Tak terasa sudah jam terakhir saja hari ini namun guru mata pelajaran Matematika untuk mata pelajaran terakhir tidak masuk karena guru-guru akan mengadakan rapat sehingga kelas kosong di jam terakhir. Siswa-siswi seperti biasanya akan sibuk sendiri dengan aktifitas masing-masing, Naya dan Mia masih setia di dalam kelas sedangkan tetangga bangku mereka sudah tidak terlihat sejak setelah jam istirahat dan itu bukan hal baru lagi, bahkan Naya sudah hapal betul kelakuan mereka apalagi di jam terakhir, jarang sekali mereka masuk entah mereka kemana.
Bel pulang berbunyi 15 menit lebih cepat, semua murid berhamburan pulang begitupun Naya dan Mia. Mereka jalan bersama menuju gerbang sekolah sambil bercerita, dan sesampainya di depan gerbang Naya menemani Mia menunggu angkot.
" Mbak Mira sudah di mana Nay? aku tidak mau meninggalkan mu sendiri di sini. "
" Jangan khawatir Mia, Mbak Mira sudah dekat kok, mungkin setelah angkot mu datang, dia juga sudah sampai di sini. "
" Jadi tidak apa-apa aku pulang duluan? " tanya Mia melihat angkotnya sudah datang.
Karena jujur Mia takut meninggalkan Naya sendiri di sekolah walau masih siang. Mia takut terjadi sesuatu pada sahabatnya itu dan barusan seperti ini Mira telat menjemput Naya, biasanya sebelum pulang sekolah Mira sudah nongkrong di depan sekolah menunggu Naya.
" Iya Mia tidak apa-apa, kamu pulang duluan saja, " ucap Naya meyakinkan sahabatnya itu.
Akhirnya Mia pun menaiki angkot lalu meninggalkan Naya sendiri di halte depan sekolah, Naya melihat Hp nya karena ingin menghubungi Mira karena sejujurnya Naya tidak tau Mira di mana saat ini. Ia berbohong kepada Mia karena tidak ingin Mia mengkhawatirkan nya. karena tidak biasanya Mira terlambat seperti ini menjemputnya.
Saat melihat Hp nya, terdapat pesan dari Mira 5 menit yang lalu kalau ia terlambat datang menjemputnya karena mobilnya tiba-tiba mogok di jalan saat ingin menjemputnya.
Naya pun menghela nafas, seperti nya ia akan sedikit menunggu di halte ini karena ia malas jalan ke mini market tempat ia melihat Gema dulu di kejar karena ia sudah cukup lelah hari ini, entahlah Naya rasa hari ini adalah hari terlelah setelah sebulan lebih ia bersekolah di sini. Saat Naya melihat tasnya, ia baru sadar kalau buku catatan fisikanya tertinggal di kelas sedangkan besok masih ada jam fisika, ia takut akan ada quiz dadakan lagi sehingga ia pun akhirnya kembali ke sekolahan dan beruntung penjaga sekolah belum menutup sekolah dan mengkunci pintu-pintu kelas sehingga Naya pun akhirnya mengambil buku catatannya.
Setelah mengambil bukunya, Naya segera keluar dari kelasnya. Saat melewati gudang, ia samar-samar mendengar suara minta tolong. Naya sedikit takut karena ia pikir makhluk halus tapi ini masih siang jadi Naya mencoba memberanikan diri membuka pintu gudang itu.
" Hallo, siapa di dalam? Kamu kenapa? " teriak Naya saat di depan pintu setelah membuka pintu gudang itu namun tak ada yang menjawab Naya.
Tiba-tiba tubuh Naya terdorong masuk ke dalam gudang dan pintu gudang tertutup membuat Naya panik, ia menggedor-gedor pintu gudang itu sambil menariknya agar terbuka namun s**l pintu itu seperti sudah terkunci.
" Hei, siapa di luar? tolong bukain pintu ini dong? "
Duk
" Hee Diam lo, " ucap orang dari arah luar gudang.
" Kamu siapa? bukain pintu ini, di sini gelap. "
" Hahahhahah, itu tujuan gue memasukan lo ke dalam gudang itu biar lo tau rasa karena lo tidak mau menuruti apa yang gue katakan, " ucap orang itu lagi dengan teriakan.
" Laura? ini kerjaan kamu? "
" Iya kenapa? Lo tidak terima? Ini akibat kalau lo terus-terus mendekati Gema, dengar ya kuman, Gema itu milik gue, tidak ada yang boleh dekat dengan dia kecuali gue. Silahkan nikmati setengah hari mu di dalam gudang di situ sampai ada yang menolong lo, Bye kuman. "
" Laura, buka pintunya. Jangan tinggalkan saya di sini, saya takut Laura, Laura, " teriak Naya histeris namun sepertinya Laura sudah tidak ada di luar sana karena suasananya sudah sepi.
" Akhirnya gue bisa memberi pelajaran kuman itu, " ucap Laura saat ia bersama teman-temannya meninggalkan depan gudang dengan mengunci pintu gudang dengan sapu agar menghalangi pintu terbuka dari dalam.
" Iya, biar tau rasa dia. Dia belum tau sih, berurusan sama siapa selama ini, ide lo memang bagus Laura, " ucap Cindy teman Laura.
Laura dkk memang masih berada dalam sekolah saat Naya datang kembali ke kelasnya, Laura baru selesai latihan Cheers dan melihat Naya ke kelasnya dan tiba-tiba muncul lah ide mengurung Naya di gudang karena tak jauh dari kelas Naya memang ada gudang dan terjadilah ide jahat Laura itu.
" Ya allah, aku harus bagaimana ini. Aku takut disini sendirian, Mira pasti pusing mencariku sedangkan Hp ku sudah lowbat, " gumam Naya karena memang Charge Hp nya sudah tinggal 15% tadi sehingga Naya menyimpan Hp nya di dalam tas.
" Tolong, siapa pun di luar sana, buka pintunya, " teriak Naya sambil menggedor pintu namun tak ada sahutan dari luar.
Malah dari arah belakang, terdengar suara langkah kaki.
" Astaga, siapa di situ? kenapa ribut sekali? "
Seseorang dari arah dalam gudang berjalan mendekati Naya yang sudah bersandar di pintu gudang ketakutan dan betapa terkejutnya saat Naya melihat ternyata Gema berada di dalam gudang ini juga.
" Lo lagi lo lagi, lo ngikutin gue? "
Naya menggeleng dengan cepat menjawab pertanyaan Gema.
" Aku di kurung sama seseorang di sini dan aku tidak tau kalau kamu ada di sini. "
" Pindah, " ucap Gema menyuruh Naya pindah dari pintu itu.
Gema pun mencoba membuka pintu gudang saat Naya sudah pindah tempat dan seperti saat Naya masuk, pintu itu masih terkunci.
" s**l, kerjaan siapa ini? " tanya Gema membentak sambil memukul pintu gudang karena pintu tidak mau terbuka padahal tadi ia masuk pintu ini tidak terkunci.
" Aku sudah bilang, aku di kurung di gudang ini jadi pasti pintunya terkunci, " ucap Naya pelan karena ia cukup takut melihat Gema tadi.
" Semenjak lo hadir dan dekat-dekat dengan gue, hidup gue selalu s**l. Banyak sekali sih musuh lo jadi begini deh, gue jadinya juga ikut-ikutan kekurung di sini, " omel Gema.
" Maaf Gema, " jawab Naya pelan lagi sambil menatap sepatunya.
Karena sejujurnya ia takut karena Gema marah dan wajahnya memerah, dan dalam situasi seperti ini ia melupakan fakta bahwa ia bersama orang yang ia suka.
Naya mulai mundur dan memutuskan duduk di lantai dekat pintu karena ia sudah lelah dan ia takut sakitnya kambuh lagi di dalam sini jika ia kelelahan padahal ia hanya bersama Gema, orang yang tidak tau apa-apa dan juga tidak akan peduli padanya.
Sedangkan Gema ia sibuk mengutak atik Hp nya, ia menghubungi semua sahabat dan anggotanya namun sialnya tidak ada yang menjawab panggilan telfonnya satupun membuat ia semakin geram mana Hp nya juga sudah di ambang lowbat.
Gema menendang kardus di dekatnya membuat Naya terkejut dan semakin memundurkan badannya sedikit jauh dari Gema dan tak lama Gema pun akhirnya duduk juga di hadapan Naya sambil menunggu pertolongan.
" Kalau lo cuman diam begini tanpa minta pertolongan, kita akan terjebak sampai besok pagi di sini. "
" Aku sudah teriak tapi tidak ada yang mendengar. "
" Bodoh, ya pakai Hp lah. "
" Hp ku lowbat. "
" Benar-benar tidak ada gunanya lo itu. "
Naya kembali diam, terjebak dengan Gema bukannya ia bahagia karena bisa berduaan dengan orang yang ia suka tapi malah bikin dia sakit hati mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Gema.
" Lo hapal nomor wanita yang sering menemani lo kan? telfon pakai hp gue, masih ada 35% Charge nya, " ucap Gema sambil menyodorkan Hp nya ke Naya.
Naya pun meraih Hp dari tangan Gema dengan dan mencoba menghubungi Mira namun Mira juga tidak mengangkat telfon dari nomor Gema sedangkan peringatan lowbat Hp Gema sudah muncul.
" Cepat kirimin dia pesan, kalau dia menjemput lo pasti akan baca pesan itu. "
Naya pun menuruti perkataan Gema, dengan cepat Naya mengetik pesan untuk Mira dan setelah pesan terkirim Hp Gema pun akhirnya mati juga.
Mereka pun kembali saling diam, Naya duduk bersila sambil menggambar-gambar di lantai gudang untuk menghilangkan jenuh menunggu seseorang menolong mereka sedangkan Gema sudah berdiri sedikit menjauh dan menyalakan rokoknya dan ia pun merokok dalam gudang membuat Naya sejenak memerhatikan Gema karena ia kali pertama Naya melihat Gema merokok dan sadar seseorang memerhatikannya Gema pun memalingkan wajahnya dan menatap Naya.
" Kenapa? tidak suka lihat gue merokok? "
Naya dengan cepat menggelengkan kepalanya.
" Atau kamu kaget melihat gue ternyata perokok? Lo suka gue karena lo pikir gue laki-laki baik-baik? Buang semua pikiran baik lo tentang gue dan juga rasa suka lo itu, " ucap Gema menohok.
Jujur Naya memang kaget melihat Gema merokok, ia tau Gema seorang ketua geng yang di takuti banyak orang, seorang badboy karena Mia sudah menceritakan itu semua tapi dalam hati kecilnya Naya selalu meyakini Gema punya sisi lain yang tidak orang tau dan Naya sedang mencari tau itu dan Gema yang orang banyak lihat bukan lah Gema yang sesungguhnya buktinya di saat berdua dengan Naya, Gema mulai banyak bicara walau ucapannya terasa menyakitkan tapi itu irit bicaranya di depan banyak orang kini berbeda.
" Kamu boleh menyuruh aku berhenti menyukaimu tapi itu semua akan terjadi jika aku mau menurutimu, itu hak aku mau berjuang atau mau mundur darimu. Toh aku menyukaimu tanpa alasan, jadi kalau kamu merokok atau melakukan hal buruk lainnya dan itu kamu jadikan alasan buat menyuruhku mundur, itu tidak akan terjadi. Seseorang yang sudah menyukai orang lain dengan dalam, tidak akan terpikirkan kata untuk mundur sedikit pun sebelum ia mendapatkan orang itu. "
" Bodoh. Ya sudah kalau itu keputusan lo, tapi jangan berharap banyak dengan gue dan siap-siap saja lo akan sakit hati pada akhirnya. "
" Tidak masalah, karena memang sudah resikonya ketika sudah jatuh cinta, kalau bukan bahagia, ya sakit hati. Tapi jangan terlalu percaya diri dulu, kita tidak tau bagaimana kedepannya, bisa saja hatimu berbalik padaku kan? "
" Tidak akan pernah. "
" Kita lihat saja nanti. "
Entah keberanian dari mana Naya kini menjawab Gema padahal tadi ia gemetaran saat melihat Gema marah dan mereka pun kembali saling diam.