Ketika cuaca di Socrates sudah lebih stabil tanpa adanya badai salju yang mengamuk, seorang prajurit Istana datang ke tempat tinggal Krysanthe. Ia datang bukan untuk menyelidiki kasus kematian Vincent yang sempat menggemparkan Socrates beberapa hari yang lalu. Prajurit itu hanya bertindak sebagai tukang antar surat yang dikirimkan oleh Istvan Hesperos kepada calon istrinya.
Dibanding disebut ‘surat’, barang yang kini tergeletak di atas meja teh itu lebih nampak seperti kartu undangan. Saat Helcia mengetukkan jari pada permukaan kartu tersebut, suara dentang besi akan sampai ke telinganya. Kartu itu juga akan memancarkan kilau emas ketika terkena pancaran cahaya atau api, membuat Helcia harus memicingkan matanya sedikit agar kilaunya tidak menyakiti mata.
“Tidak salah lagi. Ini adalah emas.” Tebak Helcia seraya memutar – mutarkan kartu tersebut di udara.
Naya memandang kartu di tangan Helcia dengan wajah penasaran. “Nona, Yang Mulia Pangeran Mahkota pasti sangat mencintai anda sampai memberikan kartu undangan berbahan emas murni.”
Helcia tidak menjawab. Hanya sebatas memberikan emas seperti ini tidak patut dikatakan sebagai ungkapan kasih sayang. Bagi para bangsawan yang kerap bergelimang harta, memberikan barang mewah kepada orang lain hanya seperti memberikan batu kerikil biasa.
Atau dengan kata lain, sama sekali tidak berharga.
Tangan Helcia meraba permukaan lembar emas tersebut, lantas memperhatikan sebaris tulisan yang terukir di atasnya.
‘Perjamuan Teh Bersama Pangeran Mahkota’
Helcia berpikir sejenak. Dia dan Istvan memang seringkali bertemu dan menghabiskan waktu seraya minum teh di halaman belakang Istana. Tapi, tidak pernah sekalipun Istvan memberikan kartu undangan agar Helcia datang. Putra Mahkota hanya perlu menyampaikan pesannya lewat prajurit, dan Demetria pasti akan langsung menyuruh Helcia untuk pergi.
Bila sampai Kerajaan mengeluarkan kartu undangan resmi seperti ini. Kemungkinan besar acara perjamuan teh nanti akan dihadiri oleh bangsawan lain. Dan Istvan akan meminta Helcia menjadi bunga pajangan yang dipamerkan kepada bangsawan lain.
“Apa aku harus datang?” Gumam Helcia.
Belum sampai Petra atau Naya menjawab. Suara pintu kamar yang dibuka tiba – tiba membuat Helcia langsung menoleh. Mendapati wajah Demetria yang tengah tersenyum ke arahnya.
“Kamu sudah mendapatkan undangan dari Yang Mulia Pangeran Mahkota?”
Senyuman tercetak di wajah Helcia. “Sudah, Ibu. Nampaknya, Kerajaan akan mengadakan acara perjamuan teh resmi. Apakah ada hari spesial hingga Yang Mulia mengadakan acara seperti ini?”
Demetria melangkah menuju Helcia. Kedua tangan keriputnya memegang sebuah kotak kayu dengan ukiran rumit pada permukaannya. Terlihat seperti sebuah kotak yang biasa digunakan sebagai bungkus kiriman dari toko pakaian mewah. Mungkin itu adalah pakaian baru yang dibeli oleh Demetria untuk Helcia.
“Yang Mulia Pangeran Mahkota menyampaikan bahwa ia tengah merasa senang karena badai salju yang menimpa Socrates sudah terlewati.”
Demetria memberikan kotak di tangannya kepada Helcia. “Yang Mulia juga memberikan pakaian ini untuk kamu kenakan di acara perjamuan nanti.”
Helcia menerima bingkisan tersebut, kemudian membuka tutupnya sedikit untuk mengintip barang yang ada di dalam. Matanya mampu melihat sebuah gaun berwarna merah dengan manik – manik perak di bagian roknya. Sehingga membuat gaun tersebut nampak mewah di mata orang lain.
“Yang Mulia seharusnya tidak perlu repot seperti ini. Bila hanya gaun, saya juga memilikinya.” Kata Helcia.
“Apa yang kamu bicarakan?” Demetria berkata, “Gaun yang diberikan oleh Yang Mulia tentu mempunyai kualitas terbaik di Kerajaan Socrates. Gaun – gaun yang berada di dalam lemarimu mungkin tidak akan bisa menandinginya. Lagipula, Yang Mulia harus memastikan Calon Putri Mahkota berpakaian mewah ketika menghadiri acara perjamuan dihadapan banyak tamu bangsawan.”
Helcia meletakkan kota tersebut ke atas meja. “Maaf atas kebodohan Helcia, Ibu. Seharusnya saya mampu memahami niat baik Yang Mulia Pangeran Mahkota. Saya pasti tidak akan membuatnya kecewa dihadapan bangsawan nanti.”
Demetria tersenyum senang. “Benar. Jadilah wanita patuh dan baik. Selama di acara perjamuan, lebih baik kamu tetap berada di samping Pangeran dan tak perlu mengucapkan kata bila Pangeran tidak menginginkannya.”
Jadilah seperti boneka.
Helcia memang muak terus berada di bawah kendali orang lain, dan berlaku bagaikan boneka tanpa nyawa seperti ini. Namun, dia masih harus bersabar. Kekuatannya tidaklah cukup untuk melakukan pemberontakan, tidak pula mempunyai kedudukan yang mempunyai hak bicara lebih.
Untuk sekarang, biarlah dia tetap berpura – pura menjadi wanita patuh yang tidak mengerti cara dunia ini berputar. Sampai pada hari dimana Helcia mendapatkan kesempatan untuk membalikan keadaan, ia harus menanggung segala rasa kesal di dadanya.
“Helcia mengerti, Ibu.”
“Perjamuan akan di selenggarakan minggu depan. Sebaiknya kamu tidak makan terlalu banyak agar tubuhmu tetap terjaga. Pangeran pasti tidak akan senang bila Calon istrinya terlihat tidak menarik.”
Helcia menundukan kepala, menatap lekat tubuhnya dengan lebih jelas. Setelah ia pikir lagi, nampaknya Helcia merasa terlalu nyaman dengan hidupnya akhir – akhir ini, hingga dia bisa makan banyak tanpa memikirkan banyak hal. Dia bahkan selalu menyantap banyak makanan ketika bersama Orestes selama dua hari. Tak ayal bila tubuhnya mulai menimbun lemak, walau sejujurnya Helcia tidak merasa tubuhnya kelebihan berat badan.
Hanya saja, Demetria serta Istvan pasti akan melihatnya sebagai barang cacat bila sampai Helcia membuang standar kecantikan yang telah di tetapkan oleh mereka sejak dulu. Sebuah boneka haruslah memiliki tubuh ramping yang nampak rapuh, sehingga orang lain mempunyai rasa ingin menjaganya.
Bersamaan dengan suara hembusan angin dingin yang menerbangkan gorden kamar. Helcia menjawab seperti biasa. “Helcia mengerti, Ibu."
• • •
Sesuai dengan keinginan Demetria yang tidak mau Helcia sampai bertambah berat badan. Helcia hanya diberi makan satu kali sehari, itupun dengan porsi yang sangat sedikit. Porsi makanan itu bahkan tidaklah cukup untuk memberi makan satu balita. Namun Helcia tidak begitu memperdulikannya.
Ketika berada di kehidupan sebelumnya. Helcia juga seringkali tenggelam dalam pekerjaannya sebagai penulis novel, dan melupakan jam makannya. Tidak makan selama beberapa hari saja bukanlah masalah besar untuknya.
Tetapi kedua pelayannya itu menanggapi pembatasan makan itu dengan sikap yang berbeda. Mereka sudah mengkhawatirkan Helcia yang sudah lima hari ini hanya menyantap lima sendok makan tanpa tambahan camilan lainnya. Jika saja Demetria tidak mengecek makanan yang akan dibawa ke dalam kamar Helcia, mungkin Petra sudah diam – diam menambahkan porsi makan untuk nonanya itu.
“Nona, bagaimana bila saya membawakan porsi makanan saya untuk anda?” Naya berlutut dihadapan Helcia agar bisa sejajar dengan pandangan mata Helcia yang tengah duduk.
Helcia menggeleng pelan seraya memperhatikan langit dari jendela. “Kamu akan terkena masalah.”
Naya memegang tangan Helcia dan kemudian menatap wajahnya dengan mata sendu. “Nona bisa sakit bila terus seperti ini.”
Merasa terharu dengan sikap Naya yang menaruh begitu banyak perhatian kepadanya. Helcia akhirnya menyunggingkan senyum, kemudian menepuk kepala Naya pelan. “Kapan aku pernah tidak sakit?”
“Nona! Anda tidak boleh berkata demikian.” Pekik Naya.
Setelah mendengar perdebatan antara Naya dan Helcia, kini Petra juga turut berlutut dihadapan Helcia. “Naya benar, Nona. Selama beberapa bulan ini anda sudah sangat jarang sakit. Dan kami tidak mau anda mudah terserang penyakit lagi.”
Mendegar perkataan Petra membuat Helcia tersadar. Selama ia datang ke dalam dunia ini, Helcia baru menderita sakit ketika berada di kediaman Obelix. Itupun juga karena adanya pergolakan kekuatan sihir yang tak wajar, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kekuatan fisik yang ada di tubuhnya.
Tapi, bukankah bila yang berada di posisinya sekarang adalah jiwa Helcia Krysanthe yang asli, maka wanita itu bisa terserang sakit dengan mudah?
Apa Demetria tidak khawatir bila putrinya itu akan mati akibat kekurangan nutrisi?
Melihat reaksi Petra dan Naya yang berlebihan seperti ini juga membuat Helcia berpikir bahwa ini merupakan kali pertama Demetria membatasi porsi makanan Helcia.
“Sebelum ini … Seberapa sering aku sakit dalam satu tahun?”
• • • • •
To Be Continued
14 Februari 2021