Illiana mematikan korek api di tangannya setelah menyalakan lilin aroma terapi yang terakhir. Ruangan kerjanya kini tengah di selimuti oleh aroma vanilla yang menenangkan. Bau busuk yang sebelum ini menyelimuti kedua saudari itu akhirnya sirna sedikit demi sedikit, membuat mereka menghela nafas lega.
Helcia mengedarkan pandangannya ke segala arah ruang kerja Illiana. Ruangan tersebut di tata begitu rapih dan bersih, pertanda bahwa si pemilik ruangan merupakan orang yang telaten dalam melakukan tugasnya.
Seraya memasukan beberapa balok kayu ke dalam perapian, Illiana bertanya, “Bisakah kamu memberitahuku orang yang kamu curigai?”
Jawaban tak lekas keluar dari bibir Helcia. Alih – alih menjawab, dia malah mengajukan pertanyaan lain, “Tentu. Tapi, aku masih ingin memberikanmu satu pertanyaan. Apakah aku bisa mempercayaimu?”
Illiana memandang Helcia dengan matanya yang letih. “Aku sudah katakan kepadamu. Bila tidak mempercayaiku, kita bisa melakukan sumpah darah.”
Helcia tersenyum. “Tidak perlu melakukan sumpah menyeramkan itu. Aku hanya butuh jawaban darimu. Apa aku bisa mempercayaimu atau tidak?”
Sejujurnya, melakukan sumpah darah akan jauh lebih terjamin dibanding hanya sebatas kata – kata biasa. Upacara sumpahnya pun tidaklah rumit. Hanya perlu menyatukan dua ibu jari yang sudah tertusuk oleh jarum, kemudian menyuarakan sumpah mereka. Meski semudah itu, efek yang dihasilkan begitu mutakhir.
Helcia pernah membaca informasi mengenai sumpah ini dalam buku. Sumpah yang telah diucapkan tidak akan bisa diputuskan seumur hidup. Dan siapapun yang melanggar sumpah akan dijatuhi hukuman berupa pembekuan darah. Dimana darah di dalam tubuh si pelanggar akan berangsur – angsur membeku sampai dia tidak mampu lagi bergerak.
Sumpah itu tidak akan membunuh. Namun, akan membekukan manusia seumur hidup mereka bila melanggar. Dan Helcia bukanlah tipe manusia yang senang melakukan hal mengerikan seperti itu. Dia tidak pernah mau mengambil resiko yang bisa mengancam kehidupannya hanya karena sumpah belaka.
Lagipula, mengikat janji secara lisan dapat memperdekat persaudaraan antara Helcia dan Illiana.
“Percaya atau tidak adalah pilihanmu. Namun, aku bukanlah orang yang akan melanggar janjiku. Selama kamu membuatku berjanji. Maka aku tidak akan mengingkarinya.”
Helcia mendudukan diri di atas kursi, dia meraih secarik kertas dan pena di meja. “Kalau begitu, berjanjilah bahwa kamu akan merahasiakan percakapan kita dari Ayah atau Ibu. Aku akan sangat dalam masalah bila mereka tahu.”
Illiana mengangguk. “Tentu saja, aku memang tidak berencana melibatkan namamu kepada mereka.”
Illiana memang selalu memendam rasa iri terhadap adiknya ini yang kerap mendapatkan banyak keuntungan. Namun, sejak pertama kali Helcia mengangkat suara dalam permasalah bisnis mereka. Ia baru menyadari bahwa Helcia tak pernah diuntungkan dalam hidup, dan tidak ada gunanya lagi merasa iri kepada adiknya itu.
Helcia tersenyum ketika tidak mendapati adanya kebohongan dalam perkataan Illiana. Oleh karena itu, dia menggambar sketsa dari topeng hitam yang ia lihat di rumah Orestes kemarin. Sesungguhnya ada satu ciri khas yang dimiliki oleh topeng hitam tersebut, yaitu ada sebuah gambar tetesan air mata di bawah mata kanan topeng.
“Topeng yang bawahanmu lihat. Apakah seperti ini?” Helcia menyerahkan kertas tersebut ke tangan Illiana.
Illiana memperhatikan selama beberapa detik, sebelum akhirnya mengangguk. “Benar. Persis seperti ini. Bagaimana kamu bisa tahu? Aku bahkan tidak menyebutkan ada lambang air mata.”
Di antara deru badai salju dan gemericik api dari perapian. Helcia menceritakan segala hal mengenai pelariannya ke Kota Canace, yang kemudian membuatnya mendapatkan masalah ketika berada di Mansion Obelix.
Ekspresi Illiana tidaklah begitu baik. Dia merasa bahwa Helcia terlalu berani untuk melawan perintah Demetria. Dia bahkan tidak tahu bila adiknya itu memiliki tekad kuat, sampai bisa melarikan diri seperti itu.
Meski Helcia mempercayai Illiana sekarang. Dia tetap tidak memberitahu tentang kerja samanya dengan Orestes Obelix dalam memata – matai kerajaan atau tentang kekuatan Elysia yang bisa melihat masa depan. Karena, hal itu bukanlah sesuatu yang perlu diketahui oleh orang luar seperti Illiana.
“Helcia, kamu memang sudah tidak waras.”
Helcia tertawa. “Bila aku tidak melarikan diri. Mungkin aku bisa mati bosan di dalam rumah ini.”
Beralih ke topik permasalah, Illiana menunjuk gambar topeng pada kertas. “Seorang pria bertopeng memberikan uang kepada Vincent. Dan tiga orang bertopeng berniat untuk menculikmu. Jika mereka memang berasal dari komunitas yang sama. Maka, satu komunitas itu berniat untuk menghancurkan keluarga kita. Tapi, aku tak merasa keluarga kita pernah membuat masalah dengan bangsawan lain.”
“Tanpa menyinggung orang lain pun. Pasti seorang penjahat selalu mempunyai alasan untuk menyakiti korbannya.” Helcia melanjutkan. “Keluarga kita selalu berada di puncak dalam jangka waktu yang lama. Dibandingkan dengan Keluarga Obelix. Keluarga kita bahkan selalu mendapatkan hak istimewa dari kerajaan. Dari situlah rasa iri bisa tumbuh menjadi kebencian.”
“Jadi, kamu menyimpulkan ada seseorang yang iri kepada keluarga kita hingga ingin menghancurkan Krysanthe?”
Helcia memutar – mutarkan pena di jarinya tatkala dia berfikir. “Mungkin. Tapi, aku juga belum tahu pasti.”
Masih banyak hal yang terasa janggal di dalam pikira Helcia. Misalnya tentang ramalan Elysia yang berkata bahwa Helcia akan meninggal bila dia tinggal di penginapan. Tapi, penjahat yang menerobos kediaman Obelix tidak berupaya untuk membunuhnya.
Apakah mereka berasal dari komplotan yang sama atau tidak?
Sudah begitu lama Helcia berfikir. Namun, tak kunjung mendapatkan titik terang. Lagipula, mengapa orang ini ingin berurusan dengan Keluarga Krysanthe yang selalu mendapatkan perlindungan dari Istana.
Bukankah akan terlalu menakutkan bagi seseorang untuk melawan keluarga yang dilindungi oleh kerajaan?
Secara tiba – tiba, Helcia membulatkan matanya. “Illiana. Pihak kerajaan selalu melindungi keluarga kita. Apakah masalah Vincent bisa dilaporkan kepada Kerajaan?”
“Aku juga berniat untuk melaporkannya. Tapi, masalah yang lebih krusial sesungguhnya mengenai percobaan penculikanmu. Namun, kita tidak bisa melaporkannya karena pasti kamu akan mendapatkan masalah.”
“Itulah permasalahannya. Mereka pasti menyerangku karena tahu aku melarikan diri dari rumah. Jadi, bagaimana mereka bisa tahu aku tidak diperbolehkan keluar rumah?”
Illiana menegakkan punggungnya. “Kamu tidak bisa melaporkannya, karena kamu kabur. Dan kepergianmu juga tidak dikawal oleh penjaga, sehingga walaupun kamu berhasil diculik, tidak akan ada yang tahu pelakunya.”
“Hanya Keluarga Kerajaan dan Krysanthe yang tahu aku tidak diperbolehkan keluar rumah.” Helcia mendongakkan wajahnya untuk menatap mata Illiana.
“Apa yang ingin kamu katakan, Helcia?”
“Istvan Hesperos. Dia … Bukankah ag—”
“Cukup. Jangan diterukan.” Potong Illiana.
Keheningan menyambut ruangan tersebut. Tidak ada yang berbicara lagi di antara mereka. Keduanya sangat tahu betul bahwa mencurigai keluarga kerajaan merupakan suatu perkara besar yang bisa membuat mereka dalam masalah.
Seperti yang Helcia kira, Illiana memang bukanlah seseorang yang berani. Dia selalu akan memilih jalan mudah yang tidak akan menjerumuskannya kedalam kehidupan yang buruk. Selama ini, Illiana telah bekerja begitu keras untuk mendapatkan pengakuan dari Keluarga Kerajaan ataupun Keluarganya sendiri, bila dia membuat spekulasi berani seperti itu. Kedua keluarga mungkin akan menempatkan mata tombak ke hadapan wajahnya.
Sedangkan Helcia tidak memiliki kekuatan dalam urusan politik seperti itu. Walaupun dia selalu mendapatkan perhatian dari kedua sisi, posisinya begitu rendah untuk menjadi lawan keluarga kerajaan.
“Apa kekuatan sihir Keluarga Kerajaan Hesperos?” tanya Helcia.
Illiana menghembuskan nafas. “Entahlah. Tidak ada yang tahu. Mereka tidak pernah memperlihatkan kekuatan mereka di hadapan publik. Dan tentu saja tidak ada yang berani untuk menanyakan hal seperti itu.”
Helcia menatap ke arah api perapian. Memikirkan langkah terbaik yang bisa ia ambil untuk sekarang. Sepertinya meminta Illiana menyelidiki Keluarga Kerajaan hanya akan menjadi sebuah kesia – siaan. Jika begitu, maka hanya ada satu jalan keluar dalam masalah ini.
Orestes Obelix.
Hanya dia seseorang yang berani menentang Keluarga Kerajaan. Menyelidiki mereka secara mendalam pastilah bukan perkara sulit untuknya. Namun, Orestes berkata bahwa dia akan menjaga perbatasan selama musim dingin. Mustahil untuk melihatnya sampai musim semi tiba. Helcia juga tidak bisa mengirim surat, karena akan terlalu beresiko.
“Illiana, bisakah kamu menunda kasus ini hingga musim dingin berakhir?”
“Kurasa itu akan sulit. Mengingat kasus ini telah menyangkut nama Keluarga Krysanthe. Ibu pasti akan memintaku untuk langsung melaporkannya kepada Keluarga Kerajaan. Dan sepertinya, bila sampai akhir musim dingin kita belum menemukan pelakunya, maka Vincent akan dinyatakan bunuh diri.”
Helcia mengetukan jarinya di atasnya meja. “Kalau begitu bisakah aku meminta bantuanmu untuk memberikan salinan dokumen kasus ini nantinya.”
Tanpa berpikir panjang, Illiana berkata, “Bukan masalah. Tapi, apa yang mau kamu lakukan?”
Helcia tersenyum. “Aku akan menyelidikinya lebih dalam.”
Illiana tersadar. “Jangan katakan kamu masih ingin mencurigai keluarga kerajaan?”
“Tidak ada salahnya untuk memastikan.”
“Helcia, kamu akan mendapatkan masalah.”
“Lebih baik mendapatkan masalah, dibanding harus menerima kebohongan.”
Setelah Helcia mengucapkan kata itu. Illiana tidak lagi memiliki alasan untuk mencegahnya. Karena, apapun yang dikatakan oleh Illiana tidak begitu berarti di mata Helcia. Putri kedua Krysanthe itu pastinya tidak akan pernah menyerah setelah menancapkan taring pada sebuah masalah.
•••••
To Be Continued
12 Februari 2021