke mulutnya seperti apa yang Gema lakukan tadi. " Mlew, Sawtuu samha, " ucap Naya mengejek sambil memakan roti di ikuti senyumnya membuat Gema sejenak tertegun melihat senyum manis gadis yang selalu mengejarnya itu. " Kenapa tidak di makan roti nya? " tanya Naya menyadari Gema diam dan lalu Gema mengambil sisa roti dan memasukan semua ke mulutnya membuat ia tersendak dan langsung mengambil botol minum yang barusan Naya minum juga membuat Naya semakin melongo. " Gema itu_, " jawab Naya terpotong karena Gema langsung meneguk air mineral bekas Naya. " Kenapa? " tanya Gema setelah berhasil minum karena tersendak roti. " Itu kamu minum botol bekas dari bibir aku, " ucap Naya pelan membuat Gema tersendak lagi dan Naya kembali memberi Gema air minum dari botol minumnya. *Heol, 2 kali hyung Gema minum dari bekas bibir Naya, kalian pasti paham kan? Hehhehehhe " Sudah agak baikan? " tanya Naya dan Gema hanya mengangguk. Entah Naya harus bersyukur atau bagaimana, tapi terkurung di gudang sekolah bersama Gema membuatnya sedikit tau sisi lain dari Gema kalau Gema bisa juga bicara sedikit panjang dari sebelumnya meski masih cuek dan Naya bahkan tidak percaya kalau Gema makan dari tangannya langsung atau bisa di katakan Naya menyuapi Gema dan bahkan lebih parahnya Gema minum dari botol yang sama dengan Naya dan sama-sama merapatkan bibir di botol itu yang sama saja mereka ciuman secara tidak langsung. Memikirkan itu tiba-tiba muka Naya terasa panas dan sialnya Gema memergoki Naya mengecek mukanya. " Lo sakit? muka lo merah. " " Tidak, aku hanya panas kok. Iya panas, di sini sangat panas, kamu tidak merasakannya? " Gema hanya mengangguk. Mereka berdua kembali di selimuti keheningan, Naya dan Gema sama-sama bersandar di tembok saling berhadapan dengan jarak sekitar 1,5 meter. Dan dalam posisi seperti ini, Naya merasakan suhu tubuhnya mulai naik dan ia semakin merasa tubuhnya lelah. Naya berdoa di dalam hati agar Mira atau siapapun segera menemukannya bersama Gema, karena ia yakin sakitnya akan kambuh lagi sedangkan ia tidak ingin meminum obatnya di depan Gema karena tidak ingin Gema tau tentang yang ia alami sehingga Naya sedikit tersiksa. " Lo mimisan, " ucap Gema saat menatap Naya. Naya segera memegang hidungnya dan benar, darah segar keluar dari hidungnya. Naya segera mengambil tissue dari dalam tas nya yang memang ia selalu sediakan, namun Gema menahan tangan Naya saat ia akan melap hidungnya. Tanpa bicara, Gema meraih tissue itu dan dia yang membersihkan hidung Naya membuat Naya semakin tidak percaya apa yang terjadi saat ini. " Lo demam, " ucap Gema saat sudah membersihkan hidung Naya namun Gema tak sengaja menyentuh kulit Naya dan terasa panas. Wajah Naya kini mulai memucat dan ia sudah sedikit menggigil, apa yang Naya takutkan benar terjadi. Sakitnya akan kambuh namun kekhawatirannya tentang Gema terpatahkan karena Gema menolongnya, mungkin Gema kasihan melihatnya. " Lo dingin? " tanya Gema dan Naya mengangguk. Gema langsung mengambil sesuatu dari dalam tas nya dan itu adalah jaket. Gema memasangkan Naya jaket agar tubuhnya hangat dan tanpa aba-aba Gema mengusap-usap kedua tangannya lalu di tempelkan di wajah Naya. " Aku pusing Gema, " ucap Naya lirih. Gema membantu Naya baring di pahanya lalu kembali menghangatkan Naya dengan telapak tangannya. " Lo jangan tidur ya, mungkin tidak lama lagi akan ada yang menemukan kita, lo tahan. " Naya mengangguk pelan dan menatap wajah Gema dari arah bawah saat Gema terus memberi Naya kehangatan dari telapak tangannya yang di tempelkan ke wajah Naya. " Gema, terima kasih ya. Aku mau tutup mata dulu, kepalaku sangat berat. " " Nayanika, jangan tutup mata. " Samar-samar Naya mendengar untuk pertama kalinya Gema menyebut namanya namun detik berikutnya Naya tak sadarkan diri. Gema di landa kepanikan, ia mengguncang-guncang tubuh Naya namun tak ada respon, ia mengecek nafas Naya dan syukur masih bernafas namun Gema tetap panik karena Naya tak sadarkan diri. Gema mulai teriak minta tolong namun tak ada satupun yang merespon hingga ia lelah dan terus mencoba menyadarkan Naya. Di tempat lain, tepatnya di bagian pos satpam Mira datang dengan terburu-buru dengan wajah panik. Karena ia baru melihat ada pesan masuk dari nomor baru dan betapa kagetnya kalau itu pesan dari Naya yang di kirim dari sekitar setengah 3 dan Mira baru lihat saat jam 5 sore saat di jalan menjemput Naya dari memperbaiki mobil. Mira bersama satpam dan penjaga sekolah lari bersama menuju gudang yang Naya sebutkan dan secara bersamaan mereka juga bertemu Vadi di dekat tangga naik ke lantai 2. Vadi juga datang saat beberapa menit yang lalu baru mengecek Hp nya karena sepulang sekolah ia tertidur di basecamp dan bahkan ia ke sini sahabat yang lainnya belum bangun. Mereka semua bersamaan berlari menuju gudang dan mereka kaget karena gudang terkunci pakai sapu seperti seseorang memang sengaja mengunci gudang itu karena beberapa hari ini gudang tidak terkunci karena pintunya lagi di perbaiki. Tanpa menunggu lama, satpam sekolah membuka sapu ijuk tersebut dan pintu gudang akhirnya terbuka dan terlihat lah Naya sedang berbaring di paha Gema sambil Gema memegang tangan Naya. Mira benar-benar kaget melihat kondisi Naya saat ia sudah berhasil masuk ke dalam gudang. " Naya, kamu dengar mbak kan Nay? " Naya tidak merespon sama sekali, wajah nya pucat dan tubuhnya dingin, Vadi yang melihatnya juga ikut panik begitu pun satpam dan penjaga sekolah. " Tolong bawa Naya ke mobil, " pinta Mira. Gema langsung saja menggendong Naya dengan Bridal style dan membawa ke mobil Naya di ikuti yang lain. " Apa kami harus ikut mbak? " tanya Vadi saat Gema sudah membaringkan Naya ke dalam mobil. " Tidak usah, terima kasih sebelumnya atas bantuannya, saya pamit dulu. " Gema, Vadi dan yang lain hanya mengangguk lalu Mira pun masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan sekolah dengan keadaan sangat panik. " Mas Gema kenapa bisa terkunci sama mbak Naya? " " Tidak tau pak, besok saja kalau mau bertanya. Saya mau pulang, capek dan lapar, oh iya kejadian ini jangan ada orang lain yang tau, nanti saya yang urus sendiri," ucap Gema lalu pergi di ikuti Gema. " Tidak usah bertanya juga, aku marah sama kamu ya Vadi karena tidak menjawab telfon aku, " ucap Gema tanpa melihat Vadi karena ia yakin Vadi pasti penasaran. " Maaf aku ketiduran Gem. " " Dan kejadian ini tidak usah kamu ceritakan ke yang lain. " Setelah itu Gema naik ke motornya untuk pulang ke rumah karena sudah setengah 6 dan juga di susul Vadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN