bc

Ich Liebe Dich

book_age16+
581
IKUTI
2.8K
BACA
goodgirl
sensitive
drama
campus
first love
foodie
classmates
friends
like
intro-logo
Uraian

Amanda Bella adalah gadis berusia 18 tahun yang belum pernah sama sekali berpacaran. Dari kakanya Amanda, Aninda, di kenalkan oleh seorang laki-laki bernama Bimo. Laki-laki berparas tampan dan memiliki postur tubuh ideal. Tidak hanya itu, Bimo adalah laki-laki yang sudah terbilang mapan di usia 28 tahun ini. Sikapnya juga dewasa dan ramah. Belum lagi sikap romantisnya membuat Amanda langsung jatuh hati pada Bimo dan dalam waktu dekat ini mereka akan melangsungkan pertunangan.

Namun, sebuah malapetaka hadir di kehidupan Amanda ketika ia sudah resmi menjadi mahasiswi di kampusnya. Amanda jatuh cinta pada Arga. Cowok yang tidak sengaja diperkenalkan dengan asal oleh Haka, teman kampus Amanda. Seringnya pertemuan Amanda dan Arga membuat gadis itu semakin terjerat sangat dalam untuk menyimpan perasaannya pada Arga. Begitupun sebaliknya, Arga juga menyukai Amanda sejak pertama kali mereka bertemu.

Lantas bagaimanakah kisah cinta terlarang keduanya?

Haruskah Amanda berpaling dari Bimo dan berpindah ke Arga?

Ataukah Amanda melupakan cinta memabukannya pada Arga lalu tetap setia pada Bimo?

chap-preview
Pratinjau gratis
Teil 1 - Perkenalan (Einführung)
Amanda bersyukur di hari pertama ia menajdi seorang mahasiswi, Amanda tidak perlu di kejar-kejar waktu untuk bisa cepat sampai ke kampusnya seperti masa SMA-nya dulu. Di mana Amanda harus mendengar ocehan kakaknya, Aninda, setiap pagi demi mendapat tumpangan dari sang kakak ipar supaya bisa tiba di sekolah sebelum bel berbunyi. Namun, kini Amanda lega karena jarak kosan-nya hanya beberapa meter dari kampus. Bisa ditempuh dengan jalan kaki atau kalau Amanda lagi malas bisa tinggal memanggil ojek yang tidak begitu jauh dari tempat kos-nya. Amanda membentangkan kedua tangannya saat matanya mulai terbuka lebar. Mulutnya menguap cukup lebar. Matanya langsung tertuju ke arah jam dinding tepat di depannya. Kakinya turun dari ranjangnya yang tidak begitu besar mengingat tempat kos-nya yang hanya beberapa petak itu. Amanda meraih ponsel di nakas. Bimo Aji Permana : Good Morning beauty. Hati-hati ya berangkat ke kampusnya. Inget, jangan ngelirik mahasiswa di sana. Kamu udah punya aku. Love you hanny. Amanda tersenyum lebar seraya meletakan kembali ponsel ke nakas. Sudah ke sekian kalinya Bimo mengirim pesan seperti itu sejak Amanda keluar dari rumah Aninda dan memilih sewa kos yang letaknya cukup jauh dari rumah sang kakak ataupun kantor Bimo. Sejak itu Bimo menjadi lebih protektif dan pencemburu karena tidak bisa terlalu sering memantau kekasihnya. Belum lagi Bimo semakin sibuk guna membuka kantor baru di daerah Kalimantan. Membuat waktu di antara keduanya semakin merenggang. Meski begitu Amanda dan Bimo tak pernah luput dari yang namanya ponsel demi tetap saling berhubungan. Beberapa menit di kamar mandi, Amanda keluar menggunakan handuk di kepalanya. Masih banyak waktu untuk Amanda mengeringkan rambut basahnya dengan hairdryer berwarna ungu yang ia ambil dari laci nakas. Tidak membutuhkan waktu lama Amanda membuat rambut halusnya benar-benar kembali indah seperti sebelumnya. Ia bergerak ke lemari pakaian untuk mencari pakaian casual yang akan ia pakai ke kampus. Berakhir dikeputusan baju berbahan rajut berlengan pendek berwarna ungu tua. Bahannya sampai menutupi setengah lehernya yang putih bersih. Dipadukan celana jeans biru dongker ketat sehingga membuat lekukan indah di betis kecilnya. Amanda mengaitkan totebag yang ia sematkan di samping lemari pakaiannya. Sejuknya udara pagi membuat kaki Amanda ingin terus melangkah perlahan menyusuri jalan menuju kampus. Pandangannya terarah lurus ke depan tanpa beredar kemana-mana. Amanda berlenggak-lenggok menuju bagian tengah gedung kampus jurusan Manajemen. Di situlah Amanda mengambil jurusan. Karena kelas pertamanya masih setengah jam lagi, membuat Amanda ingin tahu apa yang terhias di mading utama kampus. Ada sesuatu yang menabrak punggungnya saat pandangannya serius ke mading. Amanda sedikit meringis terkejut. "Eh, sorry-sorry." Seorang cowok berpostur tinggi padat berisi tapi tidak terlalu gemuk menghadapkan telapak tangan kirinya guna meminta maaf ke Amanda. "Lo sih, nggak liat-liat kalo jalan! Mata tuh taronya di sini, jangan di sini," ucap cowok satunya sambil menunjuk ke mata lalu ke lututnya. Cowok yang pertama hanya menoyor kepala temannya itu dengan pelan. "Sorry, ya, kita nggak sengaja. Temen gue nih, norak baru jadi mahasiswa enggak bisa diem." Cowok pertama berbicara lagi ke Amanda yang masih memperhatikannya sedari tadi. Cowok itu menyenggol lengan temannya dengan sikunya. Amanda hanya mengeluarkan senyum paksa tanpa ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. "Elo juga anak baru, ya? Kenalin nama gue Haka," tanya cowok itu dan menjulurkan tangannya sebagai tanda ingin memperkenalkan diri. Amanda menjabat tangan cowok bernama Haka itu sembari tersenyum. "Nama gue Amanda. Panggil aja Manda." "Kalo gue Saroni. Panggil aja Oni." Cowok di samping Haka membuat telapak tangannya saling berhadapan dan ditepuk-tepuknya kala membersihkan debu yang ada di sana untuk menyambut tangan bersih Amanda setelah Haka melepaskannya. Oni dan Haka tersenyum lebar ke cewek cantik di hadapan mereka. Moment itulah yang membuat Amanda memilih Haka dan Oni sebagai teman pertamanya. Hari-hari setelahnya Amanda masih tidak berkenalan dengan yang lain, kecuali dua mahasiswi bernama Jean dan Risa. Itu pun secara kebetulan mereka bertanya mengenai tugas yang tidak dimengerti ke Amanda. Entah apa yang membuat Amanda tidak mau bersosialisasi lebih luas lagi, selain kepada keempat penghuni kampus itu. Amanda lebih sering bersama Haka dan Oni di setiap sudut kampus. Kecuali kalau di antara mereka ada yang mau ke toilet. Sudah jelas Amanda tidak akan mengikuti salah satu cowok itu. Lebih seringnya Haka dan Oni yang selalu menempel di dekat Amanda. Apalagi kalau masalah tugas. Ditambah Amanda yang paling sering mengeluarkan isi dompetnya kala mereka bertiga berada di kantin. Anugrah besar bagi kedua cowok petakilan itu mempunyai teman kampus seperti Amanda. ______ Makin ke sini ketiganya semakin akrab. Siang itu setelah Amanda selesai salah satu kelas, ia memutuskan mengisi perut keroncongannya di lapak Mie Ayam Bu Eni yang berposisi di paling ujung kantin kampus. Baru dua suapan yang masuk ke mulut Amanda, Haka dan Oni berlari menghampirinya dengan tergesa-gesa. Membuat Amanda menghentikan suapan yang ketiga dan mengerutkan dahi melihat kedua temannya yang seperti sedang dikejar hansip. "Ada apaan sih, sampe lari-lari begitu?" Belum ada jawaban di antara keduanya. Masih sama-sama mengatur napasnya yang berantakan. Amanda mencari gelas berisi es teh miliknya yang langsung ia sodorkan ke mulut Haka bergantian ke mulut Oni. Sudah tidak ada rasa sungkan lagi yang dimiliki oleh ketiganya sejak seminggu yang lalu setelah perkenalan mereka pagi itu. Sudah tidak ada lagi yang namanya jaim-jaim-an di antara mereka. Meski dalam waktu yang singkat mereka sudah bisa paham masing-masing kebiasaan atau sifat dan wataknya. Oni meletakan gelas ke meja dengan hentakan yang terdengar nyaring. Kedua cowok berkulit sawo matang itu singgah di bangku panjang depan Amanda. "Ada apaan, sih?" ulang Amanda penasaran apa yang tengah terjadi pada Haka dan Oni. Amanda kembali meletakan bokongnya di tempat semula. "Itu, Mand, Gue__" Akhirnya Haka membuka suara di nada bicaranya yang masih terengah-engah. Sementara Oni mengelap-ngelap keningnya yang padahal tidak ada setetes keringat sedikitpun. "Gue apa?" ulang Amanda hendak mengklarifikasi. Intonasi suaranya agak naik. "Gue laper." "Iya gue juga!" Oni mengacungkan telunjuknya dan kembali meraih es teh milik Amanda. Namun, dicegat tegas oleh gadis bermata sedikit sipit itu. Mata Amanda melotot tajam ke kedua laki-laki di hadapannya. Napasnya memburu. Seperti ada kebulan asap yang keluar dari atas kepalanya. Sementara dua tersangka hanya mengeluarkan cengiran kuda membalas tatapan Amanda. "Kalian!" teriak Amanda tak peduli dengan beberapa mahasiswa lainnya yang sedang berada di kantin menoleh ke arahnya. "Yah, Mand. Lo kan tau kalo masalah perut, gue sama Oni nggak bisa diajak kompromi. Kalo nggak cepet-cepet diisi bisa modar kita," cerocos Haka menundukan wajahnya. Tak ingin melihat kegeraman teman ceweknya yang nyaris sempurna itu. "Nih, makan, tuh!" Amanda menggeser mangkuk mie ayamnya tepat ke hadapan Haka. Wajahnya masih berwarna merah api. Terlihat jelas kekesalan di bola matanya yang hitam. Amanda melenggang pergi dari tempatnya, berdiri ke luar daerah kantin. Haka dan Oni saling bertatapan. Memalingkan pandangannya ke Mie Ayam dan gelas berisi es teh di meja. Keduanya sama-sama mengambil ancang-ancang kala beradu siapa cepat mendapatkan makanan sisa Amanda yang masih cukup banyak. Dalam hitungan beberapa detik kedua tangan mereka secara bersamaan menarik hidangan yang ada di depannya. Haka menyantap Mie Ayam. Oni meneguk es teh sampai habis tak bersisa selain beberapa bongkah es batu. Bukan Amanda namanya kalau sehari saja tidak ada ambekan yang terpancar dari bentuk wajahnya yang agak lonjong itu. Siapa lagi penyebab itu semua kalau bukan kedua teman laki-lakinya yang gemar sekali melihat bibir Amanda maju beberapa senti. Namun, tidak sampai sehari saat Haka dan Oni kembali menghadap ke Amanda untuk meminta maaf, dengan sedikit candaan mereka membuat Amanda tidak bisa menahan tawanya dan kembali seperti sedia kala terhadap kedua temannya yang selalu setia menemaninya itu. Selama seminggu sejak perkenalan Amanda, Haka dan Oni. Mereka sudah bisa saling membaur. Sikap kejailan Oni dan kesupelannya Haka yang membuat Amanda bisa dengan mudahnya menerima mereka. Padahal sebelumnya Amanda tidak pernah mempunyai teman dekat laki-laki. Karena baginya, setiap cowok yang mendekatinya entah itu berlagak seperti teman atau "kakak-kakak-an" pasti ujungnya ada hal yang dituju yaitu : berusaha memiliki hati Amanda. Sudah cukup sering Amanda merasakan hal tabu seperti itu. Makanya, sebelum ini Amanda lebih nyaman mempunyai sahabat cewek yang selalu menemani kesendiriannya di kala malam minggu tiba. Meski kadang ia juga suka ditinggal akan sahabat-sahabatnya yang juga mempunyai jadwal kencan dengan pacarnya. Amanda sendiri heran kenapa sekarang dengan gampangnya ia menjalin pertemanan dengan Haka dan Oni. Amanda nyaman berada di dekat mereka. Tawanya selalu bergema saat dirinya berada di tengah kedua laki-laki dengan otak yang setengah itu. Tujuh hari berturut turut Haka membuat Amanda geram dengan beragam sikap resenya. Mungkin hal itu adalah salah satu alasan yang membuat mereka bertiga cepat akrab. Tidak ada penyesalan sedikitpun di wajah yang hampir kotak milik Haka. Oni pun juga mendukungnya dengan bakat kejahilan miliknya. Meski kadang ada kalimat-kalimat bijak Oni yang terlontar dari lidahnya. _____ Bermenit-menit Haka bersama Oni menyusuri wilayah kampus, akhirnya matanya berbinar menangkap sesosok gadis. Berpakaian dress abu-abu bertangan buntung dengan kerah. Bahan siffon yang menjuntai hingga ke lutut. Wajahnya menunduk kala memperhatikan sesuatu yang ada di dalam lembaran buku berjudul "strategy of management". Haka dan Oni mempercepat jalannya menghampiri Amanda yang duduk di bawah pohon rindang di pinggir taman kampus. Mereka berhenti ketika berada di sisi Amanda. Haka duduk di sebelah Amanda, sementara Oni berdiri di sebelah Haka. Gadis itu sadar akan dua makhluk yang ada di sampingnya. Namun, Amanda sengaja tidak menghiraukannya. Haka bergeser pelan-pelan. Berusaha menempelkan bahunya ke bahu kecil milik Amanda. "Manda," sapa Haka bernada merayu. Kedua tangannya berkaitan menggantung di dalam kedua pahanya. Bersikap begitu manis seperti anak kecil yang meminta sesuatu kepada orang tuanya. "Manda lagi apa? Masih ngambek, ya?" Matanya melirik ke buku yang dipegang Amanda. "Manda," celetuk Oni ikutan. Sama sekali tidak ada penolehan dari Amanda. Gadis itu bersikap seperti halnya berada dalam kesendirian tanpa ada siapapun di sekitarnya. "Manda jangan ngambek lagi, dong. Sorry-dorry-strowberry, deh, masalah tadi. Janji deh, nggak rese lagi," rengek Haka mengguncang lengan Amanda. Menempelkan telunjuk dan jari tengahnya di udara guna bersumpah atas ucapannya. Haka dan Oni saling membagi pandang. Mereka malah bermain salah-salahan dengan ekspresi yang kesal. Masih dan lagi. Tidak ada respon sedikitpun dari Amanda. Mulutnya terbuka hanya karena membaca beberapa kalimat yang tertera di dalam buku. "Manda please napa. biasanya lo juga nggak pernah semarah ini. Jangan-jangan lo lagi PMS, ya." Wajah Haka mengadah di bawah wajah Amanda hendak memastikan jawabannya. "Iya gue lagi PMS." Akhirnya terjawab sudah tanya hati Haka sedaritadi. Sesuatu yang ia putar-putar di otaknya. Wajahnya kembali ketempat semula dan meng-o-kan jawaban Amanda tanpa suara. "Atau gini aja, deh." Muncul ide lain di pikiran Haka saat beberapa detik yang lalu ia melihat ke arah kirinya di kejauhan. Tubuhnya segera bangkit berpindah di hadapan Amanda. "Kalo lo maafin gue dan Oni, gue bakalan ngenalin lo sama cowok ganteng di kampus ini." Amanda melirik ke Haka. Mulai tertarik dengan tawaran cowok petakilan itu. Kedua tangan Haka menempel ke sisi mulutnya guna menjadi pengeras suara untuk memanggil dua laki-laki di sana. Menepuk-nepuk tangannya seperti sedang memanggil tukang bakso keliling. "Bili! Arga!" teriak Haka sekeras mungkin berharap orang yang dimaksud mendengarnya. Tangannya di kibas-kibaskan kala memerintah dua orang yang sudah menoleh itu datang menghampirinya. Amanda bangkit perlahan dari duduknya. Memperhatikan apa yang sedang diusahakan Haka demi mendapat kata maaf darinya. "Dua lagi Mand cowok gantengnya," bisik Haka saat tinggal beberapa langkah lagi dua kaum adam itu datang ke dekatnya. Sementara Oni hanya mengamini saja setiap ide yang diberikan Haka. Cowok yang pertama tubuhnya kurus. Tidak terlalu kurus karena terlihat otot-otot kuat di lengannya. Tinggi. Menandakan si cowok rajin olahraga. Kulitnya tidak begitu putih tapi jauh dari kesan hitam maupun coklat. Alisnya tebal hampir menyatu satu sama lain. Jelas hidungnya mancung karena sejak awal Haka menjanjikan Amanda seorang cowok yang tampan. Cowok yang kedua lebih pendek lima senti dari cowok pertama. Badannya lebih berisi. Ototnya juga lumayan kekar. Kulitnya lebih putih dibanding cowok pertama. Hidungnya tidak lebih bagus dari cowok yang berjalan bersamanya. "Kenalin ini Amanda." Haka menunjuk ke gadis yang hanya terpaku sedaritadi. Dua cowok asing untuk Amanda ini saling membagi pandang dengan tatapan bingung. "Mand, ini Arga. Dan yang ini, Bili," tambah Haka menunjuk ke cowok kurus dan bergantian ke cowok yang di sebelahnya. "Mereka ini anak komunikasi." Haka menjelaskan ke Amanda. Sesaat keheningan menyelimuti keempatnya. Haka heran dengan suasana yang canggung ini. Amanda terdiam begitu pun cowok yang namanya Arga. Sedangkan Bili berlagak seperti biasanya, cowok yang suka tebar pesona kesana kemari. Bili ini hanya melambaikan lima jari ke Amanda sambil tersenyum ramah. Berbeda dengan Arga yang sepertinya malah terus menatapi Amanda dengan datar, tetapi seperti orang yang terpesona. Kemudiam Haka mengisyaratkan Arga dengan mengedipkan salah satu matanya untuk segera menawarkan jabat tangan ke Amanda. "Oiya, Gue Arga." Cowok itu menjulurkan tangan kanannya kehadapan Amanda. "Amanda. Panggil aja Manda." Gadis itu menjabat tangan Arga sambil tersenyum. Fortsetzung Folgt (To Be Continued)

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Beautiful Pain

read
13.7K
bc

MY LITTLE BRIDE (Rahasia Istri Pengganti)

read
19.3K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.2K
bc

Revenge

read
35.6K
bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

Penghangat Ranjang Tuan CEO

read
34.0K
bc

Hati Yang Tersakiti

read
6.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook