Semua anggota keluarga Krysanthe dapat melihat warna emosi seseorang dengan jelas, tanpa terkecuali. Bahkan setiap anggota keluarga pun juga bisa saling membaca emosi.
Akan tetapi, Illiana berkata, ‘kami tidak bisa membacamu.’
Maka, ada kemungkinan bila seluruh anggota keluarga Krysanthe tidak bisa melihat warna emosi Helcia sama sekali. Dan, jika seandainya hal itu benar. Tidak heran Helcia yang asli mampu berpura – pura dihadapan Demetria dalam waktu yang lama. Helcia yang sekarang pun juga tidak pernah terkena masalah ketika ia menyampaikan dusta.
Helcia mungkin masih belum bisa menempatkan posisi Illiana di musuh atau temannya. Tapi, setidaknya dia tidak merasa bila Illiana merupakan ancaman.
•••
Satu bulan telah terlewati tanpa terasa, dedaunan hijau di ranting pohon mulai berganti warna menjadi kekuningan. Suhu udara di sekitar pun semakin turun, sehingga membuat orang – orang harus memakai jaket tebal ketika keluar rumah.
Musim dingin tahun ini, akan menjadi salah satu musim dingin terburuk yang pernah terjadi di Socrates. Dimana suhu akan terus merangkak turun sampai minus seratus derajat. Setidaknya, itu adalah hal yang Helcia tuliskan di novel.
Bila alurnya tidak berubah, maka tahun ini tetap akan menjadi musim dingin paling buruk. Bahkan, di dalam novel Helcia hanya bisa berbaring di atas kasurnya akibat terserang demam parah akibat dingin.
Akan tetapi, semenjak jiwa Helcia berubah. Kekebalan imunnya meningkat drastis. Tubuh wanita yang sering sakit – sakitan itupun sudah lama sekali tidak mengkonsumsi obat.
“Nona Helcia, tutup jendelanya. Anda bisa masuk angin bila lama terpapar oleh angin dingin.” Protes Naya yang baru saja masuk kedalam kamar.
“Sebatas angin dingin saja tidak akan membuatku sakit, Naya.”
“Tidak ada salahnya dengan mencegah penyakit, Nona.”
Merasa malas berdebat dengan Naya, akhirnya Helcia mengalihkan pandangannya pada rak troli berisikan banyak camilan manis serta teh hangat.
“Oh, kue – kue mangkuk itu terlihat sangat cantik dengan warna yang berbeda.” Kata Helcia seraya menunjuk ke sebuah kue mangkuk dengan krim lima warna.
Petra tersenyum, “Camilan hari ini di buat berdasarkan permintaan khusus dari Nyonya Demetria. Bisa dibilang, kue – kue ini sebagai bentuk permohonan maaf karena sepertinya Nyonya Demetria dan Tuan Pello akan melakukan perjalanan ke luar kerajaan selama satu minggu.”
Helcia menanggapi dengan tawa, “Untuk apa meminta maaf? Aku bahkan merasa sangat baik bila mereka tidak kembali lagi.”
“Nona, a—”
Sebelum Petra menyelesaikan ucapannya, Helcia sudah memotongnya dengan nada dingin, “Buang saja semua kue ini. Aku sudah tidak berselera.”
“Tapi, Nona. Ini adalah kue yang diberikan oleh Nyonya Demetria.”
“Karena itulah aku jadi tidak berselera memakannya.”
Jika Helcia sudah membuat keputusan, maka tidak ada satupun orang yang bisa mengubahnya. Sebab itulah, Petra tidak akan berdebat lebih jauh dengan Helcia, “Baiklah, Nona. Saya akan melakukan perintah anda.”
Merasa bosan, Helcia menatap jendela kamarnya dengan kepala yang ditopang oleh tangan. Sudah sebulan dia terkurung didalam kamar ini dan mengikuti perintah Demetria agar tetap diam seperti seorang anak yang patuh.
Pangeran Istvan juga tidak memberikan undangan minum teh seperti biasanya. Mungkin dia sibuk melakukan tugas resmi, atau memang malas bertemu dengan seorang wanita pembangkang. Entahlah, Helcia juga tidak terlalu memperdulikan Istvan.
Sebentar lagi musim dingin akan tiba, apakah Orestes berhasil melakukan saran Helcia dengan baik?
Memikirkan hal itu membuat Helcia terlihat lebih bersemangat. Dia lantas menoleh ke arah Naya dan Petra, “Siapa di antara kalian yang bisa menunggang kuda?”
“Nona, apa yang ingin anda lakukan?” Tanya Petra curiga. Sudah begitu banyak pemikiran buruk yang berkutat didalam kepala Petra.
Namun, Helcia malah membalasnya dengan tawa, “Petra, kamu pasti bisa menunggang kuda.”
Helcia menggenggam tangan Petra dengan erat, “Temani aku ke Kota Canace. Aku berjanji akan pulang sebelum matahari terbenam.”
•••••
To Be Continued