Rumah Gema

1757 Kata
Ibu Ratih jalan beriringan dengan Naya masuk ke dalam rumahnya dan menuntunya ke ruang keluarganya. Ibu Ratih mempersilahkan Naya duduk lalu Naya pun duduk, kemudian bu Ratih berlalu ke dapur dan tak lama bu Ratih keluar dengan membawa segelas minuman dan setoples kue kering kemudian bu Ratih pun mempersilahkan Naya untuk meminumnya. " Santi, abang sudah makan siang kan? " tanya bu Ratih pada salah satu pegawainya yang melintas di ruang keluarga. " Belum bu, katanya abang masih kenyang. " " Jadi dia belum minum obatnya? " " Belum bu. " " Anak itu benar-benar, sudah tau sakit masih saja ngeyel. ya sudah kamu lanjut saja di belakang, nanti saya yang suruh dia makan, " titah bu Ratih. Sedangkan Naya sedikit penasaran dengan sosok abang yang bu Ratih sebut, apakah suaminya atau anaknya? Lamunan Naya terhenti kala bu Ratih kembali mengajaknya berbicara. " Nak Naya tidak buru-buru pulang kan? " " Tidak tante. " " Mau temani saya masak untuk makan malam? sekalian kita makan malam bersama nanti. " " Saya tidak tau masak tante, " jawab Naya dengan jujur di ikuti ringisan malu membuat bu Ratih tersenyum melihat tingkah Naya. " Tidak apa-apa, kamu bisa bantu tante cuci-cuci sayuran sambil belajar, maukan ? " Naya mengangguk penuh antusias, jarang-jarang Naya masuk ke dapur untuk memasak karena biasanya ia ke dapur kalau cuman mau ambil gelas untuk minum. Mereka berdua pun jalan menuju dapur dan bu Ratih pun mulai mengeluarkan bahan-bahan yang ingin dia masak dari dalam kulkas. " Tante mau masak apa? " " Naya memangnya suka apa? " " Naya makan apa saja kok tant, " jawabnya padahal Naya tengah berbohong karena ia ada alergi seafood, even itu hanya ikan. Namun Naya rasa tidak perlu memberi tau tante Ratih karena ia merasa tidak enak, jangan sampai tante Ratih menganggapnya wanita pemilih dalam makanan dan syukurnya bahan makanan yang tante Ratih keluarkan tak ada makanan yang tidak boleh Naya komsumsi. " Tante masak ayam crispy sama tumis kangkung saja ya, tidak masalah kan? " " Tidak kok tante, Naya malah suka makan itu. " Bu Ratih pun mulai meminta Naya mencuci kangkung sebelum Naya potong-potong sementara bu Ratih membersihkan ayam lalu ia marinasi biar sekitar 15 menit saja asal bumbunya sudah sedikit meresap. Setelah mencuci dan memotong kangkung, Naya mengiris-iris bawang membuat ia meneteskan air mata membuat bu Ratih yang melihatnya panik dan langsung mengambil tissue dan melap air mata Naya yang membasahi pipi Naya. Aksi bu Ratih itu membuat hati Naya menghangat, seorang ibu yang baru ia kenal karena kejadian tak terduga, rela melap air matanya hanya karena sebuah bawang tapi mamanya yang notabene nya wanita yang melahirkannya menanyakan kabarnya saja tidak, apalagi mau memerhatikannya, bahkan mamanya sendiri yang menciptakan air mata di wajah Naya. " Kenapa nak Naya? pedis sekali ya? " tanya bu Ratih karena setelah melap air mata Naya, gadis itu diam mematung membuat bu Ratih khawatir namun tanpa wanita paruh baya itu ketahui. Naya sedang bahagia karena ia bisa merasakan sosok ibu yang perhatian di dalam diri bu Ratih, Naya merasa ia tepat menerima ajakan bu Ratih ke rumahnya karena ia bisa merasakan sedikit sosok ibu yang selama ini ia rindukan. Naya tersenyum dan menggelengkan kepala membuat bu Ratih tersenyum juga lalu mereka pun kembali melanjutkan acara masak-masaknya. Sekitar dua jaman, akhirnya masakan mereka jadi juga. Setelah shalat magrib, Naya membantu bu Ratih membawa hasil masakan mereka yaitu ayam crispy, tumis kangkung, sambal terasi dan tempe goreng ke meja makan. " Santi tolong panggilkan abang untuk turun makan, ini sudah malam, jangan sampai ia melewatkan makan malam nya lagi seperti makan siang tadi. " Wanita yang di taksir berusia 30 tahunan itu pun naik ke lantai 2 untuk memanggil lelaki yang di sapa abang oleh bu Ratih, Naya pun sudah duduk di samping bu Ratih sambil menunggu anak bu Ratih datang, karena sedikit lama akhirnya Naya main hp dulu membalas pesan Mia mumpung bu Ratih ke dapur. Krekkkkk Suara tarikan kursi terdengar di depan Naya, ia pun mengalihkan matanya dari ponsel ke depan dan ia melihat seseorang dengan wajah tak bisa di tebak kini menatapnya sambil duduk di hadapannya. Jujur Naya kaget tapi tidak sampai memekik karena ia sadar ia adalah tamu, ia hanya membuka mulutnya tidak percaya kalau laki-laki yang telah ia kejar-kejar sekitar sebulanan ini duduk manis di depannya. Gema hanya diam tanpa menunjukan ekspresi saat melihat Naya berada di dalam rumahnya bahkan mereka duduk berhadapan hanya terhalang meja makan. " Eh, kamu sudah turun bang. Abang kenalin ini Naya, gadis yang tempo hari bunda ceritain ke kamu yang menolong bunda saat bunda lupa bawa dompet dan tadi nak Naya tolongin bunda lagi karena melihat bunda kerepotan bawa belanjaan, " jelas bundanya yang sudah duduk di tengah-tengah mereka dan Gema hanya diam. " Nak Naya kenalin ini anak tante, namanya Gema. tunggu kalian bukannya satu sekolahan ya? " tanya Bu Ratih karena tadi Naya sempat memberi tau nama sekolahnya ke bu Ratih. Gema dan Naya pun kompak mengangguk. " Jadi kalian saling kenal dong? " " Tidak. " " Iya." Jawab mereka bersamaan namun jawaban mereka tidak kompak. Sudah tau kan siapa yang menolak untuk mengenal Naya? pastilah Gema dan Bu Ratih pun bingung sendiri karena jawaban mereka beda. " Maksudnya, Gema memang tidak kenal sama Naya tante karena Naya murid baru di sekolah Gema namun Naya sudah kenal Gema karena siswa siswi di sana selalu membicarakan Gema karena Gema populer di sekolahan, " ucapnya lalu tersenyum ke arah Bu Ratih. " Memang Gema itu anaknya sedikit cuek jadi dia tidak terlalu mengurusi hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan dirinya tapi sejujurnya Gema anak baik kok Nay, kalian bisa berteman mulai sekarang karena mulai sekarang Gema pasti sudah kenal Naya, iyakan bang? " Gema menatap bundanya lalu mengangguk dan tanpa peduli lagi pada Naya yang senyum-senyum sendiri, Ia mengambil nasi dan lauk di piringnya dan langsung makan dalam hening, kemudian bunda nya pun mempersilahkan Naya makan dan mereka pun makan malam bersama. Setelah makan malam, Naya membantu bu Ratih membersihkan meja makan dan bekas makan mereka lalu membawa piring mereka ke wastafel. Sejujurnya ini pertama kalinya Naya melakukan ini semua karena kalau di rumahnya Bi Darmi dan Mira tak akan membiarkan ia menyentuh piring kotor itu namun Naya sadar kini ia tamu dan ada seseorang yang ia ingin pikat hatinya makanya ia lagi berusaha dekat dengan sang bunda. Kalau ia tidak bisa mengambil hati anaknya terlebih dahulu, mungkin memikat hati ibunya lebih dulu jauh lebih mudah, pikir Naya. " Nak Naya tidak usah cuci piring, kasian tangan kamu yang lembut ini. Biarkan saja, nanti orang rumah yang cuci toh piringnya juga sedikit, " ucap bu Ratih menjega Naya untuk mencuci piring dengan menahan tangan Naya saat ingin memutar kerang air. Naya pun akhirnya menurut saja karena sejujurnya ia tidak tau mau mulai cuci piring dari mana karena ia sama sekali belum pernah mengerjakannya. Mereka berdua kembali ke meja makan dimana Gema masih duduk di sana. " Kamu sudah minum obat kamu bang? " " Belum bund. " " Kamu tuh bang seperti anak kecil saja yang mau di ingatkan terus untuk minum obat,kamu mau sakit terus dan lama tidak masuk sekolah? " omel Bundanya dan Gema hanya diam. Sedangkan Naya ingin sekali tertawa melihat ekspresi si bad boy di marahi oleh bundanya namun Naya tahan takut bu Ratih berpikir Naya tidak sopan. " Tunggu di sini, bunda ambilkan obat kamu dulu. " bu Ratih pun menaiki tangga. Sepertinya obat Gema berada di kamarnya yang berada di lantai 2. Seperginya bu Ratih, Naya dan Gema masih di selimuti keheningan karena tidak akan terjadi perbincangan kalau Gema yang akan memulai terlebih dahulu. " Saya tau pasti kamu sengaja kan tidak minum obat kamu karena kamu suka tinggal di rumah? karena kalau kamu sehat kamu tetap tidak masuk ke sekolah, " ucap Naya sedikit pelan dengan mendekatkan wajahnya ke Gema dengan memajukan tubuhnya melewati sedikit meja. " Diam lo, " bentak Gema membuat Naya malah tertawa karena ia bisa menebak dengan mudah. " Dasar bocah nakal but I love you, " ucap Naya pelan di ikuti senyum nya. Naya lalu kembali ke tempat duduknya di kala ia mendengar hentakan kaki yang berasal dari tangga. Bu Ratih pun datang dengan membawakan obat Gema, Naya memerhatikan obat itu dan ternyata obat yang Gema minum bukan obat yang Naya berikan dulu. Naya tersenyum getir, bahkan kebaikannya pun tak Gema hargai sama sekali. " Tante kalau boleh tau Gema sakit apa ya? " " Itu dia habis jadi sok pahlawan tapi malah dia yang di bonyok. Katanya menolong ibu-ibu kecopetan eh malah Gema yang di kira menyopet makanya dia si gebukin. " Naya langsung menatap Gema namun yang di tatap hanya memasang wajah datar sambil menatapnya balik. Fix Naya yakin, bu Ratih tidak tau kelakuan anaknya di luar rumah. Sepertinya Gema menjadi anak yang baik kalau ia berada di rumahnya, sehingga Naya pun memainkan sandiwara juga seakan ia tidak tau apa-apa. " Wah parah juga itu orang, masa mereka tidak memerhatikan siapa pencopetnya sih terlebih dahulu. Masa langsung gebuk begitu saja, tidak bener nih. " " Iya, tante jadi kesal sendiri karena bikin anak tante babak belur begini. " " Iya tante. Oh iya tante ini sudah malam sekali , saya pamit pulang dulu ya, " ucap Naya setelah berdiri dari tempat duduknya. " Eh, tidak mau menginap saja nak Naya? " " Tidak usah tante, Naya sudah di jemput kok sama teman Naya yang tadi anterin kita ke sini. " " Ya tante pikir kamu mau menginap, tante senang karena akan punya teman cerita. " " Heheheh, lain kali tante kita cerita-cerita lagi. " " Bener ya Nay? Kamu sering-sering ke sini ya temuin tante. Minta antar Gema saja kalau dia sudah masuk sekolah lagi kan kalian sudah kenal. " " Pasti tante, tunggu Naya saja nanti. Kalau begitu Naya pamit ya tante," ucap Naya dengan senyum yang merekah. Yesss, akhirnya Naya punya banyak waktu untuk dekat dengan Gema. Naya pun salim ke Bu Ratih lalu mereka pun Cipika Cipiki. " Cepat sembuh ya teman kelas, aku balik dulu, Bye. " Gema hanya diam melihat tingkah Naya yang melambaikan tangan ke dirinya lalu berlalu meninggalkan rumahnya sedangkan Bundanya senyum-senyum melihat tingkah Naya. " Sudah di lihatin nya bang, Naya nya sudah pergi juga. Makanya kalau orangnya ada jangan di cuekin, kalau sudah tidak ada baru sadar, " goda bundanya saat Gema masih menatap pintu yang sudah tertutup. " Apaan sih bunda. " " Bunda suka sama karakter Naya yang ceria, cocok sama kamu yang cuek, " ucap bundanya lalu meninggalkan Gema yang masih diam mematung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN