Pertolongan Naya

1832 Kata
Sekitar 20 menit, mobil Naya pun sudah terparkir di depan rumahnya. Naya pun kembali membantu Gema untuk masuk ke rumahnya, Naya langsung membawa Gema ke kamar tamu supaya Gema bisa istirahat. " Mir tolong bawakan aku kotak P3K ya," ucap Naya sambil membantu Gema duduk di atas tempat tidur dan Mira pun langsung pergi mengambil yang bos nya perintahkan dan tak lama Mira pun datang membawa kotak P3K lalu ia pun pamit. " Aku obatin luka kamu dulu ya Gem, kamu tahan ya," ucap Naya sambil membersihkan luka Gema terlebih dahulu dan sesekali Gema meringis membuat Naya tersenyum tipis. " Kamu tidak perlu membahayakan diri kamu sendiri seperti tadi." Akhirnya Gema bicara juga saat Naya mengolesi Gema dengan obat merah. " Aku tidak membahayakan diri aku sendiri, buktinya aku tidak kenapa-kenapa dan mereka juga tidak tau kalau aku di sana." " Terserah." " Kamu khawatir sama aku?" " Jangan geer, saya hanya tidak mau kamu terluka karena aku. Aku tidak mau di susahkan sama kamu nantinya." Naya manyun mendengar ucapan Gema tapi masih terus mengobati Gema dengan telaten. Wajah Naya dan Gema sangat dekat, bahkan hembusan nafas Gema sangat terasa di wajah Naya, jantung Naya sudah memompa dengan cepat karena berdekatan dengan Gema namun ia berusaha kontrol dirinya sedangkan Gema hanya diam saja. " Sudah, kamu boleh istirahat dulu di kamar ini, aku mau ke kamar aku dulu." Naya pun langsung merapikan kotak P3K lalu membawanya keluar kemudian Gema pun membaringkan badannya karena terasa remuk. " Tunggu pembalasan gue Fredy," ucap Gema saat ia sudah baring sambil menatap langit kamar. Sekitar 20 menit Naya kembali masuk ke kamar Gema sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman, Naya melihat Gema tengah berbaring entah ia tidur atau tidak, Naya meletakan nampan di atas nakas lalu mencoba membangunkan Gema. " Gema kamu tidur?" Tanya Naya mencolek Gema dan Gema pun membuka matanya. " Makan dulu, ini sudah hampir sore." " Tidak usah." " Hmmm, kenapa sih kamu bebal sekali Gema. Aku tidak menagih pertanyaan aku kali ini, tenang saja," ucap Naya memamerkan gigi putihnya membuat Gema memutar bola matanya malas. " Nanti setelah kamu sembuh," lanjut Naya dengan suara pelan namun masih bisa Gema dengar. Gema pun memperbaiki posisi duduknya, lalu mengambil piring dari tangan Naya. Gema pun ingin suap namun ia meringis kesakitan karena sikutnya sakit membuat Naya langsung khawatir dan mengambil piring dari tangan Gema. " Aku suapin ya, ahhhhh." Namun Gema hanya diam melihat Naya yang siap menyuapinya. " Buka mulut kamu Gema, bagaimana ceritanya orang mau makan tapi mulut tertutup, ahhhh." Akhirnya Gema menurut juga dengan membuka mulutnya membuat Naya tersenyum penuh kemenangan. " Makan yang banyak ya nak, biar kamu kuat," ucap Naya seolah-olah tengah menyuapi anaknya sambil menepuk-nepuk puncak kepala Gema membuat Gema bengong. Tak terasa makanan yang ada piring habis juga, Naya pun memberikan air ke Gema. " Oh iya, motor kamu sudah ada di parkiran." " Saya pamit kalau begitu." Namun Naya menahan tangan Gema saat Gema akan turun dari tempat tidur. " Aku tidak menyuruh mu pulang, aku cuman memberi tau kamu. Tapi kalau kamu mau pulang biar aku antar ya, kamu sepertinya belum kuat untuk naik motor." " Tidak perlu, saya bisa sendiri." " Gema irit bicara boleh, bodoh jangan. Lihat kondisi kamu sekarang, kalau di jalan kamu ketemu mereka yang ngeroyokin kamu lagi bagaimana? Kamu mau mati di jalan sendiri?" " Saya mati juga tidak ada urusannya sama kamu." " Hmm, jelas ada lah. Aku bakal jadi jomblo seumur hidup kalau kamu tidak ada. Kamu tau kan aku sayang kamu." Gema lagi-lagi Diam saja. " Kalau kamu bersikeras untuk pulang, aku hubungi Vadi saja bagaimana? Tapi minta nomornya karena aku tidak punya nomornya Vadi." " Biar saya saja yang hubungi Vadi." Naya pun manggut-manggut lalu pamit untuk mengangkat bekas makan Gema. " Kamu itu bodoh atau bagaimana sih, aku selalu kasar dan tidak peduli sama kamu tapi kamymu tetap menolong aku bahkan kamu merawat aku dengan baik," batin Gema saat melihat Naya keluar. Sekitar sejaman Geng Darerevil inti sudah kumpul di rumah Naya tepatnya di kamar yang Gema tempati setelah Gema mengirimi Vadi pesan dan mereka langsung bergegas setelah membaca pesan Gema. Naya juga menemani mereka dan tengah duduk di sofa kamar dan yang lain duduk di atas kasur menemani Gema. " Gem ceritain gimana bisa mereka ngeroyokin lo?" Eric minta penjelasan, karena tidak mengerti kenapa bisa bos mereka di keroyokin dan ini untuk pertama kalinya terjadi. " Ya bisa saja." Dasar Gema, siatuasi seperti ini saja ia masih irit bicara membuat sahabatnya greget. " Yaa ceritanya gimana?" Tanya Leo gregetan. " Hmm, kita kan janjian di basecame untuk nyerang mereka pas siang harinya. Gue ke rumah Vito dulu dan sepulang gue untuk ke basecame tiba-tiba di tengah jalan mereka lihat gue dan ya mereka ngejar gue dan menghadang motor gue dan kita pun baku hantam tapi ya mereka ada 20 orang sedangkan gue sendiri otomatis gue kalah lah mana mereka bawa balok." " s****n emang si Fredy itu, mereka pakai cara kotor buat ngalahin kita." " Tapi lo nggak kena balok kan Gema?" Gema pun hanya menggeleng. " Hampir sih tapi untung ada cewek bodoh itu yang datang jadi mereka langsung cabut," batin Gema mengingat kembali kejadian tadi siang. " Terus gimana ceritanya juga Naya bisa nolongin lo dan lo berakhir di rumah Naya?" Tanya Leo kepo. Gema hanya diam sedangkan Naya malah menatap Gema. " Nay, gimana ceritanya?" Tanya Vadi karena sepertinya Gema tidak berniat menjawab. " Ya aku tidak sengaja melihat gerombolan motor itu mengejar Gema saat aku di mini market depan sekolah saat aku menunggu Mira yang lagi mengantar Mia pulang. Karena aku penasaran jadinya aku ikutin arah motor mereka dan akhirnya aku menemukan mereka semua berkelahi." " Terus cara kamu menghentikan mereka gimana?" Kini giliran Fandi yang bertanya. Naya pun menjelaskan ide cemerlangnya membuat 5 pria itu melongo mendengar perkataan Naya dan kemudian mereka pun tertawa kecuali Gema. Lagi-lagi Gema diam namun dalam hatinya ia kagum karena Naya sangat berani dan ia juga baru tau cara Naya membuat geng Fredy pergi. " Gila, ide lo cemerlang banget Nay. Gue sampai nggak kepikiran ke sana lo." " Namanya juga orang Panik Ric, jadinya ya gitulah." " Tapi serius lo berani banget tau, gimana kalau Fredy lihat lo atau anggotanya, bisa-bisa lo mati berdua sama Gema di sana." " Iya Nay, lain kali lo jangan nekat kek gini lagi ya, bahaya tau." " Iya Vadi." " Oh, iya. Gimana lo udah mau pulang Gem?" Gema hanya mengangguk dan sahabatnya pun membantu Gema berdiri. " Bentar, kalian keluar dulu. Aku mau bicara sama Gema sebentar," ucap Naya menghalangi saat mereka ingin membantu Gema keluar dari kamar, Pria-pria itu pun menatap Naya heran namun tetap menuruti kemaun Naya toh bagaimana pun ini rumah Naya. " Duduk dulu, entar kamu pegal," pintah Naya ke Gema namun Gema hanya diam dan seperti biasa mengacuhkan apa yang Naya katakan. " Sebentar saja Gema, kenapa sih kamu bebal sekali kalau aku bilangin," omel Naya namun dengan suara pelan dan sedikit memaksa Gema untuk duduk di sofa dan akhirnya Gema pun duduk walau sedikit meringis karena lukanya. " Aku tidak tau apakah di rumah mu ada P3K atau tidak, tapi aku kasih ini buat kamu bawa pulang. Kalau malam kamu bisa minta tolong orang di rumah mu untuk mengggantikan perban luka mu agar tidak infeksi," ucap Naya menaruh kotak P3K di dalam tas Gema dan seperti biasa Gema hanya diam. " Oh iya, di dalam kotak itu juga ada obat pereda nyeri, kalau sudah makan kamu juga bisa makan itu," lanjut Naya dan Gema hanya diam mendengar Naya. " Sudah bicaranya? Gue mau pulang," ucap Gema dan Naya pun tersenyum lalu mengangguk kemudian membantu Gema berdiri walau Gema awalnya tolak namun seperti biasa Naya pasti bersikeras menolong Gema dan Gema pun mengalah dan membiarkan Naya membantunya berdiri dan keluar dari kamar karena memang iya butuh bantuan cuman Gema hanya gengsi saja di tolong Naya. " Sudah Nay?" Tanya Vadi saat melihat Naya dan Gema berjalan ke ruang tamu dan Naya hanya mengangguk. " Ya sudah kami pamit ya, terima kasih atas bantuannya," ucap Leo dan mereka pun akhirnya meninggalkan rumah Naya. Setelah menempuh perjalanan sekitar sejaman, Vadi dkk membawa Gema pulang ke rumahnya meski awalnya Gema menolak pulang karena tak ingin bundanya khawatir namun Vadi dkk bersikeras membawa Gema pulang karena di Basecame tak ada yang bisa menjamin untuk menjaga Gema, walaupun mereka ada tapi siapa yang tau kalau musuh mereka datang lagi untuk menyerang mereka dan Gema pasti tak bisa beristirahat sehingga Gema lagi-lagi mengalah. Sesampainya di rumah Gema, bundanya langsung membuka kan pintu dan kaget melihat muka anaknya memar dan beberapa luka juga di tubuhnya. " Astaga, ilahi rabbi Gema kamu kenapa nak?" Tanya nya khawatir sambil mengikuti Gema di papah oleh Vadi dan Eric ke kamarnya yang di lantai 2. "Vadi, ini Gema kenapa bisa pulang-pulang bonyok begini?" Tanya bunda Gema lagi. " Biasa bund,anak cowok." " Biasa gimana maksud kamu?" " Hmm, tadi tuh Gema nolongin ibu-ibu yang di copet eh warga malah gebukin Gema karena di kira Gema copetnya," bohong Vadi. Ia tak mungkin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi bisa-bisa bunda Gema langsung kena serangan jantung, memang selama ini bunda Gema tidak tau kelakuan anaknya di luaran sana karena kalau Gema di rumah ia berubah menjadi anak yang baik. " Memangnya kalian tidak sama-sama?" " Nggak bund, kami duluan ke rumah Eric lalu baru Gema nyusul belakangan jadi kejadiannya ya saat Gema perjalanan ke rumah Eric." " Aduh nak ada-ada saja sih, kamu niatnya nolongin orang kok jadi nya malah bonyok kek gini sih," ucap Bund Gema kasihan melihat anaknya. Sedangkan Gema sangat merasa bersalah ke Bundanya karena harus lagi-lagi membohongi bundanya karena kenakalannya. " Ya sudah kalian temani Gema, bunda siapkan makan malam dulu ya." Sepeninggal Bundanya ke dapur, geng Scorpio pun mulai berbincang-bincang santai namuntak ada yang membahas dulu apa yang akan mereka lakukan ke Fredy setelah membuat Ketua mereka babak belur karena keroyokan. Setelah makan malam, teman-teman Gema pun pamit agar Gema bisa istirahat. Gema pun menyandarkan badannya di kepala ranjang setelah bundanya pamit tidur karena sudah jam 21.20, Gema memerhatikan memar di lengannya dan kembali mengingat bagaimana geng Fredy mengeroyoknya di saat ia lengah dan juga ia mengingat untung ada Naya gadis yang selalu ia abaikan keberadaannya namun malah menyelamatkan nyawanya, andaikan Naya tak datang menolongnya ia tidak tau bagaimana nasibnya sekarang namun Gema terlalu gengsi mengakui pertolongan Naya di depan gadis itu. " Awas lo Freddy, tunggu saja sampai gue sembuh, lo bakal dapat hadiah manis dari gue," gerutu Gema sambil menatap ke depan. Gema mengingat kalau Naya tadi memberinya obat anti nyeri, ia pun mengambil tasnya yang tergelatak di atas tempat tidurnya lalu mengambil kotak yang Naya simpan di dalam tas tersebut. Gema mengambil sebutir obat lalu meminumnya karena lukanya sedikit nyeri sehingga mau tidak mau ia harus meminum obat yang Naya beri agar ia bisa segera sembuh. " Ada gitu perempuan segoblok lo, sudah di cuekin, di abaikan tapi masih nolongin juga. Emang g****k lo Nayanika."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN