Ketemu bu Ratih

1931 Kata
Nayanika tengah duduk di bangku dalam kelasnya bersama Mia, jam sudah menunjukan pukul 8 dan mereka belum belajar karena 15 menit yang lalu ada pengumuman kalau guru-guru mereka lagi mengadakan rapat sehingga mereka semua free class. Siswa lain ada yang langsung ke kantin, ada yang ke perpustakaan dan seperti Naya dan Mia yang stay di dalam kelas sambil bercerita. Sesekali Naya melirik bangku kosong di sampingnya yang penghuni nya sepertinya tidak datang lagi, ya siapa lagi kalau bangku milik Gema dan Vadi namun itu membuat Naya sedikit khawatir, apakah luka Gema kemarin makin parah sehingga dia tidak datang ke sekolah tapi walaupun ia tidak luka Gema memang jarang masuk kelas dan itu membuat Naya bingung. " Ngapain sih kamu lihatin terus, orangnya tidak akan datang Nay. " Naya melirik Mia lalu tersenyum membuat pipi chubby nya terangkat. " Kamu seperti tidak tau saja kelakuan Gema dan Vadi, mereka kan memang jarang masuk kelas Nay jadi berhentilah menunggu kedatangannya, itu membuang waktu tau. " " Tapi keadaannya sekarang berbeda Mi. " " Beda apanya? " " Gema tidak masuk sekarang karena ada alasannya. " " Apa coba alasannya? palingan malas. " " Ihh, kamu tuh Zuudhzon terus deh. Gema tuh lagi sakit. " " Tau dari mana? " " Ya tau lah, orang yang menolong kemarin aku. kalau aku tidak menolongnya kemarin, aku tidak tau bagaimana keadaan Gema sekarang. " " Maksudnya? " tanya Mia serius dengan menghadapkan badannyan ke Naya dan Naya pun mulai menceritakan kejadian kemarin ke Naya tanpa terlewatkan. " Wah gila kamu Nay, berani sekali kamu. please lain kali jangan membahayakan diri kamu sendiri untuk orang tidak pernah menganggap kamu ada. " " Hmm. " " Jangan hmm hmm saja, lakukan. aku tidak mau sahabat aku celaka hanya karena menolong orang yang tidak penting. " " Iya iya semoga aku ingat. " Mia langsung cemberut dan membalikan badannya namun Naya segera menariknya dan membujuk Mia agar tersenyum dan Mia pun kembali tersenyum. Tak terasa waktu jam pelajaran pertama usai dan kini berganti jam pelajaran kedua dan guru Naya sudah datang untuk mengajar karena rapat sudah selesai, dan mereka pun semua mulai belajar hingga jam terakhir. Naya berjalan bersama Mia ke gerbang saat pulang sekolah namun belum sampai di gerbang, tiba-tiba seseorang dari arah belakang menabrak punggung Naya sehingga Naya sedikit meringis. " Heee, cewek aneh saya mau tanya Gema kemana? kenapa tidak datang ke sekolah? " tanya Laura dengan melipat kedua tangannya di depan d**a nya bersama 2 temannya. " Kamu tanya saya? " tanya Naya balik dengan menunjuk dirinya sendiri sedangkan Mia hanya diam karena tau Laura itu siapa, gadis berkuasa di sekolah ini dan tukang bully. " Ya siapa lagi, tidak mungkin dong gue tanya sama tembok. " " Nama saya Nayanika, bukan cewek aneh. " " Whatever, intinya gue tanya Gema kemana? " " Ya saya tidak tau, katanya kamu dekat sama Gema masa Gema tidak laporan dia dimana, atau nanti deh saya hubungi Gema bertanya dia lagi dimana. " " Heee, berani lo hubungi Gema, lihat saja gue bakal bikin perhitungan sama lo lagi. Gue tegasin sekali lagi, jangan pernah dekat-dekat sama Gema atau lo berharap ke Gema karena cuman gue satu-satunya wanita yang bisa dekat sama Gema, " ucap Laura sambil menunjuk Naya. " Tapi kalau Viona masih ada, mungkin kamu juga tidak bisa dekat sama Gema Ra, " celetuk salah satu teman Laura dan langsung mendapatkan pelototan tajam dari Laura membuat Naya dan Mia sedikit penasaran, siapa lagi Viona itu. " Sudah ahh, rugi gue bertanya sama lo, tidak ada gunanya juga, yuk cabut. " Laura dkk pun pergi meninggalkan Naya dan Mia yang masih menatap kepergiannya. " Aneh sekali deh si Laura. " " Sudah lah Nay, jangan kamu ladeni lagi si Laura, ingatkan kamu sudah di bahayakan satu kali sama dia, jangan sampai kamu kena yang kedua kalinya. " Naya pun hanya mengangguk dan mereka pun berpisah saat Mira sudah datang menjemput Naya dan Mia pun pulang menggunakan bis, awalnya Naya ingin mengantar Mia namun Mia tolak secara halus karena merasa tak enak harus di antar terus jadinya Naya pun mengalah dan mereka pun pulang di rumah masing-masing. Sepulang sekolah Naya kaget karena sebuah mobil hitam terparkir di halaman rumahnya, ia sepertinya mengenal mobil itu dan Naya pun segera keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumahnya. " Mami, Mami, mami pulang? " teriak Naya saat masuk ke dalam rumah dan tak lama seorang ibu berusia 45 tahun turun dari tangga menggunakan dress di bawah lutut dengan rambut yang di sanggul. " Hey, kamu sudah pulang? " " Iya mi, mami kapan datang? " tanya Naya dan langsung memeluk maminya karena sekitaran 2 bulan ia baru bertemu maminya karena maminya selalu ikut papinya bekerja dan kerjaannya papinya selalu berada di luar negeri. " Baru saja. " " Terus papi mana? " " Papi menunggu di kantor, mami cuman sebentar Nay. ada berkas papi yang tertinggal di sini jadi mami ke sini untuk ambil. " mendengar maminya yang hanya sebentar membuat senyum di wajah Naya yang tadinya berkembang kini langsung hilang. " Mami sudah mau pergi lagi? " " Iya lah Nay, papi mu tunggu mami. " " Mami tidak mau makan siang dulu, sudah lama tau kita tidak makan bersama. " " Aduh Nay, lain kali saja ya sayang, karena mami buru-buru, papi harus ke Medan lagi jam 3 nanti jadi ini mami harus segera balik kantor lagi. " " Terus mami sama papi kapan pulang ke rumah? " " Aduh Nay, mami belum tau. Kamu tau kan papi kamu banyak sekali kerjaan, harus mendeal client nya agar proyeknya cepat goal. " " Sudah ya Nay, mami harus pergi dulu,mami buru-buru. " Mami Naya pun langsung cipika cipiki ke Naya dan langsung berjalan meninggalkan Naya yang masih diam mematung di depan tangga. " Nay, dokter Riko bilang minggu ini kamu harus cek up, dia bilang hampir sebulan kamu tidak cek up, jangan bikin orang repot ya Nay kalau kamu sakit lagi, " ucap Mami Naya sebelum keluar dari pintu rumah. " Iya mi, " ucap Naya lirih lalu ia pun berjalan menaiki setiap anak tangga dengan lesuh. Ia sangat senang bertemu maminya setelah sekian lama orang tuanya tidak pulang namun yang Naya dapat mami nya malah pergi lagi bahkan Naya yang hanya ingin merasakan makan bersama pun tidak bisa merasakan itu. Naya benar-benar rindu kedua orang tuanya, sejak Naya masuk SMA kedua orang tuanya mulai sibuk dan tak mengurusi Naya lagi, mungkin mereka pikir Naya sudah besar jadi Naya tidak butuh di urus lagi namun faktanya Naya tetap seorang anak yang butuh kasih sayang seorang orang tua bukan hanya sekedar di beri materi saja. Mira yang melihat kejadian itu merasa kasian kepada majikannya karena lagi-lagi kedua orang tuanya tak memerhatikannya padahal mereka tau Naya sedang sakit dan mereka hanya menyarankan ke dokter yang dari dulu memang merawat Naya, alih-alih mereka menanyakan keadaan Naya atau menemani Naya cek up, dan hanya Mira dan Bi Darmi yang memang selalu menjaga Naya. " Mami, papi, Naya rindu sekali dengan kalian, kapan kita bisa kumpul lagi seperti dulu? " Naya menatap foto keluarga mereka yang ada di kamar nya dengan tatapan nanar, dan tak terasa air matanya menetes karena ia benar-benar merindukan sosok kedua orang tuanya untuk mendampinginya. Sore harinya setelah berisitrahat, Naya meminta Mira mengantarnya ke mini market karena ia lagi ingin membeli cemilan karena ternyata stok cemilannya habis, meskipun Naya di batasi makan cemilan oleh dokter namun Naya tetap memakannya walau tidak banyak, asal keinginannya kesampaian karena Naya selalu berpikir, umurnya tidak akan lama lagi jadi lebih baik menikmati hidup sekarang dari pada nanti meninggal tapi ada rasa sesal di d**a. Dan Mira pun mengantar Naya ke mini market, Naya pun mulai mengambil beberapa cemilan yang ia inginkan dan tak lupa minuman juga, setelah semua yang Naya inginkan di beli, Naya pun ke kasir untuk membayar belanjaannya. " Ada yang bisa saya bantu bu? " tanya Naya ke seorang ibu-ibu yang ia lihat di pinggir jalan ketika ia dan Mira sudah jalan pulang. " Eh ini nak, belanjaan ibu ternyata banyak sekali jadi nya ibu kesusahan membawanya. " " Tunggu, sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya, " ucap ibu itu sambil berpikir dengan melihat wajah Naya. " Ah ibu ingat, kamu yang pernah menolong ibu ya di mini market, saat ibu lupa bawa dompet, akhirnya ibu ketemu kamu lagi nak. " " Oh iya astaga, maaf ya bu, saya juga sedikit lupa, " ucap Naya cengengesan. " Tidak apa-apa, oh iya kita belum pernah kenalan sebelumnya. perkenalkan saya Ratih. " Bu Ratih pun menjulurkan tangannya dan di sambut dengan senang oleh Naya. " Saya Nayanika bu , panggil Naya saja. " " Oh ya bu, ibu sudah mau pulang? " " Iya saya sudah mau pulang, tapi saya kerepotan bawa belanjaan saya sendiri jadinya belum sempat panggil taxi. " " Ya sudah saat antar ibu saja pulang, kebetulan saya juga sudah mau pulang. " " Aduh, tidak usah nak Naya, setiap ketemu kamu pasti saya merepotkan. " " Ahh ibu, jangan bicara seperti itu, Naya tidak merasa kerepotan kok. Mau ya bu, Naya antar pulang apalagi ini sudah mendung bu. " " Hmm, ya sudah kalau tidak merepotkan. " Naya pun tersenyum bahagia lalu dia dan Mira membantu bu Ratih memasukan barang belanjaannya ke dalam mobil Naya lalu Naya pun mengantar pulang bu Ratih. Selama di perjalanan, Naya dan bu Ratih mengobrol, Naya bertanya kenapa bu Ratih belanjaannya banyak sekali, apakah dia akan mengadakan acara? dan bu Ratih pun mengatakan kalau ia membuka usaha catering di rumahnya, walau pun kecil tapi masih bisa menghidupi dia dan seorang anaknya dan seperti sekarang ia mendapat orderan nasi box untuk besok jadinya hari ini bu ratih belanja karena persediaan di rumahnya sudah habis dan biasanya juga bu Ratih belanja di pasar tradisional tapi ini sudah sore dan mepet waktunya makanya bu Ratih memilih mini market saja. Meskipun di rumahnya ada 2 pegawainya namun urusan belanja bu Ratih yang turun tangan sendiri. Naya yang mendengar cerita bu Ratih pun salut karena bu Ratih seorang ibu kuat namun selama bercerita bu Ratih hanya menceritakan anak laki-lakinya yang baik dan 2 pegawainya tanpa menceritakan sosok suaminya, ingin rasanya Naya bertanya kemana suaminya namun Naya sungkan karena itu adalah masalah pribadi dan dia baru saja mengenal bu Ratih, tidak sopan rasanya jika ia bertanya masalah pribadi seseorang kecuali bu Ratih yang bicara pertama kali dan Naya juga sedikit penasaran akan sosok anak laki-laki bu Ratih yang ia ceritakan sosok anak yang penurut dan baik, ternyata masih ada ya pria seperti itu sekarang? Tak terasa sekitar 30 menit, mobil Naya yang di kemudikan oleh Mira pun masuk ke dalam sebuah komplek yang cukup terkenal dan mewah, dan tak lama sampai lah Naya di depan rumah bernuansa putih dengan rumah bertingkat 2, tidak semegah rumahnya namun tidak tergolong kecil pula. Naya dan Mira pun lagi-lagi membantu bu Ratih mengangkat belanjaannya sampai teras rumahnya lalu Naya pun berpamitan. " Nak Naya tidak mau mampir dulu? ayo masuk dulu nak, hitung-hitung tante membalas kebaikan nak Naya karena nak Naya tolong tante terus. " " Hmm ya sudah tante, Naya mampir dulu. " Karena merasa tidak enak Naya pun akhirnya setuju untuk masuk ke dalam rumah bu Ratih dan tadi di perjalanan bu Ratih meminta Naya untuk memanggilnya tante saja dan Naya pun menurut. " Mir, kamu pulang saja duluan, kasian bi Darmi sendiri di rumah. nanti kalau aku mau pulang, aku hubungin kamu. " Dan Mira pun setuju lalu Mira pun pamit ke bu Ratih kemudian bu Ratih pun mempersilahkan Naya masuk dan kini belanjaan bu Ratih sudah di angkat oleh 2 pegawainya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN