Tepat pada hari kepulangan Pello dan Demetria, kasus Vincent disiarkan ke pihak Kerajaan. Raja Johannes Hesperos mengaku geram tatkala mendengar perbuatan Vincent yang tak bertanggung jawab, dia bahkan sampai mengutus belasan prajurit untuk menyelidiki kasus ini. Namun, mereka juga tidak terlalu berbuat banyak. Para prajurit itu hanya membawa pergi mayat Vincent Neandro yang sudah membusuk, dan kemudian melemparkan mayatnya kedalam karung. Bersikap seolah mayat yang ada di dalam karung tersebut hanyalah sebuah sampah yang menjijikan.
Mereka mengaku akan melakukan autopsi lebih lanjut kepada mayat Vincent, dan mengabari Keluarga Krysanthe bila sudah menemukan bukti adanya keterkaitan pihak lain dalam masalah ini. Duke Pello tidak mempunyai pilihan lain terkecuali mengikuti permintaan Raja Johannes yang ingin mengambil alih keseluruhan kasusnya. Lagipula, titah seorang Raja selalu bersikap mutlak tanpa celah.
Helcia menyandarkan punggungnya pada dinding di samping jendela. Ia menyibakkan sedikit celah gorden agar bisa melihat para prajurit yang tengah berlalu lalang di setiap sudut kediaman Krysanthe. Memastikan tidak ada sedikitpun hal yang bisa mengancam keluarga dari Calon Putri Mahkota.
“Hmm …, alih – alih menganalisa mayat Vincent secara lebih lanjut, mereka malah berlalu lalang tidak jelas di halaman.” Ejek Helcia.
Petra yang tengah merapihkan tempat tidur Helcia berkata, “Mereka sedang memastikan keamanan anda, Nona.”
Helcia hanya melirik Petra singkat, sebelum akhirnya beralih duduk di atas sofa dan menunggu Naya menuangkan teh hangat untuknya. “Yang Mulia Raja begitu murka kepada Vincent. Tapi, mengapa dia hanya mengirimkan prajurit rendahan untuk mengusut kasus ini?”
Para prajurit itu bahkan tidak memiliki pangkat sekelas Letnan atau Mayor. Mereka hanyalah prajurit yang mungkin saja menjaga gerbang Istana Socrates atau berpatroli ringan di sekitar kota. Kasus aneh seperti ini sewajarnya haruslah ditangani oleh prajurit kelas atas yang memiliki pengetahuan tinggi serta banyak pengalaman dalam menangani kasus kriminal.
“Ya, sejujurnya perkataan anda tidak salah. Mereka memanglah prajurit rendah yang tidak mempunyai kemampuan tinggi.” Balas Petra.
Sebaliknya, Naya malah menyangkal ucapan mereka yang terdengar menghina. “Bisa saja mereka adalah prajurit yang baru dipilih sehingga belum mempunyai pangkat.”
“Tidak.” Petra berkata, “Mereka jelas – jelas prajurit yang tidak berkembang. Kamu bisa mengetahuinya dari pin yang ada di d**a mereka. Prajurit yang baru saja lulus biasanya akan memakai pin berwarna hitam selama satu tahun, sebelum akhirnya mendapatkan pin baru yang akan menentukan pangkat mereka di militer. Pin berwarna merah tanpa lambang adalah tingkatan terendah dalam militer. Pertanda bahwa mereka bukanlah prajurit yang menonjol selama masa awal pelantikan.”
“Tapi, bukankah artinya mereka masih bisa naik pangkat?” tanya Naya masih tidak senang.
Petra melipat selimut menjadi bentuk persegi yang sangat presisi. “Tentu bisa. Namun, setiap tahunnya akan selalu ada pendatang baru yang bisa menjadi saingan mereka. Dan lihatlah dengan baik, wajah mereka semua kebanyakan tidak lagi muda. Mungkin sudah menginjak awal tiga puluhan. Seandainya mereka lebih bekerja keras di umur dua puluhan, mungkin mereka bisa mendapatkan pangkat yang lebih tinggi.”
Naya tidak lagi membalas, dia merasa kesal karena setiap perkataannya mampu dibantah oleh Petra dengan mudah. Helcia tertawa dalam hati ketika menyaksikan tingkah Naya yang nampak bagaikan anak kecil ketika kesal. “Sudahlah, jangan kesal begitu. Naya, bersikap positif memang penting. Tapi terkadang kamu juga harus bisa mengkritisi orang lain agar tidak bisa dibodohi dengan mudah.”
Naya mengerucutkan bibirnya akibat kesal. “Saya mengerti, Nona.”
Kemudian Helcia mengalihkan pandangannya menuju Petra. “Kamu tahu banyak mengenai militer. Apa kamu juga turut masuk kedalam militer ketika Keluarga Agalas masih Berjaya?”
“Saya memang pernah masuk kedalam pasukan militer sebelum keluarga saya hancur tiga tahun yang lalu.”
Helcia mengetukan jarinya ke permukaan cangkir untuk berfikir sejenak. Dia ingin meneruskan topik pembicaraan ini, tapi dia juga tidak mau membuka luka lama di dalam hati Petra. Dan nampaknya Petra juga menyadari pemikiran nonanya yang ragu. Karena itulah dia berkata, “Saya sudah tidak begitu memikirkan masa lalu. Lagipula, tidak ada gunanya terus berpaku pada masa lalu.”
Setelah mendengar perkataan Petra, Helcia melanjutkan. “Aku menduga hal seperti itu karena melihatmu dan Xylon yang terlihat akrab. Sebab itu aku menyimpulkan bila kalian pasti sering bertemu sebelumnya di kawasan militer”
Petra mengerutkan keningnya. “Akrab? Bagaimana bisa kami menjadi akrab satu sama lain? Dia adalah pria paling b******n yang pernah saya temui. Xylon Obelix itu terlalu banyak bermain – main ketika mengerjakan tugas di militer. Bahkan setelah tujuh tahun berada di dalam kemiliteran, dia masih berpangkat kapten.”
“Dia masih berpangkat kapten? Kupikir semua keturunan Obelix setidaknya selalu memiliki pangkat Letnan di pertengahan umur dua puluh.”
“Memang seharusnya begitu.” Petra berkata, “Hanya dia satu – satunya keturunan Obelix yang tidak kunjung naik pangkat selama bertahun – tahun. b******n itu hanya tahu cara memikat hati wanita dan kemudian tidur dengan mereka. Sungguh sampah. Bahkan selalu ada saja wanita berbeda yang mengantarkan makanan untuknya setiap hari.”
Naya yang sebelumnya terlihat lesu kembali bersemangat ketika mendengar Petra melontarkan gossip tentang orang lain. “Tapi, Bukankah Tuan Xylon memang tampan? Wajar saja bila banyak wanita yang mengantri dihadapannya.”
Petra meletakkan tangan dibawah dagu. “Mhm. Dia memang lumayan tampan.”
“Petra.” Naya tertawa kecil. “Ternyata diam – diam kamu juga mengakui hal itu. Apa kamu juga tanpa sadar selalu memperhatikan Tuan Xylon sampai mengetahui kebiasaannya secara rinci?”
“Tidak! Aku tidak melakukan hal itu!” Tukas Petra. Melihat reaksi Petra yang bahkan hampir melemparkan cangkir kepada Naya itu malah semakin membuatnya terlihat seperti orang yang tengah malu.
“Petra, jika kamu terlalu membenci seseorang. Kamu bisa saja malah mencintai orang itu sampai gila nantinya.” Goda Helcia.
“Nona! Mengapa anda juga ikut menggoda saya!”
Helcia dan Naya memandang satu sama lain, kemudian tertawa lepas. Merasa begitu puas saat melihat wajah Petra yang selalu nampak datar kini dipenuhi oleh rona merah. Sedangkan Petra malah menundukan wajahnya semakin dalam ketika mendengar tawa dua wanita dihadapannya yang semakin tidak terkontrol.
Setelah beberapa saat, akhirnya Helcia mampu meredam tawanya dan kembali ke topik awal pembicaraan mereka. “Sejak awal kamu selalu mengkritik pangkat para prajurit kerajaan. Apakah kamu mempunyai pangkat yang bahkan lebih tinggi dari Xylon?”
Petra mengangguk dan menampakan senyum bangga di wajahnya, “Saya pernah menjabat sebagai Mayor.”
Helcia, “…”
Helcia sama sekali tidak menyangka hal tersebut. Dia hanya menduga jabatan Petra sampai sersan atau kapten. Tapi, ternyata itu adalah Mayor! Sebuah tingkat militer yang bahkan hanya berada satu tingkat dibawah Letnan Athian dan Lucas. Pantas saja Petra bisa terjun menggunakan tali dari lantai lima dengan begitu mudah.
Setelah di ingat – ingat lagi, Orestes bahkan tidak memprotes Petra ketika wanita itu bertengkar dengan Xylon. Alih – alih membela adiknya, Orestes malah menghentikan Xylon bertindak lebih kurang ajar dihadapan Petra. Mungkin pria itu masih menganggap Petra sebagai rekannya, sehingga tidak tahan saat melihat seorang Kapten bersumpah serapah dihadapan mantan Mayor.
“Kamu … tidak mendapatkan diskriminasi?” tanya Helcia. Pasalnya, di Kerajaan Socrates peran wanita seringkali tidak bisa berdiri sejajar dengan pria.
Petra menunduk sedikit seraya tersenyum kecil. Sepertinya ia tengah melemparkan memorinya ke dua tahun lalu, dimana dia masih berada di puncak kehidupan. “Di dalam militer. Kami tidak pernah memandang jenis kelamin ataupun status keluarga. Selama seseorang cukup kuat dan cerdas, dia pasti mampu mendapatkan jabatan tinggi.”
Jabatan tinggi sangat sulit untuk didapatkan. Namun Petra bisa kehilangan jabatan itu dengan begitu mudah. Ada begitu banyak kenangan ketika dia masih menjadi seorang Mayor. Entah itu kenangan bagus ataupun pahit, selama dia masih mempunyai bawahan yang setia maka Petra tidak pernah sekalipun mengeluh.
Helcia bisa merasakan gejolak perasaan sedih yang mendalam dari Petra. Suatu perasaan yang pastilah hadir ketika seseorang merasa hancur. Akan tetapi, dibalik kesedihan itu, Helcia mampu menemukan secercah perasaan lega yang sulit untuk digambarkan. Seakan, walau Petra telah kehilangan segalanya, dia masihlah mempunyai tujuan hidup yang begitu tinggi.
“Masa – masa itu memang menyenangkan. Namun, melindungi anda saat ini merupakan hal yang paling berharga dalam hidup saya.” Petra meletakkan telapak tangannya di atas d**a, kemudian membungkuk sedikit dihadapan Helcia.
Helcia bernafas lega, manik ruby memancarkan binar lembut yang menenangkan jiwa. “Sepertinya aku akan membuatmu bekerja keras dalam melindungi seorang wanita keras kepala ini, Mayor.”
• • •
Lonceng tembaga yang berada di puncak menara tengah Kota Canace berdentang tiga kali. Suara sorakan penduduk menderu hingga sampai memenuhi langit tatkala melihat Orestes beserta pasukannya memacu kuda untuk melintasi jalan menuju gerbang utama Kota Canace. Wajah Orestes yang selalu memancarkan aura mematikan itu terlihat begitu rupawan ketika angin menerpa wajahnya dan menerbangkan helaian rambut kebelakang.
Seperti yang pernah ia katakan pada Helcia, Orestes akan segera meninggalkan Kota Canace dan berjaga di perbatasan Kerajaan selama musim dingin datang. Bila dilihat dari kondisi iklim yang kini tak menentu, mungkin saja Orestes baru bisa menginjakkan kaki di Canace lagi empat atau lima bulan kemudian. Para penduduk yang sangat jarang melihat wajah Orestes tentunya akan selalu berbondong – bonding untuk menyaksikan kepergian putra pertama keluarga Obelix itu.
“Lord Orestes, semoga Socrates selalu memberkati anda!”
“Jasa anda dalam melindungi Kerajaan ini pasti akan selalu terukir di dalam hati kami.”
Belasan wanita muda dengan susah payah menerobos barisan penduduk agar bisa berada di baris paling depan dan melihat wajah Orestes dengan lebih jelas. Orestes memanglah sosok yang selalu terlihat tidak bisa disentuh oleh orang lain. Namun, hal itu tidak pernah menyurutkan keinginan para gadis muda untuk memiliki Pria seperti Orestes.
“Lord Orestes, jagalah kesehatan anda selalu!”
“Segeralah kembali tanpa terluka!”
Dibandingkan dengan Xylon yang menebarkan pesonanya ke banyak wanita dan berusaha menggoda mereka untuk mendapatkan perhatian. Orestes bahkan hanya berdiam diri, dan seluruh wanita di Socrates sudah lebih dulu berusaha memperebutkan Orestes.
“Tuanku, sepertinya penggemar anda semakin banyak.” Kata Athian seraya tertawa.
Seperti biasa, Orestes hanya menjawab dengan nada tanpa emosi. “Mereka hanya sedang memberikanku penghormatan kecil.”
“Tuan, apakah anda buta? Para wanita muda itu bahkan merias wajah mereka begitu tebal dan memakai banyak perhiasan di pakaian mereka demi mendapatkan perhatian dari anda. Anda sungguh tidak tertarik kepada salah satu dari mereka?”
“Tidak.”
Athian segera menutup mulut menggunakan dua tangannya dengan gerakan dramatis. “Tuan, jangan katakan bahwa anda sesungguhnya tidak menyukai wanita. Hmm … Selama anda senang, menyukai wanita atau pria tidak akan menjadi masalah bagi saya.”
Orestes melirik Athian tanpa mengatakan apapun.
“Oh. Apa anda sebenarnya menyukai saya? Tuan, anda memang sangat rupawan dan hebat. Tapi, sayangnya saya masih menyukai wanita yang lembut untuk mendampingi hidup saya.”
Tuk!
Sebuah batu kerikil di lemparkan dengan kecepatan tinggi, dan batu tersebut tepat mengenai belakang kepala Athian sampai membuat pria itu hampir terjungkal kedepan. Kemarahan langsung membumbung tinggi di dalam hati Athian. Letnan tangan kanan Orestes itu langsung menoleh ke arah sumber batu dilemparkan. Matanya memicing tajam, dan pipinya memerah akibat emosi.
“Siapa yang berani melemparkan bat –”
Sebelum ucapannya selesai, Athian langsung mengunci mulutnya rapat tatkala melihat wajah tersenyum dari seorang pria dengan rambut terikat satu dibelakangnya. Lucas Kristeva memancarkan senyum sehangat matahari, namun matanya menusuk Athian begitu dalam sampai membuat pria itu merasa kesulitan bernafas.
“Letnan Athian Emrys. Apa aku harus menyumpal mulutmu dengan batu agar kamu bisa berhenti mengucapkan omong kosong?”
Athian menggigit bibir dalamnya, dan kemudian bergumam kecil. “Tidak. Aku akan berhenti bicara.”
Tidak lagi mengindahkan Athian. Lucas memacu kudanya hingga berada di samping Orestes. “Tuan, saya sudah membawa sepuluh prajurit berpengalaman untuk mendampingi kita dalam menjaga perbatasan. Namun, tidakah jumlah ini terlalu sedikit?”
Orestes mengangguk. “Memang terlalu sedikit. Tapi, Yang Mulia Raja tidak memperbolehkan kita membawa lebih dari sepuluh prajurit kerajaan. Beliau berkata, bahwa sepertinya ada komunitas kriminal yang membahayakan Keluarga Bangsawan.”
“kriminal? Apakah anda melaporkan tiga orang bandit yang menerobos rumah anda kepada Kerajaan.”
“Tidak.” Orestes berkata, “Helcia akan berada dalam masalah bila aku melaporkan kejadian yang menimpanya ke pihak kerajaan. Raja Johannes berpikir demikian karena Keluarga Krysanthe melaporkan adanya salah seorang pekerja dibawah naungan mereka yang berkhianat dan bahkan menerima suap dari seseorang yang tidak dikenal.”
Lucas memandang Orestes sedikit terkejut. “Keluarga Krysanthe. Dua kali tertimpa musibah pastilah bukan suatu kebetulan belaka. Mungkinkah mereka hanya menargetkan Keluarga Krysanthe?”
“Aku juga berpikir demikian. Tapi, kita tidak bisa membuat spekulasi kasar mengenai hal krusial seperti ini.”
“Tuan, nampaknya permasalahan ini sudah masuk dalam perkiraan anda. Itukah sebabnya anda meminta Mantan Mayor Petra Agalas untuk mendampingi Nona Helcia?”
Orestes tidak menjawab. Namun, Lucas sudah bisa menebak isi pikiran Orestes.
Helcia Krysanthe pastinya mempunyai tempat tersendiri di dalam hati Orestes, hingga Jenderal Besar itu menaruh banyak perhatian kepadanya.
• • • • •
To Be Continued
12 Februari 2021