Berkat harapan yang diucapkan oleh Orestes. Helcia bermimpi malam itu, tapi sayangnya bukan mimpi indah yang menyapa, melainkan sebuah mimpi buruk yang mendinginkan tulang. Dalam mimpinya, Helcia berada di dalam Istana Socrates. Ketika ia menunduk, Helcia bisa melihat tangannya tengah memegang cangkir berisikan teh hangat yang seringkali ia minum bersama Istvan di taman belakang Istana. “Helcia, apakah kamu bahagia telah menikah bersama Yang Mulia.” Suara seorang wanita membuat Helcia kembali mendongakan kepalanya. Sayang sekali, mimpi itu terlalu kabur sehingga Helcia tidak bisa melihat wajah wanita yang tengah mengajaknya mengobrol itu. Bibirnya bergerak sendiri. “Tentu, Yang Mulia sangat menyayangiku. Setiap hari, dia pasti akan selalu memberikanku banyak kejutan. Kemarin dia memberi

